MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Seperti Kisah...



Seperti kisah yang pernah ada


Kaulah bidadari hati


Kita bersama buat cerita


Cinta antara kita


Kupernah terluka


Kadang tak berdaya


Kau s'lalu ada


Buatku tertawa


Dan lupakan lara


Tak tahu bagaimana


Aku tanpa dirimu


Tak pernah terbayangkan


Sepi merindu


Kumohon padamu


Tetaplah kau di sampingku


Hilangkan ragu


Semua yang kan menggangu


Kucinta padamu kasihku oh ho


Kita bersama buat cerita


Cinta antara kita


Kupernah terluka


Kadang tak berdaya


Kau s'lalu ada


Buatku tertawa


Dan lupakan lara ho


Tak tahu bagaimana


Aku tanpa dirimu


Cresa bernyanyi di dalam mobil sepanjang jalan menuju Ubud. Gayanya yang centil membuatku terhibur sepanjang perjalanan. Lalu tibalah kami di resort tempatku bekerja. Tania menyambut kami dan membawa kami ke area kolam renang yang memiliki view yang langsung berbatasan dengan hutan belantara yang indah. Kami bertiga menikmati Brunch di resort milik Tania itu. Tania melirik ke arah Cresa yang sedang makan. Tania tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, aku dan Cresa saling berpandang-pandangan melihat sikap Tania yang aneh itu.


"Whats makes you smile like that?" Tanyaku pada Tania dengan rasa penasaran. Tania makin tersenyum mendengar pertanyaanku. Cresa juga akhirnya tersenyum bersama Tania.


"Rio, klo lu nanya arti senyum gue, bisa seharian klo gue jelasin semua. Tapi gue salut sama elu!" ujar Tania lagi. Ucapan Tania makin membuatku bingung.


"Gue ceritain dikit ya!" ujarnya lagi.


"Elu kata Reno, selama di Aussie 3 tahun kuliah tanpa pacaran. Trus kolega Maxime juga cerita, saat lu sekolah di Paris. Lu juga gak punya pacar disana. Sebenernya banyak lho kata Maxime yang nyoba ngajak elu untuk kencan. Tapi elu selalu nolak sampe Maxime mikir elu itu gay. Maaf apa Cresa udah tau Eva?" Tanya Tania. Aku mengangguk lalu berkata,


"Straight to the point, Tan. Cmon!"


Cresa tertawa diikuti Tania.


"Pointnya klo elu gak punya feeling sama cewek, mau itu cewek jungkir balik lu bakal tetap cuek, Rii!" tukas Tania sambil menggelengkan kepalanya lagi. Tania lalu bercerita bagaimana pertama kali pertemuan aku dan dia.


"Dia kan ramah dan sopan sekali, Cres. Gue dibolehin duduk bareng semeja sama dia, tapi kemudian dia ngomong dia lagi nungguin pacarnya disitu! Kampret gak cowok lu?! Tengsin banget gue waktu itu, Cres! Maaf ya Cres!" ujar Tania sambil tertawa. Cresa melirikku sambil menggelengkan kepalanya lalu ikut tertawa.


"Jujur gue dulu sempat naksir Rio, Cres.


Sampe setelah dia selesai sekolah pun gue masih tetap naksir dia.


Gue nyadar gue gak akan punya chance, gue lebih cocok jadi teman sama Rio. Hahahaha. Jadi jangan pernah cemburu ke gue, Cres. I'm not his Type!"


"Lho, mbak Tania juga ada di Jimbaran waktu itu?" tanya Cresa penasaran.


"Resto tempat lu makan. Kan deketan sama tempat gue biasa ngajak tamu, kebetulan gue liat elu berdua lagi mesra-mesraan!"


"Sukurlah klo elu udah tobat, Tan. Hahahaha!" Celetukku sambil tertawa.


Tak terasa 1 jam lagi aku harus mulai bekerja.


"Gue siap-siap dulu ya. Tania, jagain calon istri gue!" ujarku sambil mencium bibir Cresa sambil berbisik I love u didepan Tania.


"Udaah lu,buruan siap-siap! Lu liatkan Cres, kejamnya Rio!" Cresa tertawa melihat tingkah Tania yang kocak.


Tania menghampiri Cresa yang memandangiku melayani para tamu-tamu klien Tania.


"Cresa klo mau istirahat lemme know ya, biar gue anter ke kamar," kata Tania ramah.


"Semenjak Rio kembali, kerjaan gue lebih tenang, Cres. Klien gue jarang yang komplain. Semoga aja gak ada kejadian yang bikin Rio cabut dari resort gue."


"Gue gak nyangka dia klo lagi kerja bisa begitu ya, Tan," ujar Cresa sambil menatap senyuman Rio kepada tamunya.


