
Pria tambun itu tertawa tergelak saat aku berpamitan.
"Si gendut serakah itu akan bersujud dikakiku nanti!" Batinku dalam hati. Aku melempar pandanganku pada Ivone yang sedang duduk di Coffee Shop itu sendirian. Ivone sangat cantik siang itu, pakaiannya pun elegan. Penampilannya siang itu tidak seperti wanita penggoda, kuakui penampilannya sangat menggoda. Kukedipkan mataku padanya saat Ivone menatapku yang sedang berjalan menuju lift. Setelah membereskan barang-barangku aku langsung check out dan pergi ke bandara untuk pulang ke Bali.
2 hari kemudian Ivone mengirimiku sebuah pesan singkat. Tugasnya sukses dan dia ingin bertemu langsung denganku.
Singkat kata, siang itu Ivone telah menungguku di Villa Sanur yang kujanjikan padanya tempo hari. Mobil BMW milik Ivone telah terparkir dihalaman Villa saat mobilku masuk. Ivone menungguku ditangga saat aku masuk ke ruangan tengah.
"Kita ngobrol diatas aja, Von! Bagaimana kabarmu, baik kan?" Kataku sambil menggandeng tangan Ivone naik keatas. Ivone duduk disebelahku dengan masih memakai kacamata hitamnya. Awalnya aku tak curiga ada sesuatu hal yang terjadi pada wajahnya. Saat Ivone menunjukkan hasil foto dan rekamannya. Barulah aku sadar apa yang terjadi pada wajah Ivone, di video rekaman itu terlihat saat Kusnadi meninju mata Ivone dengan keras beberapa kali saat ML. Kuhentikan video rekaman itu, dan segera kubuka kacamatanya. Mata sebelah kirinya biru lebam.
"Sakit banget, Von? Sebentar ya!"
Aku lalu berlari turun ke lantai 1 mengambil es di freezer dan handuk kecil untuk mengompres matanya. Kubaringkan tubuh Ivone di sofa sambil kukompres matanya.
"Maaf Von. Parah banget kelakuan si gendut keparat itu!" Gerutuku sambil mengompres matanya.
"Gak apa, Rio. Ini resiko pekerjaan!" Katanya sambil meringis menahan sakit. Kusingkap bajunya di beberapa bagian tubuhnya ada bekas memar. Kuolesi bagian tubuhnya yang memar itu.
"Sesuai janji gue, Villa ini jadi milik lu sekarang, Ivone. Ini pekerjaan lu yang terakhir. Dan gue akan kirim uang ke rekening elu setiap bulan. Hiduplah dengan baik mulai sekarang. Stay Away from Drugs! Klo lu masih main narkoba, gue akan stop kiriman uang ke elu!"
Ivone memelukku sambil menangis.
"Trus ini artinya gue gak akan bisa ketemu elu lagi kan, Rio?" Tanya Ivone sambil menangis.
"Untuk sementara ini mungkin elu gak akan ketemu gue dulu, Von," ujarku sambil mengompres matanya.
"Gue gak apa kerja begini asal bisa ketemu elu terus, Rio! Please!" Jawabnya sambil memegangi tanganku yang sedang mengompres matanya.
Kubelai rambutnya sambil menatap kedua matanya. Sebagai pria normal, aku tak mengingkari pesona Ivone. Kuangkat tubuhnya kugendong menuju kamar. Ivone yang kugendong langsung menciumku, begitu sampai di ranjang kami berdua langsung bergulat untuk menyelesaikan urusan gairah kami yang meletup-letup siang itu. Ivone memang pintar dalam hal bercinta, 2 jam aku dibuat lemas olehnya. Ivone memeluk tubuhku erat setelah kami selesai bercinta.
"Gue sudah punya istri dan sebentar lagi anak gue lahir. Lu wanita cantik, carilah pria baik-baik di luar sana, Von! Klo ada apa-apa, apapun itu! Jangan sungkan untuk menghubungi gue!" Ujarku lagi sambil mengelus kepalanya.
"Terima kasih, Rio!" Katanya sambil tersenyum. Setelah mentransfer foto dan video itu aku pun pamit pada lvone. Ivone mengantarku sampai ke ujung tangga. Dia memelukku lagi sambil menangis.
"Udah jangan nangis terus, mata lu jadi makin bengkak. Pergilah liburan, Von. Ajak adek lu, Angela. Besok lusa gue kirim uang saku dan tiket untuk lu liburan keliling Eropa."
Ivone makin menangis mendengar kata-kataku.
"Give me a kiss!" Kataku padanya. Ivone lalu mencium lembut bibirku. Dia mengulum bibirku sambil memelukku erat seakan enggan melepaskan tubuhku. Lalu kulepaskan ciumannya.
