MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Cresa pindah



Akhirnya Mamaku yang mengambil Raport Cresa, karena papa dan mamanya belum bisa pulang dari Semarang.


Tapi Cresa memang cewek yang selalu ceria. Dia bisa menutupi kegundahan hatinya saat itu. Cresa selalu tersenyum disamping mama. Apalagi ternyata hasil raportnya sangat membanggakan, Cresa Ranking 3 dikelas kami! Mama pun memeluk Cresa. Cresa pun keluar keluar bergandengan bersama mama. Cresa menggengam tanganku saat keluar.


"Aku Rangking 3, beb. Lumayan lah," katanya dengan wajah ceria. Hatiku deg-degan.


"Cresa yang pinter begitu cuma rangking 3, aku yang banyak main begini rangking berapa?" Batinku dalam hati.


Cresa pun pamit karena sudah harus pulang karena sopirnya telah menunggunya. Aku minta dia menungguku nanti sore untuk berkunjung dirumahnya.


"Aku pulang duluan ya, beb. Semoga raport kamu bagus ya! Aku tunggu nanti sore dirumah," katanya sambil mencubitku.


Aku mengantar Cresa ke mobilnya dan kembali menunggu mama yang masih mengambil raportku.


Mama keluar dari kelas dengan muka masam.


"Ayo kita pulang," katanya dengan muka tanpa senyum. Saat kugandeng pun mama tidak menolehku.


"Wadaaah, bahaya ini! Pasti jeblok nih nilaiku!"


Aku menyetir tanpa berani menoleh kearah mama.


"Rio, kamu sekarang nambah kegiatan kamu fitness, taekwondo dan les inggris. Apa itu semua bisa kamu jalanin?" Kata mama dengan nada agak sedikit emosi.


"Hmmmm, Fitness nya sampai bulan ini saja, Ma. Nggak akan Rio perpanjang lagi," jawabku singkat dengan suara pelan.


"Kenapa?!" Tanya mama lagi.


"Karena waktu Rio untuk belajar kurang banyak, Ma."


"Waktumu dengan Cresa bagaimana? Dia Rangking 3 lho!" Nada bicara mama tiba tiba agak meninggi.


"Hmmmm, Rio akan kurangi juga ma!" Jawabku lemas karena firasatku nilai raportku benar-benar jeblok.


"KAMU RANGKING 2, RIO! CRESA RANGKING 3! MAMA BANGGA SAMA KALIAN!" Teriak mama tiba-tiba sambil memegang lenganku.


"SERIUS MA? Mama serius, aku rangking 2?" Tanyaku tak percaya.


"Masak mama boong sih, nak. Makasih ya. Udah bikin mama bangga. Kasian raport kakakmu. Dia peringkat 30.Bakal dimarah lagi sama papa nanti. Tapi dia lulus. Yang penting lulus aja sudah bagus itu," ujar mama tersenyum.


"Rio yang makasih sama mama. Mama udah percaya sama Rio," ujarku pelan.


...----------------...


Sore itu aku ijin ke mama untuk keluar dengan Cresa. Aku ingin mengajaknya menikmati sunset di tempat favorit kami. Sesampaiku di rumah Cresa, aku terkejut. Karena rumah itu tertutup tak seperti biasanya. Terdengar teriakkan papanya yang sedang marah dari dalam rumah. Rupanya papanya sudah pulang. Terdengar suara Cresa yang sedang menangis didalam.


"Ada apa ini!" batinku dalam hati. Kuurungkan niatku yang saat itu mau mengetuk pintu. Terdengar lagi teriakkan papanya diiringi suara tangisan mamanya dan juga suara tangis Cresa. Aku pun makin serba salah berada disitu. Yang kulakukan hanya diam, dan menunggu Cresa keluar dari rumah. Benar saja, tak lama Cresa keluar dari rumah dengan mata sembab. Dia menghambur kepelukanku sambil menangis. Cresa menangis tersedu-sedu. Lalu papanya keluar mengejarnya. Papanya menyapaku dengan anggukan, aku belum berani bertanya apa-apa. Yang kulakukan hanya menepuk-nepuk punggung Cresa.


"Maaf Rio, Cresa tidak bisa keluar hari ini. Om minta pengertian dari kamu ya," kata papanya padaku.


"Baik om," jawabku singkat. Ku tepuk-tepuk punggungnya.


