
2jam...
6 jam...
1 hari...
3 hari...
6 hari...
Tidak ada kabar apa pun dari Cresa. Kucoba menghubungi nomer ponselnya tapi nomernya sudah tidak aktif. Entah mungkin ratusan ribu kali kutelpon nomer ponsel Cresa tapi tidak pernah terhubung atau tersambung. Kutanya pada Virna, ternyata pun sama. Virna seakan lost kontak dengan Cresa. Bahkan nomer papanya juga sudah tidak aktif lagi kata Virna. Sampai akhir liburan pun. Cresa tetap tidak memberi kabar. Saat masuk sekolah, kucari teman-teman yang pernah akrab dengan Cresa. Tapi Nihil! Tak ada kabar tentang Cresa. Setelah 2 bulan. Virna mencegatku saat usai sekolah di gerbang sekolah.
"Rio, gue ada yang mau diomongin soal Cresa," ujarnya.
"Cresa udah ngabarin elu,Vir?Gimana kabarnya? Dia baik-baik aja kan?" tanyaku antusias pada Virna.
"Dia cuma titip pesan. Pesannya. Lupain dia, Rio. Dia minta maaf banget ke elu. Udah cuman itu pesan dari dia," ujar Virna dengan mata berkaca-kaca.
"Dia nelpon elu pake nomer ponsel kan. Siniin nomernya biar gue telpon dia atau kirimin dia pesan," kataku pada Virna. Virna lalu menunjukkan daftar panggilan yang masuk di ponselnya.
Dibukanya data panggilan di ponselnya. Ada 2 resctricted call pada jam 9 malam. Panggilan yang dilakukan Cresa tidak meninggalkan nomer untuk bisa kutelpon kembali.
"Ok, Vir. Makasih infonya," ujarku dengan nada lemas sambil berlalu meninggalkan Virna.
"SABAR RIO.BULAN DEPAN CRESA PASTI KASIH KABAR," begitu suara bisikan ditelingaku saking mengharapkan Cresa memberi kabar.
Sudah hampir 3 bulan lebih tidak ada kabar dari apapun Cresa. Keadaanku sejak kepindahan Cresa bisa dibilang memprihatinkan. Jarang makan , susah tidur, bahkan Taekwondo yang dulu merupakan kegiatan favoritku, sekarang sudah sangat jarang kulakukan bahkan hampir tidak pernah. Surya pun akhirnya menyerah setelah berulangkali mengajakku untuk segera latihan tapi tak pernah aku pedulikan ajakannya.
Vina tiba-tiba muncul dibelakangku. Aku tahu dia setiap sore mengikutiku ke Kafe Pinus karena disuruh mama. Sore itu hanya Vina, entah kemana Surya yang sore itu tidak menemaninya.
"Rio, mau sampai kapan lu seperti ini?" kata Vina membuka obrolan.
"Ini sudah hampir 3 bulan lebih Cresa gak kasih kabar ke elu. Elu harus nyadar dia udah gak peduli sama elu!" kata Vina lagi.
Aku tersenyum kecut mendengar kata-kata Vina sambil memandang ke arah laut.
"Liat kondisi lu, badan lu kurus kering, mata cekung, jarang mandi, lu jangan terus-terusan begini! Lu gak bisa terus-terusan begini! Rio, mau sampai kapan?" kata Vina sambil duduk disampingku dan mengucel-ngucel rambutku.
"Lihat nih, rambut lu pun udah seperti bau kardus basah. Gue sedih Rio liat lu kayak gini. Monyet aja males deketan sama elu yang bau kayak gini!" kata Vina lagi.
"Gue salah apa sih, sampe Cresa giniin gue,Vin?" ucapku sambil meremas kepalaku.
"Lu gak salah. Keadaan yang bikin semua begini. Gue percaya Cresa pun pasti gak mau liat lu begini. Dia yakin lu itu cowok kuat! Mungkin ada keadaan yang membuat Cresa harus ngelakuin ini semua. Karena Lu sama Cresa masih belum bisa mutusin hidup lu sendiri, masih bergantung sama ortu. Mungkin Cresa gak mau ninggalin elu, tapi dia masih bergantung sama ortunya untuk hidup dia bisa apa? Elu bisa apa? Ayo, kemana sepupu gue yang dulu gue bangga-banggain, yang mama lu bangga-banggain? Klo Cresa memang jodoh lu. Pasti ada jalan untuk lu ketemu lagi, untuk lu bareng lagi," ujar Vina sambil melingkarkan tangannya dibahuku.
"Lu pernah nguatin gue waktu mama dan papa gue bercerai. Cuma lu sepupu gue yang care ke gue. Sekarang giliran gue harus nguatin elu dan gue yakin elu kuat!"
Aku tersentuh dengan kata-kata Vina barusan. Aku baru nyadar, hidup memang kadang gak seperti yang kita pengenin tapi kita harus terima itu semua!
Aku termenung sebentar. Lalu tak lama kemudian aku pun bangkit dari dudukku.
"Anterin gue potong rambut yuk, Vin!" kataku sambil mengucel rambutku yang sudah agak panjang.
