MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Gue Pergi...



Ketika aku melintasi hotel di perempatan Mall. Ada 3 orang laki-laki sedang mengejar seorang wanita, wanita itu berbusana kantoran. Dan 3 orang laki-laki itu terlihat perlente. Sama sepertiku memakai blazer dengan sepatu pantofel tapi kemejaku kukeluarkan. Wanita itu mendatangiku sambil menangis ia memohon aku menolongnya. "TOLONG GUE, MAS.TOLONG GUE!" Katanya dengan wajah ketakutan.


Aku menatap ketiga laki-laki itu. "Ada apa ini mas?" Tanyaku pada ke 3 laki-laki itu.


"Kagak usah ikut campur, mas. Dia itu cewek bookingan," kata laki-laki berkulit kuning sambil menunjuk wanita itu.


"Bohong mas! Gue bukan cewek seperti itu," katanya dengan tubuh gemetaran.


"Sebentar! Saya telpon polisi dulu mbak," kataku sambil mengeluarkan ponselku seakan-akan mau menelpon polisi.


Pemuda perlente yang berbadan pendek hendak merampas ponselku. Kutendang dengan tendangan putar 2x "Brakkkkk! Brakkkk!" Lelaki bertubuh pendek itu pun terjerembab mencium tanah. Kedua temannya setelah melihat tendanganku segera menolong temannya dan berlalu dari situ. Setelah mereka bertiga pergi. Cewek itu berterima kasih padaku sambil meminta tolong lagi untuk menemaninya untuk mengambil mobilnya. Aku mengangguk, kuantar cewek itu.


"Nama gue Arie, mas!" Katanya sambil berjalan disampingku. "Gue Rio, mbak," kataku sambil merokok.


"Itu mobil saya, mas!" katanya menunjuk sebuah mobil Mercedes keluaran terbaru. Dia membuka pintu mobil itu.


"Mas Rio, mau kemana? Gue anterin," katanya lagi.


"Udah dekat mbak. Gue jalan aja. Terima kasih," jawabku. Dia lalu mengeluarkan kartu nama. "OK, mas. Gue pamit dulu. Itu kartu nama gue. Gue harap besok bisa ketemu mas Rio lagi. Gue bisa minta kartu nama atau nomer ponsel?" Katanya sopan. "Hmmm. Nanti gue telpon ya mbak. Mbak Arie hati-hati. Gue jalan dulu," kataku sambil berjalan menuju rumah.


***


5 BULAN KEMUDIAN...


Akhirnya aku lulus SMA!!! Aku pun di terima di Le Cordon Bleu(LCB)Melbourne, Australia.6 hari lagi aku akan berangkat.


Kuselesaikan urusanku yang menggantung sebelum aku meninggalkan tanah air.


Urusanku membantu Eva yang ditipu oleh James yang sempat menjadi pacarnya itu pun telah selesai.


James ternyata adalah orang suruhan Tino juga, yang ditugasi untuk membantu niat busuk Tino untuk menguasai saham perusahaan almarhum papanya Eva. Walaupun aku masih ada sedikit rasa pada Eva setelah kami berbaikan, aku tetap pada keputusanku untuk tetap putus saat Eva ingin mengajakku kembali berpacaran. Semenjak kejadian itu semua aku hanya memikirkan mama dan adik-adikku. Kuliah membuatku 2-3 tahun kedepan hidup terpisah dengan papa, mama dan adik-adikku.


Papa, mama, Vina dan Surya ikut mengantarku. Mama menangis sambil berpesan agar aku menjaga diriku baik-baik. Papa sudah bisa tersenyum hari ini. Padahal  pada saat aku mengikuti ujian essay LCB papa pikir aku asal memilih sekolah. Pada saat tau LCB adalah salah satu sekolah bidang perhotelan terbaik didunia, papa pun bangga kepadaku, sehingga membuat papa bisa tersenyum hari ini.


"Titip mama dan adik-adik ya, Bos!" Kataku pada papa saat aku hendak berpamitan. Papa mengangguk.


"Rio!!!" Terdengar suara wanita memanggil namaku.


"Maaf ya! Gue terlambat banget ya?" Kata Arie yang akhirnya datang juga.


"Ayo gue anter ke dalam," katanya buru-buru.


"Nggak kok. Tapi sebentar ya, Rie. Gue masih nunggu seseorang," kataku pada Arie yang hari itu terlihat sangat cantik. Arie mengangguk. Datanglah orang yang kutunggu. Mama Wanda! Mama Wanda berlari memelukku. Mama Wanda memintaku menunggunya sebelum aku berangkat.


"Rio, ini ada sedikit hadiah dari mama. Nanti aja setelah kamu masuk pesawat baru boleh dibuka ya. Mama tunggu kamu pulang untuk handle bisnis restoran mama.Tapi mungkin kamu klo lulus udah malu untuk kenal mama Wanda, Rio!" Ujar beliau sambil memegang kedua tanganku.


"Masak Rio orang yang seperti itu, ma?" Ujarku sambil menggenggam tangan beliau yang sudah kuanggap seperti mamaku juga.


"Rio pamit dulu ya, Ma!" Ujarku lalu mencium tangan beliau. Eva yang berdiri disebelahnya langsung memelukku. Kuelus-elus rambut dikepalanya.


"Anggap gue adik lu, Va. Lu baik-baik ya. Jangan sering keluar malam, Va!" Ujarku sambil tersenyum.


"Gue boleh kan klo liburan nengokin elu, Rii?" Ujar Eva sambil melirik Arie yang berdiri disampingku. Tak kujawab pertanyaannya itu.


"OK semua, Rio pamit. Bye!" Kataku sambil melambaikan tangan pada mereka semua kecuali Arie yang ikut mengantarkanku ke dalam. Eva mengejarku dan Arie yamg hampir sampai di gerbang pemeriksaan tiket.


