
Aku berlari ke arah kamar mandi. Nafasku terengah-engah. Kupukul-pukul pipiku sendiri. Aku tak ingin larut dengan kenangan masa laluku yang menghancurkanku kemarin.
"Rio, kenapa lu? Masih berasa mabuk?"
Aku berjalan masuk ke kamar mandi. Eva yang ingin mengikutiku, kucegah untuk mengikutiku.
"I'm fine,Va. Gue bisa sendiri," ujarku sambil mengunci kamar mandi. Eva mencoba membuka pintu yang sudah kukunci, karena tak bisa masuk ia bersandar diluar sana. Aku memandangi wajahku sendiri di cermin.
"Cresa cuma tinggal kenangan!"
Aku tersenyum mengingat kebodohanku yang terus teringat pada Cresa.
"Goodbye Cresa!"
Kubasuh wajahku lagi dan membasahi rambutku. Aku pun membuka pintu kamar mandi. Kulihat Eva sedang merokok, kuambil rokok ditangannya. Kutatap dalam-dalam matanya, kuhisap rokok itu. Lalu kumatikan rokok yang filternya terasa manis itu.
"Lu gak papa, Rii? Lu mikir apaan sih, kok kayak berat banget!" ujar Eva.
"Ngedance yuk," kataku lalu memegang jemarinya. Kami berdua pun bergoyang.
"Hihihihi, lu gak bisa ngedance ternyata," Ujar Eva tertawa.
"Ajarin lahh, gue bukan anak yang suka party soalnya," kataku mengedipkan mata padanya.
"Sambil duduk aja goyangnya ahh. Elu sih tinggi banget, Rii," kata Eva lagi.
Aku pun duduk.Eva duduk disampingku. Dia bergoyang sambil menggenggam tanganku. Dia lalu berdiri lalu bergoyang didepanku. Goyangannya simple tapi seksi. Kutarik tubuhnya yang sedang bergoyang didepanku. Aku mundurkan dudukku sampai ke pangkal sofa yang empuk itu. Kini pantat Eva telah kujepit dengan kedua kakiku. Kulingkarkan tanganku diperutnya yang kencang. Pipiku dan pipinya menempel ketat. Kuikuti goyangan tubuhnya. Dia lalu berdiri lagi. Aku pun lalu menatapnya sebentar, lalu aku menyalakan rokok, aku hanya menatapnya bergoyang sendirian.
"Katanya mau belajar ngedance. Ayo jangan duduk aja," ajaknya.
Aku pun mengikuti gerakannya, walau susah kucoba kuikuti gerakannya yang luwes. Lalu kudengar intro lagu yang kukenal, aku kadang menirukan gaya breakdance lagu ini dari video klipnya. Aku pun ngedance dengan gaya breakdance yang sering kutirukan dirumah. Eva terkejut.
"Halaah, ternyata elu pura-pura gak bisa ngedance. Lah itu jago!" Ujarnya tersenyum.
"Loh ini kan breakdance Va," kataku sambil tertawa.
"Sama aja lagiiih, gue udahan dulu, Rii. Gue haus nih," katanya sambil duduk di sofa itu lagi.
Dia memandangku yang berjoget sambil tersenyum.
"Rio Sini," panggilnya padaku sambil menepuk sofa disampingnya. Aku pun menghampirinya dan duduk disebelahnya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, gerakannya seperti hendak menciumku lagi. Aku yang sudah sadar dari pengaruh alkohol tak menghindari gesturnya sambil kutuang orange jus kedalam gelas yang berisi es batu.
"Nih, minum Va," ujarku sambil menyodorkan gelas berisi jus itu.
"Udah lu aja yang minum," katanya lagi.
Eva tiba-tiba berdiri.
"Kita turun kebawah yuk," ujarnya sambil menepuk pundakku yang sedang melamun. Aku pun mengikutinya ke bawah. Eva yang sambil bergoyang menggandengku melewati orang-orang yang sedang turun di dance floor. Eva menghampiri 6 orang temannya yang sedang berdansa, Eva pun Cipika-cipiki dengan ke 6 orang itu. 2 orang cowok,4 orang cewek. Aku pun menyalami mereka semua, tapi 2 orang cowok itu menatapku dengan tatapan sinis. Aku acuhkan sikap mereka. Aku tak menggubris mereka. Eva yang sedang asyik ngobrol dengan 4 temannya yang saat itu sedang menatapku seakan mengacuhkanku. Aku colek Eva untuk memberi tahu aku ingin ke bar. Aku pun berjalan sendirian menuju bar, menjauh dari Eva dan gerombolannya. Kupesan minuman Cola di bar yang ramai itu. Aku bersandar sambil memegang minumanku. Eva kulihat masih asyik mengobrol demgan temannya. Kemudian ada tiga cewek datang dan berdiri didekatku.
