MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
C & C CLUB



Saat sampai didalam pesawat, Dendy terlihat memperhatikan satu persatu penumpang yang naik. Ivone dari tadi memperhatikan gerak-gerik pacarnya itu.


"Ngapain sih clingak-clinguk gitu? Lu liat apaan?" Tanya Ivone. Dendy menunjuk ke arah pintu masuk pesawat. Lalu terlihat pria tampan yang memakai setelan hitam-hitam memasuki kabin pesawat. Pramugari membuka korden lalu mengantar pria itu ketempat duduknya di kabin bagian depan.


"Sial, dia duduk di kelas bisnis!" Ujar Dendy kesal.


"Kenapa? Lu kok kayak penasaran banget sama Rio?" Tanya Ivone lagi.


"Lu gak tau ya, dia itu siapa?" Balas Dendy.


"Dia seorang Chef kan?" Jawab Ivone.


"Sini gue bisikin!" Ujar Dendy memberi kode pada Ivone untuk mendekatkan kepalanya.


"Rio itu hari ini baru diangkat Bos Besar jadi salah satu pimpinan kartel narkoba di Asia!" Bisik Dendy di telinga Ivone.


"APAAA? KART...!" Mulut Ivone ditutup Dendy sebelum ia menyelesaikan ucapannya. Dendy memperlihatkan pesan singkat dari salah satu bosnya di Jakarta.


"Gue harus deketin dia, kebetulan elu kenal dia. Lu harus ngenalin gue sama dia!"


"Ogah ahh, Rio jaim banget orangnya. Yang kenal baik itu sepupu gue, si Reno. Dan Rio itu yang beli Clubnya Reno. Ntar lu ngobrol aja sama si Reno!"


"Dasar gadis tolol, klo gue bisa deket sama dia, kan elu juga yang untung!" Balas Dendy sambil melotot. Ivone memandang ke arah luar jendela. Dia tidak menggubris ucapan pacarnya. Nasib Ivone sekarang sebenarnya cukup mengenaskan, Dulu dia terbiasa hidup mewah. Demi gaya hidup dan eksis di pergaulan, wanita cantik itu bersedia melakukan apa saja demi mendapat kesenangan. Apalagi sekarang dia telah kecanduan narkoba, hartanya yang telah habis semakin habis untuk menuruti kecanduannya itu. Dia bahkan rela jika terkadang menjadi barang barter pacarnya Dendy yang kadang menyuruhnya untuk melayani pria hidung belang demi kepentingan Dendy. Ivone dicekoki sabu oleh Dendy secara gratis. Dengan imbalan tubuhnya tentunya.


Begitu pesawat mendarat dan para penumpang satu persatu keluar dari kabin pesawat. Dendy berlari setelah melewati garbarata, dia berusaha mengejar Rio yang sudah lebih dulu keluar dan sampai di pintu gerbang keluar bandara. Rio lalu masuk ke mobil Alphard hitam. Pria kekar berpakaian hitam-hitam membungkukkan badan lalu membawa koper yang di bawa Rio. Lalu mobil mewah itu pun segera meninggalkan bandara.


"SIALLL!!!" ujar Dendy dengan nafas tersengal-sengal. Ivone tertawa dalam hati melihat usaha pacarnya yang gagal mencegat Rio.


****


Cresa ikut menjemputku di Bandara bersama Indra dan Dion. Kutekan tombol Magic Window. Begitu sekat itu tertutup, kurengkuh tubuh istriku yang cantik itu. Aku sangat merindukannya.


"I miss u so, Sweetheart!" Ujarku sambil mencium pipinya. Lalu kuelus perutnya perlahan. Cresa tersenyum melihatku yang terlihat hati-hati saat mengelus perutnya.


"Gimana beb, gue pikir elu besok pulangnya. Urusannya udah selesai?"


"Udah beb, udah selesai!" jawabku singkat. Lalu kubuka sedikit magic window itu.


"Langsung ke Singaraja aja ya, Ndra!" Seruku lalu kembali menutup sekat itu. Tanganku merayap meraba dua bukit indah Cresa yang tampak makin berisi. Cresa pun membuka kancing bajunya untuk mengeluarkan bukitnya yang indah. Cresa lalu duduk di kursi, aku berjongkok menciumi lehernya sambil meremas dadanya. Kuciumi perutnya perlahan, Cresa menggigit bibirnya karena rasa geli dan nikmat. Cresa membuka paha mulusnya dan menggeser sedikit penutup pangkal pahanya. Tercium bau buah strawberry disana.


"Gue kangen banget, sayang!" Bisiknya sambil meremas rambutku. Bau buah itu semakin membuatku bernafsu menjilati dan mengecup pangkal pahanya.


