MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
BLOODBATH!!!



5 Tahun kemudian...


Dion berlari menghampiriku yang sedang berenang dengan anakku. Mike, panggilan kecil dari Michael Romeo Ramirez, bayi mungilku itu tak terasa sudah berumur 5 tahun. Saat senggangku selalu kuhabiskan untuk bermain dengannya.


"Bos, ada kabar buruk!" kata Dion sambil berdiri membungkukkan badannya kearahku dari pinggir kolam renang.


"Kamu tunggu saya diatas!" Jawabku sambil menggendong Mike dipundakku.


"Papa kerja dulu ya, Mike main sama mama!" Ujarku sambil menggendongnya dan keluar dari kolam.


"Sayang, gue keatas dulu," kataku sambil mencium pipi Cresa yang sedang duduk tak jauh dari kolam renang. Aku memakai mantel mandiku dan masuk ke dalam rumah.


"Berita buruk apa, Dion?" ujarku sambil duduk di kursi di ruang kerjaku. 7 orang anak buahku membungkukkan badannya saat aku duduk.


"CEO MorClan diserang 6 orang tak dikenal secara brutal!"


Kubaca berita online yang ditunjukkan Dion di iPad miliknya. Jantungku langsung berdebar-debar dengan kencang saat membaca berita itu.


"Siapkan kendaraan, saya akan berangkat ke Jakarta hari ini. Perintahkan Indra untuk mengamankan rumah ini selama saya pergi!" Ujarku pada Dion sambil berlalu dari ruangan itu.


"Cresa, jangan meninggalkan rumah selama gue pergi!" Ujarku sambil menyeret koperku keluar kamar. Mike berlari kearahku yang sudah berpakaian rapi.


"Papa tinggal dulu ya, Sayang. Jangan bandel, Mike! I love you!" Ucapku sambil menggendong dan mencium pipinya yang tembem. Mike mengangguk sambil memelukku. Cresa segera mengambil Mike dari gendonganku dan mencium punggung tanganku.


"Hati-hati, honey!" Katanya menatapku sambil tersenyum.


"Ingat pesan gue. Jangan keluar rumah sampai gue pulang. I love you!" Ujarku sambil mencium bibirnya. Cresa menganggukkan kepalanya.


Kutelpon orang kepercayaan Mia untuk menanyakan keadaannya saat ini.


"Siap bos!" Kata Fredy menjawab telponku.


"Bagaimana kondisi Bu Mia sekarang?" Tanyaku.


"Masa kritisnya sudah lewat, tapi beliau masih belum sadar, bos!" tegas Fredy.


"Tambah penjagaan di lorong-lorong dan di sekitar kamarnya dan jangan izinkan siapa pun masuk sebelum saya datang!" Ujarku lalu menyudahi panggilan itu.


****


Kupegang jemari tangan Mia sambil menatap wajahnya yang pucat tertidur. Wajah cantiknya yang ditutupi selang infus dan masker pernafasan buatan. Ada 7 luka tusukan disekujur tubuh Mia. Aku menjenguk dan menunggui Mia seorang diri malam itu.


"Mia, bertahanlah! Gue akan balas yang sudah melakukan ini ke elu!" Bisikku lembut ditelinganya. Lalu kukecup lembut keningnya.


"Get well soon, baby!" Gumamku pelan lalu berjalan keluar kamar.


"Bagaimana Fredy, kamu sudah dapat info?" Tanyaku pada Fredy yang masuk ke dalam mobilku.


"Sudah bos. Info A1 yang menyerang bos Mia adalah grup Medan dan Palembang," ujar Fredy.


"Tracking bos-bos grup itu siapa saja, lalu kamu minta bantuan Dino untuk cari tau posisi mereka dimana. Kabari saya paling lambat sebelum besok pagi! INGAT FREDY! SEBELUM BESOK PAGI!" Ujarku lalu meninggalkan rumah sakit menuju Hotel.


"Bos, grup Medan dan Palembang sekarang ada di Marina Bay, Singapura dan Genting Malaysia," kata Dion menjelaskan informasi dari Fredy.


