
Reno sedang murung, Club miliknya hampir bangkrut. Reno membuka Club itu berjoin dengan Tino, setelah Donna putus dengan Tino. Semua Modal milik Tino pun diambil kembali. Reno pun pusing sebenarnya belum saatnya dia memiliki Club, sebab modal yang dimilikinya terbatas. Donna mengantarku keatas, Reno sedang nongkrong sendirian di Roof top Clubnya. "Bro, gue turut berduka cita atas meninggalnya abang lu ya, bro!" Ujar Tino sambil memegang bahuku. Aku mengangguk lalu mengucapkan terima kasih atas simpati Reno dan Donna saat itu. Indra yang berdiri di dekat tangga menuju Roof top menarik perhatian Reno dan Donna.
"Dia siapa bro?" Tanya Reno sambil menatap ke arah Indra.
"Dia pengawal gue, bro! Sepupu gue lagi butuh kerjaan!" Ujarku tersenyum sambil menepuk pundak Reno.
"Bro, gue mau jual Club ini. Lu ada kenalan gak bro?" Tanya Reno langsung to the point.
"Lu jual berapa?"
"15 M bro, tapi klo ada yang nawar 10 M gue merem dah. Gue lepas. Lagi BU banget bro!"
"Gue telpon bos gue bentar ya, bro!" Ujarku sambil menjauh dari Reno dan Donna.
"Mia, aku ganggu gak?" Tanyaku begitu mendengar suara serak Mia diponselku.
"Klo gue angkat, tandanya gue gak ngerasa terganggu. Ada apa?" Jawabnya ketus.
Aku ceritakan tentang properti Reno yang dijual.
"Klo menurut lu bagus dan harganya cocok, beli aja. Lagian ngapain sih lu nanya-nanya gue masalah ginian, putusin sendiri lah. Duitnya juga udah lu pegang. Lu udah liat berita Bandar gede tewas? Inisial M itu Mario. Rosko udah kehilangan kaki tangannya di Indo. Minggu depan gue ada jadwal ke Bali. Kita meeting sebentar, Gue ada plan untuk lu! Udah dulu, gue mau mandi. Bye!" Mia memutuskan sambungan telponku. Reno memandangku dengan tatapan penuh harap.
"Indra!" Seruku pada Indra yang sedang merokok.
"Ambilin tas saya, Ndra!" Seruku lagi pada Indra.
"Siap bos!" Jawab Indra lalu berlalu dari situ.
"Reno, surat-suratnya lengkap kan?" Tanyaku lagi.
"Lengkap bro, jangan kuatir soal surat-surat. Apa lu mau liat sekarang surat-suratnya?" Tanya Reno dengan wajah ceria.
"Bos gue nyuruh gue handle pembelian Club lu untuk ini. Dia juga ngajuin syarat, dia minta kwitansi ditulis 15M, tapi dia bayar elu maksimal di angka 12M, bro. Gimana?"
"Hahhaha. 10M aja gue lepas, apa lagi 12M bro. Jadi klo ada yang nanya harga jadi Club gue 15M kan bro?" Tanya Reno sambil tersenyum lebar.
"Yupp bro! Tumben lu pinter, Hahhaaha!" Jawabku sambil menepuk bahunya.
Indra datang lalu memberikan tasku. Aku menulis cek untuk DP pembelian Club milik Reno sebesar 2M.
Indra kembali menjauh dari kami. "Sisanya begitu urusan notaris selesai ya, bro!" Ujarku sambil menyerahkan Cek itu pada Reno. Reno menerima cek tapi wajahnya masih terlihat bingung.
"Whats up, bro?" Tanyaku lagi.
"Sorry bro, gue bukan ragu sama elu. Tapi sekarang gue lagi butuh uang cash, bro. Nanti sore pasti ada Debt Collector nagih utang bro. Klo lu ada cash 100 juta gak papa, bro. Sorry banget bro!" Ujar Reno memohon padaku.
"Kita ke bank aja dah, bro. Masih ada 1 jam lagi sebelum Bank tutup!"
Lalu kami ber-4 bergegas menuju Bank.
Akhirnya transaksi pembayaran uang muka dengan Reno selesai, kami pun berpisah setelah transaksi di Bank.
...----------------...
"Donna, lu tau duitnya Rio berapa? Tadi gue intip pas di teller. Duitnya 70M!!! Anjrit temen gue itu selama ini nyamar ternyata!"
Donna tertawa mendengar ocehan kakaknya.
"Lu jaga friendship elu sama Rio, kak. Orangnya baik kelihatannya. Gak banyak omong juga. Kayaknya Angela dan Ivone udah tau duluan klo Rio tajir melintir daripada kita, kak!"
"Tau gitu dulu gue jodohin sama Rio, Don! Hahahaha bisa nyantai hidup gue!" Canda Reno pada adiknya.
"Husssh! Dia udah punya bini tau!" jawab Donna sambil mencubit lengan kakaknya.
****
Aku dan Indra menuju klinik Cresa, Ternyata urusan Cresa belum selesai. Kami berdua mengobrol di mobil.
"Ndra, entar lu rehat deh. Gue mau jalan berdua sama bini gue aja!"
