MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Tantangan Diterima!



Bel tanda pelajaran telah usai pun berbunyi. Aku segera membereskan buku dan alat tulisku, setelah itu aku pun berjalan menuju pintu kelas. Cresa, Virna, Robin ,Edy dan Haryo menungguku didepan pintu. Aku tersenyum pada mereka. Saat aku akan melewati pintu, Robin menghalangiku.


"Lu mau mati konyol dikeroyok gerombolan itu? Gak usah gengsi atau sok berani lah! Udah lu mending pulang lewat jalan lain aja, Rio!" tutur Robin sambil berdiri ditengah-tengah pintu.


"Udahlah, Bin. Aku gak bakal kenapa-kenapa. Makasih udah ngingetin," kataku menepuk pundak Robin agar minggir dari pintu itu.


Kutatap Robin dengan tatapan tajam, tatapanku ternyata membuat ia segera menyingkir dari pintu itu.


"Aku duluan ya," kataku pada mereka semua.


Aku setengah berlari menuju gerbang sekolah. Cresa rupanya mengejarku, dia memegang lenganku dari belakang.


"Gak usah kesana, Rio. Gak usah, please!" Katanya dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu jangan kuatir, Cresa. Aku gak akan kenapa-napa kok," jawabku sambil melepaskan pegangan tangannya yang erat dilenganku.


Aku tersenyum menatap wajahnya yang terlihat kuatir kepadaku. Lalu aku kembali berlari keluar sekolah. Saat aku tiba dilapangan itu. Lapangan itu ternyata sudah ramai orang, rupanya kabar perkelahian kami sudah banyak yang tahu. Bukan hanya murid dari sekolahku saja yang hendak menonton, tapi juga dari sekolah lain. Keenam Orang itu sudah bersiap dan berada ditengah-tengah lapangan. Saat aku berjalan ke tengah lapangan, mereka berenam sudah berpencar sambil mengelilingiku. Sekarang aku sudah berada ditengah-tengah lingkaran yang dibuat para musuhku.


"Salut gue. Gue pikir elu bakalan kabur," kata Yusva dengan wajah tengil.


Aku menatap mereka satu persatu. Aku mengukur kekuatan mereka masing-masing. Lalu kulayangkan pandanganku keseberang. Terlihat seorang cowok kurus yang sangat kukenal berdiri dibawah pohon besar bersama beberapa temannya sambil mengepulkan asap rokok. Ya! Itu kakakku, bang Faizal.


"Tangan kosong aja nih?"


Tanyaku sambil melempar tas ranselku ke tanah. Setelah aku melemaskan otot-ototku. Aku pun bersiap-siap, kupasang kuda-kudaku sambil bergerak kekiri dan kanan.


"KELAMAAN! AYO LU MAJU SEMUA!!!" Teriakku pada enam orang itu.


"BANYAK BACOOOT LU BOCAH!!!" Toni dan Yusva menyerang bersamaan. Yang lainnya masih tetap ditempatnya. Toni dan Yusva maju menyerangku dengan jarak berdekatan. Saat mereka sudah cukup dekat, aku pun berkelebat. Aku berputar kekiri sambil menendang kekanan, Yusva yang tertipu dengan putaran badanku langsung tersungkur ketika tendanganku mengenai bahunya dan lalu sebaliknya aku berputar lagi kekanan dan sambil melentingkan badanku 360° kulakukan tendangan kekiri. Dan tendanganku tepat mengenai kepala Toni dengan keras.


"Braaak Bruuuk!" Tendangan Dwi Chagi-ku mengenai Toni dan Yusva bersamaan dengan telak dan membuat mereka langsung terkapar. Tanpa membuang waktu, untuk segera menyelesaikan pertarungan ini aku berlari dan meloncat kearah 4 orang yang masih tersisa, saat mereka sedang ragu-ragu untuk mendekatiku secara berbarengan atau tidak. Segera kuhampiri 4 orang yang sedang bingung itu dengan gerakan berputar-putar sambil menendang dan meloncat juga memukulkan tinjuku tanpa henti. Ternyata ke 4 orang itu tanpa kusadari sudah terkapar dengan memegang perut dan kepala mereka.


