
Aku dan Mia akan dipertemukan dengan Vicenzo hari ini. Setelah kubu Vicenzo kehilangan 2 orang pentingnya di Asia yaitu Mario dan Rosko yang hilang entah kemana. Vicenzo mencoba beberapa kali membalas dan melampiaskan kemarahannya pada orang baru kepercayaan Mr. Paolo tapi masih gagal. Vicenzo mencoba mengamankan pasarnya di Asia khususnya di Indonesia yang merupakan pasar terbesar Vicenzo. Vicenzo setelah kehilangan Bugsy tukang jagal andalannya lalu membuat manuver untuk berdamai. Dia juga termasuk dalam kartel yang dipimpin Mr.Paolo tapi setelah kehilangan 3 orang andalannya, posisi Vicenzo menjadi lemah. Mr. Paolo memang berjanji mendamaikannya dengan kelompok Mia, tapi Mr. Paolo tidak bodoh. Akan ada gerakan bawah tanah yang bisa merusak distribusi barangnya di Asia. Mr. Paolo menyerahkan segala keputusan pada Mia.
"Mr. Lee kepala Triad Taiwan akan mendukung apapun keputusan gue, tapi Mr. White adalah Ayah baptis dari Rosko, Rio. Dia yang bernafsu untuk membunuhmu. Dia tahu Rosko sudah mati."
"Akan aku bunuh 2 orang itu didalam sana!" Jawabku emosi.
"Saat kita sudah didalam, senjata tidak boleh masuk, Rio! Kita akan cari cara melenyapkan 2 orang itu hari ini!
Benar saja. Saat akan masuk, senjata diperiksa dan harus ditinggalkan diluar. Saat giliranku diperiksa, aku sudah pasrah. Pistol glockku pasti akan ditemukan dan mau tidak mau aku harus mengikuti rencana Mia. Pria yang memeriksaku tidak memeriksa sepatu botku, tempat dimana aku menyembunyikan pistolku. Saat memeriksaku pria itu berbisik padaku.
"Good luck, Mr. Paolo support you!" Wajahnya terlihat datar seperti tidak bicara kepadaku.
Kami berlima pun memasuki ruangan itu. Saat Mr. Lee akan mulai bicara. Aku lalu berdiri dan berjalan sambil menatap wajah Vicenzo yang tersenyum mengejek padaku. Pistol Glockku yang sudah kuambil dari sepatu bootku dan kusembunyikan di lengan jasku sejak aku duduk aku keluarkan dan mengarahkan pistol itu kearah Vicenzo. Vicenzo mengangkat tangannya sambil mengoceh dengan bahasa Italia. Mr. White yang menyangka aku tidak mengincar dirinya, masih tersenyum saat aku berjalan dibelakangnya.
"Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!" Mr. White tewas dengan kepala hancur dengan otaknya yang berhamburan diatas meja. Vicenzo mencoba lari dari ruangan itu. Tapi pintu terkunci dari luar. Vicenzo menatap mataku dengan tubuh bergetar. Dia tidak menyangka hari ini adalah hari terakhirnya. Kuberondongkan 12 butir sisa peluruku ke wajah dan dadanya. Lalu kuinjak kepalanya yang sudah tidak berbentuk itu. Lalu aku berjalan dengan santai dan duduk kembali dikursiku.
Mia menuju proyektor di ruangan itu. Dan menyalakan proyektor. Terpampang wajah Mr.Paolo yang tertawa-tawa. Ternyata Mia melakukan Video call dengan menggunakan proyektor itu. "Bravo Rio! Bravo! Sekarang kamu sudah resmi menggantikan Vicenzo dan White! Selamat!" Video Call itu lalu disudahi Mr.Paolo setelah aku mengucapkan terima kasih dan memberi hormat pada beliau.
Mr. Lee pun memberi selamat padaku sambil memberi jaminan padaku bahwa seluruh kaki tangannya akan mendukung dan melindungiku. Mia menatapku dingin tanpa tersenyum. Terdengar suara kunci pintu berputar. 10 pria masuk ke ruangan itu, sambil menyalamiku dan lalu membereskan 2 mayat disana. Mia memberi kode dengan matanya agar aku mengikutinya. Aku dan Mia berjalan menuju lift. Kami berjalan keluar gedung itu. Mobil Alphard berwarna putih telah menanti aku dan Mia. Setelah masuk ke mobil itu Mia menekan sebuah tombol. Magic window perlahan menutupi ruang supir dan penumpang. Mia mulai berbicara sambil naik kepangkuanku. "Gue gak nyangka elu sekejam itu, sayang. Maaf tadi gue gak kasih selamat disana. Congrats my Dear!" Katanya sambil mengecup bibirku.
"Elu nginep kan, sayang?" tanya Mia dengan suara lembut.
"Sori sayang, Gue gak bisa nginep. Gue hari ini harus pulang. Banyak yang harus gue urus setelah kejadian Bugsy kemarin. Gue harap elu ngerti!" Jawabku sambil menatap matanya. Mia tersenyum.
