
Akhirnya dengan bantuan Bu Citra, pak Razki diskors juga. Entah berapa lama skorsing yang dikenakan padanya. Sebab kasus skorsing ini tidak banyak yang tahu atau tidak diumumkan.
Dan terkesan ditutupi oleh pihak sekolah.
Ke 6 orang siswa kelas 3 itu juga diskors selama 2 minggu untuk belajar dirumah.
Aku pun diskors 3 hari untuk belajar dirumah. Surat skorsing dari sekolah kutunjukkan pada mama.
"Lumayan ada waktu untuk kamu latihan. Kan kamu mau ujian kenaikan sabuk lagi kan?" ujar mama sambil memeluk dan menciumku.
"Iya ma. Skorsingnya mulai besok Ma," kataku sambil menghabiskan makan siang.
"Rio pergi latihan dulu ya," kataku sambil salim dan mencium tangan beliau. Aku mendorong motorku dari garasi dan aku segera meluncur ke tempat latihan. Ujian kenaikan sabuk dilaksanakan minggu depan. Aku dan tiga temanku berlatih materi ujian. Kami berlatih dengan semangat, sebab kami bertiga sama-sama tidak lulus diujian sebelumnya. 1 jam kami berlatih, tanpa jeda. Saat istirahat kami berempat pun lalu terkapar.
"Gue balik dulu Broo," teriak Yusuf sambil berlari kekamar mandi. Aku, Dio dan Surya masih duduk santai di arena latihan.
"Aku mandi duluan bro," kataku pada Surya dan Dio yang masih kelelahan.
Ponselku berbunyi saat aku mau menyalakan motorku.
"Dimana sayang? Habis latihan ya?" ujar Cresa manja.
"Baru aja selesai latihan. Kamu dimana, kok rame banget keliatannya, sayang?" Suara musik EDM dibelakang Cresa berdentum keras.
"Aku dan Virna lagi daftar ikut klub tari ini lagi habis latihan," katanya diujung sana
"Ooow, udah selesai latihannya?"
"Belum, kamu mau kesini? 1 jam lagi selesai, sayang."
"Ok, kamu shareloc ya. Aku OTW sekarang."
"Ok. I love you. Muacch."
Kulihat lokasi klub tari itu diponselku. Aku pun berangkat menuju klub tari itu.
Kulihat Cresa, Virna dan beberapa cewek yang lain sedang menari mengikuti irama musik. Seorang cowok bertopi tampak mengelilingi para cewek yang sedang menari itu. Dia memegang tubuh Cresa untuk membetulkan gerakan yang menurutnya salah. Kuperhatikan gerak-gerik cowok itu. Dia hanya terpaku pada Cresa saja tampaknya, gerakan member yang lain tidak diperhatikannya. Cowok itu sepertinya sadar jika sedang kuperhatikan. Cowok itu menatapku dari kaca cermin besar ditempat latihan tari itu. Hatiku terasa panas. Aku pun lalu keluar kearah taman dan merokok disitu. Cresa tak lama kemudian keluar dari tempat latihannya lalu berlari dan memelukku.
"Kirain kemana beb. Ternyata lagi merokok disini," katanya sambil memegang lenganku. Aku hanya tersenyum tipis. Kuusap keringat didahinya. Lalu Virna keluar dari ruangan latihan itu bersama cowok bertopi yang kupandangi tadi.
"Baru datang, Rio? Jemput Cresa ya? Lah aku pulang bareng siapa donk?" Tanya Virna.
"Ntar pulang bareng gue aja dek," kata cowok itu pada Virna.
"Ok kak Seto, Makasih!" jawab Virna terdengar senang.
Cowok itu mendatangiku,
"Pacarnya Cresa ya? Kenalkan gue Seto Koreografer disini," ujarnya sambil menjabat tanganku.
"Ooh iya. Gue Rio!" balasku sambil menatap matanya.
"Oiya Cresa, Virna.1 minggu lagi kita ada event mengisi acara pembukaan Club baru di kota ini. Seminggu ini kita latihan 2 jam ya," ujar Seto
"Ok kak.Aku pulang dulu ya," pamit Cresa pada Seto dan Virna.
"Balik dulu Vir, bang," ujarku cuek tanpa melihat muka Seto.
Kuantar Cresa langsung ke rumahnya.
"Aku langsung balik ya,beb!" kataku tanpa turun dari motorku. Cresa memegang lenganku.
"Kamu kenapa? Daritadi pulang diajak ngomong kok diem aja? Aku gak mau kamu langsung pulang!" katanya sambil memeluk lenganku. Aku turun dari motorku dan menggandengnya ke teras rumahnya.
