MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Menyepi Di Pulau Dewata



Aku larikan motorku ke arah Pecatu Highland setelah memeriksa peta, siang itu aku memposting pemandangan di pantai Padang-padang di IGku. Aku sekarang menuju kawasan Blue Point, pantai indah yang dikelilingi tebing-tebing tinggi. Tak lama kemudian aku pun sampai di gerbang menuju kawasan Blue Point. Setelah memarkir motor, aku pun berjalan mengikuti papan penunjuk arah. Kuminta bantuan turis yang kebetulan berada didekatku untuk mengambil foto dengan kamera ponselku.


"Hello can u help me to take a picture please?" Pintaku pada kedua cewek bule yang berada didekatku.


Kubuka T-shirtku, aku hanya mengenakan celana pantai. Kedua bule itu tersenyum melihat ototku yang bertonjolan. Aku berpose dengan beberapa pose. Pantai Blue Point terlihat indah dari tebing itu. Kulihat hasil foto yang mereka ambil.Tak lupa aku pun berfoto dengan mereka berdua. Kuuplot fotoku dengan mereka dengan caption Meet Two Angels on Hidden Paradise. Mereka tertawa melihat posting IGku yang kutunjukkan pada mereka.


"Nice picture.Thanks for your help, Anyway."


Aku berpamitan pada 2 bule itu sambil mengucapkan terima kasih.


"No problem handsome. Its My Pleasure!" kata cewek bule itu. Kuuplot lagi foto-foto lain yang paling aku suka. Lalu aku pun menuruni tebing sempit yang menjorok kebawah. Jalan itu memang sangat sempit, bila berpapasan salah satu harus mengalah. Finally sampai lah aku di Blue Point, pantai kecil yang dikelilingi tebing. Seperti kolam kecil dengan air yang bening berwarna biru dengan pasir putih bersih. Kumasukkan ponselku beserta dompetku kedalam kantong karet waterproof. Lalu aku pun berenang dipantai yang  indah itu. Kulihat makin siang makin banyak turis yang datang kesitu. Aku mengeringkan badanku dengan membiarkan tiupan angin pantai mengeringkan badanku. Kurebahkan tubuhku dipasir pantai yang bersih itu. Kupasang  kacamataku lalu kupejamkan mataku. Airpodsku mengalunkan lagu lembut yang membuatku tidur terlelap. Aku tertidur di Hidden Paradise sore itu.


"Heyyy! Bule lokal! Bangun loe!!"


Kubuka mataku, Vina??? Kukucek mataku, itu beneran Vina.


"Lu sama siapa, Vin?" kataku lalu memeluknya.


"Sendirian lahh Rii," ujar Vina tersenyum.


"Kapan lu sampe?" Tanyaku lagi.


"Tadi pagi, dengan First flight. Cakep banget ya pantainya, Rio!" katanya lagi.


"Gue intip IG lu, selama disini IG lu aktif banget. Untung deh ketemu lu. Lu baik-baik aja kan?" ujar Vina membelai kepalaku. Aku melempar pandanganku ke arah pantai lagi. Aku tersenyum,


"Kayaknya gue kudu membiasakan diri dengan sakit hati, Vin."


"Naik yuk ah. Udah mulai pasang lautnya," kataku sambil bangkit dari dudukku.


"Gue mau liat sunset disini, Rii!" kata Vina yang ogah mengikuti langkahku.


"Kita habis ini ke Rock Bar aja. Liat sunset dari sana aja yuk!"


...****************...


"Hadaaah mau putus rasanya pinggang gue, Rii!" kata Vina setelah menaiki tebing.


"Turunnya mah enak. Naiknya bikin lutut lemas," kata Vina lagi.


"Lu kebanyakan sih sama Surya. Hahhahaa," kataku sambil memakai kembali T-shirtku.


"RIO!!!" kata Vina sambil menepuk pundakku dan menggerakkan dagunya kearah depan.


Kulihat Eva dan Siska yang sudah berdiri tak jauh didepanku sambil menatap kami berdua. Vina yang hendak maju mendatangi mereka berdua, kucegah Vina sambil memegang tangannya.


"Gak usah, Vin. Semua bisa diomongin baik-baik kok. Biar gue aja yang ngomong," ujarku sambil mendatangi mereka.


"Eva, Siska, kapan datang," ucapku berbasa-basi sambil mengulurkan tanganku dengan dingin.


"Hai Rio!" ujar Siska menyebut namaku dengan canggung.


"Bisa kita ngomong sebentar, Rii?" Kata Eva yang masih tetap berdiri ditempatnya.


Eva lalu berjalan kearah pagar di dekat tebing. Kuberjalan dibelakangnya. Eva bersandar dipagar itu. Aku berdiri didepannya. Aku mengaitkan kacamata hitamku dirambutku.


"Mau ngomong apa, Eva?" Tanyaku sambil menarik nafas dalam-dalam. Eva terdiam sejenak.


"Aku memang salah, Rio.Please kasih kesempatan aku 1x lagi," kata Eva dengan mata berkaca-kaca.


"Aku gak mau 2x sakit, Va!" Jawabku singkat.