"Pulangnya sorean aja gak papa kan? Masih ada 4 jam lagi. Gue kangen banget, sayang. Klo kurang puas gue akan nemuin elu lagi di Nusa Penida. Gimana?" tanyanya sambil mengelus dadaku.
"Maaf Mia, 1 bulan ini gue gak mau kemana-mana. Istri gue kemarin ketakutan. I'm so sorry!" Kukecup bibirnya dengan lembut. Mia lalu menaikkan rokmininya lalu melepas penutupnya. Kami bercinta didalam mobil yang sedang berjalan dan menembus kemacetan. Belum 5 menit, Mia sudah terkulai lemas. Mia merapikan pakaiannya.
Mia tertidur sambil memelukku dikamar hotel. Wajahnya yang cantik sambil tersenyum itu kupandangi. Aku sedang bingung, jika kuteruskan hubunganku dengan Mia seperti ini aku kuatir akan mengecewakannnya. Aku sudah punya Cresa. Tapi Mia juga telah banyak membantuku. Sikap Mia yang tidak kasar seperti dulu membuatku ada rasa sayang padanya. Tapi aku bukan tipe pria yang suka mempunyai hubungan dengan banyak wanita. Kepalaku makin pusing memikirkannya.
3 jam lagi aku harus tiba di bandara. Aku mandi sendirian sambil duduk dilantai dan bersandar didinding. Aku duduk dilantai membiarkan air Shower membasahi tubuhku. Mia masuk ke kamar mandi dan melihat aku sedang termenung.
"Sayang, kok dipanggil-panggil diem aja?" Aku masih diam tak bergerak, Mia masuk dan memelukku.
"Rio, elu kenapa?" Ujar Mia sambil mengelus pipiku.
"Sayang...," panggil Mia lagi. Aku kaget aku baru sadar Mia sudah ada disitu. Ku rengkuh tubuhnya. Aku duduk bersandar didinding sambil memeluknya dari belakang.
"Hey, mikir apa? Elu sudah aman sekarang, sayang. Elu dan Gue yang nguasain Indo sekarang!" ujar Mia sambil bersandar ditubuhku. Aku menggelengkan kepalaku. Aku memeluknya lebih erat lagi. sambil menempelkan pipiku dan pipinya.
Aku sudah berpakaian dan siap berangkat. Aku menatap Mia yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Kupandangi tubuh seksinya yang hanya mengenakan bra dan cd itu. Mia menghampiriku yang sedang menatapnya. Dia menciumku lagi lalu mengambil pakaiannya. Saat bersamaku Mia tidak pernah kulihat menggunakan make up atau lipstick bahkan parfum. Setelah Mia selesai berpakaian. Kami segera menuju mobil yang akan mengantarku ke bandara.
"Sayang, uang barang yang dikirim ke Club lu kemarin. 2-3 hari lagi gue kirim. Biasain mulai sekarang nyimpen uang cash ditempat yang cuma elu aja yang tau, sayang!" Aku tersenyum mendengarkan nasihatnya.
"Elu juga hati-hati ya, sayang. Elu yang lebih tau daripada gue tentang bisnis ini!" Kucium bibirnya dengan lembut. Kami berciuman sampai tiba di bandara. Aku masuk sendiri ke dalam bandara tanpa Mia yang langsung meninggalkanku. Saat aku masuk ke Lounge VVIP, aku mengabari Cresa bahwa aku sudah dalam perjalanan pulang. Saat aku sudah selesai menelpon Cresa. ada tepukan lembut dipundakku. Aku menoleh, Ivone sudah berdiri disampingku sambil tersenyum sambil membawa secangkir kopi.
"Halo Rio, boleh gue duduk disini?" Sapa Ivone. Aku mengangguk dan mempersilakan dia untuk duduk.
"Club Reno dijual ke elu ya?" ujar Ivone membuka obrolan. Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. Tak lama kemudian seorang laki-laki gempal menghampiri Ivone dan mencium pipi Ivone. Wajah pria itu berpura-pura kaget saat melihatku.
"Kenalkan Rio, ini Dendy pacarku!" ujar Ivone sambil berdiri dan memeluk pinggang pria itu. Aku bangkit dari dudukku. Aku menyodorkan tanganku untuk menyalaminya. "Rio Ramirez, tak disangka saya bisa ketemu anda disini. Suatu kehormatan untuk saya bisa berkenalan dengan anda! Kenalkan, nama saya Dendy Wijaya, bos!" Ujar pria gempal itu dengan sopan dan membungkukkan tubuhnya saat bersalaman denganku. Aku heran saat dia menyebutkan nama lengkapku dan memanggilku dengan sebutan 'bos', Ivone pun tampak kaget ternyata pacarnya sudah mengetahui nama lengkapku. Setelah berkenalan Dendy dan Ivone berpamitan lalu meninggalkanku.