
Pesta Ulang Tahun Mike berlangsung meriah, banyak orang penting hadir diacara Ulang tahunnya. Rio memang mengundang semua relasinya. Para pejabat yang tidak bisa hadir, diwakili atau minimal mengirim hadiah. Untuk menjaga 'hubungan baik' mereka dengan El Chef saat mereka nanti membutuhkan bantuannya. Acara Ulang Tahun Mike yang ke 6 itu dirayakan dengan meriah di Resort milik Rio di Nusa Dua.
Setelah acara selesai, Rio beserta Cresa dan Mike masuk ke mobil Rolls Royce miliknya. Dion duduk didepan dengan supir. Mobil itu bergerak perlahan keluar dari halaman Resort mewah itu. Tiba-tiba 2 mobil dari arah berlawanan menghalangi jalan keluar. Keluarlah 8 orang bertopeng dan bersenjata lengkap menembaki mobil mewah milik Rio itu secara membabi buta. Dion yang duduk dibangku depan berteriak pada bosnya untuk berlindung. Aku juga bergerak cepat melindungi Cresa dan Mike yang menangis dan berteriak. Untungnya supir itu tangkas, sambil menunduk mobil itu bergerak mundur dengan kencang. Tidak ada peluru yang masuk ke dalam kabin karena mobil itu difasilitasi dengan kaca dan body anti peluru. Mobilku masih diberondong peluru dari para bedebah-bedebah itu saat para petugas keamanan bergerak menghalau orang-orang yang masih menembaki mobilku. Mobilku itu akhirnya berhenti saat bagian belakang mobil menabrak kolam air mancur yang ada di halaman depan Resort itu. Pasukan pengamanan membalas tembakan orang bertopeng itu.
"Tetap disini sayang, mobil ini anti peluru! Tetap berada didalam mobil!" Kataku pada Cresa dan Mike yang sedang menangis. Aku sambil membuka pintu mobil dan menyelinap keluar. Dion pun mengikutiku sambil melindungiku. Lalu datang 2 mobil lagi, ke 8 orang itu lalu masuk dan kabur melarikan diri. Setelah keadaan aman, Aku menjemput Cresa dan Mike yang menangis ketakutan.
"Udah aman, sayang! Tenang sudah aman!" Ujarku menenangkan istri dan anakku.
Malam itu setelah sampai di Villaku, aku mengadakan rapat darurat sambil menunggu kabar dari Indra yang sedang mencari info. Kuperintahkan Dion untuk menghubungi pihak bandara dan pelabuhan untuk menutup semua pintu keluar dari Bali.
Ada kabar dari pihak pelabuhan menangkap 3 orang yang mencurigakan hendak menyeberang ke pulau jawa melalui pelabuhan Benoa malam itu, mereka berusaha menyuap petugas penyebrangan yang lalu meringkusnya. Penyerangan ternyata masih berkaitan dengan Mr. Chow pengusaha property asal Malaysia. Kuminta Bruno dan Drake untuk melacak keberadaan Mr. Chow.
Akhirnya setelah menunggu 1 minggu, persembunyian Mr. Chow ditemukan. Dia bersembunyi di sebuah pulau di bagian utara Thailand. Drake mendapatkan informasi dengan bukti foto Mr.Chow dari kenalannya yang merupakan pengedar narkotik di daerah itu. Drake dengan bantuan kenalannya itu akhirnya dapat meringkus Mr.Chow dan mengamankannya di pulau Phuket lalu dengan menggunakan pesawat carteran Mr. Chow dibawa ke pulau Bali.
Mr. Chow lalu dibawa menemuiku yang sudah sangat merindukan dirinya.
"Hello Mr. Chow! Sebelum kita bicara, ada yang sangat ingin berbicara dengan anda!" Kataku sambil melakukan panggilan Video dengan Dion. Dion saat itu sedang merangkul seorang gadis cantik berumur 20an dan seorang wanita berumur 40an. Mr. Chow langsung berteriak-teriak memanggil Istri dan anak gadis kesayangannya itu.
"Mr. Rio, saya mohon ampuni anak dan istri saya, ampuni mereka. Bunuhlah saya!"
Aku tersenyum bengis.
"Tidak ada kata ampun dalam kamus saya, Chow! Apalagi anak buahmu menembaki anak dan istriku!"
"Tenang aku pasti akan membunuhmu dengan cepat! Sekarang telpon Akuntanmu! Perintahkan dia untuk mengirim dana 3 Trilyun ke rekening ini!"
