
"Jangan pernah kecewakan orang yang kau cintai, walaupun dia menyakitimu berulang kali. Masa depan masih misteri, selalu ada jalan bagi cinta untuk kembali..."
Setelah beberapa hari mengelilingi kota Seoul. Aku dan Cresa memutuskan untuk mengunjungi pulau Jeju yang terkenal dengan julukan Surga di Bumi.
Siang itu kami tiba di Bandara Jeju dengan hati yang penuh semangat. Kami merencanakan liburan romantis selama 4 hari di Pulau Jeju yang indah. Kami segera memanggil taksi menuju Villa mewah yang telah kami sewa secara online untuk menginap selama di pulau Jeju.
Ketika sampai di Villa, Aku dan Cresa terpukau melihat keindahan pulau Jeju. Kami berdua segera menjelajahi kawasan itu dan menemukan pantai terdekat. Pantai itu sangat indah kilauan air laut dengan warna biru yang mempesona, kami bermain-main di tepi pantai dan menikmati keindahan pemandangan alam yang luar biasa.
"Beneran indah banget, lebih indah daripada yang gue liat di film, Beb!" Ujar Cresa yang masih terkagum-kagum dengan keindahan pulau Jeju. Lalu kami bergegas kembali ke Villa kami karena tiba-tiba turun hujan gerimis. Kututupi kepala Cresa dengan kemejaku sambil merangkul bahunya. Kami sampai di Villa dengan badan nyaris basah kuyup. Lalu kami berdua mandi dan kemudian sambil memakan mie instan. Kami duduk berdua di teras Villa sambil berpelukan memandangi suasana pulau Jeju di saat gerimis hujan. Cresa membawa selimut dan kopi dari dalam. Kami duduk berdua di dipan sambil berselimut. Eva menyandarkan kepalanya dibahuku sambil melirik menatapku. Aku yang kedinginan menyeruput kopi panas yang dibawa Cresa. Kutawarkan kopi itu pada Cresa, tapi dia hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Kulingkarkan tanganku memeluk pinggangnya sambil memandangi kabut yang mulai turun.
"Kok tumben bawelnya hilang? Lagi mikir apa, Beb?" Tanya Cresa yang melihatku sedang melamun. Kutaruh cangkir kopiku di atas meja.
"Mikirin elu, Beb. Mikirin gimana kita kedepannya," jawabku sambil mempererat pelukanku.
"Jangan keburu-buru, Beb. Gue tau elu masih banyak pikiran. Gue sabar kok nungguin elu," jawab Cresa lagi sambil memelukku dan menarik selimut untuk menutupi tubuh kami.
"Sepulang dari sini, gue mau bawa elu ke mama Wanda. Gue mau kenalin elu ke dia!" Ujarku lagi.
"Iya, Beb. Beliau mamanya Eva ya?" Kuanggukkan kepalaku sambil mencium rambutnya.
"Beb, misal kita sudah merit. Elu gak bakal ngelarang gue untuk tetap mengunjungi makamnya Eva kan?" Tanyaku sambil menatap matanya. Cresa tersenyum sambil mengelus pipiku.
"Eva pernah melukis kenangan indah bersama elu. Dan dia sudah meninggal, bagaimana bisa gue ngelarang elu untuk sekedar mengirim doa untuk ketenangan dia disana?" Ujar Eva sambil mengecup lembut pipiku. Kupeluk erat tubuhnya. Kabut makin tebal menyelimuti pulau Jeju malam itu dan udara semakin dingin. Kami pun masuk untuk beristirahat.
Paginya kami berjalan menyusuri hutan. Kami lalu mampir di sebuah cafe yang terletak di tengah-tengah hutan itu. Cafe itu belum cukup ramai, kami menikmati kopi dan kue khas pulau Jeju. Sambil diiringi musik tradisional Jeju yang dimainkan oleh grup band lokal. Aku dan Cresa menikmati alunan musik tradisional itu sambil berpegangan tangan.
Setelah mengelilingi hutan bersama guide setempat. Akhirnya saat menjelang tengah hari kami memutuskan untuk mengunjungi Pasar Seogwipo yang terkenal di pulau Jeju. Kami menikmati menjelajahi berbagai stan pedagang dengan mencicipi kuliner lokal yang lezat. Aku membelikan Cresa kalung cantik sebagai kenang-kenangan dari pulau Jeju.
Lalu kami juga mengunjungi Air Terjun Jeongbang yang indah. Sambil berdiri di bawah air terjun yang mengalir deras, kami mengambil foto sambil berpelukan. Cresa sangat bahagia dan itu terpancar dari raut wajahnya. Kemesraan cinta kami makin terasa saat Cresa menciumku dan berkata,
"Gue cinta elu, Rio. Gue beruntung bisa mendapat kesempatan kedua dalam hidup gue."
