MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
C L B K



"Tadi kayaknya ada yang gak mau diajak makan deh?" Sindirku pada Cresa yang memandangiku menyetir.


"Idihh suka mikir jelek duluan sih! Tadi itu pas klinik lagi rame-ramenya. Masa pasien-pasien mau kutinggal pulang, Rii?" jawab Cresa sambil memonyongkan bibirnya yang mungil.


"Iya, iya, Maafin Kakak deh!" Godaku sambil melirik Cresa.


"Kakak? Mulai kapan lu jadi kakak gue, Rii?" Ujarnya sambil melirikku.


"Mulai tadi, dek. Tadi 2 cewek di Klinik manggil gue dengan sebutan kakak!" Ujarku sambil menjulurkan lidahku kearahnya.


"Hahahaaha. itu SOP untuk menarik pelanggan, Rii. Dasar, makin tua makin centil!" Ujarnya sambil menggerakan tangannya hendak mencubit lenganku. Dengan sigap kutangkap tangannya itu. Kugenggam tangannya sambil aku menyetir. Cresa tersenyum sambil memandangi tanganku yang menggengam erat tangannya. Tangannya pun membalas genggaman tanganku.


"Mau ikan, kerang, atau semuanya, Cres?" Tanyaku saat penjual di warung makan itu membawa kami ke tempat macam-macam hewan laut yang dimasak di warung itu. Cresa memilih udang dan kakap merah untuk dibakar. Aku memilih lobster bakar dengan cumi-cumi asam manis. Kugandeng tangan Cresa ke meja yang terletak dihamparan pasir pantai jimbaran. Langit Jimbaran yang cerah membuat pemandangan di sekitar warung-warung yang berdekatan itu semakin indah di sore hari itu. Karena di tiap meja penerangannya hanya menggunakan lilin saja.


"Candle light dinner kan akhirnya kita, Cres!" Ujarku sambil tetap memegang jemarinya. Dia tersenyum sambil berbisik kepadaku.


"Boleh aku nyandar di bahumu, Rii?" Kupandangi wajahnya sambil mengangkat kacamataku kearah rambutku.


"Tentu boleh, Cresa!" Jawabku sambil melingkarkan tanganku dibahunya.


"Stttttt. Boleh Selfie gak sama kamu, Rii?" Ujarnya lagi. Aku menganggukkan kepalaku sambil tertawa. Beberapa foto selfie diambil Cresa dengan ponselnya. "Boleh aku posting foto kita di IGku, Rii?" Tanyanya lagi.


"Sekali lagi kamu nanya, kugigit lehermu sampai merah!" Godaku padanya dengan mata melotot. Kulihat ternyata follower IG Cresa lumayan banyak juga. Followernya sudah hampir 1 juta. Dia memposting foto kami berdua. Tak lama kemudian dia tersenyum-senyum sendiri.


"Liat Rii, banyak banget yang nge-like foto kita. Komennya juga lucu-lucu!" Ujar Cresa sambil menunjukan komentar dari followernya kepadaku. Ketika makanan kami datang, aku melepaskan pelukanku dan sibuk membuka kulit lobster. Cresa diam saja tanpa menyentuh makan di meja sedikit pun.


"Kamu gak makan, Cres?" Tanyaku padanya sambil menghentikan tanganku yang sedang membuka kulit lobster.


"Tadi katamu kalo nanya lagi bakal kamu gigit!" Jawabnya dengan wajah yang membuatku gemas. Aku tiba-tiba mengerti maksud ucapannya itu. Aku tertawa sambil mencium pipinya dengan gemas.


"Mau disuapin udang dulu atau kakap?" Tanyaku yang teringat saat dulu dia makan selalu kusuapi.


"Udang dulu aja, Beb!" katanya dengan suara pelan ketika mengucapkan kata 'Beb'.


"Apa??? Kata yang terakhir gak kedengaran?" Godaku berpura-pura tidak mendengar ucapannya.


"Udang, Beb!" Katanya malu-malu sambil membenamkan wajahnya didadaku. Aku pun minta disuapi Cresa. Kami berdua makan saling melemparkan senyuman. Setelah selesai makan, aku dan Cresa berjalan menyusuri pantai. Kami berjalan sambil berpelukan.


"Maaf ya soal semalam, Cresa. Aku benar-benar belum siap."


"Sudahlah Rii! Aku bisa ngerti kok!" Ujarnya tersenyum sambil menatap mataku.


"May i kissing you now?" Kataku sambil mendekatkan wajahku.


Cresa lalu mencium bibirku dengan lembut. Kunikmati bibir lembutnya. Cresa melepaskan ciumanku lalu memelukku erat. Aku menggandengnya menuju parkiran dan meninggalkan pantai Jimbaran yang saat itu diterangi sinar bulan.


