
Kukabarkan tentang kehamilan Cresa pada Papa dan mama, aku berjanji pada mereka untuk menjaga Cresa baik-baik. Mama Wanda pun girang mendengar kehamilan Cresa, minggu depan beliau berencana mengunjungi kami. Pagi itu Cresa berjalan kaki mengelilingi Villa bersamaku tanpa alas kaki. Cresa tersenyum sambil memegangi tanganku. "Pelan-pelan, beb. Gue gak pake sandal lho!" ujar Cresa ketika telapak kakinya menginjak kerikil kecil di aspal. Aku menurutinya. Diseberang jalan melintas pasangan suami istri. Istrinya pun hamil, usia kehamilannya lebih besar karena perutnya sudah sangat besar. Badannya gemuk sekali, si suami dengan cuek bermain Ponsel tanpa mengawasi istrinya. Cresa terlihat sedang mengawasi wanita yang sedang hamil besar itu sampai menghilang di tikungan.
"Kenapa beb, ngeliatinnya sampe gitu banget?" Ujarku sambil menggandengnya.
"Elu liat cewek tadi kan? Apa badan gue akan sebesar itu nanti beb?" tanya Cresa sambil menatap mataku.
"Gak beb!" jawabku singkat
Cresa tersenyum mendengar jawabanku, dia lalu bergelayut di lenganku dengan manja.
"Mungkin elu bakal lebih gendut lagi beb, Hihihi!"
Cresa langsung mencubit lenganku dengan keras.
"Hahaha, pasti gemes mulu tiap hari, beb!" kataku lagi sambil tertawa.
"Hmmmm jadi gitu ya!" ujarnya lalu berjalan cepat meninggalkanku.
"Hahahaha tunggu bebih!" kataku sambil mengejar Cresa yang sedang ngambek. Kuangkat tubuhnya lalu kugendong tubuhnya dari belakang. Cresa yang kaget segera melingkarkan tangannya dileherku.
"Hahahaha! Kok elu jadi ngambekan gini sih, beb!" Ujarku sambil menggesekkan hidung dipipinya. Cresa tersenyum menatapku. Kami kembali masuk ke Villa, mama dan papa yang sedang duduk minum kopi tersenyum melihatku yang sedang menggendong Cresa. Kuturunkan tubuh Cresa didekat teras Villa.
"Sarapan bareng kami, nak!" Seru mama pada kami. Nada dering Ponselku terdengar, aku berlari kearah kamar.
"Ya pah!" jawabku pada papaku.
"Rio, Kakakmu Faizal! Kakakmu...," ujar papa dengan suara terbata-bata.
"Ada apa dengan bang Faizal, pa?" Jawabku sedikit cemas mendengar nada suara papa. Lalu terdengar suara tangisan mamaku dibelakang papa.
"Kakakmu meninggal, Rio! Faizal meninggal!" Kata papa sambil terisak. Badanku tiba-tiba lemas. Aku bersandar didinding, tubuhku merosot jatuh ke lantai.
"Kamu cepat pulang, nak. Kami tunggu, kami akan makamkan kak Faizal menunggu kamu datang!" Ujar papa lalu memutuskan sambungan telpon. Cresa menghampiriku yang sedang termangu.
"Ada apa sayang?" Tanya Cresa sambil menyeka mataku yang basah.
"Gue harus secepatnya pulang beb, Bang Faizal meninggal!" Jawabku dengan tatapan kosong.
"Innalillahi. Yang sabar, beb. Sabar!" ujar Cresa memelukku.
Ketika aku sampai di rumah, rumahku masih terlihat sepi. Tidak terlihat para pelayat disana. Saat aku turun dari taksi bandara, kulihat mobil patroli polisi terparkir di halaman rumahku.
"Kenapa ada mobil polisi?" gumamku dalam hati sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu papa dan 3 orang berseragam coklat sedang duduk mengobrol. Mama berlari menyambutku sambil memelukku.
"Kamu datang sendirian?" Tanya mama padaku. Aku mengangguk sambil menjelaskan tidak mungkin untuk mengajak Cresa yang sedang hamil, aku lalu melayangkan pandanganku pada 3 orang itu.
"Cresa dan orang tuanya hanya titip salam, ma. Mereka ikut berduka cita!" Jawabku sambil menyeka wajah mama yang basah.
"Ada apa ini, pak?" Tanyaku pada ke 3 orang itu. Lalu aku duduk disamping papa. Papa terlihat murung dan tertekan.
"Saudara Faizal Romero, setelah diidentifikasi oleh tim Reskrim. Meninggal karena dibunuh." Ujar pria berseragam yang bernama Sujiwo itu padaku sambil menunjukkan beberapa berkas hasil pemeriksaan rumah sakit. Kubaca isi surat surat itu. Ada 5 bekas pukulan benda tumpul dikepala bang Faizal, tertulis disurat identifikasi penyebab kematian dari rumah sakit itu.
"Kami kesini hendak menanyakan, apa sebelum meninggal pak Faizal tidak meninggalkan pesan apapun? Apa pak Faizal sedang bermasalah dengan orang lain?
Aku terdiam. Otakku berpikir keras apa yang terjadi pada kakakku.
"Maaf, pak. Keluarga saya masih berduka, Sebenarnya harusnya bapak mencari pembunuh abang saya dan apakah bisa interogasi ini dilanjutkan lain hari?" Jawabku sambil berdiri. Ke 3 orang petugas itu pun undur diri, Papa menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Mayat kakakmu mungkin baru besok sore akan dikirim kesini. Pemakaman baru bisa kita lakukan besok lusa, Rio!" kata papa sambil memijat dahinya.