"Masuk deh beb. Besok aja aku kesini lagi," bujukku pada Cresa yang belum berhenti menangis. Cresa menggeleng-gelengkan kepalanya malah memelukku makin erat.


"Cresa, papa mohon kamu untuk masuk SEKARANG!" kata papanya dengan nada agak tinggi.


"Cresa, masuk gih. Kasian lho papa kamu baru pulang. Besok aku janji.Begitu kamu telpon, aku bakalan cepet-cepet kesini," bisikku pada Cresa yang menangis makin terisak.


"Cresa mau ngomong sama Rio sekarang, pa. PLEASE PA!" kata Cresta masih memelukku sambil menangis.


"CRESA! KAMU...," belum selesai papanya menyelesaikan kalimatnya, mamanya menyahut.


"Ok Cresa. Jangan pulang malam-malam ya sayang. Take your time. Rio, tante pesen jagain Cresa ya. Jangan pulang malam-malam! Tante sama om masuk dulu," ujar mamanya menyeret tangan papanya masuk lalu menutup pintu.


"Rio, bawa aku pergi dari sini. Bawa aku pergi dari sini sayang," bisiknya. Kugandeng tangan kekasihku itu ke dalam mobil. Kularikan mobilku dengan perasaan sedih.


"3 hari lagi aku harus pindah ke Semarang, Beb. Hanya itu yang bisa aku kasih tau ke kamu sekarang. Huuuuuuuuhuuuu."


JEDDDAAAARRRR!!!


Kepalaku serasa tiba-tiba pusing.Serasa dihantam palu besar.


Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku lagi tiba-tiba mataku terasa basah. Aku mencoba untuk tak ikut menangis. Tapi ternyata firasatku kemarin benar-benar terjadi. Aku tidak boleh egois, aku memang sedih. Tapi Cresa pasti lebih sedih! Dia sudah memberikan sesuatu miliknya yang paling berharga, tentu dia lebih terluka dari pada aku. Kudekap kepalanya, kuciumi rambutnya sambil meneteskan airmata. Ya, akhirnya pun aku menangis terisak-isak. Cresa pun menangis makin terisak. Kami berpelukan erat sambil menangis tersedu-sedu.


"Cres, 2 tahun! Apa kamu bisa nunggu aku 2 tahun lagi, Cresa?!" Kataku dengan mata yang basah sambil memegang bahunya. Cresa menggelengkan kepalanya.


"Aku gak tau sayang. Aku gak tau. Huuuuuhuuu," Cresa menangis lagi makin terisak sehingga badannya bergetar.


"Aku udah gak bisa jauh dari kamu sayang. Aku gak bisa huuuuuuuhuuuu," tangisnya makin kencang. Kupukul-pukul dashboard mobilku. Aku tak tahu lagi bagaimana caranya untuk meluapkan kesedihanku saat itu. Cresa memegangi tanganku agar tak memukul-mukul lagi.


"AAARRRRRRRRGGGGGHHHHHH!!!"


Kuluapkan kemarahanku pada keadaan yang tak kumengerti ini dengan berteriak keras. Aku menangis lagi. Tangisku meraung-taung sambil membenamkan wajahku disetir mobilku kupeluk setir mobil itu. Cresa memelukku dan menciumi kepalaku.


"Sayang, aku harus berbuat apa? Aku harus apa sayangg?!" kataku sambil menciumi tangannya. Cresa hanya menggeleng.


"Aku gak ta harus ngomong apa sama kamu sayang. Aku cuma tau aku sekeluarga harus pindah 3 hari lagi. Cuma itu yang aku tau, dan cuma itu yang bisa aku kasih tau ke kamu sekarang, sayang!" Kata Cresa sambil menatapku.


"Cresa, hubungan kita udah terlalu jauh. Tolong simpan nomer ponsel aku. Aku pasti hubungin kamu selama kamu mau aku hubungi dan selama kamu bisa aku hubungi. Ta...," Cresa menutup mulutku.


"Kamu kok ngomongnya gitu sih, beb?" tanyanya sambil menatap mataku.


"Firasat, sayang.Firasatku setelah ini kamu akan sulit aku hubungi, akan sulit aku telpon. Mudah-mudahan itu gak kejadian. Klo itu kejadian. Bisa-bisa aku gila sayang!" kataku lalu menangis lagi.


"Jangan ngomong gitu. Kamu pikir aku gak sayang sama kamu sayang? Aku sayang banget sama kamu! Kamu tau kan?" ujarnya sambil menepuk pipiku.


