MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Drama King di Sekolah



Pagi itu aku benar-benar menjadi pusat perhatian di sekolah, karena video viral yang dibuat bang Faizal. Video berdurasi 4 menit itu sudah tembus memperoleh 1 juta view lebih.


Sony teman bang Faizal rupanya sudah menunggu kedatanganku disekolah pagi itu.


"Rio!" sapanya begitu melihatku mendorong motorku diparkiran. Dia berbasa-basi mengajakku ngobrol tentang perkelahian yang kemarin.


"Kamprett abang lu, kami 25 orang habis dikerjain sama dia," ujarnya sambil tertawa. Aku yang sambil berjalan disampingnya pun ikut tertawa.


"Dikerjain gimana bang?" tanyaku penasaran.


"Dia nantangin taruhan 50 ribuan/orang.Taruhan siapa yang bakal bonyok. Cuma dia yang megang Tony, yang lain termasuk gue megang elu yang bakal bonyok. Asem si Faizal pantes dia nyantai pas gue kabarin untuk ngeback up elu, ternyata elu jago Taekwondo!" ujar Sony panjang lebar.


"Kamprettt brarti yang kemaren itu bukan duit yutub tapi duit taruhan!" gumamku dalam hati.


Akhirnya aku dan Sony berpisah ditengah lapangan, aku lalu berlari menuju kelasku.


Aku bergegas untuk segera sampai dikelasku. Cresa! Ya Cresalah yang membuat aku bersemangat ke sekolah pagi itu. Cresa pagi itu sedang ngobrol dengan Virna Cs di bangku belakang. Kulambaikan tanganku kepadanya. Dan dia membalas dengan lambaian tangannya juga disertai senyumnya yang menawan. Kucantolkan tas ranselku pada kursi. Saat aku akan menghampiri Cresa, seorang wanita berseragam guru masuk ke kelasku.


"Rio Ramirez!" panggilnya.


"Murid kelas ini yang bernama Rio Ramirez apakah sudah datang?" tanyanya lagi.


Kelasku yang waktu itu sedang ramai mendadak menjadi sepi senyap.


"Ya bu. Nama saya Rio, Bu.Ada apa?" tanyaku keheranan.


"Kamu ikut saya sekarang keruang BP," katanya sambil berjalan keluar dari kelas. Wajah Cresta terlihat panik saat aku berjalan mengikuti guru tadi ke ruang BP.


Diruang BP hanya aku dan 2 orang dari gerombolan Toni saja. 4 orang yang lainnya tidak terlihat batang hidungnya.


Diruangan itu hanya ada 2 guru BP. Bu Citra guru yang tadi memanggilku dan pak Razki. Bu Citra adalah ketuanya dan pak Razki adalah wakilnya. Pak Razki langsung ngegas saat diberi kesempatan oleh bu Citra untuk memberikan pengarahan untuk pemberian sanksi atas kejadian kemarin. Pak Razki tanpa basa basi langsung mengkambinghitamkan aku yang katanya sudah diperingatkan agar tidak melayani tantangan itu. Dan 6 orang siswa kelas 3 yang cidera, sebenarnya tidak pernah menantang untuk berkelahi. Cuma memperingatkan Rio, tapi Rio yang merasa jago berkelahi justru menantang siswa kelas 3 berkelahi.


Aku menahan tertawa ketika mendengar penjelasan dari pak Razki tadi. Pak Razki yang memang mengincarku, memarahiku dan memaki-makiku karena dianggap tidak menghormati guru. Pak Razki pun ngotot bahwa aku yang harus diskors bukan ke 6 anak kelas 3 yang malah menjadi korban.


Aku pun makin dibuat geli dengan perkataan pak Razki itu.


"Jadi Rio, kamu diskors karena sudah diperingatkan dan tidak mematuhi guru BP. Dihukum karena mencederai kakak kelas yang 'hanya' mengingatkan dan memutarbalikkan fakta bahwa kakak kelas yang menantang bertarung padahal sebenarnya kamu lah yang menantang bertarung. Kamu diskors 2 minggu belajar dirumah!"


"Itu sudah Final kah pak?" tanyaku sambil nyengir ke pak Razki dan 2 orang kakak kelas 3 itu.


"Ya. Hukumannya sudah final!"


"Bisa saya menghadap kepala sekolah, pak?" tanyaku geram.


"Ngapain kamu bawa-bawa kepala sekolah? Ini wewenang guru BP."