"Ma, ada waktu sebentar? Saya mau ketemu mama!"
"Kapan kamu sampai? Ada apa? Mama tunggu kamu di rumah!" Jawab mama Wanda. Kuakhiri sambungan telpon itu. Setelah berpamitan ke orang tuaku aku lalu bergegas menuju rumah mama Wanda.
Mama Wanda terkejut mendengar ceritaku, beliau menutup mulutnya.
"Lalu kamu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, Rio?" Tanya mama lagi.
"Saya mau cari tau apa penyebab kakak saya sampai terbunuh, Ma. Dan siapa yang membunuh bang Faizal," jawabku sambil memandangi fotoku dan Eva.
"Kamu akan mama kenalkan dengan seseorang. Tapi mama mau kamu berjanji pada mama, setelah urusanmu selesai. Kamu tidak akan berhubungan dengan dia lagi," Aku menganggukkan kepalaku. Mama Wanda lalu bangkit dari duduknya dan menjauh dariku. Dia menelpon seseorang.
"Sebentar lagi dia datang kesini! Mama ganti baju dulu," ujar mama sambil berjalan masuk ke kamarnya.
Aku sedang merokok sambil melamun ditepi kolam renang. Mama Wanda datang bersama Wanita Cantik berwajah dingin. Wanita berumur 35 tahunan itu menatap dingin kearahku. Lalu dia berjabat tangan denganku.
"Mia!" Ujarnya pendek menyebutkan namanya.
"Rio!" Balasku sambil menatapnya.
Lalu kami duduk di gazebo. "Siapa nama kakakmu?" Tanyanya sambil mengeluarkan ponsel miliknya.
"Faizal Romero!"
Lalu dia berjalan menjauhiku sambil menelpon seseorang. Ponselku berdering. Papa memberitahuku bahwa pembunuh kakakku sudah menyerahkan diri ke polisi. Aku diminta pulang untuk menemani papa ke kantor polisi. Mia duduk sambil memandang ke arah kolam renang.
"Mia, saya harus pulang. Pembunuh kakak saya sudah menyerahkan diri ke kantor polisi. Maaf, Saya pamit dulu!" Ujarku sambil bangkit dari dudukku. Mia tersenyum tanpa memandangku yang bersiap pergi dari situ.
"Frans hanya kambing hitam. Dia bukan pembunuh kakakmu yang sebenarnya, Rio!" Ujarnya sambil membuka pesan singkat di ponselnya.
"Ok, klo kamu tidak butuh lagi bantuan untuk mencari pembunuh kakakmu. Aku juga permisi!" Katanya sambil bangkit dari duduknya.
"Sebentar, Mia! Apa kamu juga tau penyebab kakak saya sampai dibunuh?" Ujarku sambil duduk didepannya. Mata dingin Mia menatapkku.
"Kamu benar-benar tidak tau kakakmu itu bekerja dan berbisnis untuk siapa?" Tanyanya dengan sinis. Aku menggelengkan kepalaku.
"Kakakmu bekerja untuk Tuan Rosko! Rosko adalah bandar besar sabu yang lumayan besar di Asia Tenggara!"
Aku tercengang mendengar penjelasan Mia. Lalu aku teringat obrolanku dengan bang Faizal sebelum acara pesta pernikahanku. Dia sempat meminta bantuanku untuk melunasi hutangnya sebesar 900 juta pada seseorang. Aku menyanggupi untuk melunasinya dengan syarat bang Faizal berhenti dunia Judi. Saat itu aku berpikir bang Faizal masih suka bermain judi, tidak terpikir olehku bang Faizal terlibat bisnis narkoba.
"Janji kakakmu meleset pada Mario bawahan Rosko di Indonesia. Hutang 900 juta berikut bunganya belum dilunasi kakakmu. Akhirnya dia harus membayar dengan nyawanya!" Penjelasan Mia klop dengan permintaan bang Faizal waktu itu. Aku tertunduk mendengar cerita Mia.
"Setelah ini orang tuamu yang akan diteror oleh orang-orang Mario," lanjut Mia lagi sambil menyalakan rokok.
"Aku akan lunasi hutang Kakakku, dimana aku bisa menemui Mario, Mia?" Jawabku dengan nada emosi setelah mendengar cerita Mia itu. Mia tertawa.
"Kamu pikir dengan membayar hutang kakakmu urusan selesai, hah?" Seru Mia sambil tersenyum dingin kearahku.
"Aku dengar kamu berbisnis restoran di Bali? Apa benar begitu?" Tanya Mia lagi dengan tatapan yang tajam padaku. Aku mengangguk. Mia lalu berdiri lagi sambil memberikan secarik kertas kepadaku yang berisi nomer ponsel.
"Telpon aku nanti malam. Klo kamu masih butuh bantuanku untuk menyelesaikan masalah ini, kamu harus membantuku juga! Aku tunggu telponmu malam ini, Rio!" Ujarnya sambil melempar puntung rokok ke tanah lalu meninggalkanku sendiri disitu.
Mama Wanda keluar dari dalam rumahnya menghampiriku.
"Hati-hati Nak, pikirkan baik-baik sebelum bertindak. Ingat pesan mama ya!" Ujar mama sambil memegang tanganku. Aku menggangguk. Aku lalu mencium tangannya, lalu aku bergegas pulang.