"Maaf ya bang," kata salah seorang cewek itu ketika menyenggol tanganku yang memegang gelas.
"Gak apa!" ujarku tersenyum.
"Sendirian atau rame-rame, bang?" Kata cewek yang lainnya. Aku tak mendengar ucapannya karena suara musik sangat kencang. Aku memberi tanda dengan menaruh jari telunjukku ditelinga. Mereka rupanya mengajakku berkenalan.
"Gue Okta, Nama lu siapa?" kata cewek hitam manis itu di telingaku.
"Rio!" Kataku sambil berteriak. Dia mendekatkan telinganya kepadaku.
"Siapa???" katanya lagi.
"Rio!" jawabku lagi.
"RIO!!!" Kali ini yang menyebut namaku ternyata adalah Eva yang tiba-tiba sudah berada dibelakangku.
"NAMANYA RIO! DAN DIA DATANG SAMA GUE, OKTA!" Kata Eva pada 3 cewek itu sambil melotot. Gak mau ada keributan, kugandeng tangannya kuajak dia pergi dari situ. Tangannya yang kugandeng dikibaskannya hingga terlepas. Kuiikuti Eva yang berjalan menuju ke ruangan VVIP di lantai 2. Dia lalu duduk di sofa sambil menyilangkan tangan didadanya.
"Lu kemana aja. Gue cariin lagi enak-enak Flirting sama Okta si cewek gatel itu," tukasnya dengan nada kesal.
"FLIRTING?" tanyaku dengan nada heran.
"Iya. Ngomong deket-deket sambil nempel-nempel itu apalagi klo bukan Flirting. Si Okta itu emang suka pake trik basi!" katanya lagi.
"Lu asik ngobrol sama temen-temen lu. Gue cuma beli minum, Va. Gue juga baru ketemu itu cewek dibar tadi," kataku lagi.
"Lu sama aja ternyata...," kata-katanya terhenti. Dia mendengus dengan sinis sambil mengeluarkan rokok dari tasnya.
"Sama aja sama siapa Va?" tanyaku sambil duduk didepannya.
Dia membuang muka menghadap monitor besar diruangan itu.
"Udah, gak usah dibahas. Gak penting juga!" jawabnya ketus.
Dia mengambil miras dan mengisi gelasnya sampai penuh. Ditenggaknya minuman itu dengan sekali teguk lalu gelas itu telah kosong.
Dia merokok lagi. Sambil menyedot rokok dia menuang gelasnya dengan miras sampai penuh lalu menenggaknya seperti tadi. Saat dia hendak mengisi gelasnya lagi. Kupegang tangannya. Dia mengibaskan tanganku. Tapi tanganku memegang erat tangannya.
"OK, gue minta maaf. Udah ninggalin elu. Lain kali gue nggak akan ninggalin elu!" Kataku sambil melepaskan tangannya.
"BODOO!" katanya lalu berdiri. Dia berjalan dengan langkah sempoyongan, tubuhnya yang oleng mau jatuh. Cepat kudekap tubuhnya yang hampir jatuh menimpa meja.
"LEPASIN! GUE MAU KELUAR!" bentaknya kepadaku. Dia meronta-ronta untuk melepaskan dekapanku. Kulepaskan dekapanku sambil mendudukkan tubuhnya disofa.
"Kamu pulang deh. Aku mau sama teman-temanku aja," katanya dengan mata yang sayu. Eva udah mabuk banget batinku.
"Teman-temanmu yang tadi?" tanyaku lagi.
"IYAAA!!!" katanya dengan mata setengah terpejam.
Lalu dia mengisi gelasnya lagi sampai gelas itu penuh dan langsung menenggaknya sampai habis.
Dia kembali berdiri lagi dan hendak berjalan keluar pintu. Langkahnya sempoyongan, kembali kudekap tubuhnya dari belakang.