"Aku janji gak akan ngulangin lagi."


"Lebih baik kita berteman aja, Va."


"Aku gak ada niat untuk kissing sama Tino waktu itu, Rii! Aku...," belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya aku maju memeluknya dan seakan hendak menciumnya. Ketika bibirku akan menyentuh bibirnya. Dia melingkarkan tangannya dileherku. Kupegang erat tangannya yang melingkar dileherku.


"Kuliat kamu melingkarkan tanganmu seperti ini dileher Tino, Va! Masih berani kamu bilang gak ada niat??!" Kataku dengan nada emosi dan tubuh bergetar menahan amarah.


"6 bulan bukan waktu yang berarti buat  kamu, Va. Lagian mungkin aku cuma anak SMA yang bisa kamu mainin," tangan Eva lalu bergerak ke arah pipiku. Kutangkap tangannya yang akan menamparku.


"Tampar, Va! TAMPAR! Itu yang harusnya kamu lakuin ke Tino. Bukan ke aku, Va!" Kataku dengan tubuh bergetar.


Eva pun menangis. Dia lalu menangkap tanganku ketika aku mau pergi meninggalkannya.


"Jangan pergi, Rii. Jangan tinggalin aku!" Katanya sambil memegang erat tanganku.


Pegangan tangannya yang awalnya erat, tiba-tiba terasa melemah. Kemudian tubuh Eva tiba-tiba lemas dan kemudian dia pingsan. Kutangkap tubuhnya yang tiba-tiba pingsan itu. Aku bingung melihatnya dengan kondisi begitu. Kugendong tubuhnya ke bangku warung, tiba-tiba dari hidungnya keluar darah. Kutaruh tubuhnya dibangku. Kubuka T-shirtku dan kubersihkan darah yang terus mengalir dari hidungnya itu. Ketika darah dari hidungnya telah berhenti, Eva masih belum sadar. Kutelpon mama Wanda. Untuk menanyakan apakah Eva mempunyai penyakit yang berbahaya.


"Eva sering pingsan-pingsan dan mimisan begitu sedari kecil." Mamanya lalu meminta tolong aku agar Eva diperiksakan ke Rumah sakit. Kupanggil Ambulance dan mengiringi Eva yang ditemani Siska dan Vina.


Setelah diperiksa dokter, dokter menyampaikan kemungkinan Eva mengidap Hemofilia, Hemofilia adalah kelainan langka yang terjadi ketika darah tidak bisa menggumpal seperti biasanya karena kekurangan protein pembekuan darah (faktor pembekuan). Karena kurangnya faktor pembeku darah, penyandangnya bisa mengalami pendarahan dalam waktu lama saat mengalami cedera. Untuk kepastiannya parah atau tidaknya. Harus menunggu hasil tes terlebih dahulu. Kusuruh Vina dan Siska mencari hotel, kutunggui Eva di rumah sakit.


Eva tidak ditempatkan di ICU, dengan rekomendasi dari kenalan dokter pribadi mama Wanda. Dia langsung dirawat di ruangan rawat inap. Aku tertidur sambil duduk disebelah ranjang Eva. Aku dibangunkan oleh Vina dan Siska yang datang pagi-pagi ke rumah sakit.


"Mending lu cek out dulu dari hotel lu. Dan pindahin barang-barang lu ke hotel gue," kata Vina.


Aku meluncur menggunakan motor, menuju hotel tempatku menginap. Setelah sarapan aku segera cek out. Lalu aku kembali lagi ke rumah sakit. Vina tak terlihat dikamar tempat Eva dirawat. Hanya ada Siska yang menjaga sahabatnya itu.


"Mending lu tinggal aja, Rii. Gak apa. Gue bisa handle kok," kata Siska.


"Beneran gak apa?" Kataku lagi.


"Iya tinggal aja," kata Siska sambil memandangi wajah sahabatnya yang masih tidur itu.


"Aku gak tega ninggalin dia," batinku sambil memandangi Eva. Kupandangi wajah Eva yang masih belum sadar beberapa saat.


"Ya udah deh, gue balik dulu. Semoga dia cepet sembuh. Sampein salam gue klo dia sadar ya, Sis!" kataku setelah beberapa saat pada Siska.


Aku melangkah keluar kamar. Padahal aku cuma mau ngerokok diluar ruangan. Aku berjalan kedepan halaman parkir rumah sakit. Aku merokok sambil membeli kopi. Kulihat Vina yang sedang berjalan masuk ke area Rumah Sakit. Kupanggil Vina.


"Ngapain lu disini? Bukannya dikamar? Eva belum bangun juga?" kata Vina.


"Rio ini cuma nasehat aja. Klo lu pake syukur, klo gak lu pake ya udah. Maafin klo lu masih bisa maafin dia. Nobody perfect, and nobody deserves to be perfect! Klo lu gak bisa maafin dia,ya udah tinggalin dia sekarang. Btw gue besok balik ya, Rii. Kerjaan gue banyak. Lagian gue liat, lu lebih tough sekarang," kata Vina.


"Ok, Vin. Thanks for coming here. Gue masih pengen disini. Titi Dj deh Vin," kataku lagi sambil menghembuskan nafas panjang.


