MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
Countdown



Cresa menungguiku yang sedang tidur sambil membelai rambutku.


"Hmmmm whats time is it, Dear?" kataku yang masih mengantuk sambil membenamkan wajahku dipangkuan Cresa.


"Masih pagi banget, beb. Lu tidur lagi aja!" Ujarnya sambil memandangiku. Aku bangkit dan duduk sambil menggeliat. Kupeluk tubuhnya dari samping, sambil mencium pipinya.


"Mama sudah bangun?" Tanyaku lagi.


"Udah beb, lu mau ngopi? Gue bikinin ya!" Ujar Cresa sambil tersenyum.


Kutahan tubuhnya yang hendak bangkit dari ranjang.


"Disini aja, Beb. Gue masih kangen. Tadi malam gue kedinginan!" kataku manja.


Cresa tertawa lebar melihat sikap manjaku. Dia lalu memelukku erat.


"Mandi gih, mama pengen ketemu elu, beb!" Katanya lagi.


"Siap, My Darling! Minta wet kiss dulu!" Ujarku sambil memonyongkan bibirku. Bibir Cresa mengecup bibirku. Aku bergegas menuju kamar mandi. Saat Cresa melintas didepan kamar mandi, kutangkap tubuhnya dan menarik tubuhnya masuk ke kamar mandi bersamaku.


"Beb, Gue mau ke mama!" Rengek Cresa dengan manja.


"Semalam gue udah tidur sendirian. Masak mandi sendirian juga?"


Cresa tertawa sambil membuka piyamanya. Pagi itu kami mandi berdua.


Wajah mama Anggi yang muram mencoba tersenyum saat Cresa membawaku menemuinya. Aku tersenyum sambil menyalami dan mencium tangan beliau. Wajah Mama Anggi terlihat lebih tua dari usianya.


"Mama baik-baik saja kan?" Kataku membuka obrolan. Mama menganggukkan kepalanya pelan.


"Rio, maafkan tante dan Om sudah...," kata-katanya terhenti. Mama menutupi mukanya yang mulai dibasahi airmata.


"Saya sudah memaafkan mama dan papa!" Jawabku sambil berjongkok didepan mama Anggi yang mulai menangis. Cresa menghampiri mamanya dan menepuk pundak beliau dengan mata berkaca-kaca.


"Tante gak tau harus ngomong apa ke kamu, Rio. Terima kasih, kamu sudah mau membantu tante dan Cresa," ujarnya lagi.


"Saya tidak membantu apa-apa, ma. Cresa sudah sukses dengan usahanya!" jawabku sambil menggenggam tangan beliau. Mama Anggi menatap dalam-dalam mataku sambil meneteskan air mata.


"Hari ini saya meminta restu dari mama untuk menikahi Cresa. Saya sudah meminta restu dari papa semalam."


"Apakah kamu benar-benar mencintai Cresa? Klo kamu hanya ingin membalas perbuatan Cresa dulu yang meninggalkanmu, lampiaskan saja pada Tante! itu semua salah Tante, Rio.Huuuhuuhu!" Jawab mama Anggi lalu menangis terisak. Cresa memeluk mamanya untuk menenangkannya.


"Tidak ada niat saya untuk itu, ma. Saya harap mama percaya kepada saya. Saya benar-benar mencintai Cresa, Ma!" Ujarku lagi.


"Cresa itu janda, Rio. Apakah keluarga kamu bisa menerima status dia yang seperti itu?" Tanya mama lagi. Ternyata semalam Cresa belum bisa bercerita banyak kepada mamanya, karena Cresa harus menenangkan mamanya yang terus teringat perlakuan papa yang mengusirnya dari rumah.


"Saya dan Cresa sudah menemui orang tua saya sebelum mendatangi mama dan papa kemarin malam. Mereka sudah merestui hubungan kami!"


Mamanya lalu menoleh kearah Cresa yang berada disampingnya. Cresa pun menganggukkan kepalanya. Mama Anggi lalu turun dari kursi dan langsung memelukku.


"Terima kasih, Rio. Terima kasih kamu dan keluargamu sudah mau menerima Cresa!" ujar mama sambil memelukku dengan badan bergetar karena menangis.


"Mama sudah saya anggap sebagai orang tua kandung saya, mulai sekarang mama akan tinggal bersama kami," ujarku sambil membalas pelukkannya.


Mama mengangguk sambil tersenyum. Mama melambaikan tangannya pada Cresa yang masih berdiri terpaku menatap kami. Cresa menghampiri mama dan aku yang duduk diatas karpet. Mama lalu memeluk kami berdua dan mencium kepala kami berdua.


