MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Tanda Mata Dari Eva



Acara pesta pernikahanku dengan Cresa berjalan lancar. Kedua orang tua kami bercengkrama akrab setelah acara selesai. Papa Jose dan Mama Anggi terlihat bahagia, senyuman mereka selalu menghiasi wajah mereka. Cresa pun tampak bahagia, Cresa makin akrab dengan Tania. Hidungku terasa panas dan aku mencium bau darah, kepalaku tiba-tiba sangat pusing. Mama Wanda yang sedang mengobrol denganku memandangku dengan tatapan aneh.


"Muka kamu pucat, nak? Are you Okay?" Tanyanya. Aku bangkit lalu berlari ke arah Toilet. Pandanganku tiba-tiba kabur dan gelap. Tubuhku tumbang didepan toilet. Lalu aku tak ingat apa-apa lagi.


...----------------...


Saat aku terbangun. Aku sedang berbaring disebuah taman yang indah dengan hamparan rumput hijau yang ditumbuhi aneka warna bunga mawar yang sedang bermekaran. Tapi anehnya aku hanya sendirian di taman itu. Kupandang sekelilingku. Sejauh mata memandang hanya kulihat hamparan rumput dan tumbuhan bunga mawar itu. Aku berjalan perlahan meninggalkan tempatku berbaring tadi. Lalu kulihat di kejauhan ada 2 sosok wanita yang sedang berjalan beriringan. Kedua sosok itu memakai pakaian putih bersih dan warna putih itu seakan bersinar cemerlang saat ditimpa sinar matahari. Aku berlari ke arah kedua wanita yang berjalan itu. Aku berlari kencang kearah mereka. Nafasku terengah-engah, aku membungkukkan badan karena melihat sekuntum bunga mawar yang indah didekat kakiku. Aku petik bunga itu lalu kumasukkan ke kantong celanaku. Aku berlari lagi mengejar mereka. Tapi anehnya aku sekencang apapun aku berlari, aku seperti tidak mampu mengejar mereka yang hanya berjalan pelan. Mereka berjalan menuju ke arah jembatan yang ditutupi kabut tebal, Seorang wanita terus berjalan menyeberangi jembatan itu, sementara seorang lagi berdiri di pinggir jembatan itu sambil menatap arus sungai yang airnya bening sehingga menampakkan bebatuan didasar sungai yang indah itu. Wanita itu memutar badannya menghadap ke arahku. Aku tak bisa melihat wajahnya yang diselimuti cahaya. Aku masih berlari mendekat kearahnya. Semakin dekat sinar diwajahnya semakin pudar. Tinggal sejengkal lagi jarakku dengan dirinya. Wajahnya kini jelas terlihat, EVA! WANITA ITU ADALAH EVA! Aku melangkah kearahnya perlahan sambil tersenyum lebar, sama seperti Eva yang sedang tersenyum lebar kearahku. Kupeluk tubuh Eva erat-erat. Eva pun memelukku erat seperti pelukanku padanya.


"Eva, akhirnya gue bisa ketemu elu lagi sayang!" Kurenggangkan pelukkanku untuk memandangi wajahnya yang bercahaya. Kubelai rambutnya dengan lembut.


"Rambut lu juga udah tumbuh lagi, Sayang! Elu udah sembuh sayang! Yuk kita pulang, sayang!" Ajakku sambil memeluk lagi dirinya. Eva hanya tersenyum manis, menampakkan gigi ginsulnya yang membuat wajahnya cantik sempurna.


"Aku sekarang baru bisa tenang, sayang. Aku akan menunggumu ditempatku yang baru, Rii!" Ujarnya sambil membelai wajahku dengan jemarinya yang indah.


"Klo elu gak mau pulang, gue akan ikut elu, sayang. Gue kesepian sayang. Gue selalu mikirin elu!" Ujarku mulai menangis.


"Sayang, elu jangan nangis lagi! Jaga Cresa baik-baik, dia pengganti gue. Jangan selalu mikirin gue, sayang. Jika saatnya sudah tiba, elu akan ketemu gue lagi disini! Gue akan selalu nunggu elu disini, Rii!"


Aku acuhkan ucapannya lalu aku mencoba menggendong tubuh Eva untuk meninggalkan tempat itu. Tapi saat itu aku seakan tak bisa mengangkat tubuhnya seperti biasanya, tubuhnya seakan berbobot ribuan ton! Tubuhnya tak bergerak terangkat olehku samasekali bahkan seiinci pun!


"Sudah waktunya kita untuk berpisah. Kamu sekarang harus pulang, Sayang!" Tegas Eva lagi.


"Jaga Cresa seperti elu jagain gue dulu, Sayang. Cintai dia seperti elu mencintai gue dulu, Rii. Dia akan nemenin elu, dia yang gantiin gue jagain elu. Gue selalu ingin jagain elu, tapi gue ternyata gak pernah bisa jagain elu, Rii. Gue harus pulang tanpa sempat untuk jagain elu, sayang. Maafin gue ya sayang!" ujarnya lalu memeluk dan mencium keningku sambil tersenyum. Eva tidak menangis sama sekali, dia terus tersenyum manis menatapku yang terus menangis.


