
Kulihat jam tanganku, ternyata masih jam 4 pagi. Kucoba lagi untuk memejamkan mataku . Tapi mataku seakan tidak mau terpejam lagi.
Aku bangkit dan berjalan ke toilet, kuguyur tubuhku dengan air panas sambil menengadahkan wajahku kearah shower yang menyemburkan air dengan kencang.
Kusabuni setiap jengkal tubuhku. Setelah selesai membilas badanku, kupakai kaos singlet yang biasa kupakai untuk jogging dengan celana joggingku.
Aku melakukan push up 50x seperti biasanya. Kupakai sepatu lariku. Aku pun beranjak keluar kamar sambil menenteng sebuah botol air mineral dingin di pagi buta.
Aku berlari mengitari pertokoan di jalan Legian yang masih sepi itu. Aku berlari kencang untuk menghilangkan rasa galau hatiku pagi itu.
Tak terasa aku sudah hampir 2x mengelilingi jalan Legian! Aku berlari pelan menuju ke arah pantai Kuta yang masih sepi. Hanya ada beberapa turis yang melakukan jogging sepertiku. Aku berdiri di tepi pantai Kuta yang sepi sambil berjongkok meneguk air mineral ditanganku. Rasa segar merasuk ke tubuhku saat air mineral itu meluncur masuk ke tenggorokanku.
Aku berlari pelan menyusuri garis pantai Kuta saat langit masih berwarna ungu keemasan. Kakiku terasa lemas. Kulangkahkan kakiku menyusuri pantai dengan berjalan. Tubuhku basah bermandi keringat. Air mineral yang kubawa dari kamar tadi sudah habis.
Aku berjalan menuju mini market 24jam diseberang pantai. Kumasuki mini market itu dan menuju refrigerator yang berisi macam-macam minuman. Kuambil sebotol orange juice dan langsung kuminum. Kupejamkan mataku saat meneguk orange juice itu.
Kubawa botol itu yang isinya tinggal seteguk itu ke kasir. Langkahku terhenti ketika melihat seorang wanita yang hendak memasuki pintu mini market itu.
Jantungku berdetak kencang melihat sosok wanita yang sedang membuka pintu mini market itu.
CRESA!!! Dia masih memakai baju yang kemarin dia pakai saat bertemu denganku. Cresa pun terperanjat begitu melihatku. Aku berdiri tak bergerak sambil menatapnya. Bibirku terkunci saat itu. Yang kulakukan hanya berdiri dan terdiam!
"Rio, kita ketemu lagi!" Sapanya padaku dengan senyum yang kaku. Aku tau betul senyumannya tidak seperti itu. Aku pun mencoba membalas senyumannya, dan aku juga merasa senyumku pun kaku seperti senyumnya padaku saat itu.
"Silakan duluan, Cresa!" Kataku untuk mempersilakan dia yang sudah berdiri didepan kasir yang memandanginya.
"Rokok mentolnya 1 ya, Bli!" Kata Cresa pelan pada kasir mini mart itu. Aku hanya memandanginya dari jarak yang tidak jauh darinya.
"Aku duluan ya!" Katanya sambil menganggukkan kepalanya padaku setelah membayar belanjaannya.
"Tunggu dulu, Cresa!" Kataku sambil menyodorkan botol juice yang hampir kosong itu ke kasir. Cresa menungguku di luar mini mart sambil menyalakan sebatang rokok. Setelah selesai membayar, aku pun segera keluar menghampirinya. Cresa menghisap rokoknya dalam-dalam sambil menatap kearah bawah. Cresa membuang puntung rokok ditangannya yang masih panjang saat aku berdiri disampingnya.
"Ada apa, Rii?" Tanyanya sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya.
"Yuk kita ngobrol disana aja, Cres!" Jawabku sambil menunjuk kearah pantai. Cresa mengikuti langkahku menuju pantai.
Ada bangku yang terbuat dari batang pohon, aku pun duduk menghadap pantai. Cresa duduk agak jauh disebelahku. Kulirik wajahnya yang terlihat lelah, kulitnya pun kusam dengan cekungan dimatanya. Saat itu masih jam 6 kurang. Ada waktu kuran lebih 2 jam sebelum aku meeting dengan Robin.
"Kamu semalam dari mana? Kamu sepertinya kurang istirahat," kataku sambil memalingkan wajahku menatap Cresa.
