MY NAME IS RIO...

MY NAME IS RIO...
BERTEMU CRESA!



Aku melangkah keluar bandara Ngurah Rai. Dengan menaiki taksi Bandara, aku meluncur menuju Hard Rock Cafe Bali. Tania telah menunggu dengan Robin sore itu, setelah Tania selesai menunjukkan berkas-berkas kontrak yang telah ditanda tangani oleh Notaris. Kami lanjutkan dengan mengobrol santai sore itu. Akhirnya Robin dan Tania berpamitan, karena ada acara di tempat lain. Aku berjalan menuju mall yang tidak jauh dari situ. Tampak pemandangan pantai Kuta yang sore itu sangat ramai. Aku berjalan menyusuri pertokoan diseberang pantai Kuta sambil menenteng koper kecilku. Tak lama kemudian sampailah aku di mall yang lokasinya tepat diseberang pantai Kuta itu. Aku mampir ke sebuah Resto & Cafe yang berada tepat didepan pintu masuk mall. Aku duduk menunggu makanan yang sudah kupesan. Kuteguk sebotol bir sambil memandangi pantai Kuta yang dipadati turis sambil menunggu Sunset. Kutelpon Eva, tapi tidak ada jawaban. Aku merokok sambil melamun.


Terasa pundakku ditepuk lembut dari belakang.


"Rio???" Terdengar suara wanita dari arah belakang kursiku. Aku pun menolehkan kepalaku kearah suara itu berasal.


Wajah wanita cantik itu sangat kukenal!


CRESA! YA DIA ADALAH CRESA! Kulepaskan kaca mata hitamku pelan-pelan. Cresa bergerak mundur dari tempatnya berdiri. Aku memandanginya dengan tatapan tajam. Tanganku mengepal dan rahang mengatup rapat. Kuatur nafasku. Dadaku berdebar kencang menahan emosi yang sudah lama kusimpan.


"NO HURT FEELING, RIO!" Gumamku berulang-ulang didalam hati untuk menenangkan emosiku yang sedang berkecamuk. Cresa memandangku dengan mata berkaca-kaca. Kuredam amarahku yang terasa hendak meledak. Kutarik nafas panjang dalam-dalam. Kumasukkan kaca mata hitamku ke dalam saku kemejaku. Aku merasa agak lebih baik daripada tadi. Aku pun menjulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya.


"Apa kabar, Cresa!" Sapaku padanya dengan nada yang aneh untuk ukuran orang yang sudah lama tidak bertemu.


"Baik, Rii. Boleh aku duduk disitu dengan kamu?"


Aku tersenyum masam padanya sambil bergerak menarik kursi diseberang kursiku untuknya.


"Terima kasih!" Ujarnya sambil menduduki kursi itu.


"Kabarmu kelihatannya baik-baik saja, Rii. Kabarnya mbak Vina bagaimana?" Tanyanya lagi untuk mencairkan suasana yang kaku.


"Vina baik-baik...," jawabku singkat sambil meneguk birku langsung dari botolnya. Mataku sambil menatap matahari yang hampir terbenam.


"Rii, Aku mau minta maaf. Aku tau itu sudah gak penting, i owe you an apology!" Kata Cresa sambil menundukkan mukanya.


"You don't owe me anything! Especially not an apology. Let's just forget about it, Cresa!" Kataku sambil tersenyum kecut aku masih mencoba meredam emosiku.


Aku melambaikan tanganku dari kursiku memanggil pelayan.


"Kamu gak mau pesan apa-apa, Cresa? Mbok, Saya minta bir 1 botol lagi ya!" Cresa pun memesan segelas Orange juice.


"Boleh sekarang aku cerita kenapa aku gak ngabari kamu, Rii? Apa kamu punya waktu untuk dengerin ceritaku, Rii?" Ujarnya dengan mimik muka memelas.


Aku hanya menganggukkan kepalaku sambil melipat tanganku. Dan Cresa pun memulai ceritanya. Bahwa dia pindah ke Semarang untuk menikah dengan kolega papanya untuk melunasi hutang papanya yang bangkrut. Selepas SMA dia tidak meneruskan ke bangku kuliah karena suaminya tidak mengijinkan dia untuk kuliah. Dia mulai meneteskan air matanya saat pelayan mengantarkan pesanan kami. Pernikahan yang awalnya terpaksa, sebagai balas budi anak kepada orang tuanya. Awal pernikahannya dijalani dengan sulit karena dia tidak mencintai suaminya. Suaminya yang lebih tua 15 tahun itu dengan sabar menghadapi Cresa yang masih sangat muda. Setelah selesai SMA sebenarnya Cresa telah bersepakat dengan suaminya untuk bercerai. Tapi keadaan berkata lain, suami Cresa mengalami kecelakaan saat keluar kota dan akhirnya suaminya divonis lumpuh oleh dokter. Disitulah yang awalnya Cresa sangat membenci suaminya, berubah menjadi mencintai suaminya yang sudah lumpuh. Dan kemudian suaminya meninggal 11 bulan yang lalu. Cresa sekarang sudah menjanda. Dan sekarang dia hidup sebatang kara, sementara hidup menjauh dari papa dan mamanya.


"Aku gak berharap apa-apa dari kamu, Rii. Klo kamu mau marah pun aku bakal terima kemarahanmu. Aku cuma mau minta maaf sama kamu, Rii. Aku minta maaf karena gak kasih kabar ke kamu. Aku gak mau kamu tau hidupku dan impianku sudah hancur saat aku pisah sama kamu di bandara hari itu!" Katanya menutup ceritanya sambil meneteskan air mata.


