
Mia menungguku di sebuah pulau di Nusa Penida sore nanti. Aku berpamitan pada istriku Cresa untuk melakukan perjalanan bisnis ke Jakarta. Cresa sedih saat akan kutinggal. Sebenarnya aku tak tega meninggalkannya, tapi ini semua kulakukan untuk masa depan kami.
"Perasaan gue gak enak, beb! Elu hati-hati ya, sayang!" Ujar Cresa melepas kepergianku. Aku mencium Cresa saat akan berangkat. Indra ditemani Sadewo, pengawal baru yang menjaga Villaku saat Indra tidak ada. Sementara Sadewo mengantarku dan Indra ke Jakarta. Raka dan 3 temannya berjaga-jaga di depan Villa. Begitu aku dan Indra turun bandara. Sadewo pun langsung kembali ke Villa. Indra masuk ke gerbang keberangkatan, seperti rencana yang telah kususun dengan Indra kemarin.
Sementara aku naik taksi menuju Sanur untuk menuju Nusa Penida. Indra menemui cewek simpanan Rosko di Jakarta. Aku menemui Mia di Nusa Penida. Saat sampai Sanur, aku telah ditunggu oleh anak buah Mia.
Aku lalu menyebrang menggunakan Speedboat ke sebuah pulau dekat Nusa Penida sesuai intruksi Mia.
Setelah turun di dermaga pulau. Aku berjalan ke sebuah pondok di pulau itu. Pondok itu cuma satu-satunya pondok di pulau itu. Saat aku sampai Mia baru selesai berenang. Dia memakai bikini yang memamerkan tubuh seksinya yang menantang. Dia tersenyum lebar melihat kedatanganku. Dengan kasar Mia memeluk dan mencium bibirku. Tangan Mia langsung menggerayangi otot panjang di pangkal pahaku. Kutepis kasar tangannya.
"Lets we talk about bussiness first, Mia!" Ujarku sambil melingkarkan tanganku dibahunya.
"Rosko sudah sekarat, Rio. Kita harus bergerak cepat. Gue mau elu jadi mitra gue. Rosko akan gue lenyapkan, agar bosnya Rosko, Vicenzo memohon pada gue untuk mendistribusikan barangnya di Indo. Walaupun gue yang melenyapkan Rosko, gue akan ngomong klo elu yang bunuh Rosko. Agar elu dapat respek dari Mr.Paolo dan Vicenzo akan memohon elu untuk jadi tangan kanannya. Anak buah gue dapat info klo Rosko masih ada di indo atas perlindungan Vicenzo. Bangsat itu pasti ketemu, gue akan gorok dia begitu dia muncul.
"Biar gue yang bunuh Rosko, Mia. Karena dia abang gue mati!"
"Hahahha. Emang lu pikir bunuh orang itu gampang? Jangan pake emosi, sayang. Ini semua cuma bisnis!"
"Gue serius, Mia. Lu mau bantu gue atau nggak?" Ujarku sambil menatap matanya.
"Gue akan bantu elu. Seperti yang...,"
Kukecup lembut bibir Mia. "Thanks Mia! Lu mau nolong gue, cuma itu yang mau gue dengar dari elu!"
Mia menarik kasar leherku! Bibirnya langsung hendak ******* bibirku.
"Bisa pelan-pelan? Gue gak biasa kasar sama cewek. Apalagi cewek secantik elu, Mia!" Kataku sambil mengelus lembut pipinya. Lalu senyum Mia tidak seperti yang sudah-sudah, kali ini senyumnya lembut. Kugendong tubuh Mia kedalam pondok. Aku melucuti bikininya dengan perlahan. Lidahku menjelajahi pahanya yang mulus itu. Mia menatapku dengan tatapan lembut. Saat kuhujamkam lidahku dipangkal pahanya. Tubuhnya tiba-tiba mengejang, semburan cairan membasahi pangkal pahanya.
"Stop Rio! Stop! Please!" Aku pun menghentikan aksiku, Aku berbaring disebelahnya sambil menatapnya. Dia menatapku dalam-dalam.
"Gue gak pernah diperlakukan lembut gini, Rio! Damned! Whats wrong with me! Hahahaha!" Ujarnya lalu memelukku kemudian tertawa.
"Bukannya gue suka kasar atau dikasarin. Tapi kehidupan gue keras dari awal. itu sebab sikap gue kasar."
"Gede banget punyamu, Sayang!" Kata Mia sambil membenamkan kepalanya dipangkal pahaku. Mulut Mia terasa sangat lembut, membuatku menggelinjang kesana-kemari. Tiba-tiba dia sudah mendaki tubuhku. Kurasakan tubuhnya sudah basah.
