
Mia menyelesaikan permasalahan dengan Jake ditengah laut dengan cara yang cantik. Mungkin sekarang Jake sudah bersahabat dengan ikan-ikan di laut dalam. Ferry kepala Kejaksaan menginfokan bahwa para petinggi di pusat bersiap akan menyerangku karena upeti yang kuberikan jauh dari harapan mereka. Entah itu hanya sekedar gertakan atau memang seperti itu aku tidak terlalu ambil pusing. Aku telah merekrut seorang hacker untuk meretas dan menutup semua data-data perbankanku dari incaran aparat. Ferry juga memberitahuku klo ada seorang perwira tinggi yang sedang mengejarku, perwira yang pangkat jenderal bintang 2 ini adalah relasi seorang pengusaha asal Surabaya. Perwira ini terang-terangan mengancamku dan meminta bagiannya untuk ditambah. Dia dan atasannya yang ternyata adalah seorang pejabat tinggi di Kejaksaan Agung pusat yang bernama Kusnadi, mengundangku ke Jakarta 3 hari lagi. Ferry menyuruh agar aku berhati-hati dengan Kusnadi. Kusnadi adalah orang yang kejam dan licik. Dia tidak segan-segan menggunakan kekerasan kata Ferry.
Kutelpon Ivone malam itu, tapi ponsel wanita itu sedang tidak aktif. Setelah beberapa kali aku tidak bisa menelpon Ivone, aku memutuskan untuk pulang sendiri. Karena malam itu Indra dan Dion sedang bersiap untuk menerima 'cuci daging' tengah malam nanti dari Mia. Ketika aku sedang berjalan menuju mobilku ponselku berdering. Kuangkat telpon dari Ivone itu.
"Ya bos. Maaf gue baru turun dari pesawat, ada apa bos?" kata Ivone.
"Elu di masih bandara? Gue tunggu elu di parkiran basement apartemen," jawabku lalu memutuskan sambungan telpon dan berbalik arah menuju apartemen Ivone.
Baru 10 menit aku tiba dan menunggu Ivone di parkiran, mobil BMW putihnya pun datang. Aku keluar dari mobilku dan masuk ke mobil Ivone.
"Jalan Von!" Kataku sambil menutup pintu mobil itu. Ivone mengganggukkan kepalanya dan mobil itu kembali keluar dari gedung apartemen.
"Kearah mana kita ini bos? Kenapa gak ngobrol di apartemen gue aja?" Ujar Ivone sambil tersenyum. Aku tersenyum mendengar ucapannya.
"Terus aja, Von. Kita ke arah Sanur!" Jawabku sambil mengutak-ngatik iPad yang kubawa. Aku mengarahkan Ivone untuk menuju ke sebuah Villa di Sanur. Saat sampai di gerbang Villa. Aku lalu membuka kaca mobil, penjaga Villa yang mengenaliku langsung membukakan gerbang Villa itu dan menutup gerbang itu setelah mobil kami masuk. Aku dan Ivone turun. Ivone mengikuti aku yang berjalan duluan masuk ke dalam Villa.
"Duduk dulu, Von!" Ujarku sambil mengambil sebotol minuman dan gelas.
"Besok lusa elu ikut gue ke Jakarta. Dan orang ini, target elu!" Lanjutku sambil menuang minuman keras kedalam gelas dan membuka foto di Ipadku untuk dilihat Ivone.
Ivone memandangi foto-foto pria yang kutunjukkan itu.
"Ayo ke kita atas, Von!" Ujarku lagi sambil menenteng botol minuman dan gelas.
"Ini Villa lu juga, bos? Enak banget ya Villanya. MEWAH!" Kata Ivone kagum dengan kemewahan Villa itu sambil memandang ke sekeliling Villa. Aku lalu duduk di sofa yang ada di teras ruang tengah. Pemandangan pantai Sanur terlihat jelas dari situ.
"Villa ini untuk elu, Von. Klo elu bisa menjerat laki-laki di foto itu seperti Ferry kemarin!" Kataku sambil menuang miras ke gelas lagi.
"Ahh elu becanda kan, bos?" Ujar Ivone sambil duduk disebelahku. Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaannya.
"Jangan panggil gue bos, Von!" Ujarku lagi. Ivone menatapku dan menganggukkan kepalanya.
"OK. Ayo cabut yuk, Von!" Ujarku sambil bangkit dari dudukku. Ivone memegang tanganku dan kemudian memelukku.
"Maaf Rio, gue cuma mau berterima kasih sama elu!"
Ivone lalu mengulum bibirku dengan buas. Kubiarkan bibirnya bermain-main dengan bibirku sebentar. Tangannya sudah mulai meraba otot dipangkal pahaku yang masih tidur. Saat otot itu mulai bangkit dari tidurnya. Kulepaskan bibir dan tangannya.
"Terima kasih kembali, Ivone! Ayo kita pulang!" Ujarku sambil mengelus pipi Ivone sambil tersenyum.
Wajah lvone memerah, nafasnya terengah-engah, nafsunya sudah diubun-ubun saat menyentuh otot panjang milik pria tampan itu tadi. Dipejamkan matanya untuk mengatur nafasnya. Aku lalu menggandeng tangannya menuruni tangga.