"Rio... Can u gimme last kisses?" Kata Eva dengan mata basah. Aku menoleh ke arah Arie. Arie mengangguk. Aku mengajak Eva berjalan agak kedepan. Eva lalu menciumku dengan erat. Ia pun menangis.


"Gue tau klo gue sekarang bener-bener sudah kehilangan elu, Rio!" Katanya dengan suara bergetar ketika memelukku.


Arie berkat koneksinya di bandara bisa mengantarku hingga kedalam gate keberangkatan. Kami berdua menikmati makanan di lounge VVIP itu.


"Bulan depan gue ada schedule ke Sydney. Ntar gue mampir ya, Rio!" Katanya memegangi jemariku. Aku tersenyum.


"Jangan cuma mampir, temenin gue sampe slese kuliah juga gak apa, Rie!" Jawabku bercanda. Dia tertawa renyah.


"Mudah-mudahan studi kamu lancar ya, Rio. Amin!" Katanya lagi.


"Amin!" Jawabku.


"Jaga dirimu baik-baik, Rio. Jangan jelalatan ya," ujar Arie sambil mengelus alisku.


"Klo nggak jelalatan emang dapat hadiah apa?" Tanyaku sambil tersenyum. Arie lalu mencium bibirku dan kemudian dia terdiam.


"Lu jaga diri ya, Rie! Jangan sampe sakit, klo lu sakit nengokin elu mahal! Hahhaha," candaku menggodanya.


"Mantel, sweeter udah lengkap semua kan Rio?" Katanya lagi.


"Gue udah bawa dobel-dobel kok," jawabku.


Lalu kami terdiam lagi. Kurangkul bahunya. Kami cuma saling memandang satu sama lain. Panggilan untuk pesawatku terdengar, aku masih tetap duduk memeluk Arie.


"Gue sayang elu, Rie!" Kukecup bibirnya lembut.


"Gue juga sayang elu. Yang sabar ya disana, Sayang!" Katanya dengan mata basah.


"Iya sayang. Gue berangkat dulu ya!" Kataku sambil mengecup keningnya. Kutinggalkan Arie sendirian di lounge itu. Tapi rupanya dia belum rela untuk berpisah dariku. Dia berlari lagi memanggilku dan memelukku sambil menciumku. Saat berpisah tiba. Kulambaikan tanganku pada Arie.


3 tahun kemudian...


Tidak banyak yang berubah dari kotaku, sekarang umurku sudah 22 tahun. Saat aku pulang, aku hanya mengabari sedikit orang saja. Mama, papa, dan mama Wanda.


Setelah puas melepas kangen dengan mama, papa dan adik-adikku yang sudah mulai besar. Aku berjalan-jalan mengelilingi kota.


Dan tentunya setelahnya, aku menuju ke rumah mama Wanda. Hadiah seadanya saat aku mau berangkat waktu itu adalah buku tabungan berisi uang 500jt dan Kartu kredit Platinum no limit. Itu sebab aku tidak melupakan wanita itu yang sudah kuanggap sebagai mamaku itu. Mama Wanda berteriak kegirangan saat bertemu aku.


"Nor handsome but more masculine," katanya begitu menyambut kedatanganku dirumahnya. Aku pun lalu diajak ke restoran mama Wanda. Karena mama Wanda ingin aku memasak Beef Wellington(BW) ala Chef Gordon Ramsay untuknya, karena saat dia ingin memakan masakan itu, paling dekat dia harus berangkat ke Singapura. Kini Anak angkatnya sudah pulang dan mama Wanda ingin melihat hasil belajarku di negeri Kangguru. Mama memintaku  untuk memberi short course kepada Koki diresto mama Wanda. Setelah persiapan sudah selesai, aku pun mulai memasak sambil mengajari koki itu bagaimana membuat BW. Tanganku yang dulu lebih banyak dibuat berantem hahhaha sekarang lebih trampil. Mengiris, mencincang, dan mengolah masakan. Kukeluarkan daging T-loin yang sudah kubungkus semalaman.


Aku memasak sambil menjelaskan urutan proses kepada koki itu. Setelah selesai. Daging T-loin itu harus dibiarkan difreezer selama 1jam.


"Itu untuk besok saja. Saya sudah bawa yang sudah jadi di mobil saya.


"Rio, mama mau kasih suprise untuk Eva ya. Dia mama undang makan disini. Kebetulan dia juga suka banget BW," kata mama Wanda.


"Baik ma!" Jawabku.


"Begitu Eva datang 10 menit plating paling lama. Udah siap kok ma," kataku pada mama Wanda.


"Ok Rio, sekarang mama tunggu dimeja ya," kata beliau sambil berlalu. Aku menganggukan kepala.Tak lama kemudian Eva pun tiba. Aku pun melakukan plating and served. 2 porsi BW yang indah itu dibawa waiter dengan hati-hati.


"Koki baru lagi ma? Bikin BW lagi nih? Mama gak kapok-kapok ihh!" Kata Eva.


"Iya, ini lulusan NHI loo!" Kata mama Wanda berbohong. Kemudian BW sudah siap disajikan didepan mama dan Eva. Eva menatap masakan itu, masakan itu sangat mirip dengan BW yang pernah dia makan di Singapura atau Inggris. Dari baunya pun nyaris sama. Dia pun segera mencicipinya. Matanya terpejam sambil menguyah daging steak pastry itu.


"Ini identik banget, Mama!!! Lezat banget!" Pekik Eva. Mama Wanda pun sambil meneteskan  airmata saat mencicipi BW itu. Mama Wanda setuju dengan apa yang dikatakan Eva. Mama lalu memencet tombol yang ada di meja untuk memanggilku dari dapur. 


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!