"Dorong pelan, sayang!" Bisiknya manja sambil menjilati dadaku. Mia bergoyang pelan diatasku sambil tersenyum manja. Kubelai lembut wajah dan bibirnya. Ototku perlahan-lahan sudah hampir tenggelam seluruhnya didalam tubuhnya. Mia bergoyang berputar-putar dengan mimik muka manja sambil mendesah. Aku dibuat gemas melihatnya. Kurengkuh tubuhnya untuk menindih tubuhku sambil menngecup bibirku.
"Rioooo, Enakkk bangeet siihh sayangggg!" Teriaknya sambil menggenggam kedua tanganku. Tak lama kemudian badanku mengejang sambil memeluk erat tubuhnya. Mia menciumi wajahku dengan lembut saat aku terbang ke awan. Dia memelukku sambil menempelkan dadanya yang penuh. Kami berpelukkan erat. Mia membelai tubuh kekarku dengan lembut.
Mia masih menindih tubuhku sambil memandangi wajahku. "Rio, ini kali pertama gue dapat dobel Big O. Elu pria pertama yang bisa bikin gue terbang kayak tadi!"
"Gue ngelakuin ini sama elu, karena elu udah ngelindungin keluarga gue, Mia. Gak ada lagi yang bisa gue kasih ke elu selain ini. Maafin gue, gue bukan manfaatin elu, Mia. Semua udah elu punya. Gue cuma punya sayang untuk elu. Tolong gue, Mia. Tolong gue, untuk lenyapin Rosko. Gue mau bunuh dia dengan tangan gue sendiri. Tolong gue, Mia!" Ujarku lalu mengecup lembut bibirnya.
"Gue tau elu sampe ngelakuin ini karena elu sayang sama keluarga elu. Gue gak akan minta lebih atau nuntut elu nuntut elu untuk lebih dari ini, Rio. Elu gak usah kuatir. Gue akan bantu elu sampe ancaman ke keluarga elu hilang. Elu bisa pegang omongan gue! Ehh elu mau pulang sekarang?" Tanyanya lagi sambil membelai-belai bibirku.
"Besok aja, gue masih mau disini. Ajarin gue, Mia. Banyak yang gue gak tau tentang dunia keras elu. Gue gak mau kejadian sama abang gue kejadian lagi dikeluarga gue. Gue harap elu bisa jadi patner in crime gue. Makasih untuk semua yang udah lu lakuin untuk keluarga gue, Mia!
Mia hanya mengangguk sambil merebahkan kepalanya didadaku yang bidang. Lalu tak lama kemudian Mia sudah tertidur. Kutatap wajahnya yang cantik. Aku lalu terbayang wajah Cresa, istriku yang juga cantik jelita.
"Maafkan gue beb, semoga elu bisa maafin gue. Gue ngelakuin ini untuk elu dan calon baby kita. Untuk sementara gue akan sering mengkhianati elu, sayang. Sampe elu aman! Sampe elu aman! Maafin gue, Cresa."
......................
Malam itu aku ceritakan rencanaku untuk membunuh Rosko. Mia berjanji akan menyiapkan segala keperluanku untuk melenyapkan Rosko.
"Rio, apa elu sudah siap? Elu udah pikirkan matang-matang tentang keinginan lu untuk membunuh Rosko? Sekali lu ngelakuin itu, gak ada jalan untuk kembali. Pikirkan lagi, Rio!" Ujar Mia sambil menatap mataku. Aku tertawa lebar, menampakkan susunan gigiku yang sempurna.
"Demi semua orang yang gue sayang, Mia. Gue siap!" Jawabku sambil menggenggam tangan Mia. Dada Mia berdebar-debar saat Rio menggenggam tangannya. Mia memandangi tangan Rio yang menggenggam erat jemarinya. Dia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini dari pria yang pernah dekat dengannya. Perasaan berbeda selalu dirasakan Mia jika ada didekat pria tampan ini. Mia menyuapi Rio daging steak yang dimasak sendiri oleh pria itu saat dirinya masih tertidur pulas. Mia tiba-tiba tersenyum lebar saat mencicipi nikmatnya daging steak itu.
"Senyum lu ternyata manis juga, Mia!" Ujarku sambil membelai pipinya.
Mia menatap dalam-dalam mata Rio.
"OMG! I THOUGHT I FALL IN LOVE WITH HIM!" Batin Mia dalam hati sambil menatap senyum diwajah pria tampan didepannya itu lekat-lekat.