
Cresa menatapku lalu dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya didadaku. Kudekap kepalanya sambil mencium rambutnya. Lama kudekap kepala Cresa seperti itu. Lalu dia menatapku lagi sambil tangannya menyentuh pipiku.
"Cres," ujarku sambil menatap matanya dalam-dalam. Matanya yang indah juga menatapku dalam-dalam.
"Hmmm, Ada apaa, Rii?" tanyanya pelan sambil mengelus pipiku. Kurasakan sentuhan lembut jemarinya yang halus dipipiku. Dadaku bergemuruh ingin menyampaikan sesuatu padanya.
"Mau gak kamu jadi pacarku?" Kataku dengan suara bergetar.
Cresa terdiam, dia tak langsung menjawab.
"Kamu serius? Gak bercanda kan?" Tanyanya sambil menatap kedua mataku bergantian.
"Ya Cres, aku serius. Apa kamu mau jadi pacarku?" Kataku sambil membelai pipinya.
Cresa tersenyum lalu membenamkan wajahnya didadaku sambil mengangguk.
"Iya Rio. Aku mau," jawabnya sambil berbisik didadaku. Kupeluk erat tubuhnya. Dia mengangkat wajahnya deket sekali dengan wajahku. Sehingga nafasnya yang harum terasa menyapu wajahku. Kudekatkan bibirku dengan bibirnya. Kulihat matanya terpejam. Kukecup pelan bibir indahnya yang terbuka itu. Manis. Bibirnya terasa manis. Kulepaskan kecupanku. Matanya terbuka sambil menatapku dalam. Dikecupnya bibirku sambil berkata.
"Jagain aku ya, sayang!"
Dadaku bergemuruh saat dimemanggilku dengan kata-kata "Sayang".
Kukecup lagi bibirnya sambil kerengkuh tubuhnya erat.
"Iya Sayang. Aku akan selalu jagain kamu."
Kugenggam jemarinya dengan lembut.
"Udah sah ya ini, Kita jadian kan?" Kataku melepaskan ciumanku.
Cresa mengangguk dan tersenyum malu sambil memeluk erat tubuhku lagi.
"Yuk pulang. Nanti kamu dicariin papa dan mama."
"Yuk sayang."
...----------------...
"Gak mampir dulu, Rio?" Tanya mamanya saat kuantar Cresa pulang.
"Nanti saja tante, terima kasih. Udah kemaleman juga tante. Maaf sehabis latihan Cresa saya ajak makan dulu. Ok tante, Saya permisi dulu," ucapku sekaligus berpamitan pada Cresa dan mamanya.
Cresta pun mengantarku kedepan pagar.
"Hati-hati. Jangan ngebut. Sampe rumah kabarin aku ya," ujarnya sambil tersenyum manis.
"Iya, Baby. Aku pamit ya. Take Care, Honey. Bye," kularikan motorku dengan perasaan yang berbunga-bunga.
"Cresa udah jadi pacarku!!! Yeaay!!!"
Kularikan motorku hingga angin menerpa kencang tubuhku malam itu.
***
"Nahh itu jagoannya datang!!!" ujar bang Faizal saat melihatku mendorong motor memasuki garasi rumah.
Kulihat mama dan papa yang sedang duduk diteras depan bersama bude, Vina, dan Bang Faizal. Aku mencium tangan papa, mama dan bude. Kulihat Vina yang tersenyum disamping bude yang sedang melihat rekaman Video di ponsel.
"Wahh. Wahh. Adikku ini sekarang terkenal banget di sekolah. Videomu lagi viral lho, dek!" ujar abangku itu.
"Video apa?"
Aku cuma diam.
"Kamu habis latihan, nak?" Tanya mama.
"Udah makan? Klo belum makan, makan gih sama Vina dia masak Rawon kesukaan kamu tuh," lanjut mama lagi.
"Iya ma. Habis latihan tadi makan dikit bareng Cresa," kataku sambil melepas sepatuku.