"Elu harus pulang sekarang, sayang! Gue sudah tenang disini, Gue akan selalu nunggu elu yang pasti datang untuk gue. Jaga Cresa baik-baik. Cintai dia seperti lu cinta sama gue. Klo itu lu lakuin! Saat elu datang, gue akan menyambut elu lagi disini. Dijembatan ini!"


Aku mencoba menahan tubuh Eva agar tetap ada dipelukkanku. Tapi tak bisa! Tubuhnya melayang seperti kapas yang tertiup angin. Tubuhnya melayang menuju jembatan yang berkabut itu, Eva tersenyum manis sambil melambaikan tangannya dan memberikanku isyarat ciuman dari jauh yang sering kami lakukan dulu. Lalu tubuh Eva hilang ditelan kabut. Aku lalu menangis sambil berteriak-teriak memanggil namanya! Aku berusaha maju untuk mengejarnya, tapi tubuhku seakan membentur tembok yang tak terlihat. Beberapa kali aku mencoba menembus tembok tak terlihat itu. Usahaku sia-sia. Aku hanya bisa bersimpuh diatas lututku di ujung jembatan yang tidak bisa kelewati itu. Sambil menangis aku tetap duduk disitu. Tiba-tiba dadaku terasa sakit sekali, Seakan ada ribuan lebah yang menyengat dadaku saat itu. Aku berteriak keras lalu tubuhku berhenti bernafas. Nafasku berhenti sejenak.


"Potongan apel yang cukup besar! Untung bisa dikeluarkan tanpa Operasi!" kata pria berseragam putih itu sambil keluar ruangan. 2 orang perawat membersihkan bekas muntahku lalu meninggalkan ruangan.


Cresa dan mamaku masuk ke dalam ruanganku dirawat. Cresa memelukku yang masih terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Mama hanya tersenyum setelah melihatku baik-baik saja.


"Kata dokter kamu menelan potongan apel yang lumayan besar. Apel itu yang menghambat pernafasanmu, Rii. Kamu gak papa sekarang kan?! Ujar Cresa dengan nada khawatir. "Aku gak papa!" kataku dengan suara lemas padahal seingatku aku tidak memakan buah-buahan sama sekali saat acara pesta pernikahanku tadi. Tenggorokanku masih nyeri untuk dibuat berbicara. Mama menepuk tanganku lalu mencium keningku. Lalu beliau keluar ruangan. Mama Wanda masuk menggantikan mamaku yang baru saja keluar. Cresa memegangi tanganku dengan kedua tangannya. Mama Wanda memandangiku lalu tersenyum aneh, aku merasa aneh dengan senyum mama Wanda itu.


"Beb, kapan gue boleh pulang?" tanyaku pada Cresa yang cantik. Ia masih memakai gaun pengantinnya.


"Gue tanyain ke Dokternya dulu ya," ujar Cresa lalu bergegas keluar dari ruangan itu. Mama Wanda menatapku, lalu dia memegang tanganku.


"Ma, saya tadi mimpi bertemu Eva! SAYA MIMPI BERTEMU EVA, MA!" Ujarku girang. Mata mama Wanda tiba-tiba basah.


"Ini hari bahagianya sebagai pengantin baru, tapi dia tetap saja masih memikirkan Eva!" Batin mama Wanda dalam hati. Aku menceritakan mimpiku pada mama Wanda. Setelah aku selesai bercerita, mama Wanda langsung memelukku.


"Rio! kamu tau ini jam berapa? ini jam 3 pagi! kamu pingsan hampir 12 jam, nak! Untung kamu baik-baik saja. Kasian Cresa, dari tadi dia tidak berhenti menangis. Ikhlaskan kepergian Eva, nak. Sekarang kamu sudah punya Cresa!" Ujar mama Wanda menepuk pipiku. Tak lama kemudian Cresa masuk ke ruanganku. Mama Wanda lalu meninggalkan kami berdua.


"Setelah ini sudah boleh pulang kok, sayang. Lu udah baikkan kan?" Tanya Cresa sambil membelai rambutku. Aku menggangguk. Aku mencoba untuk duduk, Cresa membantuku bangkit dari ranjang. Tiba-tiba Cresa mengambil sesuatu yang terselip di kantungku.


"Ngapain beb, elu ngantongin bunga ini? Bunga ini buat gue ya?" Tanya Cresa sambil tersenyum dan menciumi bunga yang sudah tak berbentuk itu. Aku tercengang melihat bunga itu. Mulutku seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tak bisa bersuara dan lidahku pun kaku. Kupeluk tubuh Cresa sambil menangis terisak-isak.


"I love u, Cresa. I will always love u! I need u!"


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!