MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Takdir Berkata Lain



Setelah prosesi pemakaman bang Faizal pagi itu. Aku mendatangi kantor polisi. Dan benar saja, laki-laki bernama Frans itu sudah tewas ditusuk senjata tajam oleh teman satu selnya. Tubuhku tiba-tiba merinding. Teringat kata-kata Mia kemarin, dan sekarang ucapannya itu terbukti. Aku berpamitan pada mama dan papa, sore itu akan pulang ke Bali. Aku juga menelpon mama Wanda untuk berpamitan. Lalu aku menelpon Mia, Mia sebenarnya ingin bertemu denganku lagi. Tapi aku menolak, aku katakan padanya sore ini aku akan pulang ke Bali. Mia akan menemuiku di bandara. Aku menunggu di Lounge VIP bandara sesuai dengan perintah Mia. Saat aku memasuki Lounge itu hanya ada 5 orang penumpang termasuk aku didalam ruangan itu. 2 orang pria berambut cepak memandangiku semenjak aku masuk ruangan itu. Aku pun membalas memandangi mereka berdua. Pria disebelahku mengajakku berbicara tanpa menoleh ke arahku.


"Jangan liat aku. Tetap rileks tapi waspada, mereka berdua mengincarmu, Rio!" ujarnya lalu meninggalkanku setelah mengambil makanan. Kedua pria cepak itu menghampiriku.


"Gila ini orang-orang. Masak mau bikin ribut disini?" batinku dalam hati. Instingku yang tajam tentang situasi berbahaya disekitarku membuatku makin waspada. Kukantongi sebuah garpu dan kuselipkan di balik lengan kemejaku. Dan benar saja, satu dari pria cepak itu menyerangku secara tiba-tiba. Dia melayangkan tinju kerasnya kearah kepalaku. Aku menghindari pukulan kerasnya yang cepat sambil menundukkan kepalaku. Lalu kukeluarkan garpu diselipan kemejaku saat aku menunduk. Dan kuhujamkan garpu itu kearah sikunya sekuat tenaga. Pria cepak itu menjerit kesakitan, kutinju wajahnya dengan keras hingga hidungnya mengeluarkan suara "Kraaakkk!" Pria itu roboh hidungnya patah. Temannya yang terhalang meja. Lalu memutar mengejarku sambil merogoh sesuatu kedalam saku blazernya. Laki-laki cepak itu lengah, tiba-tiba laki-laki yang mengingatkan aku tadi memukul tengkuknya dengan keras hingga dia pingsan. Lalu laki-laki bernama Indra itu mengajak aku keluar dari Lounge VIP itu.


"Saya Indra, mas. Bu Mia menunggu mas. Ditempat lain, ikuti saya," katanya sambil berjalan mendahuluiku. Aku mengikutinya dari belakang. Mia sudah menungguku disebuah ruangan kantor milik sebuah maskapai. Ada 2 pengawal menjaga pintu masuk kantor itu.


"Halo Rio!" Sapa Mia ramah. Matanya menatapku seakan memeriksa seluruh tubuhku.


"Kamu gak apa kan?" Ujarnya sambil tersenyum sinis.


"Ini buku rekening bank dan kartu ATM atas namamu, password i-Banking juga ada disitu. Begitu sampai di Bali, segera kamu cari 2 lokasi untuk restoran kamu. Disitu aku kira dananya lebih dari cukup untuk membeli property Mewah disana. Soal biaya renovasi nanti akan aku transfer lagi!" Ujarnya sambil melangkah kearah pintu.


"1 lagi. Mulai sekarang ada orang-orangku yang menjagamu dan keluargamu. Jangan kaget!" Ujar Mia sambil keluar ruangan. Kumasukkan buku rekening dan ATM itu ke kantung kecil di koperku. Aku lalu menyeret koperku keluar dari ruangan itu.


Indra tiba-tiba sudah dibelakangku, dia mengikutiku menuju ruang tunggu keberangkatan. Kami duduk berjauhan. Tapi Indra tetap waspada sambil mengawasi orang disekeliling. Saat memasuki pesawat, Indra duduk disebelahku. Lelaki gempal berkulit gelap itu berwajah lucu dan berpipi tembem. Sepintas wajahnya mirip dengan komika dan presenter bernama Rijen.


"Mulai sekarang saya disuruh bos Mia menjagamu bos!" Bisik Indra pelan disebelahku.


