MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Duo Srigala



"Jadi lu udah kenal dengan pacarnya Cresa?" Tanya Ivone sambil merokok pada Angela.


"Pantes dandanan Cresa sekarang berubah, dia habis liburan keliling Korea sama pacarnya itu. Ternyata pacarmya tajir banget, tongkrongannya aja mobil sport mewah. Hmmmmm!" Lanjut Ivone membicarakan Cresa. Angela pun tertawa mendengar cerita kakaknya itu, Ivone memang lebih cantik dan seksi dari Cresa tapi cowok pilihannya tidak ada yang seperti Rio. Bahkan kadang Ivone yang memodali cowok-cowoknya supaya kelihatan tajir.


"Kenapa tiba-tiba ngebahas Cresa sih, mbak? Ngiri ya elu sama dia?" Celetuk Angela dengan nada curiga.


"Tapi Rio itu cowok baik-baik lho, mbak!" Lanjut Angela lagi.


"Hahahaha. Baru kenal kemarin aja, lu sudah gampang nilai cowok model begitu. Cowok model Rio begitu dipepet dan ditempel terus juga klepek-klepek!" Balas Ivone sambil tertawa.


"Serius, mbak. Gue semalam udah ngetes dia. Dari yang pura-pura mabok sampe langsung ngajak ngamar. Ditolak mbak! DITOLAK!" Tegas Angela tentang kejadian semalam. "Halahh, ilmu lu yang kurang yahud. Makanya dia gagal nempel ke elu!" Balas Ivone lagi. "Tapi beneran, Rio itu beda sama cowok-cowok yang pernah gue kenal. Gue kasih liat belahan ***** gue, sampe gue naikkin rok gue pun dia nggak ada respon! Terserah mbak sih mau percaya atau nggak. Tapi kata Reno dia itu duda!" Kata Angela lagi sambil menyalakan rokok.


"Duda? Semuda itu? Makin penasaran gue, La!" Ujar Ivone sambil tersenyum.


......................


Saat melihat Aku dan Cresa datang, pak Kadek lalu berlari kedalam Villa mama Wanda.


Tak lama kemudian mama Wanda sudah berdiri di gerbang Villanya.


Cresa gugup melihat kecantikan mama Wanda.


Tangannya yang dingin memegang tanganku sebentar. Aku mengganggukkan kepalaku padanya sebagai tanda agar dia tidak gugup.


Cresa lalu turun setelah kubukakan pintu mobil.


Cresa berusaha tenang berjalan kearah mama Wanda dan membungkuk sambil mencium tangan beliau.


Mama Wanda langsung memeluk tubuh Cresa dengan erat.


Dia memandangi wajah Cresa yang cantik.


"Pantas saja anakku Rio jatuh hati padamu, nak!" Kata mama Wanda sambil mengedipkan matanya padaku. Mama Wanda menggandeng tangan Cresa masuk ke Villanya. Kubiarkan mereka berdua untuk saling mengenal.


"Ma, Cres, Rio ke toilet dulu ya!" Ujarku lalu pergi ke toilet di Villaku.


Kuhabiskan 2 batang rokok. Setelah itu aku baru menghampiri mereka.


Ternyata mereka sudah akrab! Bahkan Mama Wanda sedang dimake up oleh Cresa saat aku masuk. Mama Wanda tersenyum kepadaku.


Kutunggu acara mereka sambil minum bir ditepi kolam renang. Mama Wanda memanggilku setelah wajahnya selesai dimake up Cresa.


"How? How do i looks now?" Tanya mama Wanda padaku. "Mama, you looks younger than your actual age! Kerutan di wajah mama pun berkurang." Jawabku terkagum-kagum.


Mama Wanda pun mengambil ponselnya di meja lalu mengambil foto selfie.


Mama Wanda memandangi wajahnya di foto itu. Beliau terlihat senang.


"Cresa kamu memang berbakat di bidang kecantikan, juru make up disalon langganan mama saja hasil make upnya tidak sebagus kamu!" Puji mama Wanda lagi. Kemudian kami bertiga mengobrol sambil makan malam. Tangan Cresa digenggam mama Wanda selama makan malam itu.