"Aku gak habis dari mana-mana, Rio. Aku cuma gak bisa tidur semalaman. Aku juga baru keluar dari Hotel karena rokokku habis," jawabnya sambil menggesek-gesekkan kakinya di pasir pantai.
"Kamu masih kayak dulu ya, Rii. Selalu rajin jogging tiap pagi!" Ujarnya lagi sambil memandangiku.
"Cresa...," aku tiba-tiba tidak bisa melanjutkan ucapanku saat itu.
Cresa rupanya menunggu aku untuk melanjutkan ucapanku yang tiba-tiba terhenti.
"Apa Rii? Kamu mau ngomong apa?" Tanyanya sambil menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku gak bisa liat kamu begini, Cres!" kataku sambil memandanginya.
"Andai kita bertemu 2 bulan lalu, mungkin semua gak akan seperti ini!" Kataku tanpa sadar mengucapkan kalimat itu.
Cresa menatapku dengan mata basah.
"2 bulan yang lalu dengan sekarang apa bedanya, Rii? Aku gak ngerti!" Jawabnya sambil menunduk dan mengusap matanya yang mulai berair.
"Sudahlah, gak penting juga. Lupain omonganku tadi. Sekarang apa yang bisa aku bantu, Cresa. Apa yang bisa aku bantu untuk membuat kamu lebih baik?!" Kataku lagi.
"Apa kamu sudah punya pacar, Rii?" Tanyanya sambil memejamkan matanya.
"Sudah, dan aku rencananya mau merit tahun ini, Cresa!" Jawabku singkat. Entah kenapa di depan Cresa saat kuucapkan kata "merit" itu terasa sakit didadaku.
Cresa tertawa kemudian berdiri dan berjalan kedepanku.
"Selamat Rii, mudah-mudahan cewek beruntung itu gak akan ngecewain kamu seperti aku!" Katanya sambil tertawa lalu kemudian menangis.
"Cewek macam apa aku ini, Rii. Udah ngecewain kamu masih aja mengharap kamu bisa tetap nerima aku!" Ujarnya sambil menangis setengah histeris.
"Cresa, sudahlah!" Kataku sambil memegang kedua bahunya dari belakang.
"Aku ikhlas kok, Rii. Tapi kamu masih mau kan tetap berteman denganku? Aku gak akan berharap lebih lagi, Rio!" Ujarnya sambil berbalik dan memeluk tubuhku.
"Cresa, Sekarang aku hanya bisa menganggapmu sebagai teman. Tak lebih! Sori!" Jawabku sambil memeluk tubuhnya.
"Being just a friend is more than enough for me, Rii. Thanks yaa! Kamu udah mau memeluk aku seperti ini lagi!" Cresa menangis sambil tersenyum dan memelukku erat.
Setelah mengantar Cresa ke lobby hotelnya, aku pun lalu bergegas untuk segera sampai ke hotelku yang tidak jauh dari hotel Cresa untuk mengejar waktu meetingku dengan Robin yang semakin mepet.
Hari ini acaraku sudah selesai, setelah check out aku masih duduk di lobby hotel sambil mengisap sebatang rokok.
"Pesawatku masih 4 jam lagi, Beb. Mau dibawain apa?" Tanyaku pada Eva.
"Cepet pulang aja, Beb. Gue kangen!" Jawabnya dengan nada manja.
"Gue lagi masak salad, semoga lu suka ya, Beb", lanjut Eva lagi.
"Emmm, pasti suka donk. Ok dear, see you there soon. Bye!Muacch!" Jawabku sambil mengakhiri panggilan telponku dengan Eva.
Entah apa yang kupikirkan. Tanpa sadar saat itu aku sudah menelpon Cresa.
"Haloo Rii!" Terdengar jawaban Cresa.
"Ya Cresa, kabarmu baik aja kan?" Tanyaku sambil menghisap rokokku saat itu. Aku memberitahunya bahwa aku hari ini akan pulang.
"Bisa aku ketemu kamu sebentar, Rii?"
"Ok, kita ketemu di cafe dekat bandara saja ya. Nanti aku Share begitu aku tiba disana!" Kataku sambil mengakhiri panggilan itu. Aku meminta layanan antar ke bandara ke Resepsionis hotel dan langsung bergegas meninggalkan hotel.
