
Kumasuki Bar tempat Rio dan Ivone sedang bertemu.Info yang dikabarkan Angela memang benar. Rio dan Ivone sedang bertemu dan bermesraan di Bar itu. Ivone melihat kedatanganku saat dia sedang memeluk dan meraba tubuh Rio yang kekar dibawah tubuhnya. Wajah Ivone malah seakan tersenyum mengejekku. Rio yang masih terpejam tidak menyadari kedatanganku.
"Dasar wanita murahan! Lu sudah tauu dia itu calon suamiku! Kenapa lu masih merayu-rayu dia!!!" Aku berteriak histeris sambil menarik tangan Rio yang tampaknya sedang mabuk. Tapi Rio mengibaskan tangannya seolah mengusirku. Mata Rio terbuka perlahan, tatapannya yang biasanya selalu menatapku penuh kehangatan. Malam itu berubah menjadi tatapan dingin. Senyumnya yang selalu manis untukku juga hilang entah kemana. Raut mukanya terlihat marah melihatku ada disitu. Tangannya lalu menyusup kedalam blouse yang dikenakan Ivone. Aku berbalik badan dan segera berlari keluar dari Bar itu. Aku tak ingin menyaksikan adegan yang menusuk hatiku itu. Aku berlari sambil menangis. Masih terngiang suara tertawa mereka berdua saat aku berlari keluar Bar. Rio ternyata mengejarku, dia memegangku dan memeluk tubuhku. Aku menangis terisak dalam pelukannya. Saat itu kuangkat wajahku untuk menciumnya karena aku takut kehilangan dia. Saat kulihat wajahnya, Rio sedang tersenyum bengis menatapku sambil berkata, "Rasanya hancur kan? Rasa hancur lebur itu lah yang kurasakan 8 tahun yang lalu!!!SEKARANG RASAKAN PEMBALASANKU!!!HAHAAHHAA!!! Rio tertawa sangat keras! Lalu...,
"PLAAAAKKKK!!!PLAAKKKKK!!!
"Aduuuh! Beb, lu kenapa?" Ujarku mendadak bangun dari tidurku.
"Pergi lu! PERGIIIIII!!!" Teriak Cresa dengan mata terpejam. Kutepuk-tepuk pipinya sambil menggoyang tubuhnya. Ternyata Cresa mengigau. Kulihat jam, waktu itu masih jam 4.30. Kugoyang-goyang pelan tubuhnya, Cresa lalu terbangun dan dia menatapku beberapa lama. Lalu dia memelukku sambil menangis.
"Lu jahat, Rii. Lu jahat!!!" Katanya sambil menangis. Kupeluk tubuhnya sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Elu mimpi, beb!" Ujarku mencoba menenangkan Cresa. Cresa menyeka wajahnya. Dia memandangi pipiku yang merah.
"Pipimu kenapa, beb?Kok merah banget?" Tangannya mengelus pipiku. Adegan Drakor kumulai! Aku berguling-guling sambil memegang pipiku yang merah. Aku berpura-pura meraung kesakitan.
"Lebay deh! Gue nanya pipimu kenapa, beb!" Ucapannya terdengar judes.
"Lu tampar, beb. KDRT ini beb!" Jawabku sambil masih berguling-guling.
"Serius gue nampar elu, beb??? Maafin ya sayang!" Cresa lalu memelukku dan menciumi pipiku.
"Ini juga diciumin, beb. Sakit banget!" Ujarku sambil menunjuk bibirku dengan nada manja. Cresa tertawa geli melihat tingkahku, lalu mengecup bibirku.
"Mana lagi yang sakit?" Tanyanya dengan mata nakal. Tiba-tiba dia sudah bergerak dan melucuti boxerku dan menciumi ototku disana. Aku berteriak kegelian! Cresa lalu tertawa sambil memelukku.
"Maaf ya, beb!" Ujarnya sambil mengelus-elus pipiku. Tiba-tiba dia meraba tanganku. Aku sengaja tidur memakai piyama tipis lengan panjang untuk menyembunyikan lukaku dari Cresa.
"Ini luka kapan dapetnya?!!!Kenapa lagi sih, pasti berantem lagi?" Ujarnya kesal menyingkap lengan piyamaku sambil membuka perlahan plester yang menutupi lukaku.
Dia bangkit dan mengambil salep dari tas peralatannya.
"Udah jangan diplester pake plester ini lagi. Ntar kita mampir ke klinik. Gue punya plester khusus agar luka tidak berbekas. Beb, please jangan berantem lagi. Hindarin klo bisa lah, beb."
"Iya beb. Makasih ya!" Kataku lagi.
...----------------...
"Tadi elu mimpi apaan sih, sayang?" Tanyaku sambil menyetir. Cresa melirikku dengan tatapan tajam.
"Lu dan Ivone selingkuh, beb!" Jawabnya singkat.
"OMG. Obrolan kita semalam sampe kebawa mimpi? Lu masih ragu sama gue?"
"Enggak beb, gue yakin sama elu. Tapi sama Ivone yang gue gak yakin. Gue banyak denger cerita jelek tentang dia!" Jawabnya sambil memalingkan wajahnya.
