MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
NEW RESORT



Setelah bertemu dengan Mia di Nusa Penida siang itu dan menjelaskan semua kejadian pada Mia, aku segera pulang ke Singaraja bersama Indra dan Dion.


Aku sudah berjanji untuk makan malam di rumah dan menemani Cresa. Cresa sedang berjalan jalan di dalam kolam renang saat aku datang. Mukanya cemberut saat aku datang. Aku duduk ditepi kolam renang sambil memandanginya berendam sambil berjalan berkeliling mengitari kolam.


"Sudah gak kangen sama sekali sama istrinya yang sudah gendut ini ya?" Sindirnya tanpa menoleh kearahku. Aku tersenyum mendengarnya, tanpa membuka pakaianku aku masuk ke kolam itu dan memeluknya.


"Baru gue tinggal beberapa jam, sudah ngambek aja elu, sayang!" kataku sambil memeluknya dari belakang. Cresa masih ngambek, dia tidak menoleh samasekali kearahku. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang manja. Lalu kuelus-elus perutnya perlahan.


"Adek, mama marah nih sama papa. Bilangin mama donk jangan marah terus sama papa!" Ujarku sambil terus mengelus perutnya dengan lembut. Tiba-tiba perutnya bergerak, ada tonjolan kecil yang bergerak diperutnya. Cresa tertawa lalu menghadapku dan mencium bibirku.


"Dasar tukang ngadu!" Katanya sambil mengalungkan kedua tangannya ke leherku.


"Dia sudah bisa diajak ngomong, beb!" Jawabku tersenyum lebar sambil membalas ciumannya.


"Gue kangen!" Bisikku menatapnya manja.


"Naik yuk, sayang!" Bisikku sambil mengedipkan mata. Kami berdua naik dan berjalan sambil berpelukan menuju kamar.


Kubelai lembut tubuh istriku itu setelah kami bercinta sore itu.


"Sayang, elu gak jijik liat badanku yang sudah gak berbentuk dan gak seksi lagi?" Kata Cresa sambil memelukku.


"Nggak akan pernah dan tidak sama sekali, beb. Gimana gue bisa jijik, elu wanita pertama yang nyerahin kegadisan elu ke gue, sampai elu ngandung anak gue! Misal badan elu sampai meledak dan jadi gemuk sekali pun, gue akan tetap cinta dan sayang sama elu!"


"Tapi setelah melahirkan nanti badan gue gak akan mulus lagi seperti dulu, sayang!" Ujar Cresa lagi sambil menunjukkan strechmark ditubuhnya.


"Hihihihi. Gue akan bawa elu ke pusat perawatan tubuh untuk ngilangin itu! Okay? Its a piece of cake, Honey. Apa ada masalah lagi, Tuan Putri?" Balasku sambil mencium kepalanya dan membelai rambutnya.


"Pelukin gue sampe tidur, sayang!" Ujarnya sambil membalikkan tubuhnya membelakangiku. Kupeluk tubuhnya dari belakang sambil mengelus perutnya. Kucium lembut lehernya yang wangi.


"I love u, Sayang!" Bisikku. Cresa memejamkan matanya sambil mengulas senyum dibibirnya.


****


Jaksa kepala itu mengundangku ke kantornya untuk maka siang. Aku penuhi undangannya didampingi Indra. Ferry menyambutku ramah dikantornya bersama staffnya. Setelah makan siang bersama, aku meminta berbicara dengan Ferry berdua saja.


"Siapa yang memberi kabar bohong tentang Club saya?" Tanyaku ketika berdua saja dengan Ferry. Ferry memberi tahuku identitas lengkap pengusaha yang melaporkanku itu. Ferry juga berjanji untuk memberi informasi dari pihak aparat hukum yang terkait dengan bisnisku. Aku tertawa mendengar ocehannya, dan aku hanya mengganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih. Aku lalu meninggalkan kantor Kejaksaan.


Aku menyebutkan nama pengusaha asal Surabaya yang melaporkanku pada Dion dan Indra. Kuminta mereka mencari tau semua hal tentang pria itu. Lalu aku menemui Cresa yang sedang asyik ngobrol dengan Tania. Tania menyapaku saat aku menghampiri mereka.


"Bos, jangan tebar pesona mulu kata Nyonya lu!" Sindir Tania yang menyidirku berpakaian rapi hari ini.


"Gue habis ngurus ijin dan nemuin kepala kejaksaan, Tan. Masak gue mau pake kaos oblong doank!" Ujarku tersenyum.


"Istri gue makin seksi kan, Tan?" Lanjutku sambil mengecup pipi Cresa.