Cresa datang dengan penampilan yang berbeda. Siang ini penampilannya lebih segar daripada tadi pagi. Dia langsung duduk kursi didepanku.
"Sori, jalanan macet banget, Rii!" Katanya sambil tersenyum.
"Gak apa, Cres," Kataku sambil tersenyum. Lalu kami pun mengobrol ringan.
"Sampai kapan kamu rencananya di Bali, Cresa?" Tanyaku sambil memandangi lalu lalang orang yang melewati meja kami.
"Mungkin sampai minggu depan, Rii. Aku masih betah disini," Jawabnya sambil terus menatap wajahku.
"Boleh aku liat foto pacarmu, Rii?" Tanya Cresa tiba-tiba.
"Hahaha. Untuk apa, Cres?" Jawabku sambil tertawa kecil ketika mendengar permintaannya yang aneh.
"Cuma pengen tau aja, Rii. Please, Hehehe!" Balasnya sambil tertawa. Kubuka galeri foto di ponselku. Kutunjukan padanya beberapa foto Eva. Cresa memandangi foto Eva diponselku itu.
"Cantik banget pacarmu, Rio!" katanya memuji kecantikan Eva. Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya. Dia pun segera mengembalikan ponselku. Dia memandangku sambil bertopang dagu.
"Apa kamu akan cerita pada pacarmu tentang pertemuan kita?" Ujarnya sambil memainkan jarinya yang bergerak berputar-putar dibibir gelas.
"Nggak, Cresa." Jawabku pendek sambil menarik nafas panjang.
"Rii, misal sewaktu-waktu aku menghubungimu. Tidak apa-apa kan?"
Tatapanku kosong ketika mendengar pertanyaan Cresa itu. Pertanyaannya sulit untuk kujawab.
"Kirim pesan dulu, sebelum aku telpon, jangan telpon aku lebih dulu, Cresa! Aku akan menghubungi kamu secepatnya begitu aku bisa," kataku dengan suara serak. Saat kukatakan semua itu membuat tenggorokanku seakan tercekat.
"Aku janji untuk gak mengganggu kamu klo tidak ada sesuatu yang mendesak, Rii!" Cresa melingkarkan jari kelingkingnya kearahku.
"Only a Friend! For our Friendship!" Katanya sambil menyodorkan jari kelingkingnya. Kulingkarkan kelingkingku dijarinya.
"Friendship forever!" Kataku sambil tersenyum.
Cresa mengantarku sampai pintu masuk keberangkatan bandara, Dia langsung berpamitan dan lalu meninggalkanku.
***
Eva bersandar sambil memeluk lenganku. Tangannya mengelus-elus perutku.
"Kerumah gue dulu ya, Beb. Gue udah masakin elu tadi," ujarnya sambil mencium punggung tanganku. Aku tersenyum sambil mengganggukkan kepala tanda setuju. Tanganku kulingkarkan sambil mengelus punggungnya. Eva mengangkat wajahnya mendekat ke wajahku. Kupalingkan wajahku kewajahnya sambil mengecup lembut bibirnya. Aku menciumnya sambil tetap menyetir mobil. Tangan Eva bergerak mengelus dan meremas pangkal pahaku. Tiba-tiba resleting celanaku sudah terbuka dan Eva sudah mencengkeram otot di pangkal pahaku yang mulai bengkak.
"Bebb!" Ujarku tertahan karena saat itu kepala Eva sudah bergerak naik turun dengan perlahan sambil menciumi ototku yang sudah bengkak maksimal. Kucengkram erat gagang setir sambil merasakan permainan mulut Eva yang menggila diototku itu. Kurasakan tubuhku terbang saat lidah Eva menggila menyusuri ototku itu.Ketika ototku mulai berdenyut-denyut dengan kencang. Eva dengan sigap mengambil tissu dan membungkus ujung ototku dengan tissu itu. Eva mencium bibirku yang pada saat bersamaan hendak berteriak. Badanku langsung terasa lemas. Eva tersenyum nakal melihatku yang lemas saat itu.
"Kok nakal sihhh, lu beb!" Kataku sambil membelai rambutnya yang agak berantakan.
"Gue kangen!" Jawabnya manja.
"Gue juga kangen elu banget, Bebiih!" Ujarku sambil menciumi pipi mulusnya.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!