Mr. Chow lalu menelpon akuntannya menggunakan ponsel Drake. Selang 15 menit kemudian, Jaka mengkorfirmasi klo dana dari Mr.Chow sudah masuk.
"Gorok mereka berdua!" Ujarku menelpon Dion dengan panggilan Video. Mr. Chow menjerit saat melihat isteri dan anaknya disembelih Dion dengan sadis.
"Crassssh!!!" Lalu kutebas kepala Mr. Chow dengan kapak!
"Kuburkan dengan baik mayat istri dan anaknya, Dion!" Seruku lalu memutuskan panggilan video itu. Kuambil kepala Mr. Chow, lalu kumasukkan kedalam kantung plastik.
"Kuburkan badannya!" Kataku pada 3 pengawal yang berada didekatku. Aku menenteng kantung plastik berisi kepala itu menuju speedboat.
****
"Ndra, misal gue bunuh Mr. Paolo, siapa yang akan ngejar gue? Dan siapa yang bisa nglindungi gue? Gue curiga Mr. Paolo adalah otak dibalik ini semua," kataku sambil menghisap rokok dalam-dalam.
Indra diam sejenak. Dia tampak berpikir keras.
"Gue pengen berhenti dari ini semua, Ndra. Gue sudah muak menjadi suruhan Mr.Paolo. 2 tahun ini, bisnis real kita sudah tampak hasilnya. Tambang Batu Bara, Kelapa Sawit dan bisnis Resort, menghasilkan untung yang lumayan," lanjutku lagi.
"Klo bos mau berhenti, bos bisa menemui Mr. Liu di Shanghai. Saya kenal dekat dengan orang yang disegani Mr. Liu, akan saya tanyakan dulu sebelum bos bertemu Mr. Liu," jawab Indra.
"Coba Elu atur, Ndra. Gue percaya elu bisa!" Ujarku sambil menepuk pundaknya.
****
Kupandangi Cresa dan Mike yang tidur berpelukan. Sejak serangan kemarin yang hampir mencelakakan mereka, aku makin kuatir. Aku merasa tidak aman melepas mereka untuk keluar rumah. Aku lalu bangkit dan berbaring disebelah Cresa. Cresa sebenarnya sudah lama curiga denganku, Aku membeli Resort, Villa, mobil mewah, kapal, dll. Dari mana uang itu kudapatkan cukup sering ditanyakannya. Tapi Cresa memang istri yang penurut, dia tidak pernah mendebatku atau mendesakku saat kukatakan padanya agar untuk tidak ikut campur masalah pekerjaanku.
"Mama Wanda! Kenapa selama ini aku tidak berkonsultasi kepadanya?" Pikirku kesal karena kenapa baru terpikir tentang hal itu. Aku menelpon mama Wanda.
"Bonjour Rio, comment allez vous!" Ujar mama Wanda memakai bahasa perancis dengan nada gembira.
"Saya baik, ma!" Jawabku sambil melanjutkan berbasa-basi sebentar. Lalu aku menceritakan tentang keinginanku untuk berhenti dari bisnis kartel dan kejadian lainnya yang sudah aku alami. Cukup lama mama Wanda terdiam.
"Rio, mama tidak bisa menjawab pertanyaanmu sekarang, beri mama waktu 5 hari. Akan mama kabari jika mama sudah dapat kabar atau tidak," jawabnya.
"Baik ma," jawabku lagi.
Hari ini cerah sekali, angin laut berhembus sejuk, langit biru tanpa awan. Aku berpamitan pada Cresa dan Mike untuk pergi ke Jakarta siang itu.
"My Love, tolong jaga Mike baik-baik, ya!" Kataku sambil menatap matanya dalam-dalam. Cresa yang beradu tatap dengan mataku merasa aneh dengan tatapanku hari ini.
"Beb, elu gak papa kan? Are you Okay?!" tanyanya sambil memegang kedua pipiku.
"I love you all forever! With all my heart!" Jawabku sambil mengelus tangannya yang ada dipipiku.
"Mikey!!! Give your daddy, your biggest hug now!" Mike tiba-tiba menangis sambil berlari memelukku. Cresa yang memelukku erat pun menangis. Dion yang tau saat itu aku akan melakukan apa, menatapku dengan mata berkaca-kaca sambil mengalihkan tatapannya.
Kucium keduanya lalu aku berdiri dan melangkah masuk ke mobil yang siap mengantarkanku ke bandara. Kupandangi Villa mewahku sejenak sebelum aku masuk ke mobil. Aku berharap hari ini aku masih memiliki keberuntungan. Aku memasuki mobil dan mobil itu pun segera meninggalkan Villa.