"Ok. Gue pamit. Baik-baik ya, Von!" Kataku lalu meninggalkan Villa itu.
...----------------...
"Pikirkan kariermu, Gendut! Klo elu gak mau video pornomu tersebar, lakukan apa kata gue. Suruh Jendralmu untuk meringkus relasinya itu. Klo dalam 1 minggu ini gue gak liat berita yang menarik di TV. Berita tentang video porno elu yang bakal jadi Hot news!" Ujarku sambil memutus sambungan telponku.
5 hari kemudian, saat aku sedang menonton TV bersama Cresa muncul berita penangkapan seorang pengusaha asal Surabaya. Berita penggerebekan Club miliknya itu lumayan Viral di portal berita TV nasional. Aku tersenyum sambil memeluk tubuh istriku.
"Siapkan pengacara yang terbaik untuk temanmu, kirim uang cash untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama dia masih menjalani hukuman," ujarku pada Dion.
"Siap bos!" Jawab Dion.
****
"Rio, sabtu depan Mr. Paolo ingin bertemu kita di Singapura!" Kata Mia menelponku.
"Baik, Mia!" jawabku singkat lalu memutuskan sambungan telponku.
Mia menyuruhku untuk datang 1 hari sebelum pertemuan untuk membahas apa saja yang akan dibicarakan Mr. Paolo pada pertemuan itu.
Aku berpamitan jauh-jauh hari sebelum jadwal keberangkatanku pada Cresa yang makin hari semakin manja kepadaku. Dia sebenarnya tidak mau kutinggal.
"Ada investor yang mau beli Resort yang gue tawarin kemarin, beb. Cuma 3 hari paling lama, sayang!" Ujarku saat berpamitan pada istriku itu. Sebenarnya aku pun malas untuk meninggalkan istriku itu. Kelahiran anakku mungkin paling lama sekitar 1,5 bulan lagi menurut perkiraan dokter.
****
Angela yang baru saja bangun mengagetkan kakaknya yang sedang sarapan sambil melamun itu.
"Hayyooooo, mbak lagi mikir apaan?!" Ujar Angela mengagetkan Ivone yang sedang sarapan roti tawar itu dengan melamun.
"Kangen dia gue, La!" Jawab lvone yang melamun sambil menaruh roti tawarnya dipiring.
M"Tuh kan! Gitu lagi lu, mbak! Ntar sakit lho, Bukannya siap-siap liburan. Malah mikirin laki orang!" Ujar Angela mengomel.
"Dia lagi apa ya sekarang, La?" Ujar Ivone dengan tatapan mata yang kosong tanpa menggubris ucapan Ivone.
"Udah ah halunya, ayo bantuin gue beres-beres baju!" Seru Angela sambil menarik tangan Ivone.
***
Hasil pertemuan dengan Mr. Paolo mengangkat Rio sebagai wakil langsung Mr. Paolo di Asia Tenggara. Dan tugas Rio yang baru adalah menjamin seluruh keamanan pengiriman di Asia Tenggara. Mr. Paolo memberikan semua nama orang penting/pejabat yang menjadi kaki tangannya di Asia. Untuk keamanan wakilnya pengawalan pada Rio pun diberikan Mr. Paolo. Pengangkatan Mia sebagai Wakil ke 2 Mr.Paolo yang wewenangnya tidak sebesar Rio. Setelah pertemuan itu, Rio dan Mia bersama-sama menuju Jakarta untuk menemui pejabat-pejabat yang akan membantu mereka berdua.
Aku dan Mia malam itu sudah berada disebuah hotel bintang 7 di Jakarta, menghadiri acara makan malam yang dihadiri oleh 8 rekanan Mr. Paolo di Indonesia. Aku dan Mia duduk bersebelahan, kemudian 8 orang penting itu datang menyalami kami. Ternyata ada orang yang kukenal diantara 8 orang itu. aku tersenyum melihat mukanya yang pucat pasi begitu melihatku.
"Selamat El Chef!" Begitu ucapan mereka saat menyalamiku. Saat si gendut giliran Kusnadi bersalaman denganku, kupeluk tubuhnya sambil berbisik untuk memancing emosinya.
"Gendut, tak disangka kita bisa bertemu lagi. Apa boleh kuputar videomu disini?" Kusnadi wajahnya langsung pucat seperti mayat.
Kusnadi lalu mencium tanganku. Aku tersenyum melihatnya. Mia pun menahan ketawanya. Aku tak berlama-lama di Acara makan malam itu. Setelah selesai makan dan berbasa basi secukupnya, aku segera kembali ke kamarku. Terdengar ketukan di pintu kamarku. Begitu kubuka Mia setelah menutup pintu lalu menyerangku dengan ciumannya.
"El Chef, gue kangen!" katanya sambil melucuti pakaianku.