"Ini sekolah favorit, pak. Jangan sampai sekolah ini viral karena kasus Playing Victim pak!"


"Maksud kamu playing Victim itu apa? Jangan kurang ajar kamu ya!"


"Klo bapak atau ibu tidak bisa bersikap adil & jujur di kasus ini. Akan saya Viralkan sekolah ini. Ini jaman digital sekali viral hancur reputasi sekolah ini karena oknum kayak bapak!" ujarku sambil berdiri.


"Kita tambah saja skorsingnya yaitu tinggal kelas!"


"HEHHH!!! GAK USAH KAMU BAWA-BAWA ORANG TUA SAYA!!! DASAR KAMU ITU GURU TUKANG BOHONG!!!"


Aku yang sudah emosi segera berjalan ke pintu dan memutar rekaman Video saat Toni cs berteriak-teriak dikelas. Bu Citra pun terkaget-kaget mendengar rekaman itu. Pak Razki yang mendengar itu juga tidak bisa berkata-kata lagi.


"Itu bukti saya untuk menyangkal bahwa masalah ini dari saya yang katanya saya yang menantang! Untuk masalah kedua. Yang katanya saya sudah dicegah dan bla bla bla. Apa ibu Citra juga mau dengar buktinya???" kataku berapi-api.


Tak ada jawaban dari bu Citra apalagi pak Razki yang sudah diam seribu bahasa. Kuputar rekaman Video saat aku melapor ke  pak Razki. Kubesarkan Volume ponselku. Terdengar obrolanku dengan pak Razki yang membuat bu Citra terbelalak.


"Kamu kan jagoan, hadapi mereka. Itu masalahmu. Sudah keluar kamu dari ruangan saya!"


"Saya bisa bersekolah dimana saja selain di sekolah ini. Tapi klo masalah ini saya Viralkan, reputasi sebagai sekolah favorit puluhan tahun bakal hancur. Saya permisi untuk kembali ke kelas."


Saat aku keluar dari Ruangan BP ternyata banyak guru-guru dan murid-murid yang menguping pembicaraan kami. Aku pun berjalan membelah kerumunan itu. Selama aku belum menerima surat resmi skorsing dari sekolah aku akan tetap masuk sekolah. Ku ketuk pintu kelasku lalu aku masuk untuk mengikuti pelajaran yang masih berlangsung.


Aku dan Cresa berjalan berdampingan menuju kantin. Beberapa pasang mata murid cowok yang sedang berada disana langsung menatap Cresa. Cewekku yang cantik itu memang selalu menjadi pusat perhatian dimana saja dia berada.


"Kamu mau makan apa?" tanyaku saat kami sudah tiba di kantin.


"Aku minum aja. Aku gak laper," katanya sambil duduk dibangku panjang kantin yang lumayan ramai itu. Aku memesan minuman dan mengambil 2 buah kue lumpur. Sambil menunggu minuman kami datang, kami pun mengobrol.


"Gimana tadi? Di ruang BP ngebahas apaan?" kata Cresa membuka obrolan kami. Kuhembuskan nafas panjang. Kuceritakan kejadian diruang BP pada Cresa secara detail. Dia pun terkaget-kaget setelah mendengar ceritaku.


"Kok kamu yang jadinya salah sih. Pak Razki itu sepertinya memang gak suka banget ya sama kamu," ujarnya sambil memainkan jemarinya yang lentik.


"Gak tau. Masa cuma gara-gara PR tempo hari, sampai sekarang dia masih kesal ke aku," ujarku sambil menggigit kue lumpur.


"Rasanya kok aneh ya!" Aku berpura-pura didepan Cresa seakan rasa kue itu terasa aneh.


"Aneh gimana?" tanyanya lagi.


"Hambar gini," kataku sambil menyodorkan kue itu ke arah Cresa. Digigitnya kue itu sedikit.


"Ehh Manis kok," katanya lagi.


Kugigit lagi kue itu.


"Hambar banget kok," kataku.


Cresa yang duduk disampingku tiba-tiba memegang keningku.


"Kamu sakit kali. Tapi badan kamu gak panas," katanya lagi.


"Klo ada kamu, pantesan kue ini jadi hambar, soalnya cuma kamu yang paling manis," ujarku sambil mengunyah kue itu lagi.


Dicubitnya pinggangku "Idddiiih raja gombal deh kamu," ujarnya mencubitku dengan muka gemes. Aku dan dia pun tertawa. Setelah menghabiskan minuman, kami berdua berjalan menuju kelas.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!