"Dolke chagiku keras juga ya," batinku menatap kearah semua musuhku yang masih terkapar.


Aku lalu mengambil ranselku ditengah lapangan dan mengebas-ngebaskan debu dibadanku kemudian beranjak meninggalkan tempat itu untuk mengambil motorku.


Lalu kudengar seseorang memanggil namaku.


"Rio!!!"


Suara itu adalah suara kakakku.


"Mantappppp dek!Hacaaaaawww!Hahahahaha!" Teriaknya sambil menirukan gaya Bruce Lee kemudian disusul dengan suara tertawanya.


Cresa rupanya juga menonton pertarunganku itu. Dia menghampiriku yang sedang berjalan kearahnya sambil tersenyum.


"Dikira cupu ternyata suhu!" katanya sambil berjalan disampingku.


"Hahaha. Bisa aja kamu. Aku pulang duluan ya. Btw Jemputan kamu mana Cres?" Tanyaku sambil mencari mobil Cresa yang sudah tidak terlihat.


"Udah dijemput tadi. Tapi aku suruh balik dulu sopirnya. Gampang Rio, ntar aku pulang naik ojol aja," katanya lagi.


Dia jadi ditinggal sopirnya karena melihatku berkelahi.


"Bentar Cres," kataku singkat. Lalu aku mengambil motorku diparkiran.


"Ayo naik Cres. Kuantar kamu pulang yuk!" Cresta bergegas naik keatas motorku. Paha mulus Cresta terlihat jelas saat dia naik diboncengan motorku. Lalu kulepas jaketku.


"Tutupin pahamu, Cres!" Kataku sambil memberikan jaketku. Cresa pun menutupi kaki indahnya dengan jaketku.


"Sudah?" Tanyaku.


"Sudah Rii!" jawabnya.


Aku pun memacu motorku kencang. Cresta memelukku erat-erat. Cresta merebahkan kepalanya di punggungku. Aku & Cresta sampai dirumahnya. Rumahnya ternyata sepi yang ada cuma pembantunya saja.


"Masuk yuk. Aku bikinin minum dulu sebentar," katanya sambil menggandeng lenganku. Kulirik jam ditanganku, masih kurang 1,5 Jam lagi jadwal latihanku. Cresa yang melihatku melirik jam lalu bertanya.


"Kamu lagi ada janji, Rii?"


"Nggak. Nggak ada. Cuma 1,5 jam lagi aku harus ke Dojang," jawabku.


"Dojang???Apa itu?


"Dojang itu tempat latihan Taekwondo."


"Ooohhh gitu. Brarti ada waktu 1 jaman kan? Hihihi," katanya sambil tertawa.


Aku pun tertawa tanpa mengerti apa yang aku tertawakan. Cresa pun masuk ke dalam rumahnya. Kemudian ia keluar dengan pakaian santai dan ia membawa minuman dingin. Aku pun meminumnya karena memang haus banget. Tak sadar ternyata dari tadi Cresa memandangiku. Aku tak tau apa yang ada dipikirannya. Aku tak tau harus ngomong apa disaat seperti itu. Kami berdua saling membisu beberapa saat.


"Kamu...," katanya terhenti.


"Apa Cres? Kamu mau ngomong apa?" Tanyaku lagi.


"Nggak jadi," katanya sambil *******-***** jemarinya.


"Aku lagi bosen dirumah, boleh gak klo aku liat kamu latihan?" Katanya sambil menunduk.


"Fiiuuuuuuh. Kupikir ada apaan," jawabku sambil tersenyum.


"Berarti boleh ya?"


"Nggak apa kamu ikut aku? Nggak minta ijin dulu sama papa mama?"


"Klo diijinin apa boleh ikut?"


"Boleh lah, siapa tau bisa jadi my mood booster," ujarku sambil mengedipkan mata.


Dia pun meloncat kegirangan dan langsung menelpon mamanya. Cresta mengakhiri telpon dengan mamanya.


"Sebentar ya. Aku ganti baju dulu. Aku udah diijinin sama mama, Rii!" Katanya sambil berlalu ke kamar.