"Bebbihhh Ohhh!" Desah Cresa lalu terbang ke langit sambil menjepit lembut kepalaku yang berada di kedua pahanya. Aku tersenyum melihat istriku yang sudah lemas.


"Gue masih kangen, nanti lanjut Villa ya, Sayang!" Ujarnya manja sambil kembali duduk dipangkuanku. Kurebahkan sandaran kursi, agar kami bisa berbaring. Lalu kupeluk erat-erat tubuhnya. Cresa tertidur dalam pelukanku didalam mobil.


Malam itu aku bermimpi buruk! Mimpi itu membuat kuterjaga dan tidak bisa tidur lagi. Istriku tercinta masih terlelap saat aku turun ke ruang bawah. Aku duduk ditepi kolam renang sambil merokok. Air kolam renang terasa hangat. Kubuang rokokku dan melakukan push up. Setelah itu kuceburkan tubuhku ke kolam, Aku berenang seorang diri di pagi buta. setelah 8x bolak balik, aku berniat membuat makanan di dapur. Ternyata istriku yang cantik jelita sudah menungguku dipinggir kolam sambil membawa secangkir kopi panas untukku.


"Gue kaget elu gak ada disamping gue! Ternyata elu pagi-pagi gini udah renang!" Jawabnya sambil memberikan handuk padaku. Kuminum kopi buatan Cresa. Aku pura-pura menyemburkan kopi itu.


"Pahittt!" kataku. Cresa ternyata sudah tau akal-akalanku, tangannya sudah mencubit perutku.


"Pagi buta kok papamu udah mau gombalin mama dek!" Ledeknya sambil mengelus perutnya dengan memonyongkan bibir mungilnya. Aku tertawa sambil menggendong tubuhnya!


"Masih jam 4, ada waktu 2 jam lagi!" Ujarku sambil membawa tubuh istriku masuk kedalam rumah.


...----------------...


"Ndra, Villa Seminyak masih Raka kan yang jaga?" Tanyaku setelah berjoging pagi itu.


"Masih Raka, bos!" Jawab Indra.


Saat aku masuk ke rumah, Cresa sudah selesai membuat sarapan. Cresa membuat sarapan yang banyak pagi itu. Sandwich, nasi goreng ikan asin, nasi goreng seafood.


"Kok gak ngomong mau masak segini banyak, beb? Tau gitu tadi gue bantuin."


"Kamu duduk aja ya, beb. Kan kemaren elu dari luar kota, masa pas elu dirumah gue suruh masak? Emangnya gue cuma buat diginiin doank?!" Ujarnya sambil menyelipkan jempolnya dicelah jari telunjuk dan jari tengahnya dengan muka yang tersenyum nakal.


"Husssshhhhh nakalnya elu beb!" Kataku sambil menggigit telinganya. Cresa tertawa senang. kuciumi pipi istriku tercinta itu sampai merah.


"Habis ini ikut gue ke kamar mandi, brewoknya bikin perih lhoo!" Ujarnya sambil menggosok pipinya yang merah.


"Maaf ya beb, habis ini cukurin ya!" Balasku sambil mengedipkan mata. Cresa mengerti kodeku itu untuk apa. Dia lalu menciumku dengan gemas sambil berbisik.


"NANTI MALAM!" bisiknya sambil mencium pipiku. Kami makan berdua di meja makan yang ada dipinggir kolam renang. Aku menyuapi Cresa. Dari pacaran memang aku selalu suka jika menyuapi Cresa.


"Beb, nanti sore ke Club yuk, bosen juga disini mulu. Cresa mengangguk.


****


Cresa asyik mengobrol dengan Tania begitu sampai di Club. Aku dan Indra mengobrol di Roof top.


"Bagaimana Vicenzo bos?" tanya Indra saat itu. Kuputar Video yang diberikan Mia saat aku menembak Vicenzo dan White.


"Miiisterrr White jugaa mm...," ujar Indra terbata-bata.


"Ya. White juga sudah mati!" Jawabku singkat. Indra lalu memperhatikan tanganku. Dia melihat aku memakai cincin yang diberikan Mia saat mengantarkanku ke bandara. Indra lalu meraih tanganku dan mencium tanganku.


"Ngapain lu, Ndra?!" Tanyaku padanya.


"Saya cuma menjalankan adab di organisasi kita, bos. Siapa yang memakai cincin yang bos pakai itu. Itu tandanya posisi bos 1 tingkat dibawah Big boss yaitu Mr. Paolo! Selamat bos atas kenaikkannya. Sekarang bos Rio dan bos Mia sudah setara kedudukannya!"


"Thanks Ndra! Gue harap keluarga kita ini tetap utuh. Jangan ada Sadewo jilid 2 lagi!" ujarku sambil menepuk pundaknya.