MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Berdamai Dengan Hati



Pernikahan kami kurang 2 minggu lagi. Semua sudah siap. Dari pakaian pengantin, keluarga dan pengiring, Hotel, Katering, dan Dekorasi ditangani Tania dengan sempurna.


Termasuk Akomodasi keluargaku sudah persiapkan dengan matang oleh Tania.


Yang membuatku pusing adalah Cresa. Ya Cresa! Cresa memintaku untuk tidak menyentuhnya sampai pesta pernikahan usai.


Kupikir itu hanya candaan dia untuk menggodaku.


Tapi ternyata dia serius! Bahkan dia sampai ngambek saat aku mengajaknya bercinta dan Cresa pulang bersama mama Anggi ke Villaku di Seminyak.


Setelah aku meminta maaf, keesokan harinya baru dia menemaniku bekerja lagi.


Satu tugas lagi yang belum kuselesaikan yaitu menghubungi Om Jose!


Om Jose beberapa kali kuhubungi tapi ponselnya tidak pernah aktif.


"Beb, Apa papa gak punya nomer lain? Nomer yang diberikan mama tidak pernah aktif. Apa perlu gue ke Semarang? Gue libur sampai lusa, gimana?" Tanyaku sambil memberesi pakaianku yang habis kupakai.


"I have no idea, beb! Paling papa sedang tidak ingin diganggu. Perempuan itu pasti melarang papa untuk datang ke acara kita!" Ujar Cresa kesal.


Mama Anggi yang hanya mendengarkan kami, tiba-tiba masuk ke ruang tidur.


Cresa bangkit untuk menyusul mamanya. Kutahan Cresa agar tidak menyusul mamanya.


"Biar besok gue yang ke Semarang. Lu jagain mama aja, beb. Gue usahain agar papa bisa datang. Ayo sekarang kita balik ke Villa!" Ujarku sambil berdiri.


Sesampai di Villa, mama Anggi masih tetap murung. Cresa mencoba mengajak mamanya untuk mengobrol tapi mamanya hanya diam.


"Udah, beb! Lu yang sabar. Mama mungkin butuh waktu sendiri."


Cresa mengangguk lalu membongkar isi koperku. Dan lalu mengisi dengan pakaian baru dari lemari untuk keperluanku besok ke semarang. Keesokan harinya aku diantar pak Kadek. Aku naik pesawat penerbangan paling awal menuju Semarang.


Saat kutiba dirumah itu. Om Jose ternyata sedang tidur diteras dengan beralaskan kardus bekas! Tubuhnya terlihat kotor dan bau. Entah sudah berapa hari Om Jose tidak mandi. Aku menyalakan rokok untuk menenangkan diriku yang merasa kasihan saat melihat kondisi Om Jose mengenaskan seperti itu.


"PA! PAPA!" Ujarku membangunkan Om Jose yang masih tertidur lelap. Kugoyang bahunya agak keras agar dia bangun. Matanya terbuka sedikit demi sedikit. Om Jose mengucek-ngucek matanya. Dia lalu terperangah seakan tak percaya aku ada disitu.


"Rio??? Apa kamu datang bersama Cresa dan mama?" Katanya sambil memandang kesekeliling mencari Cresa dan mama Anggi.


Om Jose lalu bersandar dipintu rumah yang terkunci.


"Boleh om minta rokokmu?" Katanya dengan suara bergetar. Aku mengeluarkan kotak rokok dan mengambil sebatang rokok untuknya lalu menyalakannya. Om Jose menghisap asap rokoknya dalam-dalam.


Lalu dia terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya.


Kuberi Om Jose sebotol air mineral.


Dia menenggak botol bagai unta yang kehausan.


Aku berdiri bersandar di dinding. Kubiarkan Om Jose menangis. Cukup lama dia menangis.


"Rio, ada perlu apa lagi kamu datang kesini?" Tanyanya sambil menyeka matanya yang basah.


"Mama Anggi meminta papa hadir di pernikahan saya dan Cresa!" Jawabku pendek.


Om Jose menangis lagi. Menangis sambil meraung-raung sambil memukuli kepalanya sendiri.


"BODOH!!! AKU BUANG ANAKKU DAN ISTRIKU YANG MENDAMPINGIKU SEDARI SUSAH! HANYA UNTUK SEORANG WANITA HINA! HUUUHUUUHUUU!" Kupegang tangan Om Jose agar tidak memukuli dirinya.


"Kamu sepertinya tidak mengharapkan kehadiran Om dipernikahanmu. Iya kan, Rio?" Tanya Om Jose sambil menatap lantai.


"Saya justru sangat mengharapkan kehadiran papa, saya justru ingin papa dan mama kembali utuh seperti dulu!" Tegasku pada Om Jose.


