Love Shot

Love Shot
Debaran Pertama



"Pagi beb, belum juga nikah udah honeymoon," ucar Flora mengganggu Freya.


"Honeymoon apaan ... ini lebih tepatnya penyiksaan bukan bulan madu," jelas Freya dengan malas, pipinya masih menempel di meja kerja.


"Aduh memang abis berapa ronde sampai dua hari gak masuk ?" tanya Flora menggoda Freya.


"Berronde-rode puas ?" Freya sekilas menatap Flora kemudian kembali ke posisi malasnya, "jangan menggodaku Flo. Aku sedang tidak mood, badanku rasanya remuk semua." Freya mengibas tangan, mengusir Flora.


Flora menangkap tangan Freya kemudian berseru, "Wow it's Amazing."


Freya mendongak, memperhatikan Flora yang sedang meneliti cincin yang melingkar dijari manis Freya.


"Ini cantik, aku juga mau." Flora mengambil gambar cincin Freya lalu mengirimkan ke kekasihnya.


"Apa yang kamu lakukan Flo ?" tanya Freya.


"Aku mengirim gambar cincinmu pada kekasihku agar dia peka aku juga ingin segera dilamar." Flora tersenyum.


Freya menarik tangan dari cengkraman Flora, "ini hanya hadiah bukan cincin tunangan."


"Wait ... otak aku belum bisa memproses ucapanmu. Mana mungkin ini bukan cincin tunangan. Apa kamu tidak tahu maksud Ansel memberimu cincin ?" tanya Flora agak kesal dengan Freya yang polos.


"Ansel hanya memasukan cincin ke jariku dia cuma mengatakan kalau harapannya tertuang disana, seperti arti batu rubi merah. Ansel tidak bilang maukah kamu menikah denganku," jelas Freya.


"Memang apa arti batu rubi merah ?" tanya Flora penasaran.


"Kenapa tanya padaku, aku bukan tukang perhiasan cari saja artinya di internet," ujar Freya menyeringai mencopy ucapan Ansel.


"Terserah apapun artinya, tapi aku yakin itu kata-kata yang romantis," Flora mencengkram kembali tangan Freya, "Freya sahabatku yang paling cantik, memang kalau melamar harus selalu berkata maukah kamu menikah denganku ?"


Freya Mengangguk menjawab pertanyaan dari Flora, "harusnya kan seperti itu."


Flora menghempaskan tangan Freya.


"Itu hanya ekspektasi tapi realita tidak semua pria melakukan hal tersebut. Seperti Liam, waktu memberikan cincin padamu dia bertanya maukah kamu menikah denganku. Namun pada kenyataannya dia tidak akan menikahimu. Ayolah berpikir logis. Ansel tidak berkata seperti itu karena Ansel sudah berjanji akan menikahimu secara langsung kepada ibu, bukan hanya sekedar bertanya seperti Liam," jelas Flora.


"Sekarang kamu mendukung Ansel. Kamu sudah menerima uang sogokan seberapa banyak dari Ansel ?" tanya Freya menggoda Flora.


"Sorry ya ... tak perlu uang sogokan. Flora yang lebih cantik daripada Freya memang dari awal juga sudah pro Ansel. Ansel ... Ansel ... semangat ... aku padamu." Flora bersorak kegirangan.


"Haruskah aku rekam ucapanmu lalu aku berikan pada Jonathan tercinta," goda Freya lagi.


"Jangan ... jangan ampun. Tadi kamu bilang Jonathan tercinta. Jonathan itu milikku, tidak boleh ada wanita lain yang mengatakan cinta pada Jonathan." Flora tersenyum teringat wajah Jonathan yang tampan.


"Apa, siapa yang mengatakan cinta pada Jonathan. Kamu harus ingat aku sudah punya Ansel, untuk apa aku melirik Jonathan dan lagi Ansel itu lebih segalanya daripada Jonathan mu," ujar Freya.


"Cie ... cie ... sekarang udah ngaku. Ansel sudah jadi kepunyaan Freya," goda Flora menunjuk wajah Freya yang memerah.


Freya mendorong Flora, mengusirnya dengan paksa untuk keluar dari ruang kerja. Setelah bekerja keras akhitnya Freya berhasil mengeluarkan Flora.


Flora yang terusir mengetuk-ngetuk pintu kaca ruang kerja Freya sambil masih tertawa menggoda sahabatnya. Freya memelototi Flora. Flora berpura-pura takut kemudian berlari tunggang langgang menuju ruangannya.


