MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Menggapai Restu



Papa dan mama menyambutku saat aku turun dari taksi bandara, saat Cresa turun, raut wajah mama langsung berubah masam. Mama lalu berjalan kembali masuk ke rumah. Aku sudah menebak hal ini akan terjadi.


"Lu temuin papa, gue harus jelasin masalahnya ke mama. Lu yang tenang ya, beb!" Aku lalu berlari mengejar mama yang sudah masuk kekamarnya. Papa yang bingung tetap menyambut Cresa.


"Ma! Biar Rio jelasin masalah masa lalu Cresa ke mama!" ujarku dengan nada lembut sambil duduk dan memeluk mama.


"Untuk apa dia kamu bawa kesini lagi. Mama gak mau dia menyakiti kamu lagi, Rii!" bentak mama padaku.


"Biarkan Rio cerita dulu, Ma! Tolong dengerin cerita Rio dulu. Klo mama tetap gak merestui, Rio akan memutuskan hubungan Rio dengan Cresa demi mama!" ujarku lagi.


"Ok, sekarang ceritalah!" Tegas mama. Lalu aku bercerita kenapa waktu itu Cresa meninggalkanku. Wajah mama yang kaku mulai berubah. Mimik wajah mama yang tadinya marah menjadi mimik mama yang yang asli mimik seorang ibu yang penuh kasih sayang. Kemudian Mama lalu berlari keluar kamar dan menuju ruang tamu menemui Cresa yang saat itu hanya diam dan menunduk saat mengobrol dengan Papa. Mama memeluk Cresa yang sedang duduk tertunduk.


"Maafin tante Cresa, Tante sudah salah sangka sama kamu, nak! Syukurlah kamu masih baik-baik saja!" Kata mama sambil menepuk punggung Cresa yang menangis terisak.


"Mama merestui hubungan kalian. Ini takdir Allah. Jalan Tuhan yang mempertemukan kalian lagi!"


Aku lalu mencium kaki papa sambil meminta restu beliau.


"Rio, papa mau ngomong sebentar dengan kamu dikamar kerja papa!"


Papa berjalan menuju kamar kerjanya, Cresa sudah tidak menangis dan Cresa masih dipeluk mama. Vina tiba-tiba datang dan terlihat emosi melihat Cresa yang ada disitu. Vina menghampiriku.


"Lu temenin mama dan Cresa. Gue nemuin papa dulu. Lu jangan ngomong apa-apa dulu sebelum gue selesai dengan papa. Paham, Vin?" kataku pada Vina yang melotot pada Cresa. Vina mengangguk dan duduk dikursi di seberang Cresa dan mama.


"Ada apa, pa?" Tanyaku sambil menutup pintu kamar kerja papa.


"Papa minta maaf, uang hasil penjualan rumahmu hanya tinggal sedikit. Kakakmu tertangkap main judi dan papa memakai uangmu untuk menebus kakakmu di kantor polisi. Maaf Rio, ini semua salah papa!" Kata papa sambil bersandar dikursi.


Papa memegang dahinya.


"Biar nanti Rio telpon bang Faizal, pa. Klo dia tidak berhenti dari hobbynya itu biar Rio yang mengirimnya ke penjara lagi! Dia harus stop dengan hobinya itu pa. Kasian anak istrinya!" Tegasku lagi pada papa. Papa menggangguk setuju.


"Terus ada apa lagi, Pa?"


"Bagaimana pernikahanmu yang berikutnya ini? Kamu butuh uang berapa, nak? Klo kamu bisa bersabar papa bisa jual rumah kita yang diluar kota!" Kata papa dengan nada sedih.


"Papa gak usah mikirin soal pernikahan Rio kali ini. Papa apa ada kebutuhan lain? Sisa uang Rio kemarin berapa pa?"


"Uangmu sisa 250juta nak. 350 juta untuk bayar hutang bank, dan 400 juta untuk mengurusi kakakmu.Papa akan mengembalikan uangmu semuanya setelah menjual rumah itu. Kamu yang sabar ya nak!" Ujar papa sambil menangis. Kuhampiri papa dan memeluknya.


"Klo gitu Rio juga harus balikin uang papa yang sudah papa keluarin untuk membesarkan Rio dari kecil donk?" Jawabku sambil tersenyum.


Papa terdiam dan tampak kebingungan.


"Trus hutang apa lagi yang harus diselesaikan, pa?" tanyaku lagi. Papa menggelengkan kepalanya.


"Semua sudah lunas. Semua sudah papa selesaikan, Rii!" Kata papa lagi.