"Semua orang pasti pernah berbuat salah, tapi semuanya kembali ke dirinya masing-masing. Ingin berubah menjadi baik atau malah berubah menjadi buruk. Hidup itu pilihan pa! Papa memilih apa itu terserah papa!" Ujarku lagi.


"Masih bisakah Cresa dan Anggi memaafkan Om yang sudah merusak semuanya? Apa bisa mereka melupakan kesalahan Om, Rio?" Tanya Om Jose sambil menutupi wajahnya.


"Papa hanya perlu meyakinkan dan membuktikan bahwa papa sudah berubah kepada mama. Soal Cresa itu tanggung jawab saya. Klo papa ikut saya sekarang, dan berjanji untuk berubah. Masih belum terlambat, pa!" Ujarku sambil menatapnya.


"Tapi klo ternyata papa menyakiti mama dan Cresa sekali lagi. Saya berjanji pa!!! Dengan tangan ini! Saya akan menyakiti papa seribu kali lebih sakit dari yang pernah papa bayangkan." Ujarku mengacungkan tinjuku sambil menatap tajam ke mata Om Jose. Om Jose lalu berdiri dan memintaku untuk mengantarkan beliau ke masjid untuk mandi dan Sholat. Aku mengangguk dan membawa beberapa potong pakaian Om Jose menuju masjid.


Sebelum berangkat ke bandara. Aku dan Om Jose mampir ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian dan perlengkapan untuk Om Jose. Om Jose pun menurutiku saat kubawa ke salon untuk merapikan rambutnya yang acak-acakan.


Kutunggui Om Jose yang berganti pakaian di toilet.


Saat keluar penampilan Om Jose sudah seperti dulu saat aku bertamu ke rumah Cresa pertama kali. Aku tersenyum melihatnya. Dia pun tersenyum tipis. Kami lalu bergegas menuju bandara. Setelah berada di VIP lounge kutelpon pak Kadek untuk menjemputku 4,5 jam lagi. Om Jose ternyata sudah 4 hari makan, kubiarkan beliau makan dengan tenang tanpa kuajak berbicara sedikit pun. Lalu aku pamit untuk merokok di ruang kaca yang bertanda "Smoking Area", beliau duduk disebelahku dan meminta rokokku lagi. Kami berdua merokok sambil duduk berhadap-hadapan. Lalu dia menepuk pundakku sambil duduk disampingku.


"Bahagiakan Cresa! Atau kamu akan merasakan tinjuku!" Ujarnya lalu tertawa. Aku pun tertawa mendengar candaan calon mertuaku itu.


"Doakan, Pa! Saya akan terus berusaha keras untuk kebahagiaan Cresa!" Jawabku sambil memegang tangan beliau.


"Papa percaya, nak. Maafkan Papa! Maafkan Papa!" Ujarnya lalu memelukku.


Waktu aku dan papa sampai di Bali, kehidupan malam kota itu baru dimulai. Sepanjang jalan dari bandara menuju seminyak mulai ramai.


"Pak Kadek, kenalkan ini mertua saya!" Ujarku mengenalkan Papa pada pak Kadek yang sedang menyetir. Papa menepuk pundak pak Kadek. Pak Kadek membalasnya dengan anggukan.


"Saya pikir bapak ini tadi kakaknya mbak Cresa ternyata Papanya toh. Papanya kok muda sekali.Hahaha!" Canda pak Kadek yang membuat papa tertawa.


Saat sampai di Villa, langkah Papa terhenti didepan gerbang Villa. Kutepuk pundak beliau sambil merangkul bahunya. Badan papa bergetar hebat, dapat kurasakan getaran tubuhnya ditanganku. Tak lama kemudian beliau melangkah lagi menuju gerbang, lalu pintu gerbang terbuka. Disana berdiri mama Anggi dan Cresa dibelakangnya. Papa Jose melangkah perlahan menuju gerbang. Tubuh papa Ambruk sambil memeluk kaki mama. Beliau menangis sambil memeluk kaki mama. Mama menatapku seakan bertanya padaku apa yang harus dilakukannya saat itu? Mata kami saat itu seakan bisa berbicara. Mama membungkuk lalu memeluk papa dan menarik tubuh papa untuk berdiri. Aku memalingkan wajahku saat melihat pemandangan itu. Cresa pun memalingkan wajahnya. Aku membantu papa untuk berdiri, dan merangkul beliau sampai memasuki Villa. Aku ajak Cresa untuk segera memasuki kamar.


"Biarkan papa dan mama tidur sekamar malam ini!" Ujarku sambil menggandengnya masuk kamar. Aku ambruk begitu tiba dikamar. Aku menarik nafas panjang saat merebahkan tubuhku. Kupejamkan mataku, kulihat sosok Eva sedang tersenyum. Airmataku tiba-tiba membasahi mataku. 3 minggu ini aku belum mengunjungi makamnya. Eva, Aku merindukanmu! Eva, I really missed u so, my sweetheart!


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!