"Kamu tunggu disini. Biar aku yang turun manggil mereka kesini. Aku sekalian pamit ya, Va!" ujarku sambil kembali merebahkan tubuhnya dalam posisi duduk disofa.
"Terserah kamu deh! Kamu lagi mabuk Va," ujarku sambil menggeser tubuhku menjauh dari tubuhnya. Dia lalu memegang lenganku kemudian memeluk tubuhku. Badannya terasa panas.
"Dingiiin Rio. Gue kediingiinan!!!" Katanya lagi.
Aku lalu memeluknya dari belakang. Kugenggam kedua jemari tangannya sambil memeluknya. Kepalanya bersandar dibahuku.Kuraba dahinya yang ternyata terasa panas. Eva tertidur dalam pelukanku. Kupandangi wajah cantiknya yang mabuk. Setelah beberapa lama memeluknya dalam posisi seperti itu membuat badanku terasa kaku. Mata Eva perlahan terbuka. Dia memandangiku.Tubuh yang masih bersandar ditubuhku.
"Bangun, cantik! Kupanggilin teman-temanmu sekarang ya!" Ujarku tersenyum sambil melepaskan genggaman sebelah tanganku. Tangannya menggenggam tanganku erat seakan tak mau dilepaskan.
"Peluuuk gue!" katanya sambil menggesek-gesekkan punggungnya. Kupeluk lagi tubuhnya.Gesekan tubuhnya tiba-tiba membangkitkan gairahku sebagai laki-laki normal. Dia mendekat wajahnya ke wajahku lagi. Langsung kucium bibirnya tanpa pikir panjang lagi. Dia pun membalas kecupan bibirku. Tangannya mencengkram sofa saat kujilati lehernya yang jenjang sambil menjelajahi lekuk tubuhnya dengan tanganku. Aku sudah tidak bisa menahan luapan gairah lelakiku lagi. Aku lalu berdiri dan membuka seluruh pakaianku, yang kusisakan hanya boxerku, aku yang bertelanjang dada tepat diatas tubuhnya, sambil bernafas terengah-engah. Eva menatap mataku dan menatap tubuhku. Ia menatap tonjolan pada boxerku. Tangannya menyusup kedalam boxerku. Mataku terpejam merasakan tangan halusnya. Kubuka pelan-pelan mataku sambil merasakan sentuhannya.
AASTAGA!!! CRESA!!! KULIHAT LAGI WAJAH ITU!!!
Aku mundur sambil melompat dan aku terjengkang karena kakiku terhalang meja. Eva yang kaget segera menghampiriku yang masih berusaha bangun.
"Kamu kenapa Rio? Aaaku salah ya???" katanya yang heran dengan ekspresiku yang ketakutan.
"Maaf Eva. Maafin gue!" kataku sambil memakai celana dan bajuku lagi. Eva menungguku selesai memakai pakaianku. Setelah selesai, kubuka botol air mineral. Lalu kuminum sedikit.
"Rio, apa Kamu udah tenang?" tanyanya sambil menatap diriku yang masih belum tenang.
"Lumayan Va." jawabku bohong.
"Kamu tadi kenapa?" tanyanya sambil menatap diriku dalam-dalam.
"Gimana ya, aku bingung harus mulai darimana ceritanya," kataku sambil memijat dahiku.
"Hmmmm. Kamu itu aneh. Kenapa tadi ekspresimu kayak liat setan?!" Katanya sambil mengerenyitkan alisnya.
"Lu tadi liat apaan?" katanya dengan nada kesal yang terdengar penuh emosi.
"Lu punya trauma ya?!!!" tanya dengan judes.
"Gue gak tau Va," jawabku jujur yang juga memang tak tau ada apa denganku.
"Udah deh Rio. Mending sekarang lu pulang!" katanya sambil meremas rambutnya.
"Maafin gue, Eva. Sekarang, Gue pamit," kataku kesal karena sudah beberapa kali Eva menyuruhku pulang. Lalu aku pun keluar dari Club itu. Setelah diluar. Kucoba menelpon Surya. Tapi ponselnya ternyata tidak aktif.
...----------------...
