MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Just Married!!!



"Beb, maaf gue ngomong begini. Gue kok rasanya belum siap untuk merit sekarang!" Kata Eva saat kami berdua saja di roof top rumahnya yang sepi.


Aku yang sedang meneguk air mineral pun tersedak saat mendengar ucapannya itu. Kutepuk-tepuk dadaku untuk meredakan rasa tersedak itu.


"Elu kenapa, Beb? Apa ini terlalu cepat untuk elu? Apa elu masih butuh waktu lagi untuk berpikir?" Tanyaku penasaran sambil memandanginya yang terlihat gelisah malam itu.


"Gue rasa gue masih perlu belajar banyak untuk jadi istri yang baik untuk elu, Rio. Gue gak mau gagal, gue inget banget nasihat papa kemarin. Menikahlah untuk sekali saja, sekali untuk seumur hidup!" Jawabnya sambil menatap mataku dan menggenggam tanganku.


"Gue takut, Beb. Gue takut setelah merit elu akan kecewa sama gue yang ternyata gak bisa menuhin harapan elu!" Jawabnya lagi.


"Gue akan nerima elu apa adanya, Eva. Baik buruknya elu atau apapun itu yang belum gue tau sekarang tentang elu. Gue akan tetap terima elu, Eva!" Jawabku sambil mencium tangannya. Eva menangis sambil mengeluarkan sebuah amplop. Kuambil amplop yang disodorkan Eva itu. Kulihat ada tertera nama seorang dokter spesialis Onkologi disampul amplop itu. Kubaca isi surat diamplop yang tertanggal kemarin itu, tapi aku tidak mengerti dengan apa isi surat itu.


"Apa ini, Va? Ini hasil tes apa? Elu sakit apa, Beb? Bukannya hasil tes terakhir waktu di Bali waktu itu, dokter ngomong penyakit elu gak berbahaya?" Tanyaku bertubi-tubi dengan nada panik dan hampir menangis padanya saat itu.


"Gue mengidap Leukimia stadium 3, Rii!" Sahutnya sambil menangis dan menutupi wajahnya.


Aku terdiam lemas begitu mendengar kata "Leukimia."


"Gue gak mau elu nyesel setelah nikahin gue, Rii. Tapi gue juga gak mau, elu pergi ninggalin gue!" Tangisan Eva terisak sambil membenamkan kepalanya didadaku.


"Hey, Hey Honey! Eva, bulan depan kita Nikah! Bulan depan gue akan nikahin elu. Bulan depan gue udah terima komisi kerjaan gue. Gue punya waktu 4 bulan sebelum operasional Resortnya Tania dimulai, gue akan ajak lu berobat. Gue gak akan biarin elu jalanin ini sendirian, Eva!" Ujarku sambil memeluk tubuhnya erat.


"Tapi klo elu nikahin gue, elu sama aja nikahin mayat hidup, Rii. Hidup gue gak lama, Rii...," Kututup mulutnya sebelum omongannya berlanjut kemana-mana.


Kupegang pipinya yang sudah basah dengan air mata itu.


"Klo pun elu akhirnya meninggal, Va! Gue mau dampingin elu sebagai Suami elu! Yang terpenting sekarang, kita jangan buang waktu lagi! Gue mau elu cepat berobat, Beb. Please, Babe! Turutin gue untuk kali ini aja, sayang!" Ujarku sambil menyeka airmatanya.


"Semangat ya, Beb! Lu pasti masih bisa sembuh, Sayang!"


Eva memelukku erat sambil mengganggukkan kepalanya. Eva memintaku agar untuk sementara, tidak memberitahu mamanya dulu sampai acara pernikahan kami selesai. Aku pun setuju dengan permintaan Eva. Kami berdua merencanakan pesta sederhana pernikahan kami yang super kilat itu. Pesta pernikahan super kilat yang hanya akan dihadiri kerabat keluarga dan teman-teman dekat kami. Untungnya kami berdua banyak dibantu oleh keluarga dan teman-teman. Sehingga pernikahan kami yang akan berlangsung bulan depan itu hanya membutuhkan persiapan 1 minggu saja. Aku pun meminta bantuan dari mama Wanda yang tanpa sepengetahuan Eva memberi dukungan penuh padaku.


Hari itu pun tiba...


Hari ini adalah hari pernikahanku.


Aku bertemu Eva sebentar sebelum kami dimake up. Kami berpelukan melepas rindu sebentar. Lalu kami harus bergegas untuk segera dimake up. Aku dan Eva memilih konsep pernikahan ala Eropa yang tidak ribet persiapannya. Aku mengenakan Tuxedo warna putih, begitu juga Eva yang mengenakan gaun putih panjang impiannya hadiah dari relasi mama Wanda yang merupakan perancang busana terkenal ibukota.


