MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
D E A L



Tak terasa sudah hampir 2 minggu lebih aku dan Eva berada di Bali. Hari demi hari makin membuat hubungan aku dan Eva semakin dekat.


Perubahan pada sikap dan sifat Eva pun terlihat, sikapnya sudah sangat berubah. Sifatnya yang dulu acuh, cuek, dan egois sudah banyak berkurang.


Semakin hari sikap negatifnya itu semakin jarang terlihat lagi.


Walaupun sikap lamanya itu kadang muncul, tapi Eva masih dapat mengontrolnya.


Tetapi ada satu sifat Eva yang masih susah untuk dikontrolnya, yaitu sifatnya yang sangat cemburuan. Jika sifat itu sudah muncul, butuh waktu seharian bahkan lebih untuk mengembalikan moodnya untuk kembali baik.


***


"Tania!" Ujar wanita berwajah manis berkulit sawo matang itu menyebutkan namanya.


Pertemuan yang tak disengaja. Di sebuah kafe yang sedang ramai, Tania duduk sendirian di meja yang bersebelahan denganku. Tania yang terus memperhatikanku dan ia merasa tertarik pada penampilanku yang memang menarik perhatian kaum hawa.


Setelah beberapa lama, Tania bertatapan mata denganku dan wajahku yang selalu tersenyum membuat Tania berpikiran lain.


Rasa ingin tahu yang tumbuh di dalam hati Tania membuatnya memutuskan untuk membuat langkah pertama. Dengan hati yang berdebar, dia bergerak menuju ke mejaku.


"Halo, maaf mengganggu. Saya Tania. Saya baru pertama kali datang ke kafe ini. Apakah saya bisa bergabung denganmu?" Sapa wanita itu sambil memperkenalkan namanya.


Aku pun tersenyum. "Tentu saja, senang bertemu denganmu, Tania. Nama saya Rio. Silakan duduk."


Tania pun terlihat merasa lega karena aku menyambut baik kehadirannya. Aku dan Tania pun mulai berbicara tentang minuman yang mereka pesan, hobi, dan topik-topik lainnya. Tania semakin terpesona oleh kepribadianku yang ceria dan kecerdasanku tentang hal kuliner.


Aku juga sebenarnya tertarik pada Tania tapi aku tahu batas yang kumiliki karena sudah memiliki Eva dan aku sangat menikmati percakapan dengan Tania yang terjadi barusan.


"Tania, apakah kamu sering datang ke sini?" Tanyaku pada Tania sambil terus mengutak-ngatik laptopku.


"Sebenarnya, ini pertama kalinya saya datang ke sini. Kebetulan melihatmu dan jujur saya merasa tertarik, jadi saya memutuskan untuk berani dan mengajakmu berbicara," jawab Tania terus terang sambil tersenyum pada Rio.


Aku tersenyum lagi. "Saya merasa tersanjung sekali. Tapi maaf, saya sedang menunggu pacar saya," jawab Rio sambil menangkupkan kedua tangannya kearah Tania. Tania terlihat kaget dan kikuk ketika mendengar jawaban Rio barusan, tapi dia berusaha untuk tetap bersikap tenang.


Mereka berlanjut membicara mengenai minat dan pekerjaan mereka. Keduanya merasa ada kesamaan dan obrolan mereka menjadi sangat menarik. Mereka pun mau mengeksplorasi lebih lanjut apakah ada potensi untuk suatu hubungan kerja yang bisa mereka kerjakan bersama.


Tiba-tiba Aku mendapat telpon dari seseorang. Aku lalu menghidupkan speaker ponselnya. Terdengar percakapannya dengan seseorang, yang suaranya tidak asing bagi Tania. Tania melambaikan tangannya ke arahku yang sedang menelpon. Aku pun segera merespon lambaian tangan Tania itu sambil menutup telponnya. Perkenalan dengan Tania yang tak disengaja makin penuh dengan kejutan!


"Maaf, saya mengganggu telpon kamu, Rio! Apakah yang barusan berbicara dengan kamu tadi itu adalah Robin? Apa namanya lengkapnya Robin Hamadi?" Tanya Tania dengan nada Antusias. Singkat kata.Ternyata Tania adalah mitra bisnis Robin yang sudah lama hendak dikenalkan dan sudah lama ditunggu-tunggu oleh Rio!


Mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak. Tak menyangka akan bertemu dengan cara seperti ini. Aku pun menelpon Robin kembali melalui sambungan Video. Aku lalu memberikan telponku kepada Tania. Disaat yang sama Eva pun datang menghampiriku yang sedang duduk bersama Tania. Eva melirik tajam ke arah Tania yang sedang menelpon dengan ponsel milikku!


"Sweetheart, duduk dulu sini!" Ujarku setelah mengecup pipi Eva. Tania yang menyadari kehadiran Eva, lalu menganggukkan kepala kepadanya sambil tersenyum. Eva pun membalas senyuman Tania dengan kikuk sambil melirik tajam kearahku. Kugenggam tangan Eva untuk menenangkannya. Jemari Eva tetap diam tidak membalas genggamanku untuk beberapa saat. Kususupkan jemariku kecelah jemarinya, dan dia mulai merespon dengan menyandarkan kepalanya dilenganku. Kucium keningnya sambil tersenyum. Tania menatapku ketika melakukan hal itu sambil tersenyum kecut.


