Love Shot

Love Shot
Serigala yang Sedang Sensitif



"Tanganmu terluka, biar aku yang menggendong Freya," pinta Wardhana.


"Jangan berani menyentuh Freyaku," bentak Ansel.


Wardhana mengangkat kedua tangannya ke udara, ia tidak berani menyentuh Freya tanpa seizin pemiliknya. "Michael arahkan boonya ke sini!"


Bawahan Wardhana memindahkan tangga otomatis ke arah Wardhana. Ia berjalan terlebih dahulu disusul Ansel yang menggendong Freya. Dibawah sudah ada Haidar dengan wajah yang pucat pasi dan penampilan yang acak-acakan seperti seorang yang baru bangkit dari kubur. Ansel menyerahkan Freya pada Haidar. Haidar menerima Freya, memindahkan kedelapannya. Ansel melompat turun dari boo kemudian mengambil kembali Freya dari gendongan Haidar. Ansel berjalan cepat sambil menggendong Freya menuju ambulan untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Wardhana berjongkok sejenak kemudian merebahkan tubuhnya di tanah, menatap langit dengan napas terengah-engah.


"Aku kira, hari ini hari terakhirku melihat langit," ujar Wardhana.


Haidar berjongkok di samping Wardhana. "Kakiku terus bergetar setelah bawahanmu menelpon, mengabarkan kalau Freya terjebak dalam kebakaran."


"Aku hampir pingsan tadi, saat Ansel panik belum menemukan istrinya," seringai Wardhana.


"Dasar bod*h. Kenapa kita jadi ikut ketakukan setengah mati hanya karena istri orang lain," seringai Haidar. "Kamu terluka?"


"Tidak, tapi Ansel terluka. Kamu tidak mengejar Ansel?"


"Ini saatnya kita diam. Jika mendekati serigala yang sedang sensitif, itu artinya bunuh diri. Gedungmu bagus, bahkan tidak terbakar hanya mendapat imbas asap saja," puji Haidar.


"Ya, tetap saja aku tidak akan lolos dengan mudah dari sepupuku. Padahal jika kamu lihat, kesalahanku hanya satu. Mensetting ruang server terkunci otomatis saat terjadi kebakaran untuk mengamankan data. Namun, karena itulah Freya tidak bisa keluar dan terjebak asap disana. Esok pasti akan menjadi hari yang panjang untukku. Seharian aku pasti dapat amukan Ansel," keluh Wardhana.


"Visamu tidak akan berfungsi bila mencoba melarikan diri dari Ansel," ejek Haidar.


"Bagaimana kabar kucing kecilku, Kyra?" Wardhana mengganti topik pembicaraan, ia tidak ingin lebih tertekan lagi terus memikirkan nasibnya menyongsong hari esok.


"Dasar ... disaat seperti ini kamu masih memikirkan adikku. Kyra saja mungkin sama sekali tidak mengingatmu," ledek Haidar.


Wardhana menghembuskan napas kasar. "Bisakah kamu tidak perlu protes kakak ipar, cukup jawab pertanyaan adik iparmu ini saja."


"Kyra masih seperti biasa, tidak bisa diatur, manja, ceroboh dan ceria. Kamu puas adik ipar," ujar Haidar mengeluarkan tangan bermaksud membantu Wardhana duduk.


Wardhana menerima uluran tangan Haidar. Disaat bersaan Freya sudah mendapatkan pertolongan pertama. Freya memakai masker oksigen, matanya mengerjap-erjap menandakan kesadaran Freya akan segera kembali. Perlahan manik coklat Freya muncul ke permukaan.


"Aku disini, sayang," ujar Ansel.


Freya memperhatikan sekitar, ternyata ia ada di dalam mobil ambulans. Freya mencopot masker oksigen yang di pasang tim medis.


"Jangan dicopot," pinta Ansel


"Aku sudah tidak memerlukan ini," elak Freya menaruh masker oksigen di matras. Freya beranjak turun dari mobil. "Aku mau pulang."


Ansel menahan tubuh Freya. "Kita harus ke rumah sakit dulu. Kamu harus di periksa," ujar Ansel. Ia masih khawatir dengan kondisi Freya.


"Aku benar tidak apa-apa Ansel. Aku hanya terserang gejala panik tadi. Aku tidak sadarkan diri karena menghirup karbondioksida, sekarang aku baik-baik saja," jelas Freya mencoba turun dari mobil. Kakinya menginjak selang hingga tubuhnya terhunyung, beruntung Ansel yang berdiri di luar mobil dengan sigap menangkap tubuh Freya yang gontai.


"Kamu masih belum baik-baik saja," bentak Ansel, kesabarannya semakin menipis akibat ketidak patuhan Freya.


"Aku ingin pulang," rajuk Freya, air mata menggenang di pelupuk manik coklat Freya.


"Aku hanya ingin mengurangi rasa khawatirku. Lihat tanganku masih berkeringat. Jantungku masih berdebar-debar karenamu, melihat sayangku terbaring tak berdaya di lantai ruangan yang dipenuhi asap. Menurutlah ya, bantu aku menenangkan hatiku," rayu Ansel, mengecup pundak Freya.


Freya merasa iba pada Ansel, ia sudah membuat Ansel kesulitan. Freya melepaskan pelukan Ansel, jemari Freya tidak sengaja menyentuh tangan Ansel. Cairan merah berbau amis menempel di jari Freya.


"Apa ini, kamu terluka?" tanya Freya panik.


Next \=>


πŸ₯° baca juga Cinta itu Kamu ya ...


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.