"Gue anterin lu ke salon yang tukang potongnya cakep parah, Yuk! Tapi inget! Jangan sampai lu kasih tau Surya tempatnya ya!" Katanya sambil menggandeng tanganku.
...----------------...
Tiga bulan kemudian...
Malam itu aku mengikuti ujian kenaikan sabuk geup 2.
Dari 3 papan yang harus dihancurkan hanya 2 yang bisa kuhancurkan. 1 papan lagi terbang tapi tidak hancur atau patah.
"Welldone bro. Udah makin mantap performa elu. 2 bulan comeback langsung ikut kenaikan sabuk," ujar Surya menyemangatiku.
Bobotku pun naik drastis, tiga bulan lalu bobotku yang turun hampir 9 kg, sekarang sudah kembali naik bahkan naik 10 kg, dengan dibantu suplemen dari personal trainerku di tempat Gym, bobotku naik pesat. Full otot minim lemak. Bahkan penampilanku sekarang lebih mirip dengan atlet MMA ketimbang atlet Taekwondo. 3 bulan ini kegiatanku hanya belajar, gym dan latihan di dojang. Di gym bisa 3 jam aku berlatih untuk membentuk otot-ototku.
"Lu gak ikut ke Club, Rii?" kata Surya dan Vina seusai ujian kenaikan sabuk mereka berencana refreshing ke Club.
"Gue gak bawa baju ganti, gue balik dulu aja. Ntar aja gue nyusul deh, klo gue diijinin mama ya... Vin," kataku sambil memakai helm.
"Sur, lu duluan ke Club. Booking meja, gue barengin Rio biar dia kagak sumpek dirumah mulu," kata Vina sambil mencium pipi Surya.
"Ok beb," kata Surya. Vina pun naik ke boncenganku.
Aku dan Vina tiba di Club yang sedang ramai karena malam itu ada event Ladies Nite, malam itu cewek yang masuk ke Club itu mendapat minuman gratis 1x. Banyak cewek cantik dan seksi yang datang malam itu.
"Banyak yang ngincer elu, bro!" kata Vina sambil menggandeng tanganku. Kulihat memang banyak mata cewek yang melirik kearahku dan Vina berjalan.
"Jiaaaahhhh, ngapain lu gandeng-gandeng sih. Mati pasaran gue, Vin!" teriakku pada Vina ditengah dentuman musik EDM. Surya rupanya memilih meja yang berdekatan dengan bar. Meja yang strategis untuk melihat orang yang lalu lalang di Club itu. Semua meja penuh dengan pengunjung malam itu. Lalu Ada 3 cewek berdiri didepan meja kami bertiga. Vina dan Surya memberiku kode padaku untuk mengajak mereka duduk dengan kami. Aku mengangguk, lalu mendekati ketiga cewek didepanku itu. Aku bergoyang mengikuti alunan musik dibelakang mereka. Kupilih berjoget dibelakang cewek yang paling cantik diantar ketiga cewek itu. 3 Cewek itu pun bergoyang mengikuti irama musik. Kujulurkan dan kugerak-gerakkan tanganku diantara kepala cewek itu tanpa menyentuhnya. Cewek itu pun menoleh setelah melihat tanganku yang berada diantara kepalanya. Dia menatap wajahku dengan datar tanpa ekspresi. Kujulur-julurkan lagi tanganku sambil tersenyum, senyum seorang anak kecil yang menemukan mainannya. Dia menoleh lagi, dan melihat senyumku lalu dia pun tersenyum. Dia maju mendekati temannya yang sedang berjoget didepan. Lalu temannya menoleh kearahku, lalu temannya menggeser tubuh cewek cantik yang didepanku tadi. Rasanya aku kenal wajah cewek itu. Tapi aku lupa namanya.
"RIO?!!! ELU RIO KAN???" Teriak cewek cantik yang wajahnya kukenal itu histeris saat melihatku. Ia lalu menyalamiku. Aku tersenyum sambil mencoba mengingat-ingat namanya.
"SISKA?! ELU SISKA?!!" Kataku pangling dengan penampilan Siska yang berambut pendek malam itu. Maklum kami sudah 5 bulan lebih gak pernah bertemu sejak peristiwa di stadion itu.
Siska pun mengenalkan kedua temannya. Si cantik itu bernama Eva dan yang satu lagi bernama Maya. Kuajak mereka semua untuk duduk. Aku biarkan Eva duduk lebih dulu. Lalu aku duduk diantara Eva dan Siska. Aku rasanya seperti Poltak Raja minyak dari Medan Wkkwkwkwkwk.
Siska lalu bertanya bagaimana kabarku.
"Apa kabar, Rio. Sudah lama ya kita gak ketemu, sejak lu bantu gue di stadion itu. Btw pacar lu mana? Kok gak keliatan?" Tanyanya mencari Cresa.
"Baik Sis. Hmmmm soal dia. Jangan dibahas lagi deh," ujarku sambil tersenyum lalu menenggak segelas bir.
"Oooh. OK! OK!" Kata Siska yang rupanya mengetahui saat itu aku tak ingin membahas tentang Cresa.
Siska berkenalan dengan Vina dan Surya untuk mencairkan suasana yang canggung.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!