"Rio dan mama sudah seperti anak dan ibu kandung, selama ini Rio selalu berterus terang tentang semua hal pada mama. Rio juga sudah minta ijin pada mama untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan kamu, Cresa. Mama minta jaga Rio baik-baik. begitu juga mama minta agar Rio menjagamu baik-baik.


Garis besar perjalanan cinta kalian, mama sudah tau.


Apa yang harus Cresa lalui sampai akhirnya bertemu Rio lagi.


Begitu juga Rio yang dilalui Rio sebelum bertemu kamu juga cukup berat.


Tapi percayalah. Pertemuan kalian ini adalah Takdir dari Tuhan. Mama mewakili Eva dan diri mama sendiri, Mama merestui hubungan kalian.


Cresa klo kamu sedang di Bali, menginap disini saja ya. Biar uangnya bisa dipake untuk yang lain.


Jangan sungkan! Anggap mama seperti mama kamu sendiri ya," Ujar mama Wanda.


"Cresa, besok mama ada sedikit urusan di Jakarta. Mama naik pesawat jam 13.00 Bisa kamu sarapan bareng mama besok pagi?" Tanya mama Wanda. "Tentu bisa, Ma!" Jawab Cresa. "Hihihi. Mama mau minta make up Cresa lagi sebelum berangkat! biar temen-temen mama nanti pangling!" Lanjut mama lagi sambil tertawa. Cresa tersenyum lalu mengiyakan permintaan beliau. Aku pun lalu berpamitan mengajak Cresa jalan-jalan lalu kemudian mengantar Cresa ke Hotel.


Entah kenapa malam itu aku sangat ingin minum minuman beralkohol, Cresa sempat melarangku tapi aku dengan gigih membujuknya. Dan mengijinkanku untuk minum cuma untuk malam itu saja. Karena bersama Cresa, aku mencari Bar yang lumayan sepi pengunjung. Kupilih Bar hanya didatangi para Ekspatriat saja karena pakaian yang dipakai Cresa agak seksi malam itu. Mata lelaki di Bar itu, tertuju pada Cresa saat dia masuk bersamaku menuju meja bartender. Langsung kutatap mata lelaki yang memandangi tubuh Cresa dengan tatapan tajam. Malam itu terasa aneh bagiku, emosiku seakan-akan siap untuk diledakkan. Untunglah setelah melihat tatapanku, para lelaki itu hanya memandangi sebentar lalu memalingkan muka mereka tanpa berani untuk menatap lagi. Kami duduk dibangku paling pojok didekat bartender.


"Beb, pulang yuk. besok pagi gue kan ditunggu mama Wanda untuk sarapan," ujar Cresa mengingatkanku.


"Oiya, gue hampir lupa. Ayo beb!" Ajakku pada Cresa saat teringat permintaan mama Wanda. Saat kami keluar, Reno memanggilku. Ternyata Reno bersama Tania, Ivone dan Angela malam itu. Reno cs datang menghampiriku.


"Jiaaahh lu bro, gue datang lu udah mau pergi aja. Ayolah nongki sebentar aja bareng kita!" ujar Reno sambil menepuk pundakku. Kuperkenalkan Cresa pada Reno dan Tania.


"Maaf bro, next time gue pasti bakal nongki bareng elu. Besok nyokap balik, pagi-pagi gue kudu nganter," Jawabku sambil tersenyum.


"Oiya, ini sepupu gue Ivone!" Ujar Reno memperkenalkan Ivone padaku. Aku menyalami Ivone sambil tersenyum. Saat bersalaman jari Ivone menggelitik telapak tanganku. Lalu cepat kutarik tanganku dari genggamannya. Ivone tersenyum nakal memandangku. Aku lalu memalingkan muka pada Reno dan berkata,


"Ren, gue cabut duluan ya. Pacar gue udah ngantuk nih, next time gue bakal hang out bareng elu. See yaa bro!"


"Siap, Drive safely bro!" Jawab Reno saat aku memasuki mobilku.


