MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Bertahan Hidup



"Rio, Check Your Bank Account!" begitu isi pesan singkat dari Mia. Segera kubuka ponselku untuk memeriksa rekening bankku. Transfer elektronik dari Mia sudah masuk. Jumlahnya pun fantatis, 500 Milyar! Lalu kubalas pesan singkat Mia.


Hari ini aku akan meeting dengan Indra Cs di "C Club", nama baru clubku yang kuberi nama dengan inisial huruf depan nama Cresa.


"1juta pil Xtc bos???" Ujar Indra terkaget-kaget. Indra berpikir keras bagaimana dan kemana dia harus mendistribusikan segitu banyak pil setan itu.


"Cari kota dimana ada banyak Club dan diskotek, Ndra!" Dalam waktu 2 bulan pil sejumlah itu harus habis. Itu syarat dari Mr. Paulo agar aku bisa bertemu dengannya. Aku juga menunggu kabar dari Mia. Kabar untuk mengambil alih kekuasaan Rosko yang sedang kosong. Indra kuberi tugas awal untuk mendistribusikan 200 ribu pil. Indra kuberi waktu 1 minggu. Indra dengan lemas menyanggupi perintahku. Sadewo kuberi tugas untuk melobi pejabat dan aparat yang bisa diajak bekerjasama. Mia akan memback up timku jika terjadi masalah, Indra dan Sadewo tenang setelah mendengar hal itu. Mereka berdua masih kurang yakin dengan power yang aku punya. Aku memakluminya karena aku adalah orang baru dalam bisnis ini, berbeda dengan Mia yang sudah berpengalaman dan memiliki relasi kelas wahid. Tapi diam-diam aku telah meminta bantuan mama Wanda. Mama Wanda awalnya tidak mau membantuku, tapi akhirnya beliau luluh dan dengan berat hati beliau berjanji mengenalkanku pada relasi-relasi beliau.


Akhirnya jalanku terbuka untuk bertemu Mr.Paulo. 1 juta pil setan telah terjual habis dalam waktu 1 bulan saja. Bisnis narkoba memang luar biasa, tapi tujuanku menjalani bisnis ini bukan karena keuntungannya. Tujuan utamaku adalah untuk mencari tau apakah Vicenzo masih mengincar keluargaku atau tidak. Klo dia masih mengincarku, aku akan mencari cara untuk segera melenyapkannya. Aku masih membantu kelompok Mia "mencuci daging". 2x kiriman lancar tak ada masalah.


1 properti lagi seperti pesanan Mia, sudah kubeli dan ku renovasi menjadi Club dan restoran. Letaknya pun strategis dekat dengan bandara dan exit Tol. Saat kiriman barang datang, kugilir bergantian agar tidak menarik perhatian.


Sore itu aku bertemu dengan Tania dan Kakak iparnya. Kakak ipar Tania bernama Gito itu sudah menungguku di Club baruku yang masih direnovasi. Tania sebenarnya memintaku untuk melanjutkan kontrak Fine Dining di 2 resortnya lagi, karena sejak acara pernikahanku dan Cresa kontrak FDku tidak kuperpanjang lagi.


"Ada aja ya, Rii. Mudah-mudahan elu tetap sabar. Terus maksud elu manggil gue dan kak Gito kesini untuk apa?" Tanya Tania.


"Gue mau lu dan kak Gito kerja ikut gue, Tan!"


"Kerja apa ya, mas Rio?" Tanya Gito.


"Ngelola Club baru gue," jawabku sambil tersenyum.


"Berapa bonus lu setahun kerja di resort, Tan?


"Klo ada lu bisa sampe 1,5 M! Tapi biasanya dapat 600an aja setahun, Rio!"


"Lu masih bisa sambil kerja juga di resort lu. Bantuin gue manage Club baru gue, bantuin Cresa! 2 tahun pertama gue berani kasih lu bonus 1M. Target gue gak muluk-muluk, gue cuma pengen club gue running well aja. Gimana?" Tanyaku lagi. Tania tersenyum lebar. Dia menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Gito, tolongin gue ngurus Club ini. 2-3 bulan lagi gue usahain club ini udah soft opening. Sementara nunggu semua kelar, elu gantian sama Tania handle C Club. 1 tahun pertama bonus 750juta cukup kan?" Tanyaku pada Gito.


"Klo gitu. Ok semua ya. Gue harap secepatnya dimulai. Mulai besok juga gak papa!"