"Seksi apaan coba, paling pinter deh kalo ngegombal!" Sahut Cresa.


Kupeluk tubuhnya dan kuelus perutnya.


"Adek, mama...,!" Belum selesai ucapanku tanganku sudah dicubit Cresa.


Tania tertawa melihat perang mulut kami.


"Beb, gue mau ngomong kerjaan dulu sama Tania diatas ya!" Ujarku memnita ijin pada Cresa. Cresa mengangguk, ia lalu memanggil karyawati club untuk menemaninya.


"Tan, lu ada info resort dijual gak? Resort yang masih running dan gak perlu renovasi gede-gedean."


"Ada 2 sih, kebetulan gue kenal baik sama beberapa pemegang saham majornya. Dijual murah dan pembayarannya pun fleksibel banget. Kenapa? Lu ada investor?" Tanya Tania lagi.


"Buka harga berapa?"


"Sebentar, sebentar!" Jawab Tania sambil memeriksa file di ponselnya "Yang di Nusa Dua, buka 800M nego luas 5ha. Yang di Ubud minta 550M. Luasnya lebih kecil 2,5ha."


"Besok antar gue liat lokasinya. Kita ke Ubud dulu, trus setelahnya ke Nusa Dua. Gue jemput elu di Ubud, Okay?" Ujarku lalu mengajak Tania untuk turun.


Setelah dari Club dan dokter memeriksakan kandungan Cresa. Aku mengajak Cresa untuk menginap di Villa papa dan mana di Ubud. Sekaligus mengunjungi mereka. Cresa juga sudah kangen dengan orang tuanya. Saat kami sampai keadaan rumah itu tampak ramai. Ternyata papa mengadakan acara makan-makan mengundang warga sekitar. Cresa ditemani mama membaur dengan ibu-ibu dan wanita. Aku ikut bergabung dengan papa dan pak Wayan yang sedang memanggang ikan di taman belakang. Aku mengobrol dengan kepala desa yang kebetulan datang, jika butuh sumbangan untuk kegiatan desa atau perbaikkan jalan jangan sungkan untuk menyampaikannya pada papa. Hal itu agar para penduduk sekitar ikut menjaga keluargaku.


****


Pagi itu aku meninggalkan Cresa bersama papa dan mamanya untuk melihat lokasi Resort dengan Tania. Setelah selesai dengan lokasi di Ubud, kami bergerak ke daerah Nusa Dua. Fasilitas resort di Nusa Dua lebih bagus dari resort di Ubud. Fasilitas dan kondisi propertynya pun lebih terawat. Setelah diajak berkeliling oleh Tania dan manajer resort itu, kami meninggalkan tempat itu.


"Berapa kira-kira harga yang pantas untuk resort itu, Tan?" Tanyaku sambil menatap kedepan.


"500M gue rasa itu harga yang pantas, jangan lebih dari itu. Klo bisa putus dibawah 500M itu rejeki untuk investor elu, Rii!" Tandas Tania lagi.


"Misal elu jadi manajer disana, apa yang akan elu lakuin?" Tanyaku lagi untuk mengetahui rencana Tania.


Tania menjelaskan beberapa strategi marketingnya untuk meningkatkan tingkat kunjungan seperti yang dia lakukan di resort yang pernah ditanganinya.


"Sultan Arab ya, Rii! Investor elo?" Canda Tania.


"Hehehhe, orang lokal aja, Tan!"


"Spill donk, siapa?" Desak Tania penasaran.


"Cresa. Namanya Cresa!"


"MUKE GILE LU, RIO! Lu becanda mulu ahh. Lu jahat banget! Gue udah kebayang komisi gue lhooo, Rii!" Jawab Tania dengan suara Lemas.


Aku menepikan Mercedes yang kutumpangi dengan Tania dipinggir jalan. Aku mengambil ponselku dan membuka rekening bank atas nama Cresa dan memberikan ponselku padanya.


"Tania, Gue serius, gak becanda lah!" Ujarku sambil tersenyum melihat wajah Tania yang makin kaget setelah melihat saldo rekening milik istriku. Tania lalu tersenyum.


"Boleh gue peluk gak? As a friend ini!" Ujarnya lalu memelukku. Aku tersenyum lalu kembali mengemudikan mobilku.


"Gila, ternyata selama ini temen gue Sultan! Hahahhaha!" Tania tertawa terbahak-bahak.


"Lu tawar resort itu, gue bakal bayar seperti omongan lu tadi maksimal 500M. Klo elu bisa nawar dibawah itu. sisanya uangnya boleh elu ambil, Tan!"


"Siappp pak boss!!!" Ujar Tania tersenyum girang.