MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
M O R C L A N



Papa sudah gelisah menungguku untuk segera berangkat ke kantor polisi melihat pembunuh kakakku yang sudah menyerahkan diri.


"Darimana saja kamu, Rio! Klo kamu pulang hanya untuk kelayapan kesana kemari gak jelas tujuannya, lebih baik kamu tidak usah pulang!" Kata Papa emosi. Aku lalu mengajak papa ke ruang kerjanya.


"Sebentar pa, papa tenang dulu!" Ujarku sambil duduk di kursi didepan meja papa.


"Ayo kita segera ke kantor polisi, Rio! Ada apa lagi?" Jawab beliau masih terdengar emosi.


"Frans bukan pembunuh bang Faizal, Pa. Percuma kita kesana," kataku pada papa. Papa terkejut mendengar ucapanku menyebut nama pembunuh kakakku itu, padahal papa belum memberitahuku soal itu.


"Darimana kamu tau nama itu?"


"Rio tau darimana, papa gak perlu tau. Besok jenazah Bang Faizal akan diantar kesini. Sekarang lebih baik kita bersiap untuk penguburan jenazah abang besok. Aku meninggalkan papa sendiri ruang kerjanya. Aku lalu mengurus segala keperluan untuk pemakaman kakakku besok. Aku menelpon Mia setelah selesai mengurusi keperluan pemakaman Bang Faizal. Aku disuruh datang Penthouse miliknya jam 20.00. Jam 20.00 tepat aku sudah berdiri didepan pintu penthouse milik Mia yang dijaga 2 orang pengawal bertubuh kekar. Seseorang laki-laki bertubuh kekar berpakain rapi, keluar dari dalam kamar lalu hendak memeriksa tubuhku.


"Maaf mas, saya akan menggeledah badan mas sebelum masuk!" Ujar laki-laki itu sopan. Aku pun mengangguk. Tubuhku digeledah dari kepala sampai kaki. Setelah pemeriksaan selesai, aku pun dipersilakan masuk. Aku mengetuk pintu kaca yang terkunci didepanku. Kulihat Mia berjalan ke arahku. Aku memalingkan mukaku kearah lain saat kulihat dua bukit Mia yang berukuran besar itu bergoyang saat berjalan kearahku. Aku masuk dan menutup pintu kaca itu. Lalu aku mengikuti langkah Mia ke ruang tengah. Penthouse mewah itu terlihat sepi. Mia sepertinya hanya tinggal seorang diri disitu.


Mia menatapku dari kepala sampai kaki. Dia tersenyum.


"Klo mau minum ambil sendiri di kulkas, Rio. Aku ganti baju sebentar!" Aku menggangguk sambil berjalan menuju kulkas besar itu. Isi kulkas itu penuh sekali.


"Ini persediaan bisa untuk 2 bulan!" Batinku sambil mengambil minuman Cola. Aku menunggu Mia sambil menonton TV kabel. Tak lama Mia muncul dengan penampilan yang berbeda. Mia menggunakan kemeja warna hitam yang agak ketat dengan 3 kancing terbuka dibagian atas dipadu dengan celana kulit yang ketat membungkus kaki panjangnya. Dua bukitnya bergoyang saat dia menghempaskan pantatnya di sofa.


"Bantuan apa yang kamu butuhkan dariku, Mia?" Kataku membuka obrolan.


"Keluargamu akan kulindungi. Papa mamamu, dan 2 adikmu. begitu juga sepupumu yang bernama Vina itu. Untuk Randi kakakmu, dia aman. Dia tidak terlacak oleh orang-orangnya Mario," ujar Mia sambil menyalakan rokok.


"Aku butuh bantuanmu. Bantuan darimu sekaligus menjadi perlindungan untukmu dan keluargamu di Bali."


"Aku membantumu melakukan hal apa, Mia?" Ujarku sambil menatap tajam kearah mata Mia.


"Kamu akan kami beri modal untuk membuka 2 restoran besar di Bali. Tiap 2 bulan sekali Barang kirimanku akan datang dengan kamuflase kiriman daging beku. Urusan ini hanya diketahui Kamu, Aku dan Jake. Setiap kiriman itu datang, Jake akan mengambil kiriman itu dari Restoranmu."


"Ahh gila kamu, Mia. Lebih baik kamu cari orang lain saja. Maaf, Aku tidak jadi meminta bantuanmu! Permisi!" Kataku bangkit dari sofa itu.


"1 minggu kedepan papa dan mamamu adalah target Mario berikutnya!" Seru Mia sambil tersenyum sinis dengan nada mengejek.


"Aku akan temui Mario dan membayar lunas hutang kakakku!" Jawabku sambil mendengus pada Mia.


"Rosko tidak butuh uang. Apa yang dilakukannya pada kakakmu dan berikutnya pada keluargamu adalah untuk menjadi contoh untuk bandar yang lain agar tidak macam-macam dan terus bekerja untuk Rosko. Jadi mesti kamu bayar hutang kakakmu. Keluargamu tetap dalam bahaya, keluargamu akan tetap dibantai!


Hanya aku dan kelompokku yang bisa melenyapkan kelompok Rosko."


Aku terdiam mendengar penjelasan Mia.