Tak lama dia sudah berganti pakaian. Dia memakai Sweater ketat berwarna hitam dipadu dengan celana pendek selutut warna hitam dengan sepatu kets berwarna pelangi. Wajahnya diulas dengan beda tipis dan bibirnya hanya dilapisi Lipgloss. Rambutnya dikuncir ekor kuda. Dandanan simple tapi membuatnya luar biasa cantik. Aku terdiam memandanginya.


"Kita berangkat sekarang, Rii?"


Aku masih terdiam mengagumi kecantikannya.


"Ehhh bentar. Sebentar," ujarku mengelilingi dirinya. Cresa yang bingung apa ada yang salah dengan pandangannya.


"Ada yang salah kah?" Tanyanya lagi. Saat itu pembantunya ke ruang tamu seperti hendak memberesi bekas gelas-gelas kami.


"Bik, bisa tolong saya sebentar?" Kataku pada pembantunya.


"Iya mas, bantu apa ya?" Ujarnya sambil berdiri didepanku.


"Dipunggungnya Cresa gak ada apa-apa kan, bik? Takutnya saya salah liat.Soalnya tadi saya habis berantem, bik."


Si bibi pun mengitari tubuh Cresa dan menyentuh punggung Cresa.


"Gak ada apa-apa kok mas!"


"Yang bener bik?"


"Bener mas!" Kata bibi lagi.


"Ada apaan sih Rii?" Kata Cresta bingung.


"Bidadari kok gak ada sayapnya! Berarti cerita tentang Bidadari itu bohong donk," ujarku menggodanya.


Cresa lalu mencubit gemas lenganku. Si bibi pun tertawa mendengar candaanku. Setelah berpamitan kepada bibi kami pun cabut.


...----------------...


Biasanya saat latihan teman-temanku selalu mengajak pacarnya. Aku yang biasa latihan tanpa membawa siapa-siapa, kali ini membawa Cresa yang luar biasa cantik membuat kehebohan di dojangku.


Kuantar Cresa ke tempat duduk yang deket dengan tempat aku berlatih. Setelah itu Aku pun berganti pakaianku dengan Dobok(seragam Taekwondo). Aku berlatih lebih semangat karena ada Cresa. Cresa pun ternyata tidak mudah bosan saat melihatku berlatih.


"Mau langsung kuantar pulang?" Tanyaku pada Cresa setelah aku selesai mandi seusai latihan.


"Klo gak langsung pulang memangnya mau ngajak aku kemana?" Katanya dengan manja.


"Klo ke kafe yang tempat kita ketemu tempo hari mau?"


"Ayuuuk mau banget Rii!"


...----------------...


"Mau makan berat atau mau nyemil aja?" Tanyaku sambil menggandeng tangan Cresa.


"Makan beratlah. Kan kamu habis latihan. Harus banyak makan," jawab Cresa sambil menyandarkan kepalanya dilenganku. Kuajak Cresa menuju pondok favoritku.


"Aku kalo lagi sumpek ya kesini Cres. Ehh sori. Klo aku ngerokok gak papa kan?" Tanyaku padanya sebelum menyalakan rokok.


Cresa mengangguk sambil tetap mendekap lenganku. Kulingkarkan lenganku yang didekapnya kebahunya sehingga dia bisa bersandar didadaku. Dia menatapku sebentar lalu melingkarkan tangannya kepinggangku. Kami pun tertawa bersamaan. Saat makanan datang kami masih bersandar ditepi pondok sambil menikmati deburan ombak.


"Mau kusuapin?" Kataku padanya. Cresa mengangguk kegirangan.


"Kayak cewek yang katamu sodaramu itu. Dia kan kamu suapin juga," katanya sambil menyeruput es jeruk.


"Vina. Namanya Vina," ujarku lagi.


Lalu kuceritakan tentang Vina kepada Cresa. Sambil kusuapi Cresa mendengarkan ceritaku.


"Nanti kapan-kapan kukenalin kamu sama Vina," ujarku sambil mencuci tanganku.


Selesai makan aku dan Cresa duduk ditepi pondok lagi sambil menunggu sunset. Dia menarik tanganku lagi untuk dilingkarkan kebahunya lagi. Kurengkuh bahunya ketubuhku. Tercium wangi harum rambutnya. Tangannya melingkar erat dipinggangku. Memeluk erat tubuhku sambil merebahkan kepalanya didadaku.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!