"Habis mandi aja Rio baru makan. Rio mandi dulu ya," ujarku sambil beranjak ke kamarku.
"Bro, wait for a minute!" Kata bang Faizal mengejarku sebelum aku menaiki tangga.
"Ada apa bang?" Kataku sambil mengernyitkan alisku.
"Nih!" Dia menyodorkan uang 500ribu.
"Uang apaan ini?" Tanyaku keheranan.
"Gue dapat dari yutub uplot video berantem elu.1 hari udah dapet viewer hampir 1jt," katanya lagi.
"Lu serius nih bang?" Kataku lagi.
"Iyalah. Rejeki tuh gak boleh ditolak!" Ujarnya sambil berlalu menuju kamarnya.
Aku naik ke kamarku, lalu mandi. Aku lalu mengirimi WA ke Cresa untuk mengabarinya bahwa aku sudah sampe rumah.
Vina diam saja saat makan bersamaku dimeja makan. Kucoba mengajaknya ngobrol tapi jawabnya singkat dan jutek. Aku pun lalu malas mengajaknya ngobrol.
Setelah makan,aku pun belajar sebentar serta memeriksa buku untuk pelajaran besok.
"Tingting!" Ada notif pesan yang masuk. Ternyata dari Cresa.
"I miss u already. Goodnite Honey, Dreaming of me tonight. Million kisses."
Hatiku berdebar membaca pesannya. Kubaca puluhan kali pesan itu.
"Begini toh rasanya punya pacar," gumamku sambil tersenyum. Kubalas pesan Cresa.
"Cant wait till morning comes & see ur sweetest smile, baby! Sleep tight. I Miss U too.I Love u more. See u tomorrow. Kisses." Kupejamkan mataku membayangkan wajah Cresa. Aku tak sabar untuk segera bertemu dia. Kubayangkan lagi saat aku menciumnya tadi. Tak terasa aku sudah terlelap tidur.
Vina membangunkanku ditengah malam dengan isak tangisnya.
"Stttttt!!! Lu kenapa Vin?" Kataku sambil menggoncang tubuhnya.
"Papa sama mama udah resmi cerai, Rio!" Ujarnya sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Mendengar apa yang baru dikatakan Vina, aku pun ikut merasa sedih. Aku baru mengerti apa alasan Vina dan Bude datang serta tinggal di rumahku.
"Ceritain ke gue," Kataku sambil bangkit menuju kamar mandi. Aku menyalakan sebatang rokok di kamar mandi. Tak lama kemudian Vina pun masuk dan duduk disebelahku. Dia masih menangis, tapi tidak separah tadi. Vina bercerita papanya/pakde yang sekarang jadi kecanduan judi online. Setiap diingatkan oleh bude, pakde menjadi sangat marah dan kadang sampai memukul bude. Barang-barang dirumah banyak yang digadaikan pakde untuk menuruti nafsu judinya. Pakde juga mengancam bude klo tidak segera kembali ke rumah, maka pakde akan menceraikan bude. Ternyata ancaman pakde itu bukan hanya omong kosong. Itu dibuktikan dengan terbitnya surat cerai dari Pengadilan Agama. Foto dan Isi surat difoto oleh pakde lalu dikirim via WA ke Vina.
"Udah, lu yang sabar. Kita udah dekat dari kecil, gak banyak yang bisa gue omongin ke elu selain, SABAR!" Ujarku sambil merangkulnya.
"Lu jangan sampe main judi, Rio. Kalah menang, lu pasti bakal kecanduan," katanya sambil menghisap rokok ditanganku.
"Lu nyari kerja gih, Vin. Ntar gue omongin ke mama deh," ujarku sambil menyalakan rokok yang baru. Kami mengobrol sebentar dikamar mandi itu.
"Tidur yuk! Gue ngantuk banget nih." Aku pun menarik tangannya agar bangkit dari lantai kamar mandi itu.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!