MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
BACK FOR GOOD



1 Bulan setelah bertemu Rio, kehidupan Ivone langsung berubah drastis. Kecanduannya akan narkoba pun semakin berkurang. Ivone yang beberapa minggu ini rajin mengunjungi klinik-klinik perawatan tubuh & kecantikan, kian hari terlihat semakin cantik.


Ivone sekarang tinggal di sebuah apartemen mewah di daerah Kuta. Apartemen milik Rio itu ditempatinya bersama Angela adiknya.


Saat dia pulang, Indra sudah menunggunya di depan pintu apartemennya.


"Masuk bang!" Sapa Ivone ramah.


"Cukup disini saja, mbak. Saya cuma mau menyampaikan pesan bos!"


"Bos butuh bantuan mbak, nanti malam jam 21.00 mbak akan dijemput!"


Indra langsung pergi setelah menyampaikan pesan itu.


Setelah 2 Clubnya digeledah oleh penyidik dari Kejaksaan. Rio benar-benar marah karena hal itu, semua pihak-pihak dan pejabat sudah diberi upeti agar bisnisnya tidak diganggu. Dan selama ini aman-aman saja. Dan baru kali ini ada kejadian memalukan seperti itu. Ternyata ada seorang Jaksa kepala yang baru pindah dari Jakarta. Jaksa kepala bernama Ferry itulah yang memerintahkan penggeledahan 2 Club milik Rio. Rio mengutus Dion dan Jaka untuk mencari info tentang Ferry. Malam ini Rio dan Ferry akan bertemu.


Ivone dijemput tepat jam 21.00 oleh Raka. Ivone sudah siap untuk melakukan tugas pertamanya. Ivone dan Raka masuk sambil bergandengan ke Restoran itu. Restoran yang cukup mewah itu cukup sepi pengunjung malam itu. Ivone dan Raka duduk di seberang meja dimana ada 2 orang pria yang sedang mengobrol dengan mimik wajah serius. Setelah memesan makanan, Ivone berjalan menuju wastafel di dekat toilet. Ivone berjalan berlenggak lenggok tanpa melihat ke arah 2 pria disampingnya. Penampilan Ivone yang cantik dan seksi menarik perhatian salah satu pria itu. Pria itu tidak dapat melepaskan pandangannya ketika melihat tubuh Ivone yang tertutup tapi tampak seksi dengan pakaian ketat yang membungkus tubuhnya itu. Ivone dengan sengaja berlama-lama mencuci tangan dan berkaca di kaca wastafel itu. Jeratan pesona Ivone mengenai pria itu. Pria itu lalu berjalan menghampirinya ke arah wastafel. Pria itu berdiri di samping Ivone sambil mencuci tangannya. Mata pria itu melirik memandangi lekak lekuk tubuh lvone yang membuatnya menelan ludah. Ivone tersenyum lalu meninggalkan pria itu dengan penuh rasa penasaran. Pria itu kembali ke mejanya sambil menatap ke arah Ivone yang saat itu sedang berbicara dengan Raka. Raka tiba-tiba berdiri sambil menggebrak meja. Raka dan Ivone memainkan drama pertengkaran dengan apik. Lalu Raka pun meninggalkan Ivone sendiri di mejanya.


"Malam ini saya rasa cukup pembicaraan kita, 1 minggu lagi akan saya tunjukkan bukti yang saya punya untuk menutup Club milik Anda!" Ujar Jaksa Ferry pada Rio.


"Saya tunggu kabar baik itu!" Jawab Rio lalu meninggalkan tempat itu.


Ivone memasang mimik wajah sedih. Dia duduk sendirian dimejanya saat pria yang bernama Ferry menghampiri mejanya.


"Boleh saya duduk disini? Saya Ferry!" Sapa pria itu pada Ivone yang tampak sedih itu. Ivone hanya mengangguk. Ferry lalu duduk disebelah Ivone yang saat itu sedang memulai dramanya. Ivone menutup mukanya yang cantik sambil berpura-pura menangis. Ferry menggunakan momen itu, kesempatannya untuk menyentuh tubuh Ivone tidak disia-siakannya. Ferry mengelus punggung Ivone yang sedang menangis. Tubuh Ivone yang padat dan wangi membuatnya seperti gila.


"Jangan menangis, ngapain kamu tangisi cowok seperti dia!" Ujar Ferry yang makin berani, saat itu dia sudah meremas tangan Ivone yang halus.


"Maaf, bang. Saya harus pergi sekarang!" Ujar Ivone lalu berjalan pelan keluar dari restoran itu. Ferry yang tidak mau kehilangan barang buruannya, segera mengejar Ivone.