"Biar gue aja yang nyetir, Von!" Kataku sambil mengambil kunci mobil dimeja. Mobil BMW itu kulajukan menuju arah apartemen Ivone. Ivone terus memandangiku saat di dalam mobil.
"IVONE STOP IT!" Bentakku. Ivone lalu kembali ke tempat duduknya. Dia hanya diam. Aku tidak berbicara lagi dengannya sampai tiba di apartemennya. Kuparkir mobilnya di dekat mobilku.
"Mmmmaafin gue, Rio!" Ujarnya pelan.
"Gak apa, Ivone! Gue balik dulu! Sori tadi gue udah bentak elu."
"Iya, Rio!" Ujarnya sambil menyeka air matanya.
"Hey. Jangan nangis ahh!" ujarku lalu memeluknya.
Lalu kucium bibirnya sebentar.
"Stop crying, Okay! Gue balik dulu, Von!" Ujarku sambil keluar dan menuju mobilku lalu meninggalkan apartemen Ivone.
Pak Wayan membukakan pagar untukku saat aku sampai di Ubud. Selesai mandi aku segera masuk ke kamar. Cresa sudah tidur dengan pulas. Kupandangi Istriku yang sedang terlelap itu.Wajahya tetap cantik, hanya tubuhnya yang membesar dibeberapa bagian. Kupeluk tubuhnya dari belakang. Kuciumi lehernya yang wangi.
"Honey, whats time is it? Lu baru pulang? Peluuuk gue, Honey!" katanya sambil mengarahkan tanganku untuk memegang dadanya. Kuelus dadanya perlahan sambil menciumi lehernya. Cresa tersenyum sambil menoleh kearahku.
"Gue kangen banget, sayang!" Bisikku ditelinganya. Kuciumi pipi istriku dengan lembut.
"Gue juga kangen sayang!" Desahnya sambil mengelus pipiku. Lalu tangannya turun dan mengelus ototku yang sudah mengeras dan menempel dipantatnya. Dia lalu menyingkap baju tidurnya dan menggiring ototku memasuki dirinya dari belakang. Ototku perlahan masuk ke dalam tubuhnya yang sudah basah itu. Cresa bergerak maju mundur sambil menggoyangkan pinggangnya. Tubuhnya yang basah itu menjepit erat ototku dan membuat ototku berdenyut-denyut. Cresa mempercepat gerakannya sambil mengulum jari telunjukku. Aku menjerit tertahan saat tubuhnya mengejang.
***
Ivone duduk di sebelahku di dalam pesawat. Dia tersenyum lebar disebelahku.
"Baru kali ini gue naik pesawat kelas bisnis, Rio!" Ujarnya sambil memegang tanganku. Aku tersenyum mendengar ocehannya. Kuingatkan lagi padanya tentang tugasnya.
"Ingat, Von. Waktu elu cuma 3 hari! Dan elu cuma sendirian disana. Jaga diri elu baik-baik!"
"Siap bosku yang ganteng! Btw, thanks buat yang kemaren malam ya!" Jawabnya dengan muka memerah dan menahan senyum. Lalu datang pramugari mengantarkan makanan dan minuman untuk kami.
"Misal kapan-kapan gue ajak Angela pas kerja, gak papa kan, Rio?" tanya sambil menyantap makanannya.
"Gak papa. Asalkan kerjaan lu beres!" Jawabku sambil meneguk air mineral. Lalu pramugari datang lagi untuk membereskan bekas makanan kami. Ivone berdiri setelah pramugari berlalu, dia lalu menutup tirai dikabin kami. Ivone berbaring sambil memeluk lenganku.
"Maaf Rio, kapan lagi gue bisa berduaan begini sama elu!" Ujarnya sambil mengecup pipiku. Aku diam saja tak melarangnya atau menanggapinya. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Ivone!" Kataku sambil menatap matanya dengan tajam. Wajahnya perlahan-lahan mundur. Aku tersenyum sambil menatapnya. Tiba-tiba secepat kilat Ivone menyambar bibirku dan mulai mengulumnya. Kali ini kubalas ciuman panasnya. Bahkan tanganku menjelajah menggapai dan meremas dadanya. Tangannya langsung bergerak memijat otot panjangku yang saat itu mulai mengeras. "Wow! Wow!" bisiknya lalu kembali mengulum bibirku dengan buas. Tanganku pun bergerak nakal menyusup mencubit lembut pucuk dadanya. Tangannya kini sudah menyusup ke balik boxerku dan menggenggam erat ototku. "Besarnya punyamu Rio!" Bisiknya sambil menjilati telingaku. Lalu kusingkirkan tanganku dari tubuhnya dan kutepis lembut tangannya dari pangkal pahaku. "Enough, Ivone!" Ujarku sambil mengelus lehernya. Ivone tersenyum lalu kembali memainkan ototku dengan bibirnya dengan lincah dan jemari memegang erat-erat ototku. Aku kembali memejamkan mataku merasakan permainan mulut Ivone di organ vitalku. Otot panjangku berdenyut-denyut, tangan Ivone makin mempercepat reaksi keluarnya cairan hangat dari dalam tubuhku. Ivone menelan seluruh cairanku dan membuangnya di kantung untuk muntah. Ivone setelahnya berjalan menuju toilet.