
Suasana langit Bali malam itu begitu cerah, aku dan Eva melintas di daerah wisata yang sangat padat di malam hari itu, daerah Petitenget sekarang sangat padat.
"Mau jalan-jalan dulu atau langsung pulang?" Tanyaku pada Eva sambil mengemudikan skuter matic sewaan itu.
"Langsung pulang aja, Rii!" Katanya sambil memelukku.
"Gak mau mampir cari nasi pedas?" Tanyaku lagi tentang makanan favorit Eva.
"Nggak sayang. I just wanna go home now!" Katanya lagi. Ketika sampai di Villa ternyata pak Kadek telah menyiapkan berbagai makanan di meja makan.
"Oooow ini yang bikin kamu gak mau beli makanan yah?" Tanyaku pada Eva yang sedari tadi tertawa kecil.
"Pak Kadek pasti disuruh mama, Rii. Dia udah tau apa makanan sukaan aku. Yuk kita makan!" Katanya sambil mencuci tangannya. Eva mengambilkanku nasi di piring berserta lauk pauknya.
"Nasinya kebanyakan, Va!" Ujarku saat Eva menambah nasi di piringku.
"Ini bareng aku kok, aku lagi pengen disuapin kamu," katanya manja. Kudekatkan kursiku dengan kursinya. Kakinya langsung naik ke pahaku saat aku sudah duduk. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang manja. Lalu kusuapi dia.
"Kamu umur 26 atau 27 sekarang, Va?" Kataku sambil menyuap makanan ke mulutku sendiri.
"Desember ini 27, Rio. Kenapa nanya-nanya umur?" Katanya sambil menyandarkan kepalanya dibahuku.
"Tua juga ya. Udah 27! Hahahha," kataku sambil memegang dagunya dan menyuapinya.
"Idihhh tau ahhh," katanya sambil melotot.
Kutaruh sendok. Lalu kuputar lagu diponselku. Mengalun sebuah lagu lama dari Ada band yang berjudul 'Manusia bodoh'...,
Dahulu terasa indah
Tak ingin lupakan
Bermesraan s'lalu jadi
Satu kenangan manis
Tiada yang salah
Hanya aku, manusia bodoh
Yang biarkan semua
Ini permainkanku berulang-ulang kali
"Nyindir gue ya??? Gue gak suka lagu ini, iiihhh!" Katanya lalu mematikan lagu di ponselku.
Dia pun lalu memutar lagu di ponselnya.
Lagu Anggi Marito yang sedang viral 'Tak Segampang Itu' pun mengalun
Waktu demi waktu
Hari demi hari
Sadar ku t'lah sendiri
Kau t'lah pergi jauh
Tinggalkan diriku
Ternyata ku rindu
Senyuman yang s'lalu membungkus hati yang terluka
Di depan mereka
Tuhan masih pantaskah ku ‘tuk bersamanya
Karna hati ini inginkannya
Tak segampang itu ku mencari penggantimu
Tak segampang itu ku menemukan sosok seperti dirimu cinta
Kau tahu betapa besar cinta yang kutanamkan padamu
Mengapa kau memilih untuk berpisah
Aku menaruh sendok lalu berdiri bersandar di tiang sambil merokok.
"Kamu lanjutin sendiri makannya ya, Va!" Kataku sambil menghisap rokokku dalam-dalam.
Eva menghampiriku dan berdiri disampingku, sambil memasang muka yang amat menyebalkan seakan mengejekku.
"Emang di LCB dapat Mata kuliah Galau juga ya?" Katanya sambil mencubit-cubit lenganku.
"Dapat lah. Dosennya kan kamu!" Jawabku sambil merangkul bahunya. Ia melingkarkan tangannya dipinggangku.
"Lu udahan makannya? Gue beresin dulu ya," kataku sambil melepas pelukannya. Dia memelukku lagi dari belakang. "Biar besok pagi pak Kadek yang beresin, beb!" Katanya sambil membenamkan wajahnya dipunggungku.Kupegang tangannya yang mengelus perutku.
"Beb, 3 tahun ini gue selalu mikir apa kita...," kutaruh telunjukku dibibirnya agar dia tidak melanjutkan kata-katanya.
"Let bygones be bygones. Yang udah berlalu biarlah berlalu,Eva!" Kataku.
"Gue gak pernah nyalahin elu. Gue yakin yang semua harus gue lewatin ini akhirnya pasti indah. Lepas itu nyakitin gue atau nggak. Ini semua udah garis takdir gue, gue gak nyimpan dendam ke elu, Va!" Kataku sambil mengelus kepalanya.
"Lu cantik, semua yang diimpikan semua laki-laki ada di elu. Lu harus buka hati elu untuk cowok lain, Eva!" Kataku lagi sambil menatap wajahnya yang cantik.
"Gue cuma mau elu balik ke gue, Rii. Gue mau nebus semua kesalahan gue...," katanya lagi.