"Kamu lagi marah ya?" katanya sambil mengelus-elus mukaku yang cemberut.
"Jujur ya. Aku gak seneng liat badan kamu dipegang-pegang guru narimu si Seto itu," ujarku sambil memegang jemarinya.
"Kan dia ngebenerin gerakanku yank," balasnya sambil melingkarkan tanganku dipinggangnya.
"Iya. Aku tau. Tapi yang lain gerakannya gak bener tapi gak dikoreksi sama dia, Kamu aja yang dibenerin" kataku dengan nada kesal.
"Kamu cemburu ya? Hihihi," ujarnya sambil memelukku erat.
"Yank. Ini lepas dari karena aku pacarmu. Kamu kalo ngerasa dia menyentuh kamu dengan sentuhan yang gak seharusnya, kamu harus bisa nolak. Aku punya feeling aja. Klo dia suka curi-curi kesempatan gitu orangnya," gerutuku tentang guru tarinya.
"Iya. Iya. Udahan ahh marahnya," Dia mencium pipiku.
"Yah Aku besok gak ketemu kamu yank,"
"Aku jemput kamu pulang sekolah yah!"
"Beneran ya dijemput?"
"Iyaa iya." lalu kucubit pipinya.
"Aku pulang dulu yank," kataku sambil berdiri didepannya.
"Bentar lagi donk!" katanya lalu memelukku.
Pelukannya itu menyebabkanku salah tingkah. Muka Cresa saat memelukku tepat antara pangkal paha.Mukanya dibenamkan kepangkal pahaku. Ada sesuatu yang bangkit dan otomatis menonjol menyentuh pipi Cresa. Aku ingin menggeser mukanya untuk menjauh dari situ. Tapi Cresa malah makin membenamkan wajahnya disitu. Cresta menarik mukanya dan mau menyentuhnya. Kutepis tangannya dan kugenggam jemarinya.
"Aku pulang ya beb!" Dadaku langsung berdebar kencang. Cresa bangkit dari duduknya lalu memelukku.
"Iya. Hati-hati pulangnya,"ujarnya sambil menoleh kedalam lalu "Cuupp," Cresa mengecup bibirku sebentar.
"Aku sayang kamu," bisiknya setelah mengecup bibirku. Kupeluk tubuhnya sambil mencium pipinya.
"Aku juga sayang kamu," kataku sambil memegang kedua tangannya. Cresa melambaikan tangannya saat aku pulang.
......................
Sebelum sekolah usai, aku sudah nongkrong di parkiran sekolahku. Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi. Aku melepas helm untuk memamerkan potongan rambutku yang baru pada Cresa. Aku habis memotong rambutku dengan gaya Quiff Undercut di Barber Shop langgananku. Aku memakai kaos ketat lengan panjang warna hitam yang memamerkan otot kekar ditubuhku, dengan celana jeans berwarna hitam juga. Cresa yang keluar dari gerbang sekolah melihatku takjub. Dia pun berlari riang ke arahku meninggalkan Virna dan teman-temannya.
"Oh My God! Cute banget kamu sayang!" pujinya saat melihatku.
"Habis potong yah? Keren rambutnya yank," ujarnya sambil menyentuh rambutku. Aku hanya tersenyum.
"Yuk naik yank," kataku sambil menggeser duduk agak maju kedepan.
"Emmmmm, Sori beb. Aku langsung latihan nari bareng Virna. Nanti dijemput kak Seto. Gak papa kan sayang?" ujarnya dengan tatapan menunduk kebawah.
Aku mencoba tetap tersenyum.
"Trus pulangnya aku jemput gak?" tanyaku lagi.
Dia mengangguk.
"Tapi gak papa kan, yank? Virna ngasih tau ini mendadak soalnya. Aku gak enak sama kamu yang udah jemput aku soalnya," katanya sambil tetap menunduk.
"No problems, dear. Ya udah. Aku berangkat latihan dulu ya. Ntar aku jemput kamu di Studio ya," kataku lagi.
"Makasih sayang. Kamu hati-hati ya. I love u," katanya lalu mencium pipiku. Ketika aku melintas didepan pagar sekolah kulihat Seto dan 2 orang temannya baru sampai. Kugeber motorku dengan kencang ke tempat latihan.
"Naluriku bahwa Seto punya maksud tersembunyi dengan Cresa tidak mungkin salah!" gumamku dalam hati. Apalagi melihat Seto menjemput Cresa dan Virna, darahku semakin mendidih. Kugas mentok motorku sampai ban depan motorku terangkat naik dari aspal.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!