Acara kami diadakan di sebuah Resort baru milik kenalan mama Wanda yang terletak di tepi pantai, di pinggiran kota. Setelah selesai acara Akad nikah, kami berdua pun kembali berpisah untuk selanjutnya melanjutkan dengan Acara Resepsi yang dilakukan di area tepi pantai dengan konsep Outdoor. Aku menunggu kedatangan Eva dibawah kanopi dengan dekorasi penuh bunga beraneka warna yang indah. Didepanku, berdiri para tamu undangan. Aku berdiri bersama Papa dan Mama disampingku. Lalu terlihat Rombongan mama Wanda dengan Eva berjalan diatas karpet merah ditengah-tengah para tamu. Mama Wanda menggandeng tangan Eva yang berjalan dengan anggun. Para tamu yang berada dipinggir karpet melemparkan serpihan bunga mawar ke arah mereka. Wajah Eva ditutupi cadar panjang berwarna putih berenda sesuai dengan warna gaunnya yang berwarna putih mutiara. Aku tersenyum memandangi Eva yang berjalan pelan makin mendekat ke arahku. Eva sekarang sudah sampai didepanku. Mama Wanda pun melepaskan tangannya yang tadi menggandeng Eva. Vina muncul dari belakang Eva membawa nampan dengan kotak kecil berisi cincin diatasnya. Ustadz yang menjadi pembawa acara pun menyuruhku untuk mengambil cincin kawin kami diatas nampan itu. Setelah mengucapkan janji pernikahan sekali lagi didepan para tamu yang hadir. Aku pun dipersilakan untuk membuka Cadar yang dipakai Eva dan dipersilakan untuk mencium wanita yang sudah sah menjadi istriku itu.


Tanganku gemetar saat akan membuka cadar yang dipakai Eva. Saat kubuka cadar itu, kulihat wajah Eva yang cantik sempurna sedang tersenyum dengan riasan yang membuat kecantikannya makin sempurna. Eva mencium tanganku yang terulur sambil memasang cincin dijari manisku. Setelah itu ia segera mengalungkan kedua tangannya keleherku, dan kugerakkan tanganku melingkar memeluk pinggangnya yang ramping. Wajah kami saling mendekat.


"You're so beautiful, Honey!" Bisikku sambil tersenyum saat nafasnya terasa didekat bibirku. Eva pun tersenyum sambil berbisik.


"Now, I'm Yours! My Handsome Hubby!" Kupasang Cincin indah yang terukir namanya itu dijari manisnya. Sambil menatap matanya yang indah kukecup bibirnya dengan lembut! Para tamu pun bertepuk tangan melihat pemandangan yang romantis itu. Papa dan mama bertepuk tangan sambil meneteskan airmata, begitu juga dengan mama Wanda yang juga menangis bahagia. Siska, Vina dan Surya pun meneteskan airmata haru saat menyaksikan pemandangan sore itu.


Setelah selesai acara sore hari itu, aku dan Eva langsung bergegas untuk berangkat ke Jakarta. Karena besok paginya kami sudah harus berangkat ke Paris.


Malam itu aku dan Eva menghabiskan waktu dengan berpelukan didalam kamar.


Ini malam pertama kami. Eva tersenyum manis, sambil membelai wajahku.


"I love You!" Ujarnya sambil membelai wajahku.


"I love u more than u know!" Balasku sambil mengelus alisnya yang indah dengan ibu jariku. Kucium mesra bibirnya, Eva memejamkan matanya menikmati ciumanku. Lalu matanya terbuka dan berbinar nakal, dan ciumannya berubah menjadi liar. Dikamar yang dingin itu tubuh kami bermandi keringat. Tubuh Eva yang berada diatas tubuhku tiba-tiba mengejang sambil menggenggam erat jemariku yang berada dipinggangnya. Eva mengerang sambil tersenyum lalu roboh menindih tubuhku. Aku pun memacu gerakanku dan kemudian aku pun mengerang sambil memeluk tubuhnya erat. Untuk pertama kali kutumpahkan cairan cintaku didalam tubuhnya malam itu. Eva menciumi bibirku saat tubuhku masih mengejang.


"Jangan dilepas ya, Beb! Aku mau kita tidur begini aja," katanya sambil mengelus dadaku yang bidang.


"Yes, My Love!" Jawabku sambil membelai dan menciumi rambutnya. Eva pun tertidur lelap didalam pelukanku, kupandangi wajah istriku yang cantik jelita itu lalu kukecup keningnya sambil berbisik,


"I love u so, Sweetheart. I will love u till death do us apart!" Kutatap wajah cantiknya yang tersenyum sambil tertidur pulas itu sampai aku pun akhirnya tertidur sambil memeluk tubuhnya dengan erat.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!