"Wanita cantik yang sedang patah hati ini tidak boleh lepas!"Batin Ferry dalam hati dengan penuh nafsu.


Ivone berdiri di depan restoran menunggu taksi. Ferry menghentikan mobil mewahnya didepan Ivone.


"Ayo mbak, saya antar pulang!" Ujar Ferry sambil membukakan pintu untuk Ivone.


"Tapi saya tidak mengenal anda, maaf!" Jawab lvone datar.


"Saya seorang Jaksa, ayolah. saya tidak akan macam-macam!"


****


Ferry dan Ivone yang mabuk berat berjalan menuju kamar hotel sambil berpelukan. "Sebentar sayang, aku masih pusing!" Kata Ferry pada Ivone yang ketika di kamar melepas pakaian yang dipakai Ferry. Ferry kemudian terkapar tak sadarkan diri. Tak lama kemudian masuklah Raka ke kamar itu. Ferry sudah ditelanjangi dan kemudian Ivone yang saat itu hanya mengenakan CD sudah berbaring memeluk dan menempelkan bibirnya pada bibir Ferry. Beberapa adegan syur diambil oleh Raka dengan kamera ponselnya. Setelah dirasa cukup mengambil gambar yang diintruksikan bosnya itu mereka berdua meninggalkan Ferry di hotel itu.


"Bos menunggu kita di Club, mbak," Kata Raka sopan.


Ivone hanya menganggukan kepalanya sambil membenahi make up diwajahnya.


***


"Thanks a lot, Ivone!" Kataku sambil menepuk-nepuk pundaknya. Aku lalu mengajak Ivone untuk masuk ke sebuah ruangan di Rooftop itu. Aku mengambil uang untuk Ivone dan kunci mobil.


"Gak susah kan menjerat pria hidung belang seperti Ferry, Von?"


Ivone hanya tersenyum mendengar pertanyaanku.


"Ini uang untuk bantuanmu malam ini dan ini kunci mobil elu. Mobilnya sudah ditaruh lndra di apartemenmu. Ayo gue antar elu pulang!


Ivone tampak gugup saat kuantar pulang.


"Angela, elu dimana? Ok hati-hati pulangnya!" kata Ivone lalu memutuskan sambungan telponnya.


"Ada tugas untuk elu lagi, Von. Mungkin minggu depan elu akan gue ajak ke Jakarta."


Akhirnya kami sampai di parkiran basement apartemen Ivone. Aku parkir didepan mobil BMW baru yang kuberikan untuk Ivone.


"ltu mobil baru elu! Ok, gue pulang dulu, Von. Sampai ketemu minggu depan, ya! Sekali lagi terima kasih banyak, Ivone!" Ujarku sambil menjabat tangan Ivone. Ivone lalu memelukku.


"You are Welcome, Rio!" ujarnya lalu keluar dari mobilku.


***


lvone memeriksa mobil barunya. Pekerjaannya ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Ia juga memeriksa kantong kertas yang tadi diberikan Rio, jumlahnya lumayan untuk hanya mengerjakan hal seperti tadi. 250 juta!


"Thanks a lot, Rio!" batinnya dalam hati. Uang itu disembunyikan dibawah jok mobil barunya. Dia hanya membawa uang 2 gepok saja. Saat sampai dikamar, adiknya sudah menunggunya.


"Mana Rionya, mbak?" tanya Angela pada lvone yang sedang melepas pakaiannya.


"Udah balik lah. Dia seperti kata lu, dia gak macem-macem!"


"Gak elu keluarin jurus pamungkas elu, mbak?" Sindir Angela pada kakaknya yang sedang membersihkan makeup.


"Gak berani gue. Padahal tadi gue ngarep Rio kissing gue. Tapi dia cuma ngomongin kerjaan dan nunjukin mobil baru untuk gue!" sambung lvone sambil memijat wajahnya dengan krim malam.


"Elu dikasih mobil?" Tanya Angela dengan ekpresi kaget. lvone lalu menunjukkan kunci mobil barunya pada Angela sambil tersenyum. Angela memeluk kakaknya.


***


"Mia, ada pengkhinat di Clan elu!" ujarku saat sambungan telponku terhubung dengan Mia.


Aku menurunkan kaca mobilku lalu menyalakan sebatang rokok.


"Pengkhianat??? Ada apa ini, sayang? Are you sure about that, Honey?" Tanya Mia dengan suara serak.


"Besok siang temuin gue di Nusa Penida! Jake sudah mengkhianati elu, Mia! Dia sudah menggali kuburannya untuk dirinya sendiri, Mia!"