"Eva! Gak ada yang harus elu tebus. Gak ada sayang," kataku sambil mendekapnya dan mencium rambutnya. Aku lalu memeluknya untuk menutupi rasa bingungku yang tanpa sadar aku pun mengucapkan kata "sayang" pada Eva.
"Aku udah berubah, Rio. Please gimme a chance..."
Lagu yang dia putar tadi mengalun lagi. Dia mulai menangis.
"Lu perlu tau, Rii. Berapa cowok yang udah gue pacarin untuk ngelupain elu, tapi nggak ada yang bisa ngehapus elu dari otak gue. Semakin gue mau ngelupain elu, semakin gue inget apa yang udah gue lakuin ke elu, nyakitin elu. Gue gak bisa lakuin apa-apa klo lu memang gak mau lagi untuk balikan sama gue. Gue pengen untuk bisa ngelupain elu, Rii! Tapi tetap elu yang gue pengenin. Tetap elu, Rii! Tetap elu yang ada dihati gue! Tetap...,"
Kutaruh jari telunjukku dibibirnya agar dia berhenti berbicara. Kutatap wajahnya yang sendu itu. Eva masih ingin mengatakan sesuatu kepadaku.
Lalu kucium bibirnya agar dia tak melanjutkan kata-katanya lagi. Eva pun membalas ciumanku itu. Kugendong tubuh Eva menuju kamar, tangannya melingkar dileherku sambil kakinya mengait dipinggangku. 3 tahun kutahan hasrat lelakiku yang kupikir akan kuberikan untuk Arie. Kuciumi bibir Eva dengan bernafsu sehingga dia susah bernafas. Kucium lehernya sambil meremas dadanya, kami saling melepas pakaian di tubuh kami berdua sampai tak tersisa. Kuciumi seluruh tubuhnya yang sempurna itu. Eva membuka kedua kakinya sambil mengelus milikku yang sudah membengkak. Miliknya pun sudah makin basah dan merekah. Seakan telah siap untuk kumasuki.
"Beb, Comeback to me, please!" kata Eva sambil memelukku erat.
Malam itu malam milik kami berdua. Kami bercinta berkali-kali sampai lewat tengah malam.
"I love U, Honey!" katanya dengan nafas tersengal. Aku bangkit dan menaruh kepalaku diatas bantal. Kupeluk tubuhnya dari belakang. Kudekap erat sambil menciumi rambutnya yang wangi.
"I love u, too. Sweetheart! " bisikku ditelinganya.
Saat aku bangun, Eva sudah tidak ada di sampingku lagi. Kupakai baju dan celana pendekku, ternyata Eva sudah sibuk menyiapkan sarapan. Kondisi dapur kecil di villa itu seperti kapal pecah dibuatnya.
"Morning, Sweetheart. Duduk aja, kopinya udah kusiapin, sebentar lagi sandwichnya mateng," katanya lembut sambil memotong dan menata potongan tomat dan lettuce. Kucium bibirnya, lalu kupegang dahinya. Dia lalu mengernyitkan dahinya.
"Kenapa beb?" Katanya ketika kupegang dahinya.
"Gak papa, Beb. Kuatir aja kamu lagi sakit," kataku sambil memeluknya.
Pagi ini kulihat sebuah perubahan besar untuk seorang Eva, cewek yang tidak pernah mau ribet menyiapkan sesuatu di dapur. Setelah sarapan bersamanya. Aku bersiap untuk menemui Robin. Kutinggalkan Eva sendirian di Villa itu.
Saat kupulang dan sampai di halaman depan Villa itu. Kuparkirkan skuter matic itu dihalaman depan Villa. Eva berlari menyambutku yang baru datang.
"Kok udah pulang, beb? Udah selesai meetingnya?" Katanya sambil menggandeng tanganku.
"Udah selesai, beb. Wow...kamu habis masak?" Ujarku saat Eva membuka tutup makanan di meja.
"Hihihi, aku cuma manasin doank beb. Kamu mau makan?" katanya sambil duduk dipangkuanku.
"Gue mau makan kamu dulu. Hahahha," kataku sambil menciumi lehernya. Kami berciuman lagi.
"Udah selesai urusan gue disini. Besok kamu mau pulang?" Tanyaku. Eva menggelengkan kepalanya.
"Elu buru-buru? Klo gue sih masih pengen disini, gimana klo minggu siang aja kita pulang?" Katanya lagi.
"Trus gimana si Robin, jadi kalian kerjasama?" Tanya Eva sambil mengambil buah semangka di meja.
"90% jadi, Beb. Tinggal nunggu kabar dari mitra bisnis Robin yang masih di Hongkong. mungkin kabarnya baru minggu depan," kataku sambil membaringkan tubuhku di sofa.
"Kok ngelamun? Kerjaan kamu gak apa beb, ditinggal lama-lama?" Tanyaku pada Eva yang terlihat melamun sambil menatapku.
"Ehhh. Gak apa Rii. Sudah 3 tahun ini kan aku gak pernah liburan sama sekali. Lagian kan tiap hari mama juga bantu ngecek kantor juga kok," jawabnya sambil menyuapiku potongan buah semangka.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!