"Aku cuma takut firasatku kejadian lagi, sayang.Aku benar-benar takut kehilangan kamu, kamu inget kan kemarin aku ngomong apa? Sekarang kejadian kan?!" Kupeluk tubuhnya dengan erat. Seakan-akan besok sosok indah itu tidak bisa kulihat lagi.


"Aku juga takut kehilangan kamu sayang!"


Pelukannya sama erat denganku.


"Baby, Kamu jaga diri yah. Pertemuan kita ini bukan kebetulan. Kita dipisahin sekarang, Tuhan mau lihat kemauan kita. Kemauan kita untuk bareng kuat atau enggak? Kalo nggak kuat mungkin kita susah untuk bareng lagi, klo kemauan kita kuat, selalu akan ada jalan untuk kembali lagi. Love will find a way, Beb!


***


Hari perpisahan itu tiba! Hari perpisahan aku dan Cresa. Aku dan Virna mengantar Cresa ke bandara. Papa dan mamanya berjanji bahwa akan mengabariku. Papa dan mamanya duluan masuk ke ruang keberangkatan. Cresa masih belum mau masuk ke ruang keberangkatan.


"Aku ntar aja, saat last call aku akan masuk ma," katanya pada mamanya sebelum masuk ke ruang keberangkatan. Kubelai rambutnya yang indah terurai.


"Hati-hati ya sayang. Jangan makan banyak-banyak entar jadi ndud," kataku menggodanya agar dia tidak sedih.


"Kabarin aku ya. Bad news or good news," kataku sambil menggengam tangannya. Cresa mengangguk sambil menatap mataku. Entah kenapa tatapan matanya saat itu rasanya tatapannya untukku yang terakhir kali.


"Attention Garuda Airlines Flight 56K76 to Semarang is now boarding. Would all of passengers please pass on to gate C2. Thank you."


(Pengumuman. Penerbangan Garuda Airlines 56K76 tujuan Semarang sekarang boarding. Para penumpang dipersilakan untuk naik melalui gerbang C2. Terima kasih)


Terdengar panggilan untuk pesawat yang ditumpangi Cresa, kukuatkan diriku yang hendak menangis lagi. Cresa menepuk punggung Virna. Cresa memeluk Virna. Matanya berkaca-kaca. Dia mencoba tersenyum. Panggilan itu diulang lagi. Cresa berbalik kearahku dan berlari ke arahku lalu memelukku. Kupeluk tubuhnya dengan erat. Airmataku menetes,tapi kutahan agar tangisanku tidak pecah.


"Kiss me, beb and hold me close until Final call," katanya dengan mata yang basah dan suara bergetar.


Kukecup bibirnya yang lembut dengan lembut dan kupeluk tubuhnya erat-erat. Kami berdua berciuman ditengah-tengah orang yang lewat dan memperhatikan kami.


"Attention, please. This is the final boarding call for passengers Garuda Airlines Flight 56K76to Semarang, boarding at gate C2. The final checks are to be finished and the doors of the aircraft are to close in approximately five minutes time. Thank you."


(Mohon perhatian. Ini adalah panggilan boarding terakhir untuk para penumpang Garuda Airlines penerbangan 56K76 tujuan Semarang, boarding di gerbang C2. Pemeriksaan terakhir akan selesai dan pintu pesawat akan ditutup dalam waktu sekitar lima menit. Terima kasih)


Panggilan Final Call. Kulepaskan ciumanku. Mulutku hanya bergetar. Tak bisa berkata apa-apa. Sama dengan Cresa yang tak bisa bersuara.


"Udah panggilan Final Call,beb" katanya berbisik lirih. Cresa menciumku lagi. Lalu ia berlari memasuki gerbang keberangkatan. Ia masih berbalik dan melambaikan tangannya sambil tersenyum manis kepadaku. Lalu ia menghilang. Tenagaku pun serasa hilang. Aku berjongkok dilantai. Seakan tak kuat lagi berjalan.


"Tuhan, lindungi Cresa!" Doaku saat itu. Aku berjongkok sambil meneteskan airmataku. Dan ratusan mata memperhatikanku yang sedang menangis. Aku tak peduli. Tepukan tangan Virna di punggungku menyandarkanku.


"Ayo Rio, sekarang kita pulang yuk."


Aku bangkit dengan langkah lemas. I'll always love u, Cresa. I love u more than u know.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!