"Hubungi orang kita disana, cari tau berapa lama dan untuk apa mereka disana! Kabari saya jika Bruno dan Drake sudah tiba!" Jawabku.


****


Bruno dan Drake bergerak cepat setelah menerima perintah dariku. Mantan pembunuh bayaran kepercayaan Mr. Paolo itu secara profesional menyelesaikan tugasnya hanya 5 hari setelah kuberi perintah. Mereka berdua dengan sukses mengeksekusi 2 grup yang mencelakai Mia itu.


Mereka berdua menungguku di Bali setelah melaporkan segala tentang operasi, sementara aku harus menyelesaikan urusan penyerangan terhadap Mia agar benar-benar tuntas.


"Indra! Kamu siapkan pasukanmu, cari dan bereskan semuanya yang ada kaitannya dengan grup Medan dan Palembang. Saya gak mau ada yang tersisa, Ndra! GAK ADA SISA!!!" ujarku geram.


Indra memang sudah lama kusiapkan sebagai pimpinan tim Black Ops untuk memburu musuh-musuhku. Sudah 2x tim Indra menuntaskan tugas dariku dengan sukses.


Rumah dan Asset kedua grup itu habis dibumi hanguskan oleh Indra Cs. Bahkan gudang penyimpanan Narkoba mereka, rata dengan tanah. Sayangnya Mr.Paolo tidak menyetujui keinginanku untuk menyerang Seorang bos asal Malaysia. Mr. Paolo berjanji akan memperingatkan bos asal Malaysia itu dengan caranya.


****


"Bos! Bos Mia sudah sadar, dia mencari bos!" kata Fredy yang menelponku saat aku sedang menuju bandara.


"Saya segera kesana!" Jawabku pada Fredy.


Mia tersenyum saat aku masuk ke dalam kamarnya. Selang Ventilator sudah dilepas dari tubuhnya. Hanya selang infus yang masih terpasang.


"Are you okay, Honey? I'm really worried about you!" Ujarku sambil mengecup keningnya dan mengusap lembut rambutnya.


"I'm good, Rio. Thanks for your concern!" Jawab Mia menggengam tanganku.


"Mia, setelah ini lebih baik kamu dirawat di Bali. Biar aku bisa melindungimu dan lebih sering menengokmu," Ujarku lagi.


Mia menganggukkan kepalanya.


"I love u!" Bisiknya saat aku menciumnya.


"I love u too!" Balasku sambil tersenyum.


"Maaf Sayang, Gue harus pulang sekarang. Bruno dan Drake menungguku."


Mia terkejut mendengar 2 nama itu.


"Apa yang sudah elu lakukan, Rii?" Tanya Mia dengan wajah cemas. Dia menduga-duga apa yang sudah terjadi jika aku sudah melibatkan 2 orang itu.


"Jangan pikirkan itu, cepatlah sembuh, Sayang! Gue hanya membalas apa yang sudah mereka lakukan ke elu, sayang!" Ujarku sambil mencium keningnya.


****


Madera grup tidak menyangka secepat ini Morclan membalas serangan mereka. Serangan Morclan cepat dan Efektif, pucuk pimpinan Madera langsung dihabisi sehingga anak buah mereka kehilangan komando untuk melakukan apa. Mereka bagai anak ayam kehilangan induk. Serangan Morclan yang dipimpin EL CHEF, membuat kocar-kacir kartel Madera yang akhirnya meminta bantuan Mr. Paolo untuk memberi mereka perlindungan dari serangan berikutnya.


Mereka menyaksikan sendiri bagaimana kejamnya serangan El Chef, yang membuat kerusakan yang parah, dalam semalam rumah pimpinan dan gudang-gudang mereka hancur jadi debu. Inilah perang kartel terparah dan terbesar sejak Madera Grup berdiri. Pimpinan Morclan hanya terluka parah, sedang Madera harus membayar dengan kehilangan 5 pimpinan tertingginya. Tidak berhenti sampai disitu, Indra dan timnya masih terus memburu anggota-anggota Madera yang berpotensi untuk membalas dendam. Mereka akan terus melakukan 'pembersihan' sampai El Chef memerintahkan mereka untuk berhenti.