"Gue jadi males ketemu Reno, mending gue hindarin mereka aja lah timbang jadi ribut gini mulu!" jawabku dengan sedikit emosi.
"Beb, elu kok jadi marah sih?" Tanya Cresa dengan nada kesal.
"Udahlah gak usah bahas ivone-ivine lagi! I love u Cresa! I love u so!" Jawabku sambil mencium tangannya.
"Hihihi, Gue seneng klo elu marah beb.
Marah kan tandanya sayang!" Cresa lalu membelai rambutku.
***
Setelah selesai mengantar mama Wanda ke airport. Aku dan Cresa kembali ke hotel untuk check out. Hari ini Cresa mulai tinggal bersamaku di Villa. Cresa sangat senang saat memberesi barangnya. Cresa mengajakku mampir ke klinik untuk mengambil plester untuk lukaku. Saat kami hendak keluar dari klinik Ivone dan Angela datang untuk mampir menemui Cresa.
"Gue tunggu dimobil aja, beb!" bisikku sambil mencium bibirnya didepan Ivone dan Angela.
Tak lama Cresa melangkah menuju mobil.
Dan begitu Cresa masuk kurengkuh tubuhnya kucium Cresa dengan liar.
Aku tahu Ivone dan Angela melihat kearah mobilku dan menyaksikan pemandangan itu. Lalu kutinggalkan parkiran sambil membunyikan klakson saat melintas di depan mereka. Cresa menatapku heran lalu bertanya,
"Kenapa tiba-tiba nge kiss gue kayak gitu tadi, beb?"
"Gue gak suka dengan gayanya Ivone, beb. Sok kepedean merasa paling cakep aja. Biar dia liat juga klo gue cuma cintanya sama elu," jawabku sambil merangkul tubuh Cresa.
"Hihihi. Gue suka elu yang kayak gini, beb." Kulajukan mobil Rubicon itu menuju Villaku. Saat tiba di Villa, aku dan Cresa disambut pak Kadek.
"Klo butuh apa-apa, telpon saya atau kirim WA ya mas. Saya permisi dulu!" kata pak Kadek sambil menutup gerbang Villa. Cresa segera membuat kopi untukku dan menggoreng kentang dan nugget. Aku memandangi Cresa yang sedang sibuk didapur sambil tersenyum.
Teringat lagi aku pada Eva, teringat saat dia mulai belajar memperhatikanku saat aku dan dia baru tiba di Bali.
"Eva, semoga kita nanti bertemu lagi disana, sayang!" Batinku dalam hati.
"Kopinya sudah siap, sayang," ujar Cresa sambil menaruh cangkir kopi didepanku sambil tersenyum.
Setelah mengambil camilan dan menyajikannya di meja.
Cresa duduk dipangkuanku.
"Beb, seminggu kedepan misal elu nggak ngecek klinik gak papa kan?" Tanyaku sambil membelai tubuhnya.
"Sebulan 2x aja gue cek klinik gue, beb. Kenapa memangnya?" Tanyanya lagi.
"Ikut gue ke Ubud ya. Gue ada fine dining seminggu ini disana. Besok siang kita berangkat. Sabtu malamnya kita ke rumah mama papa.
Gue mau ngomongin soal pernikahan kita ke mama papa," ujarku sambil menatap Cresa yang tersenyum.
Cresa memelukku erat sambil mengganggukkan kepalanya.
"Trus papa mamamu gimana, beb?" Tanyaku lagi.
"Gue mungkin ngabari mama aja beb. Papa terserah lah mau mikir apa!"
"Gue yang bakal ngomong ke papa. Gimana-gimana itu papamu, sayang. Lu harus hormatin papa. Soal sakit hati, lu harus redam dulu untuk sementara."
"Beb, papa itu sudah merit lagi. Kasian mama. Tapi mama tetep mau bersama papa walaupun begitu," ujar Cresa sambil mengusap matanya yang berair.
Kuseka airmatanya lalu memeluknya.
"Setelah dari mama dan papa, kita ke Semarang. Oke, beb?" Tanyaku sambil tersenyum manis dan memeluk erat tubuhnya.
"Beb, elu serius mau nikahin gue?" Tanya Cresa lagi sambil menatap mataku dalam-dalam.
"Gue selalu serius sama elu, beb. Dari jaman kita masih bocah dulu pun gue sudah serius! Sebentar gue mau tunjukin elu sesuatu," lanjutku sambil membuka galeri foto diponselku. Kutunjukkan fotoku waktu masih kurus saat menunggu Cresa. Cresa mengambil ponsel itu dari tanganku. Mata Cresa tanpa sadar telah basah. Airmatanya membasahi matanya.
"Elu kurus banget, sayang! Maafin gue ya, maafin gue! Gue gak ngira elu sampe segitunya, sayang!" Sahutnya dengan suara bergetar.
"Stttttt. Penderitaan elu lebih berat dari gue, elu harus ngelupain cita-cita lu, demi nolong orang tua lu. Gue gak pernah nyalahin elu, sayang!" Balasku sambil mengecup keningnya.
"Gue janji akan jagain elu sampai mati! Gue janji, sayang!" Bibirnya lalu mengecup lembut kelopak mataku yang mulai basah.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!