Cresa memandangiku seakan ada yang aneh.


"Lu sama Ivone dan Angela saling kenal kan? Kenapa tadi kok diem-dieman gitu, beb?" Tanyaku memulai obrolan.


"Gak tau beb, tadi gue anggukin kepala ke Ivone dan Angela. Tapi mereka malah melengos gitu, yaa udah gue jadi males ngajak ngomong, beb. Malam ini mereka jadi aneh!" Jawab Cresa. Lalu kuceritakan kejadian saat aku mengantar Angela pada Cresa. Karena aku merasa tidak enak melihat gerak-gerik mereka malam ini. Aku khawatir Cresa mendapat cerita dari orang lain, tidak dari aku.


"Masak dia tiba-tiba nge kiss elu tanpa sebab? Aneh banget!" Kata Cresa dengan nada kesal.


"Lu tebar pesona ke dia kali??!" Lanjutnya lagi.


"Tebar pesona gimana, beb. Angela itu adiknya Reno, gila apa gue main api sama adik temen gue!" Balasku dengan nada kesal.


"Gue nganter Angela juga karena Reno nganter Tania ke Ubud, Angela lagi mabuk berat. Ya gimanapun gue yang salah. Gue minta maaf!" Bujukku sambil menggenggam tangan Cresa. Cresa mengacuhkan ucapanku sambil memalingkan wajahnya kearah samping.


"Beb, Maafin gue donk. Iya gue salah jalan berdua aja sama cewek lain. Tapi dia itu adiknya Reno, beb!" Kataku sambil menatap wajah Cresa yang cemberut.


"Gue kurang cantik ya buat elu?!" Ujar Cresa dengan tatapan tajam. Saat itu kami sudah sampai di Hotel tempat Cresa menginap. Cresa lalu turun tanpa menungguku membuka pintu untuknya seperti biasanya. Kukejar Cresa yang berjalan cepat menuju kamarnya. Saat dilift pun dia masih diam dan cemberut. Saat keluar lift, kucoba menggandeng tangannya. Tapi dia diam saja tanpa membalas genggamanku seperti biasanya. Pintu kamar dibukanya dengan kasar, aku termenung didepan pintu.


"Jujur kok malah jadi salah begini sih?" Batinku dalam hati. Kususul Cresa masuk kekamar, kulihat dia sedang bersandar didinding sambil memeluk lututnya.


"Gue minta maaf ya, Beb. Gue janji gak akan ngulangin lagi!" Kataku didepan wajahnya sambil mengacungkan 2 jariku.


"Angela dan Ivone itu suka ngegodain cowok, beb! Entah jomblo atau suami orang, dia gak peduli!" Dengus Cresa bertambah emosi.


"Beb, gue baru kenal dia semalam. Trus ketemu lagi dibandara pas gue jemput elu! Udah, cuma itu pertemuan gue sama dia," jawabku dengan suara pelan. Cresa masih diam.


"Ya udah, gue balik dulu. percuma gue disini tapi elu diemin gue. Gue minta maaf. Sekali lagi gue minta maaf!" Kataku sambil mencium keningnya. Cresa bangkit lalu memelukku erat.


"Angela dan Ivone itu teman pelanggan-pelanggan gue, gue dengar banyak cerita tentang mereka dari teman-teman mereka. Gue khawatir elu tergoda. Apalagi mereka cantik dan sedikit nekat!" Ujar Cresa.


"Gue maunya cuma sama elu, sayang!" Jawabku sambil mengecup bibirnya. Kulepas bibirku dari bibirnya.


"Jalan kita udah tinggal selangkah lagi, masak gue mau sia-siain elu, sayang?" Kataku sambil memegang pipinya.


Cresa lalu menyambar bibirku dengan bernafsu, aku pun mengimbangi ciuman panasnya.


"Gue cinta elu, sayang!" kataku sambil menjelajahi tubuhnya dengan lidahku. Kuacuhkan teriakan Cresa yang kegelian sampai akhirnya Cresa menjerit.


"OOHH!I LOVE YOU SO, HONEY!" Katanya kemudian memelukku.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!