"Kenapa bantuanmu justru menjerumuskanku dalam bisnis harammu, Mia. Tak bisa kah kamu membantuku? Atau kamu lenyapkan saja Mario, berapa uang yang harus aku keluarkan untuk itu? 3M- 5M? Bantulah aku demi mama Wanda, Mia. Please!"


"Kamu pikir siapa mama Wandamu itu? Wanda itu dulu adalah atasanku, Rio. Begitu istrimu meninggal dia mundur dan aku yang menggantikannya. Rupanya kamu belum tau siapa mantan mertuamu itu huh?" Ujarnya sambil menepuk-nepuk pipiku sambil tersenyum licik. Tubuhku mendadak lemas. Aku tak tahu harus apa.


"Misal aku tertangkap, bagaimana, Mia? Aku betul-betul buta dengan bisnis ini!" Tanyaku lagi yang tiba-tiba memikirkan Cresa dan calon anakku.


"Seperti yang kubilang tadi, yang tau urusan ini hanya kamu, Aku dan Jake. Jika sampai ada penggerebekan. Penghianatnya cuma ada 3. Aku, kamu atau Jake. Aku tidak mungkin membiarkan aparat keparat membawa barangku. Tinggal kamu dan Jake tersangkanya. Klo kamu tertangkap, aku jamin maksimal 3 hari kamu akan segera keluar, Rio. You have my words!" Kata Mia sambil menepuk pundakku.


Mia menatap tajam mataku. Sorot matanya kejam dan dingin.


"I need some time to thinking about it!" Jawabku sambil menatap matanya. Mia tersenyum.


"I give you 3 days to think about it. Call me!" Ujarnya sambil mempersilakanku untuk keluar dari Penthousenya. Aku berjalan keluar dengan langkah lemas. Mendadak perasaan jengkel muncul didalam hatiku pada bang Faizal.


...----------------...


Aku kembali menemui Mia 3 hari kemudian. Kali ini aku membujuk Mia untuk mau melenyapkan kelompok Rosko dengan imbalan 10M. Mia tertawa lalu tiba-tiba dia menamparku dengan keras.


"Plakkkk!!!"


Setelah menampar wajahku, Mia lalu mencengram kerah bajuku dengan kasar.


"Ini perang antar Kartel, Rio. Alasanku melenyapkan kelompok Rosko dengan alasan Rosko telah mengganggu keluarga salah satu anggotaku, yaitu kamu! Kamu sebagai anggotaku menuntut balas melenyapkan Mario Cs. Rosko tidak akan berani membalasmu lagi. KAMU MENGERTI ITU?!" Bentak Mia tepat di depan wajahku sambil mendengus dengan wajah sadis.


Aku lalu dengan malas mengulurkan tanganku pada Mia. Mia menjabat tanganku sambil tersenyum.


"WELCOME TO MORCLAN FAMILY, RIO!" Ujar Mia sambil menjabat tanganku.


"OK. DEAL!" Kataku sambil menyalami tangannya tanpa ekspresi membalas senyumannya.


"Kapan kamu membalas Mario, bagaimana aku tau kamu sudah melenyapkan kelompoknya?" Tanyaku sambil membakar sebatang rokok. Mia duduk disebelahku sambil menumpangkan kakinya pada kakiku.


"Besok pagi datanglah ke kantor polisi, coba temui Frans!" Kata Mia tersenyum. Mia berdiri lalu membungkukkan tubuhnya di depanku.


"Aku tidak pernah main-main dengan omonganku. Sifat kita sebenarnya sama! Frans besok sudah mati ketika kamu datang ke kantor polisi. Buktikan omonganku, Rio!" Ujarnya sambil menjauhkan wajahnya dari wajahku. Mia memandangiku lekat-lekat. Entah ke apa pandangannya tidak seperti sebelumnya. Pandangannya kali ini kurasakan berbeda. Perasaanku mendadak menjadi tidak enak melihat tatapannya. Aku lalu berdiri dan berpamitan kepadanya. Dia mengantarku ke pintu keluar.


"Rio!" Teriak Mia memanggilku saat aku hendak keluar pintu kaca itu. Mia tiba-tiba mencekik leherku dengan keras.


"Apa yang kamu...," belum selesai ucapanku. Bibir Mia sudah ******* bibirku dengan kasar dan satu tangannya sudah membuka resleting celanaku. Tapi anehnya aku membalas perlakuan kasar Mia padaku malam itu dengan penuh gairah. Kubalas ciumannya sambil membuka seluruh kancing bajunya. Mia melompat kearah tubuhku sambil mengaitkan kedua kakinya dipinggangku. Tanganku langsung mencengkram pantat yang padatnya untuk menahan beban tubuhnya. Mia meloloskan kemeja dan branya kelantai, sekarang dia sudah tidak memakai apa-apa lagi kecuali penutup pangkal pahanya. Tiba-tiba saja wajah Cresa melintas di pelupuk mataku. Kuhentikan aksiku pada Mia saat itu juga. Kupeluk erat tubuh Mia hingga dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Stop Mia. Stop! Please, maaf gue khilaf!" Ujarku setelah melepas pelukanku lalu memungut kemejanya dan menutupi tubuhnya yang terbuka di bagian atas. Mia hanya tersenyum kecut dan membiarkanku merapikan pakaianku yang kusut.


Lalu aku segera keluar secepatnya dari Penthouse milik Mia itu.


"Gila, Pria itu memang beda seperti kata Wanda!" Guman Mia sambil memakai lagi kemejanya.