Setelah Rio keluar ruangan. Eva terdiam sesaat. Dia bingung menerka-nerka apa yang terjadi pada Rio. Ekspresinya tadi seperti melihat hantu. Saat gairah Eva memuncak setelah menyentuh tubuh milik Rio yang paling sensitif. Rio membuyarkannya.
"Damn, persis seperti candaan gue waktu itu ke dia" batin Eva.
"DAMNED!!!"
Teriak Eva sambil membetulkan pakaiannya dan keluar dari ruangan itu. Eva berkeliling mencari Rio yang berjalan kaki keluar dari Club. Diputarinya jalan itu 2x. Setelah yakin Rio tidak ada di sekitar situ. Eva berbalik arah menyusuri jalan sebaliknya.
"ITU DIA!"
Terlihat Rio sedang duduk bersandar di sebuah pagar taman.
"Lu ngapain sih disitu? Ngerepotin orang aja lu!" teriak Eva dengan emosi.
"Tadi lu nyuruh gue pulang, Va. Ok gue nurutin apa kata lu. Gue pulang. Gue ngerepotin elu yang mana lagi? Udah deh klo lu
mau pulang, pulang aja. Gue bisa pulang sendiri!"
Eva lalu turun dari mobilnya.
"Dari tadi gue nanya elu ada masalah apa? Ngomong ke gue biar gue gak salah paham ke elu. Sori klo gaya ngomong gue kayak tadi, emang gue klo ngomong ya gini," ujarnya sambil membersihkan trotoar untuk didudukinya.
"Jangan duduk disini. Paha lu ntar kemana-mana. Udah, lu masuk mobil," Eva kembali masuk ke mobil. Aku duduk ditrotoar disamping mobilnya.
"Lu pulang gih. Gue ntar bisa pulang sendiri," Kataku sambil menatap aspal.
Eva lalu keluar dari mobil dan duduk disebelah Rio. Rio lalu berdiri dia masuk dari jendela mobil untuk mengambil blazernya. Blazer itu dipakaikan ke tubuh Eva. Rio kembali duduk sambil menunduk. Dinihari itu semakin dingin, Eva mendekatkan tubuhnya ke Rio.
"Lu gak apa kan. Dingin banget soalnya," katanya sambil menempelkan tubuhnya.
"Sebentar!" Rio melingkarkan tangannya ke bahu Eva dan tangannya mendekap tubuh Eva.
"Ngomong gih, siapa tau gue bisa bantu," ujar Eva sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Rio.
"Lu paksa gue sampe mati, gue gak akan bisa ngomong ke elu atau siapapun, Va. please tolong ngertiin gue," kataku dengan mata berkaca-kaca.
"Ok, gue gak akan nanya itu lagi," ujar Eva sambil membenamkan dirinya dipelukan Rio.
"Lu mau gak jadi pacar gue?" tanyanya lagi.
Rio tertawa.
"Kita baru kenal 2x24 jam,trus lu nanya gue gitu, elu nanya kayak beli makanan di drive thru aja, Va."
"Sikap gue yang seperti tadi, itu sebab hubungan gue dengan seseorang sebelumnya, Va. Misal lu pacaran sama gue, kejadian itu terulang-ulang terus, itu akan nyakitin elu. Gue gak mau nyakitin Elu."
Aku kembali terdiam sambil terus menatap aspal.
"Masuk mobil yuk dingin banget Rii," Eva pun menarik tangan Rio akhirnya mereka masuk ke dalam mobil.
"Lu jangan mikir macem-macem. Gue kedinginan. Gue mau Lu pelukin gue sekarang!"
Eva lalu pindah ke pangkuan Rio, Tubuh Eva menindih Rio, Eva merangkul leher Rio. Rio memeluk Eva dipinggang. Eva menempelkan pipinya dipipi Rio. Bibir Eva gemetar.
"Bib..." aku tak bisa melanjutkan kalimatku. Saat itu Eva langsung mencium bibirku. Aku yang awalnya hanya diam. Eva mengulum bibirku pelan. Aku akhirnya membalas ciumannya. Dan terjadilah pergumulan didalam mobil itu. Terdengar ******* Eva di dinihari yang sepi itu. Kami berdua berpelukan dengan nafas terengah-engah.
"Gue suka lu,Rii. Gue mau lu jadi pacar gue," kata Eva yang berada dipelukan erat Rio.
Rio hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja.
Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!