"Robin itu teman kuliah gue di U.I, Rio! Kemarin mohon maaf banget, gue belum bisa kesini untuk melanjutkan progress yang sudah dibuat oleh Robin dengan loe. Mohon maaf banget! Btw, Kalian berdua adalah pasangan yang serasi banget lho!"


Puji Tania yang melihat aku dan Eva yang duduk berdampingan.


"Its Okay, Tania. Gak apa-apa kok. Gue juga betah nunggunya kok! Sebab nunggunya bareng bidadariku tercinta ini," jawabku sambil mengerlingkan mata kearah Eva yang tersenyum. Tanganku lalu dicubit Eva. Tania tersenyum lalu memberiku sebuah kartu nama.


"Ok, Rio, Eva. Gue pamit dulu. Lanjutin acara kalian, sampai jumpa lagi 3 hari mendatang. Have a nice day in Bali!" Kata Tania berpamitan.


***


Eva masih cemberut dan diam begitu sampai di Villa. Aku menghampiri Eva sambil tersenyum manis. Aku dengan cuek menyandarkan tanganku di kedua paha Eva sambil tetap tersenyum. Eva membuang pandangannya ke arah lain, dia masih cemburu pada Tania yang baru ditemuinya. Aku pun kemudian duduk disamping Eva sambil melingkarkan tanganku memeluk bahu Eva. Aku tersenyum lagi sambil memperlihatkan susunan gigiku yang sempurna. Eva membuang mukanya lagi kearah lain. Aku menyibak rambut panjang Eva yang indah. Sehingga leher jenjang Eva yang sempurna terlihat jelas.


"Leher! Tolong gue donk!" Ujarku sambil mengecup leher jenjang itu pelan-pelan. Aku mencoba mendekatkan wajahku ke wajah Eva.


Tapi Eva memalingkan mukanya kearah berlawanan lagi. Aku pun mendekap tubuh Eva erat-erat. Kujelajahi leher Eva dengan lidahnya. Sementara tangannya merayap menyusuri lekuk tubuh Eva yang kenyal. Eva menutup matanya merasakan perlakuanku saat itu padanya. Lidahku bergerak menuju kebawah tubuhnya yang sudah basah. Dijambaknya rambutku itu saat lidahku bergerak nakal di area intimnya. Jambakan itu akhirnya menjadi elusan yang seakan memberi kode padaku untuk tidak menghentikan kenakalanku. Aku makin nakal memainkan lidahku. Eva mengerang merasakan sensasi nikmat!


"Beb, akuuuu dapaaaat ahhhh!" Teriakan sensual Eva terdengar sambil badannya yang itu mengejang.


"Bebiiiiiihhhhh!!!" Teriak Eva sambil menekan kepalaku kearea pangkal pahanya. Aku mengangkat kepalaku sambil tersenyum dan memeluk erat tubuh Eva yang sudah lemas.


"I Love You, Honey!" Bisikku lembut ditelinga Eva.


***


"Gue gak suka klo ada cewek yang dekat-dekat elu, Rii!" Kata Eva padaku saat kami duduk berdua ditepi kolam renang malam itu.


"Iya, Gue ngerti. Gue kan gak tebar pesona juga ke mereka, Beb!" Jawabku sambil membelai rambutnya.


"Lu cinta kan sama Gue?" Tanyanya sambil menatap kedua mataku. Aku tersenyum menatap matanya yang seakan mencari-cari jawaban dimataku.


"Gue cinta elu banget, Eva! Banget!" Jawabku sambil menatap matanya dalam-dalam.


"Lu sungguhan kan? Lu gak cuma sekedar jadiin gue pelarian kan, Rii?" Tanya Eva lagi sembari mendekap tubuhku erat.


"Lu mau lakuin apa, Eva? Biar lu percaya klo gue gak main-main?" Tanyaku lagi sambil membalas pelukannya.


"Will you marry me, Rio?!" Tanya Eva lagi sambil tersenyum manis.


Aku kaget mendengar pertanyaannya yang tak kuduga-duga itu. Tapi sebenarnya itu adalah pertanyaan yang normal dari seorang cewek kepada pacarnya. Kupandangi wajah Eva, kucari jawaban dari wajahnya yang cantik itu. Tak langsung kujawab pertanyaannya tadi.


"Eva, apa lu yakin klo gue laki-laki yang lu mau?" Tanyaku lagi sambil menatap kedua matanya yang indah.


"Gue yakin, cuma elu yang gue mau! Cuma Elu, Rii!" jawabnya dengan diiringi senyum yang sangat manis.


"3-4 tahun lagi, Apa bisa lu nunggu gue selama itu? Gue harus settle dengan karir gue untuk hidupin elu dari kerja keras gue sendiri, Eva! I will marry you! I can't think of a more perfect person to spend my life with," Jawabku sambil memeluk tubuhnya erat.


"Iya sayang. Gue mau nunggu elu. Cuma elu laki-laki yang pantas untuk gue tunggu!" Katanya sambil mengecup lembut bibirku malam itu.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!