"Ya udah. Gue mau bawain makanan buat Siska dulu. Kasian tuh anak belum makan dari semalem," kata Vina lalu ngeloyor pergi.


...----------------...


"RII! RIIO! MAAFIN GUE! MAAFIN GUE!" igau Eva saat masih tertidur. Siska menepuk-nepuk pipi Eva. Saat Eva membuka mata, ternyata yang ada cuma Siska disitu. Dia tidak menangis. Tapi butiran airmatanya menetes deras.


"I gotta let him go!" ujarnya pelan mengulangi kata-kata mamanya.


"Rio dari kemaren nungguin elu disini. Barusan aja dia pamit balik.Titip salam buat lo sebelum pergi, semoga elu cepet sembuh," kata Siska kembali duduk dikursi.


"Hati-hati kamu disana, Rio. Maafin aku, aku memang yang salah. Apa yang kamu omongin kemarin bener semua," batin Eva sambil memejamkan mata. Airmatanya mengalir deras.


"KRIIIIEEEKK!!!"


Terdengar suara pintu dibuka. Siska menoleh ke arah pintu. Eva pun kembali membuka matanya.


"RIO KEMBALI!" Batinnya gembira.


Muncullah kepala Vina dari balik pintu. Tidak ada Rio disana. Eva kembali memejamkan matanya dengan kecewa. Rasa kecewa itu menusuk-nusuk dadanya. Terbayang lagi senyuman Rio yang menawan yang selama 6 bulan ini selalu menemaninya. Airmatanya mengalir deras ketika menyadari senyuman itu tak akan ada lagi untuknya. I'll missed you so, Rio!


***


"Cepat sembuh, Va. Maaf besok gue harus balik. Kerjaan gue gak bisa ditinggal lama-lama. Maaf soal Rio gue gak bisa bantu apa-apa lagi. Sori gue udah marah ke elu kemarin," ujar Vina sambil duduk dikursi disebelah ranjang Eva.


"Gue yang harusnya minta maaf ke elu dan sepupu lu. Gue yang usah gak tau diri. Sampaikan maaf gue ke Rio, gue gak pernah ada niat nyakitin dia apalagi bikin dia seperti mainan. Tolong sampaikan ke dia ya, Vin!" ujar Eva dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Ntar gue sampein ke dia," kata Vina datar.


"Vin, apa memangnya sudah gak ada cara lagi untuk gue tetap bisa jalan sama dia? Gue bener-bener nyesel banget, Vin. He means the world to me," kata Eva dengan mata yang mulai basah.


"Pikirin hidup lu, Va! You can through this! Sebelum ada dia, hidup lu baik-baik aja kan Va?" kata Vina sambil meninggalkan ruangan itu ketika ponselnya berbunyi.


Eva menangis sesenggukan setelah mendengar Vina mengatakan kata-kata itu. Siska pun segera keluar ruangan. Mungkin untuk mengejar Vina yang sedang marah. Eva pun menangis sendirian dikamar itu. Suasana kamar itu hening untuk beberapa saat. Yang terdengar hanya isak tangis Eva.


Tiba-tiba didengarnya suara berat dan serak yang bernyanyi didepan pintu kamarnya.


Tell me when will you be mine


Tell me quando, quando, quando


We can share a love divine


Please, don't make me wait again


When will you say yes to me?


Tell me quando, quando, quando


You mean happiness to me


Oh, my love please tell me when


Every moment's a day


Every day seems a lifetime


Let me show you the way


To a joy beyond compare


I can't wait a moment more


Tell me quando, quando, quando


Say it's me that you adore And then, darling tell me when


Lagu Michael Buble itu sering diputar Rio saat menemaninya di mobil.


"ITU SUARA RIO!!!" Eva segara melompat dari ranjang dengan girang. Pintu kamar terbuka perlahan, terlihat Rio yang masuk sambil memegang sekuntum bunga mawar. Dia tersenyum.


Tangannya mengembang.


"Udah agak mendingan kan? Aku gak dipeluk nih?" Kataku sambil mengedipkan mata.


Eva mengambil bunga ditanganku dan melompat ke pelukanku. Dipeluknya cowok itu erat. Diciuminya pipi cowok itu, air matanya pun meleleh.


E; Maafin aku. Jangan pergi lagi, sayang. Aku janji gak ngulangin hal itu lagi.


R: Iya, Aku udah maafin. Cepat sembuh ya, sayang.


E: Jagain aku ya, sayang.


R: Iya, Kamu jagain aku juga ya.


E: Aku kangen kamu, sayang.


R: Aku juga kangen. Bahkan kangenku lebih dari kamu, sayang.


Kami lalu berciuman.


Lalu Vina dan Siska secara bersamaan memasuki kamar.


"Inget sakit wooy!!! Inget sakittt!!!" Hahhahaahha gue benci klo akhirnya happy ending gini Sis," ujar Vina tertawa diiringi pula dengan tawa Siska.


"Balik ke hotel gih, Gue mau pacaran," kataku pada Vina dan Siska. Kupeluk erat tubuh Eva di tempat tidur.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!