Singkat kata. Sore itu kami sudah tiba di Bali. Pak Kadek menyambut kedatangan kami, saat kami masuk ke Villa di meja makan sudah terhidang makanan untuk kami nikmati. Kamar untuk mama Anggi pun sudah disiapkan oleh pak Kadek. Mama Anggi tertegun begitu berkeliling melihat Villa itu ditemani Cresa.


"Ini rumah kalian, nak? Mewah sekali!" Kata mama Anggi sambil menggandeng tangan Cresa kearah kolam renang. Cresa lalu menceritakan kisahku pada mamanya.


"Ma, Cresa, kita makan dulu yuk!" Ajakku setelah mengganti bajuku. Mama dan Cresa berjalan menuju meja makan.


"Habis ini kita ke mall, beb. Elu ajak mama belanja ya!" Bisikku pada Cresa yang duduk disampingku. Cresa menganggguk. Lalu ponselku bergetar, kulihat dilayar papa yang menelponku. Aku pamit untuk berbicara dengan papa ditepi kolam renang.


"Rio, kamu dimana nak? Apa sudah sampai Bali?" Tanya papa.


"Ini mama tanya ada uang masuk ke rekening mama 800 juta transferan dari kamu katanya. Untuk apa uang sebanyak itu kamu kirim, nak?" Tanya papa lagi dengan suara bergetar.


"Ohh. Rekening papa tadi Rio coba transfer tapi gak bisa masuk uangnya. Jadi Rio kirim ke rekening mama, maaf ya pa. Pake aja uang itu, pa! Sekalian untuk jaga-jaga kalo ada kebutuhan mendesak. Salam untuk semua ya! Rio baru sampe ini!" Jawabku lagi.


"Iya nak. Terima kasih!" Ujar papa lalu memutus sambungan telpon itu.


Setelah makan, Cresa dan aku membereskan meja makan bersama-sama. Mama Anggi tersenyum melihat kami berdua. Setelah itu kami bertiga berangkat ke mall.


Aku menunggu Cresa dan mamanya yang sedang berbelanja. Aku mengobrol dengan Tania yang menelponku. "Rio, lu sudah di Bali kan? Lu jangan bikin gue jantungan! 4 hari kedepan klien gue dari Eropa udah booking tempat!" Kata Tania dengan nada panik.


"Tan, siapin kamar dobel ya buat gue. Mamanya Cresa besok gue ajak ke Ubud untuk liburan," jawabku pendek.


"Soal kamar gampang deh, besok lu ada 4 FD, 1 di resort gue dan 3 FD di Westin. Terserah lu mau nginep dimana," jawab Tania.


"Besok aja gue putusin nginep dimana. Jam 7 gue udah siap ditempat elu, Tan. Thanks ya!" Ujarku mengakhiri percakapan kami.


Mama Anggi dan Cresa sudah selesai berbelanja. Setelah makan malam kami pun segera kembali pulang.


Mama dan Cresa sedang membereskan belanjaan mereka. Sementara aku menyiapkan keperluanku untuk pekerjaanku besok. Setelah selesai aku kembali ke ruang tengah. Cresa telah selesai membantu mamanya berberes. Dia membawa 2 cangkir teh untukku dan mama. Mama tersenyum melihat Cresa yang terlihat riang.


"Beb, besok kita ke Ubud lagi. 4 hari doank. Mama sekalian ikut aja ya, Ma!"


"Ubud? Kamu kerja disana? Jauh sekali, Rio!" Jawab mama.


"Ikut aja, ma. Sekalian jalan-jalan. Rio cuma kerja 4-5 jam sehari. Sekalian liat calon mantu mama masak!" Kata Cresa sambil duduk disebelahku.


"Kamu itu Koki?" tanya mama dengan nada heran.


Aku mengangguk sambil tersenyum.


"Ma, Rio tidur dulu. Besok kita berangkat pagi-pagi sekali. Jam 7 sudah harus tiba disana."


Aku mencium Cresa dan mencium tangan mama lalu berjalan menuju kamarku.


"Rio itu cuma seorang koki tapi kok bisa punya rumah seperti ini? Mobilnya pun mewah," Tanya mama Anggi penasaran.


Cresa lalu menjelaskan bagaimana pekerjaan Rio pada mamanya.


Mama Anggi terkagum-kagum mendengar penjelasan Cresa. Cresa lalu mengajak mama untuk menyiapkan barang untuk besok.


Setelah mamanya tertidur, Cresa menyusul Rio ke kamar. Rio sudah tertidur lelap. Cresa memandangi wajah lelaki tampan yang sedang tidur seorang diri itu. "Tuhan, terima kasih sudah mengirim Rio kembali bertemu denganku. Jangan pisahkan kami lagi!" Doa Cresa dalam hati sambil menyelimuti Rio. Setelah mencium bibir Rio, Cresa segera ke kamar dan tidur bersama mamanya.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!