Aku menganggukkan kepalaku. Mataku terpejam. Aku membayangkan menjalani kehidupan macam apa setelah ini. Terbayang wajah Cresa, aku betul-betul kuatir apabila sesuatu terjadi padanya. Aku terlelap tertidur di dalam pesawat yang membawaku pulang.


Begitu sampai di bandara aku menelpon pak Kadek untuk menjemputku. Aku dan Indra menunggu pak Kadek di Coffee Shop dekat gerbang kedatangan.


"Sudah berapa lama kamu jadi orangnya Bu Mia, Ndra?" tanyaku sambil menyesap kopi didepanku.


"Saya ikut bu Mia sudah 7 tahun, bos!" Jawabnya santai.


"Sudah lama juga ya, Ndra!"


Indra tersenyum, wajahnya terlihat lucu jika dia tersenyum. Tak lama kemudian pak Kadek datang. Aku dan Indra bergegas masuk ke mobil.


"Ada 3 orang berjaga-jaga disini, Rio. katanya kamu yang suruh. Benarkah itu nak?" Tanya papa. Aku menjelaskan untuk keamanan papa dan mama juga adik-adik, aku menyewa tenaga pengamanan untuk sementara waktu. Sampai suasana kondusif. Aku pun menyuruh papa untuk mengajak Istri dan anak bang Faizal untuk tinggal dirumah demi keamanan mereka. Papa mengiyakan permintaanku lalu menyudahi pembicaraan kami.


"Sayang!" Sambut Cresa begitu aku tiba di Villaku. Cresa memelukku erat. Aku lalu mengenalkannya pada Indra, Indra kuperkenalkan sebagai sepupuku yang dulunya bekerja di Kalimantan. Indra kusuruh tidur di Villa tempat mama Wanda biasa menginap. Pak Kadek pun membuka gerbang Villa mama Wanda. Aku masuk ke Villaku bersama Cresa. Cresa sudah memasak untukku. Dia memasak makanan kesukaanku, Kari Ayam pedas.


"Mama papa kemana, kok sepi?" tanyaku sambil menyantap masakan istriku itu.


"Lezat banget, beb!" ujarku memuji masakan Cresa.


"Papa dan mama lagi jalan-jalan beb. Jalan kaki dekat-dekat sini aja kok," jawab Cresa memandangiku yang dengan lahap menyantap masakannya.


"Besok kita ke Ubud ya, gue mau cari rumah untuk papa dan mama," ujarku lagi.


"Kok tiba-tiba beb? Ada apa?" tanya Cresa. Kuceritakan apa yang terjadi dengan bang Faizal. Cresa tampak kuatir pada keluargaku disana. Setelah kubilang aku menyewa jasa keamanan, Cresa pun merasa lega.


"Sayang, kehidupan kita mungkin akan berubah setelah kejadian pada kakak gue. Apapun yang terjadi didepan. Tolong percaya gue, semua gue lakuin untuk jagain kita semua!" Ujarku. Cresa tampak cemas mendengar ucapanku barusan. Cresa duduk dipangkuanku. Cresa membelai rambutku.


"Gak ada yang berubah kan beb? Gue kuatir ada yang berubah dengan hubungan kita, sayang!" Cresa memelukku erat.


"Gak ada yang akan berubah, sayang. Trust me, beb!" Ujarku lalu mengecup keningnya.


"Mulai sekarang gue nyiapin pengawal untuk elu, beb. Buat papa dan mama juga. Gue pengen kalian aman. Apa pun yang terjadi nanti, tolong percaya gue, sayang. Kalian adalah segalanya buat gue!" Ujarku lagi sambil memeluk erat istriku yang cantik itu.


...****************...


Penggerebekan Bandar besar narkoba jaringan internasional menjadi Headlines news di seluruh portal berita tanah air. Penggerebekan di sebuah Apartemen mewah di Jakarta di liput menjadi berita hangat selama beberapa hari. Bandar M tewas dilumpuhkan petugas beserta 30 anak buahnya. Aku tersenyum saat membaca berita itu di internet. Indra hari itu mengabariku bahwa dia telah merekrut 2 orang pengawal untuk menjaga Villaku.


"Beb, gue lupa. Reno nyari-nyari elu kemarin. Pas elu pulang untuk pemakaman bang Faizal. Dia datang dengan Donna. Sori ya beb, kelihatannya Reno ada keperluan yang mendesak banget. Aku lalu menganggukan kepalaku dan menelpon Reno.