"Gito, klo ada apa-apa ngomong langsung sama Indra. Mau ngerubah apapun ngomong aja. Ok, gue pamit dulu!"


Sementara Indra melanjutkan obrolan dengan Gito. Sadewo mengikutiku dengan mobil Pajero yang baru kubeli untuk papa dan mama.


***


Keesokan paginya aku bersama Cresa juga papa dan mama pergi Ubud setelah sarapan.


Dengan paduan GPS kami sampai di lokasi yang kami tuju. Indra dan Sadewo yang mengikuti kami pun sampai setelah sempat terpisah jauh dari kami. Penjaga Villa membuka pagar untuk kami. Aku dan Cresa bergandengan masuk ke Villa itu. "Elu mau sewa Villa, beb?" Tanya Cresa.


Aku hanya mengedipkan mata kepadanya. Villa itu bersih dan terawat. Villa itu sedikit lebih kecil dari Villa kami di Seminyak. "Kita nginep disini hari ini, Rio?" tanya papa. "Ini Villa buat papa dan mama. Cresa yang milihin Villa ini pa!" kataku tiba-tiba. Cresa yang bingung menatap ku sambil mencubit-cubit lenganku. "Awas ya lu, Beb!" Bisiknya pelan. Aku tersenyum sambil menggengam tangannya yang mencubitku.


Papa memelukku sambil mengucapkan terima kasih. Mata mama Anggi berkaca-kaca lalu memeluk Cresa. "Pak Wayan dan istrinya akan membantu mama dan papa mengurus rumah ini. Jadi papa dan mama gak bingung untuk ngurus rumah. Rio sudah titip juga dengan ketua pecalang untuk bantu pengamanan di rumah ini. "Beb, Kesannya apa gak kayak ngusir papa dan mama?" Bisik Cresa lagi.


"Beb, pasangan seumuran papa dan mama itu lebih enak tinggal di Ubud. Lebih tenang suasananya. Gak bising seperti di Seminyak.


Aku dan Cresa memandangi Papa dan mama yang sedang bercanda di taman belakang. "Makasih ya beb, lu udah balikin papa ke mama lagi!" Kata Cresa sambil menatap kedua orang tuanya. "Gue gak bantu apa-apa. Papa udah sadar klo mama adalah soulmatenya papa!" Ujarku sambil mengelus kepalanya. Malam itu dan Cresa menginap di Villa baru papa dan mama. Pak Wayan dan istri menjamu kami dengan makanan khas bali malam itu.


Malam itu Mia menelponku untuk mengosongkan acaraku besok lusa, ada acara mendadak yang mengharuskan aku bertemu dengan dia di Jakarta. Vicenzo mengirim perwakilannya untuk menemui Mia. Aku menyanggupi perintahnya. Aku meninggalkan Cresa di kamar untuk berbicara dengan Indra dan Sadewo. "Indra, Villa di Singaraja sudah siap?" tanyaku pada Indra setelah Sadewo pergi. Besok lusa setelah lu antar gue ke airport, lu anter Nyonya kesini dan bawa papa mama ke Villa di Singaraja. Sadewo jangan sampe tau, lu jangan sampe keceplosan juga. Gue agak curiga dengan Sadewo akhir-akhir ini. Dia sering menghilang gak jelas kemana dan darimana. Suruh teman lu yang bisa lu percaya untuk ngutit Sadewo. Mudah-mudahan dia gak bikin macam-macam. Klo ada yang mencurigakan sekap Sadewo, gue mau dia tetap hidup sampe gue pulang. INGET NDRA, TETAP HIDUP!" Ujarku lalu masuk ke dalam rumah.


Paginya aku dan Cresa kembali pulang ke Seminyak meninggalkan Sadewo untuk menjaga Mama dan papa.


Setelah sampe di Villa aku dan Cresa tidak kemana-mana. Kami bermesraan seharian didalam kamar tanpa ada yang mengganggu.


"Beb, sementara gue ke Jakarta. Lu, mama dan papa gue titipin ke Indra. Dengerin apa kata Indra, tolong lu ikutin karena semua yang dilakukan Indra adalah perintah gue dan klo lu ragu sama Indra, Lu bisa telpon gue, sayang. Jangan ngomong apa-apa pun dengan Sadewo. Inget, beb. Tolong inget kata-kata gue, beb! Cresa terdiam menatapku tapi dia menganggukkan kepalanya.