Setelah berkelliling aku dan Cresa mampir ke sebuah bar yang biasanya sudah cukup ramai pengunjung. Saat weekend biasanya bar dan cafe didaerah Petitenget ramai pengunjung, entah kenapa malam itu cafe dan bar didaerah itu lumayan sepi. Aku dan Cresa duduk di sebuah meja dekat taman yang terletak di basement, suasana disitu cukup segar di bandingkan dilantai atas yang penuh dengan asap rokok dari pengunjung Bar itu. Tiba-tiba Cresa mengeluh kepalanya agak pusing. Aku pun mengajaknya untuk balik ke Hotel. Cresa memijat kepalanya perlahan dengan kedua tangannya. Padahal Cresa tidak minum minuman beralkohol malam itu, kutepikan mobilku saat melihat Apotek yang masih buka. Aku membeli pain killer dan minyak kayu putih untuk Cresa. Setelah minum obat itu sakit kepalanya agak berkurang. Saat itu jam menunjukkan hampir pukul 1 dinihari.


"Udah agak mendingan, Cres?" Tanyaku padanya yang terlihat masih memijat kepalanya.


"Udah kurang sakitnya, Rii! Makasih ya udah dibeliin obat," katanya sambil terus memijat kepalanya. Kusentuh dahinya, terasa hangat. Cresa mungkin masuk angin pikirku. Setelah sampai di hotel. Sakit kepalanya sudah hampir hilang. Cresa berjalan sambil memegang lenganku erat. Setelah memasuki kamar, Cresa langsung mengganti pakaiannya dengan sweater tebal panjang selutut. Kuselimuti tubuhnya yang mulai demam. Matanya terpejam sambil memegang erat tanganku.


"Mulutku kok terasa pahit ya, Rii. Tolong ambilkan permen karet ditasku!"


Aku pun membuka tasnya dan menemukan permen karet yang Cresa maksud. Kuberikan permen karet itu pada Cresa. Dia tersenyum sambil menarik selimutnya kearah lehernya.


"Dingin, Rii! Dingin banget!" Ujarnya dengan bibir gemetar.


"Sebentar, Aku ambil Paracetamol dulu di mobil!" Kataku langsung berlari keluar kamar. Saat aku masuk kamar, tubuh Cresa makin menggigil kedinginan. Kuminumkan Paracetamol itu. Cresa masih menggigil.


"Maaf ya, Cres!" Kataku sambil menyelimuti dan menggendong tubuhnya keluar kamar. Kugendong tubuh Cresa sambil berlari kearah mobil. Cresa memandangku dengan mata sayu. Kubuka pintu mobilku dengan susah payah sambil menggendong Cresa. Kubaringkan tubuhnya di jok depan. Situasi itu membuatku panik, kukemudikan mobilku dengan kencang menuju rumah sakit terdekat. Kucoba untuk membuat Cresa tetap sadar. Kupegangi jarinya yang terasa dingin itu. Mobilku kuparkir didepan pintu IGD rumah sakit. Kugendong tubuh Cresa yang sudah lemas itu. Beberapa perawat dan dokter jaga menyambut kedatanganku. Cresa tersenyum lemah menatapku sambil mendapat perawatan medis.


"Habis makan apa, mas? Ini sepertinya gejala keracunan makanan!" Kata dokter jaga yang menangani Cresa. Kujelaskan dengan detail Cresa makan apa saja malam itu. Syukurlah, setelah mendapat penanganan yang tepat. Tubuh Cresa berangsur membaik. Rasa mengigilnya sudah hilang. Kupegang tangan dan dahinya suhu badannya berangsur normal. Kutinggalkan Cresa dibilik ruangan IGD itu untuk menemui dokter yang tadi menanganinya. Cresa sudah disuntik anti toksin untuk menghilangkan racun ditubuhnya. Alergi makanan yang dialami Cresa kemungkinan karena bahan makanan sebelum dimasak kurang segar. Jika kondisinya berangsur membaik, Cresa sudah boleh pulang. Aku lalu segera kembali ke bilik tempat Cresa dirawat, Cresa sedang melamun saat aku masuk ke bilik itu.


"Gimana Cresa, udah baikkan kan?" Kataku sambil membelai wajahnya yang sudah tidak lagi pucat. Cresa mengangguk sambil tersenyum. Aku duduk disamping ranjangnya sambil menggenggam tangannya.


"Bobo dulu gih, Beb!" Kukecup bibirnya dengan lembut.


"Makasih, Sayang!" bisiknya dengan suara lemas. Aku mengangguk sambil membelai rambutnya.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!