Lalu kami berjalan pulang menuju Villa sambil terus bergandengan tangan.
Keesokan harinya setelah mengunjungi Gudang Museum Teddy Bear. Kami menghabiskan waktu sambil menunggu malam di sebuah restoran yang indah ditepi pantai. Suasana restoran yang terlihat biasa disaat siang hari itu berubah menjadi suasana romantis begitu waktu memasuki malam. Kerlap-kerlip lampu yang menjuntai diatas kami disertai sinar rembulan diatas pantai segera diabadikan Cresa yang menarikku ke pojok restoran. Kami berfoto sambil berpelukan dan berciuman. Cresa memposting foto kami di IGnya dengan mention "@Jeju Island! We fall in love!". Aku dan Cresa menikmati suasana romantis itu sampai restoran itu tutup.
"Udah bangun, sayang? Mau gue bikinin kopi?" ucapnya sambil mencium keningku.
"Kok udah cantik? Hmmm wangi banget, beb. Jam berapa sekarang, beb?" Tanyaku padanya.
"Jam 5, beb. Gue gak tega bangunin elu. Lelap banget tidurnya," lanjutnya sambil tersenyum.
"Hah??! Udah jam 5?!" Ujarku terkejut sambil melompat dari ranjang dan menuju kamar mandi. Aku langsung mengguyur tubuhku dengan air panas. Tiba-tiba Cresa sudah didalam kamar mandi sambil berdiri memandangiku yang sedang menikmati semprotan air panas dibawah shower. Dia tersenyum sambil menatap tubuhku yang kekar tanpa sehelai benangpun itu. Kutarik tubuhnya kearahku.
"Beb, gue udah mandi!" katanya terkejut. Kuacuhkan ucapannya sambil menciumi tubuh seksinya. Kami mandi berdua sambil bercinta dibawah siraman shower. Setelah mengeringkan badan. Cresa kembali merias dirinya didepan cermin kamar mandi.
"Naakal lu, beb. Gue jadi mandi lagi kan!" Ujarnya sambil mengulas bibirnya dengan lipstick.
"Hihihi, I'm so sorry, baby. Kita habis ini ke Itaewon ya, beb. Gue mau ajak lu ke Resto yang lagi ngadain Fine dining," Ujarku sambil memeluk tubuhnya dari belakang.
"Itaewon? Ok beb, sana gih lu buruan pake baju!" Katanya sambil tersenyum dan memakai bedak dipipinya.
"Ok, cantik!" Ujarku sambil menepuk pantatnya.
"Tuhh kan.Nakal!" Teriaknya kepadaku yang sudah keluar dari kamar mandi. Begitu kami berdua sudah siap. Kami meminta bantuan resepsionis untuk memesan taksi untuk mengantar kami ke Itaewon. Kawasan Itaewon sedang ramai malam itu, taksi kami berhenti disebuah Restoran yang cukup ramai. Danbam nama restoran itu. Kugandeng tangan Cresa sambil melangkah masuk ke Restoran itu. Aku dan Cresa duduk disebuah meja yang sudah disiapkan. Lalu masuklah seorang Chef yang menemani kami malam itu. Dia memasak di depan kami dengan tangkas sambil menunjukkan keahliannya menggunakan alat masak. Ada 3 menu yang disuguhkan pada kami malam itu. 1 menu appetizer, 1 menu main course menu, ditutup dengan 1 menu dessert yang sudah kupilih. Aku dan Cresa menikmati makanan di ruangan yang berdekorasi mewah itu. Setelah selesai makan Chef itu mengajakku berbincang-bincang. Lalu kuberikan kartu namaku sambil menawarinya kapan-kapan untuk mampir jika sedang mengunjungi Bali. Dia tersenyum senang dan berjanji akan menghubungiku jika berlibur ke Bali. Kemudian dia pamit untuk kembali ke dapur. Aku dan Cresa masih menikmati Dessert yang masih tersisa berdua saja.
"Beb, kok disini kita cuma berdua? Kenapa kita gak makan didepan?" Tanya Cresa padaku saat Chef itu meninggalkan kami. Aku tersenyum sambil memegang jemarinya dan berkata.
"Ini ruangan private, Beb. Makanan spesial yang dinikmati dengan orang yang sangat spesial, dimasak langsung oleh Chef senior di Restoran ini. Kerjaan gue dibali ya seperti ini, beb."
Cresa lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Berapa tarifnya sekali makan seperti ini, Beb! Pasti beda kan tarifnya?" bisik Cresa padaku.
"25juta, Sayang!" Jawabku sambil tersenyum.
"Hahhh?!!" Ujar Cresa dengan muka terkejut dengan mata melotot.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!