Aku menarik nafas panjang setelah mendengar ceritanya. Aku berpikir dan berhati-hati tentang apa yang akan kukatakan pada Cresa.


"Thanks, Cresa. Kamu udah ceritain cerita sedih kamu. Aku bingung harus ngomong apa. Mudah-mudahan kamu bisa nerusin hidup kamu setelah ini. Kita pernah punya cerita indah dulu. Aku sudah kubur cerita itu. Aku sudah dengar cerita kamu, aku harap kita masih bisa berteman baik, Cresa! Aku sudah maafin kamu, waktu aku ngubur kenangan indahku dengan kamu!" Jawabku sambil menepuk punggung tangannya. Cresa memegang tanganku yang menepuk tangannya. Lalu dia bergerak memeluk tubuhku erat. "Thanks ya Rii, klo kamu udah maafin aku!" Katanya sambil tersenyum dengan mata yang masih basah.


Ponselku bergetar, Eva menelpon. Aku melepaskan pelukan Cresa dari tubuhku.


"Cresa, i have to go now!" Kataku sambil berdiri dari kursiku.


"Ok, Rii!" Jawabnya sambil bangkit dari kursinya.


"Hmmm, boleh aku minta nomer telponmu, Rii?" Tanya Cresa lagi ketika aku membayar bill.


"Udah ya, kamu baik-baik ya! Aku pamit!" Kataku sambil membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Cresa.


Kutelpon Eva saat aku sudah kamar hotel.


"Bebiiih, tadi kok gak diangkat sih telponnya?" Kata Eva dengan nada kesal diujung telpon.


"Tadi aku lagi mandi, beb!" Jawabku bohong pada Eva.


"Maafin aku sayang udah bohongin kamu hari ini!" Sesalku dalam hati.


"Kapan pulangnya, Beb? Apa gue yang kesana aja? Gue kangen!" Katanya lagi dengan nada manja.


"Besok atau lusa gue pasti pulang, Beb! I missing u so much too, Honey!" Jawabku sambil menghempaskan tubuh diatas ranjang.


Aku dan Eva bertelponan sampai tengah malam. Karena mengantuk Eva pun menyudahi telpon malam itu. Saat telpon dengan Eva usai. Terdengarlah nada notifikasi ada pesan singkat yang masuk. Kulihat pesan singkat yang masuk itu. Pesan singkat itu dari nomer yang tidak kukenal.


"Ini nomerku, Rii. Your Bestie." Begitu isi pesan singkat itu. Itu pesan singkat dari Cresa!


Mataku malam itu kembali terus terjaga. Setiap kupejamkan mataku, selalu terngiang-ngiang lagi ditelingaku cerita sedih Cresa tadi sore.


Wajah Cresa yang sedih saat bercerita padaku kembali terbayang.


Wajahnya yang selalu ceria saat masih bersamaku dulu tidak tampak lagi diraut wajahnya. Terbayang juga wajah Eva yang akhir-akhir ini selalu menemaniku. Saat itu aku merasakan dilema. Andai pertemuanku dengan Cresa terjadi sebelum aku menjatuhkan pilihanku untuk serius pada Eva. Andai waktu bisa kuputar kembali. Umur Cresa belum lewat 25 tahun dan dia sudah menjadi janda! Sesuatu hal yang pasti tidak pernah terbayang bahkan terlintas di pikiran seorang cewek cantik seperti Cresta!


Ponselku bergetar diatas meja. Aku melompat dari tempat tidurku, kuangkat telpon dari Vina.


"Halo! Rio belum tidur lu?" Terdengar suara riang Vina.


"Baru juga mau merem, Vin. Ada apa jam segini lu telpon gue?" Jawabku sambil mengambil bir dingin di kulkas.


"Hihihi! Iseng aja, Rii. Tiba-tiba kepikiran elu aja. Lu baik kan?" Tanya Vina.


"I'm not well, Vin. Whoooosahhh!" Jawabku sambil menarik nafas panjang.


"Whats wrong? About Eva's again?" Tanya Vina dengan suara parau.


"Bukan soal Eva. Dengerin dulu, jangan dipotong sebelum cerita gue selesai, janji?"


"Iye, iye! Cerita gih! Buruan!" Kata Vina lagi.


Lalu aku bercerita tentang kejadian tadi sore kepada Vina. Vina mendengarkan ceritaku dengan hening sampai selesai.


"No comment, Bro. Bukan salah elu, dan bukan salah Cresa juga klo dia gak ngabarin elu saat itu. Seperti yang gue bilang ke elu dulu, keadaan yang bikin elu dan Cresa seperti itu. Jangan ngorbanin Eva karena rasa simpati elu ke Cresa. Pikirin perasaan Eva juga, Rii. Lu boleh iba pas dengerin cerita Cresa. Tapi inget! Lu udah gak sendiri sekarang, lu udah punya Eva! Jangan bikin posisi lu makin sulit! 4 tahun lu tanpa siapa-siapa. Saat elu udah punya komitmen ada aja godaannya. Itu akan selalu ngebayangin elu, Rii. Cresa boleh lu anggap temen. Jangan lu kasih harapan lagi ke dia, gak kasian lu sama dia?" Nasihat Vina ada benarnya, memang hatiku sedang bimbang sejak tadi sore karena memikirkan cerita Cresa.


"Iya Vin, Doain hubungan gue sama Eva lancar ya, Vin! Udah dulu ya, gue ngantuk banget nih!" Jawabku pada Vina sambil mengakhiri telpon malam itu. Entah kenapa wajah Cresa memenuhi kepalaku malam itu.


Ditunggu komen, follow dan like-nya ya Gess.Thanks a lot buat kalian yang sudah mampir!