Kenapa aku harus mengatakan aku punya Ansel ... Flora pasti akan terus menggodaku karena hal itu. Padahal aku hanyaβ€”


Ahh ... jantungku ... ada apa dengan diriku ini.


Freya menutup wajahnya yang memerah dan menghentak-hentakan kaki, merasa malu sudah mengakui hak milik Ansel.


***


Sejak pagi Haidar sudah sampai di kantor The King Entertaiment lebih dulu daripada Ansel. Memang tidak seperti biasanya, karena kemarin Ansel sudah menegaskan bakwa mulai sekarang Haidar tidak perlu menjemputnya ke rumah.


Haidar sudah menghubungi Ansel beberapa kali, namun tidak ada jawaban dari bosnya. Padahal meeting sebentar lagi akan berlangsung.


Haidar yang sudah tidak sabar akhirnya memutuskan untuk menunda meeting selama satu jam. Tidak ada pilihan lain Haidar harus menyeret Ansel dengan tangannya sendiri.


Ansel tergesa berkendara menuju rumah nenek Elizabeth. Sesampainya di rumah nenek Elizabeth Haidar tidak menemukan Ansel.


Haidar menyusuri rumah nenek Liza sambil berteriak, "Bos ... Bos ... kamu dimana ?"


"Haidar jangan berteriak-teriak. Ansel sedang mengantar Freya ke tempat kerja," ujar nenek Liza menjawab teriakan Haidar.


"Hmmpp Mengantar Freya ?!" Haidar menghela napas, "kenapa bos lama sekali belum kembali padahal hari ini ada meeting penting nek," Haidar merajuk pada nenek Liza.


"Haidar, cucu nenek yang manja," Liza mengelus kepala Haidar, "Kasian cucu nenek, kamu kerepotan ya mengurus Ansel ?"


"Tentu saja nek, bos Ansel sangat membuatku kerepotan setengah mati. Tapi kalau bukan aku mana ada yang tahan dengan bos," ujar Haidar.


"Haidar memang anak yang baik, minum dulu agar kerongkongan tidak kering," Nenek Liza menyodorkan segelas jus jeruk, "Haidar menurutmu Freya bagaimana ?"


Haidar meneguk habis jus jeruk dari nenek liza, "Freya itu gadis yang baik."


"Baik saja tidak ada informasi lain ?" tanya liza mengorek informasi dari Haidar.


"Aku bingung bila harus bercerita tentang Freya. Memang apa yang nenek ingin tahu tentang Freya ?" tanya haidar.


"Nenek bukan ingin ikut campur masalah percintaan Ansel dan Freya hanya saja nenek penasaran tentang mereka. Wajar kan bila nenek sedikit kepo ?" Liza tersenyum.


"Ya memang wajar. Apa yang membuat mode kepo nenek ON ?" goda Haidar.


Nenek liza tersenyum, "Freya benar-benar mencintai Ansel ?" tanya Liza.


"Nenek mau aku menjawab sesuai keinginan nenek atau aku menjawab sesuai data dilapangan ?" Haidar tidak menjawab langsung pertanyaan nenek Liza.


"Haha ... cucuku ini lucu sekali," Liza mencubit pipi Haidar.


"Aku serius nek," ujar Haidar mengelus bekas cubitan nenek Liza di pipinya.


"Sesuai data dilapangan saja," pinta nenek Liza.


Haidar terdiam sejenak, dirinya harus mengutarakan sesuai data karena nenek Liza juga harus mengetahui apa yang terjadi diantara Ansel dan Freya.


"Setelah ku perhatikan dan ku teliti sudah dapat disimpulkan bahwa bos Ansel sudah menentukan tambatan hatinya. Bos Ansel sudah menyerahkan hatinya pada Freya, mungkin juga sudah mendedikasikan hidupnya untuk Freya intinya bos sudah mencintai Freya setengah mati," Jelas Haidar.


"Lalu bagaimana dengan Freya ?" tanya nenek Liza makin penasaran.


"Kalau melihat dari sepak terjang Freya aku merasa kalau Freya belum mencintai bos Ansel," jelas Haidar.


"Ya ampun ... bagaimana ini. Lalu apa penyebab mereka memutuskan akan menikah ?" tanya nenek Liza mulai merasa khawatir dengan nasib cucu laki-laki nya yang malang.


"Jawabannya sebagian ada hubungannya dengan nenek lalu sebagian lagi karena Kyra dan semuanya terhubung berkat love shot," ujar Haidar tidak menjelaskan dengan detail.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.