Tania menjawab ujaran Cresa dengan anggukan kepala.


"Kita ke kamar yuk, Rio 30 menit lagi selesai!" ajak Tania sambil mencolek bahu Cresa.


"Gue lagi mau presentasiin idenya bos ke Rio, bos gue mau bikin resto Michelin di Bali. tapi bentar aja deh, biar konsep Rio running well dulu aja." Terang Tania sambil berjalan menuju kamar.


Saat sampai kamar, Cresa terpukau dengan kamar yang mewah itu. Baru kali ini dia masuk ke kamar semewah itu. kamar itu tepat berada diatas tempat Rio bekerja. Cresa melangkah kearah jendela lengkung yang ukurannya selebar tembok kamar itu. Pemandangan diseberang kamar adalah pemandangan hutan dan jurang yang indah.


"Kamar ini rates nya permalam berapa, Tan?" Tanya Cresa penasaran. "Klo kamar suite ini ratesnya 9 jutaan permalam. Itu rates untuk special client"


"9 juta???Wow gila ya!" ujar Cresa kaget.


"Rio biasanya selalu pulang, baru kali ini aja dia mau nginep. Biasanya dia ambil mentahannya doank, Cresa."


"Fine dining gitu ngehasilin berapa, Tan?"


"Per-tamu klo cuma 2 orang doank yang makan. Minimum charge-nya 20jt, klo lebih dari 4 orang, 10 jutaan per-tamu, belum termasuk tax!" jawab Tania lagi.


"Jadi cowok lu itu 3x fine dining/hari selama 6 hari kedepan. 1 hari komisi buat Rio kisaran 40-50 juta!"


"Jadi lu bisa bayangin sebulan dia bisa dapet berapa, Cresa. Makanya lu jagain baik-baik tuh si Tengil itu. Gue kasih bocoran ke elu, ya. Adik-adik sepupu Reno lagi pada ngebet sama Rio."


Cresa mengerenyitkan alisnya.


"Maksud lu Angela dan Ivone, Tan?" tanya Cresa.


"Iya, Cres. Niat gue deketin Reno sebenernya mau balas dendam ke Ivone. Yang udah morotin kakak ipar gue sampe bangkrut. Untung aja dia gak dicerai sama kakak gue."


"Pas malam Gue ketemu elu sama Rio, sepanjang jalan pulang dari Bar duo kampret itu minta tolong ke Reno gimana cara supaya bisa jalan sama Rio. Gue pas dengernya sampe mual, Cres. Tapi jangan ngomong ke Rio ya klo gue bocorin ini. Kemarin Rio kata Reno habis ngamuk di Clubnya. 3 orang dihajar Rio sampe babak belur katanya. Gak tau itu beneran atau cuma bualan Reno. Rio setau gue orangnya pendiem."


Cresa terdiam berarti cerita Rio gak bohong. Rio bercerita jujur padanya. Tiba-tiba Rio masuk kedalam kamar itu.


"Tan, elu dicari Reno tuh. Jangan bilang Reno gue ada disini! Reno dateng bareng Duo Srigala tuh!" tukas Rio yang langsung memeluk Cresa.


"Duo Srigala?!!!" Tanya Cresa dengan wajah bingung. Tania segera meninggalkan kamar.


"Selamat istirahat, Chef. Sampai jumpa saat jam makan malam!" Cresa melompat ke pelukanku dan menciumku sampai aku susah bernafas. Kutekan tombol yang ada dilantai dekat jendela. Lantai yang ditutupi karpet itu bergeser otomatis. Ternyata ada whirpool tersembunyi dibalik lantai itu. Aku lalu memutar kran, Aku menarik tangan Cresa untuk mendekat kearahku lalu kami berdua duduk ditepi whirpool itu. Cresa berdiri melepaskan seluruh pakaiannya. Aku pun melepaskan seluruh pakaianku. Lalu kami berendam sambil berpelukan memandangi hutan dan jurang yang dilapisi kabut tipis.


"Capek sayang?" ujar Cresa sambil memelukku erat.


"Habis ini capeknya kan ilang, beb!" Jawabku sambil mengeser tubuh Cresa kedepan tubuhku. Kupeluk erat tubuhnya dari belakang.


"Thanks for every minutes to fulfill my heart with your love!" kataku pada Cresa sambil mencium rambutnya yang basah.


Cresa tersenyum menatapku," "Terima kasih beb, lu udah mau maafin gue yang pernah pergi dari elu!" jawabnya dan mulai menangis.


"Hey, kok ngomongnya gitu sih, sayang! Gue janji kemana pun gue, gue mau elu selalu disamping gue. I dont wanna lose you anymore, Sweetheart!


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!