"Uang Rio papa pake aja, mulai bulan depan Rio akan selalu kirim papa uang untuk kebutuhan dirumah ini.Dan jangan jual rumah itu, pa.Papa nikmatin pensiun papa ya. Jangan mikir sekarang waktunya Rio untuk kerja untuk papa , mama dan adik-adik!" Ujarku lagi.


"Keluar yuk, pa. Sore ini juga Rio harus menemui keluarganya Cresa di Semarang. Doain segala urusan Rio lancar ya, pa!"


Saat aku keluar bersama papa. Vina sudah berpelukan dengan Cresa. Aku tersenyum melihatnya. Cresa sudah tidak tegang lagi. Kupeluk mama dan mengatakan padanya bahwa aku harus ke semarang menemui orang tua Cresa. Mama mengelus rambutku dan mencium dahiku. Vina memelukku saat aku berpamitan. Cresa memeluk kedua adikku Deva dan Mega. Cresa memberikan oleh-oleh boneka Teddy bear kepada mereka berdua.


"Maafin gue, Cresa! Selamat ya, semoga elu sama kunyuk ini awet sampai tua!" ujar Vina saat mengantar Cresa dan aku menuju taksi. Cresa memelukku saat taksi meninggalkan rumah papa.


"Maafin mereka ya beb!" Kataku padanya.


"Makasih beb, sekarang tinggal menemui mamaku. Semoga dilancarkan. Amiin!" jawab Cresa.


Kami sampai di Semarang saat hari mulai gelap. Saat sampai dirumah papa dan mama, terdengar suara ribut-ribut dari dalan rumah. Terdengar suara teriakkan papa Cresa dan suara tawa wanita. Lalu pintu rumah itu terbuka. Terlihat sosok wanita yang sedang menyeret koper berjalan keluar rumah sambil menangis.


"MAMA!" Teriak Cresa pada wanita yang menyeret koper itu. Wanita itu lalu berlari menyambut Cresa. Tas koper yang diseretnya tadi dilepaskan begitu saja. Kedua wanita itu saling berpelukan dan bertangis-tangisan.


"Anak durhaka! Akhirnya kamu pulang juga! Sekalian mumpung kamu disini, bawa pergi ibumu itu dari sini!!!" Teriak papanya dengan nada geram.


"Bocah ingusan! Aku masih ingat wajahmu! Ada apa kamu kesini? Mengantar bekas pacarmu yang sudah meninggalkan kamu ini?" ujar papanya sambil bergandengan dengan wanita yang lebih muda darinya. Darahku mendidih mendengar ocehan papanya itu. Kutahan emosiku sambil menarik nafas panjang.


"Bisa kita ngomong didalam sebentar, Om?" Kataku sambil menatap tajam kearah Om Jose.


Om Jose tanpa menjawab hanya menggerakkan tangannya menyuruhku masuk. Cresa mengantar mamanya masuk kedalam taksi lalu kemudian mengejarku yang sudah masuk ke ruang tamu. Kondisi rumah itu kosong melompong tanpa perabot dan sangat berantakan. Wanita muda disamping Om Jose menatapku dengan tatapan genit.


"Ada apa? Cepat kamu sampaikan maksud kedatanganmu!" bentak Om Jose.


"Saya mau menikahi Cresa! itu maksud saya datang kesini, Om," kataku dengan santai.


"Hohoho. Kamu masih bernafsu juga dengan cinta monyetmu. Silakan nikahi dia dengan 1 syarat. BAWA JUGA IBUNYA PERGI DARI SINI!" Kata Om Jose sambil tersenyum licik.


"Cuma itu persyaratannya, Om?!" Tanyaku dengan sikap sopan yang kubuat-buat.


"Ya. Cuma itu!" Jawabnya pendek.


Kusodorkan surat untuk ditanda tanganinya.


Om Jose lalu membaca surat yang kusodorkan, dia tersenyum sambil menatapku lalu mengambil pulpen dan menandatangani surat itu. Surat itu dilipatnya dan dilemparkan ke arahku.


"Terima kasih om. Urusan kita sudah selesai. Semoga hidup Om bahagia!"


Kukantongi surat itu dan aku menggandeng Cresa keluar dari rumah itu.


Cresa duduk disebelah mamanya. Aku duduk didepan disamping pak supir.


"Ke hotel Ciputra, pak!" Kataku pada supir taksi setelah mencium tangan mamanya Cresa.


Cresa dan mamanya saling melepas rindu. Saat sampai dihotel, kupesan 2 kamar junior Suite. Kubiarkan Cresa menemani mamanya malam itu. Setelah memesan tiket pesawat untuk esok hari, aku merokok di sofa seorang diri sambil melamun. Aku pun terlelap tidur seorang diri.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!