"Waduuh, jangan bos. Saya tetep harus ada di dekat bos. Ntar bisa dibunuh bu Mia saya, bos. Saya ngutit pake motor juga gak papa!" Jawab Indra dengan nada cemas.
"Gak usah naik motor, lu supirin aja lah!" Ujarku lalu keluar dari mobil menjemput Cresa yang keluar dari kliniknya.
"Gue pengen beli Es krim beb, di langganan kita!"
"Kita ke Beachwalk aja, Ndra! Nyonya besar minta es krim!"
"Siap bos!" Jawab Indra tersenyum.
****
"Indra!"
Indra lari memasuki gerbang Villaku. Aku sedang duduk sendiri di tepi kolam renang sambil merokok dan minum bir dingin. Cresa sudah tidur malam itu.
"Ada apa, bos? Kok tumben belum tidur?" ujarnya berdiri disampingku.
"Ambilin 2 botol bir di kulkas, Ndra. Ada yang pengen gue obrolin sama elu!"
Indra berlari mengambil bir dingin di kulkas. Lalu dia kembali berdiri disampingku.
"Duduk lah, santai aja, Ndra!" ujarku sambil menyodorkan 1 botol bir padanya. Dia menenggak bir itu.
"Lu orang kepercayaan gue sekarang. Gue pengen tau cara operasi bisnis Mia. Jangan bilang elu gak tau gimana cara operasi bisnisnya Mia!"
Lalu Indra bercerita secara detail tentang cara Mia menggerakkan bisnisnya. Dari pengambilan, pengiriman dan penerimaan uang. Siapa saja musuh Mia pun diceritakan oleh Indra.
"Tapi bos, maaf klo saya lancang. Bos hidup sudah berkecukupan. Istri cantik, uang ada, apalagi yang bos cari?" Tanya Indra penasaran. Aku menghela nafas panjang.
"Kakak gue sudah dibunuh, Ndra. Keluarga gue diancam. Klo ada apa-apa sama keluarga gue, gue gak akan bisa maafin diri gue sendiri!"
"Rosko sudah gak punya siapa-siapa yang bisa handle bisnisnya di indo, bos! Setelah matinya Mario, butuh 2 tahun lagi minimal agar Rosko bisa megang kendali lagi. Untuk saat sekarang, Mia yang terkuat!
"Berarti waktu gue 2 tahun ya supaya Rosko gak bisa ganggu keluarga gue lagi?"
"Menurut hitungan saya,iya 2 tahun, bos!"
"1 tahun, Ndra! 1 tahun lagi gue harus kuat! Biar gak ada yang bisa ganggu keluarga gue lagi. Sebelum anak gue gede, gue sudah harus bisa di atas Mia. Tolong lu bantu gue. Lu cari orang yang bisa jadi mata dan telinga kita." Indra menganggukan kepala kepadaku.
"Bos gede kita Atasannya Mia, kamu tau siapa? orang mana?" Tanyaku sambil menenggak bir dinginku.
"Mister Paolo, Dia orang Kolombia setau saya, bos!" jawab Indra.
"Klo Rosko ingin menyerang gue, dia harus dapat ijin? Ijin dari siapa?"
"Ijin dari Tuan Vicenzo, bos. Tapi sementara ini Mister Paolo yang terkuat. Mister Paolo sebenarnya sudah lama ingin menyingkirkan Vicenzo. Tapi jika itu dilakukan, Distribusi barang-barang Paolo akan kacau balau! Kematian Mario, efeknya 5 bulan kedepan barang Vicenzo akan kacau distribusinya. Karena tangan kanan Rosko sudah mati, itu sebabnya Rosko sudah tidak ada power lagi setelah kematian Mario.
"Hmmmmm, kuncinya jadi di Rosko. Klo Rosko mati, Vicenzo pasti cari orang baru lagi kan?
"Iya, bos. Rosko mati, Vicenzo gak punya kaki lagi di Indo!
"Elu tau bagaimana dan dimana menemukan, Rosko?
"Besok saya cari tau lagi, jadwal Rutin Rosko apa masih seperti biasanya. Besok lusa saya kabari bos!
"Apa maksudmu dengan jadwal Rutin Rosko?"
"Cewek simpanan Rosko di Indo, bos. 2 x sebulan Rosko pasti datang berkunjung ke apartemen cewek itu.
"Bujuk cewek itu, Gue berani bayar dia 1M. Untuk info kapan Rosko datang mengunjungi dia! Kita bunuh Rosko disana!
"Apa bos sudah punya orang yang bakal bos suruh untuk bunuh Rosko???
"Sudah, Ndra!"
"Siapa bos, apa orangnya Mia?"
"Gue sendiri yang bakal bunuh Rosko!"
Indra kaget mendengar ucapanku barusan. Tapi melihat mimikku yang serius Indra mempercayaiku.
"GUE RELA TERBAKAR DI NERAKA, NDRA. ASAL DENDAM ABANG GUE TERBALASKAN!
Lalu kutinggalkan Indra untuk tidur. Indra pun meninggalkan Villaku dengan tubuh merinding malam itu.