
Semerbak aroma bunga menusuk Indra penciuman Freya. Hari ini Freya benar-benar seperti seorang ratu. Baru juga mata Freya terbuka saat fajar mulai mesingsing di pelupuk timur. Freya langsung disambut para dayang.
Freya ditemani oleh seorang pelayan masuk ke kamar mandi. Freya terkesan dengan desain kamar mandi yang memadukan kesan alam dan moderen, keramik motif kayu pada dinding dikombinasikan dengan keramik persegi panjang yang warnanya senada serta beberapa karang bunga hidup dan lilin aroma terapi menambah kesan mewah kamar mandi ini.
Freya pasrah apapun yang mereka perbuat pada dirinya. Freya juga penasaran sejauh apa mereka bisa merubah penampilan Freya hingga pantas bersanding dengan seorang Ansel.
"Namamu siapa ?" tanya Freya ke sorang gadis muda yang sedang memijat punggungnya dengan minyak zaitun.
"Anne nyonya," ujar gadis manis itu, beralih memijat tangan Freya dengan lembut .
"Anne aku bisa mandi sendiri tidak perlu kamu bantu," ujar Freya berharap Anne mendengarkan permintaannya.
"Maaf nyonya ini sudah tugas saya untuk membantu nyonya agar merasa lebih rileks. Jika nyonya merasa pelayanan saya tidak memuaskan silahkan utarakan saja nyonya. Dengan segenap hati saya akan memperbaikinya," ujar Anne tersenyum manis.
"Aku bukan tidak puas akan pelayananmu tapi ini terlalu berlebihan sudah hampir satu jam kamu menijatku. Apa ritual nya masih panjang Anne ?" tanya Freya, memang pijatan Anne sangat enak sampai Freya merasa benar-benar rileks tapi Freya juga merasa sungkan pada Anne.
"Setelah ini saya akan memakaikan lulur kunyit ke tubuh nyonya. Tubuh nyonya pasti akan menjadi kuning dan bercahaya. Saya juga akan melakukan scrub pada bagian-bagian khusus fungsinya untuk mengangkat kulit mati dan mencerahkan kulit," jelas Anne dengan senyum cerahnya.
"Apa keadaan kulitku sangat parah sampai harus melakukan hal-hal yang kamu jelaskan tadi ?" ujar Freya mencoba mencari celah untuk melewati ritual berikutnya.
"Kulit nyonya sudah bangus. Hanya saja ini hari yang penting bagi anda jadi semua harus saya kerjakan sesuai tahapan. Nyonya juga harus berendam dengan air rempah-rempah terdiri dari daun sirih, rimpang kunyit, dan kayu cendana selama tiga puluh menit," ujar Anne bersemangat.
Aku sudah seperti ayam direndam dengan rempah-rempah selama tiga puluh menit lalu ditambah penyedap dan jadilah gulai.
"Lalu ?" tanya Freya menanyakan tahap selanjutnya.
"Saya akan memijat wajah nyonya dengan minyak almond dan zaitun lalu masker dengan campuran bengkuang, susu dan madu. setelah itu sauna atau penguapan selama lima belas menit," jelas Anne masih dengan semangat yang bergelora.
Freya menghela napas mendengan runtaian tahapan yang harus dirinya lewati bersama Anne itu belum termasuk memakai gaun dan makeup.
"Anne bisa-bisa kita menghabiskan waktu seharian hanya untuk ritual mandi cantik," ujar Freya menutup matanya.
Anne terkekeh mendengar keluhan dari calon nyonyanya, "Nyonya tidak perlu khawatir ini sudah sesuai jadwal. Nyonya tidak akan melewatkan akad dan acara resepsi."
"Apa Ansel yang menyuruhmu melakukan ini ?" tanya Freya penasaran siapa yang ingin merubah itik buruk rupa menjadi angsa.
"Tentu saja tuan Ansel. Saya sangat senang tuan Ansel mempercayakan perawatan Nyonya pada saya," ujar Anne.
"Kamu bekerja di rumah Ansel ?" tanya Freya lagi.
"Benar nyonya, lebih tepatnya keluarga saya bekerja kepada nyonya besar. Namun mulai sekarang saya yang akan mengurusi semua keperluan nyonya." Anne mengoleskan lulur ke tubuh Freya.
"Jika kamu mengurusi semua keperluanku, aku bisa jadi manja dan mungkin kerjaan ku hanya ongkang-ongkan kaki saja. Itu pasti membosankan," rajuk Freya.
"Saya hanya mempersiapkan keperluan nyonya saat nyonya pulang setelah bekerja. Karena nyonya juga pasti disibukan dengan mengurus keperluan tuan Ansel," ujar Anne.
"Bekerja, tunggu ... apa Ansel menyebutkan aku boleh bekerja ?" tanya Freya mencari informasi dari Anne.
"Tentu saja nyonya. Setahu saya semua perempuan yang ada dikeluarga King tidak di wajibnya hanya sebagai ibu rumah tangga saja, mereka juga dibebaskan untuk meniti karir sesuai keinginan mereka," jelas Anne.
"Benarkah ?!" mata Freya berbinar mendengar penjelasan dari Anne. Awalnya Freya menduga dirinya akan terkurung di rumah keluarga King. Namun ucapan Anne membuat salah satu kekhawatiran Freya menghilang.
"Nyonya merindukan tuan ?" Anne tersenyum.
"Tidak bukan begitu ... aku hanya penasaran karena terakhir kali aku melihatnya kemarin malam," ujar Freya tergesa menjelaskan maksudnya takut Anne salah paham.
"Tuan Ansel berada di hotel King yang lain. Jaraknya satu blok dari sini," Anne mulai meracik rempah untuk Freya berendam, "Jika nyonya merindukan tuan juga tak apa itu wajar. Kalian kan sepasang kekasih. Sudah pasti tidak tahan bila lama berjauhan."
Freya tersenyum kecut, "Seberapa banyak aset yang dimiliki Ansel sampai dia punya hotel lain selain hotel ini."
"Nyonya silahkan masuk," Anne membantu Freya masuk ke bathtub. "Apa air hangatnya sudah pas atau kurang hangat nyonya ?"
"Sudah pas Anne, terima kasih. Anne kamu belum menjawab pertanyaan ku ?" Freya menunggu jawaban Anne.
"Eeee ... untuk itu saya tidak tahu berapa banyak aset yang tuan Ansel miliki. Hanya saja setahu saya hotel King yang sekarang sedang kita tempati dan hotel King yang tuan Ansel tempati bukan milik tuan Ansel tapi milik tuan besar Abhimata," jelas Anne.
"Siapa itu Abhimata ?" tanya Freya penasaran.
"Tuan besar Abhimata itu paman dari tuan Ansel." Anne menggosok punggung Freya menghilangkan sisa lulur yang masih menempel.
"Memang nenek Liza punya berapa anak ?" tanya Freya ingin tahu karena Ansel belum menceritakan apapun tentang keluarganya.
"Nyonya besar memiliki dua putra yaitu tuan besar King Abhimata dan tuan besar King Abianda lalu satu orang putri yaitu nyonya Angela," jelas Anne.
Freya mengangguk mengerti, "Apa King Abianda itu ayahnya Ansel ?"
"Benar nyonya. Mereka saudara kembar Indentik, wajah mereka sangat mirip. Menurut ibu saya, mereka sulit dibedakan bila melihat dari wajah. Namun kepribadian mereka berbeda King Abhimata sikapnya lebih berambisi namun tetap bijaksana dan King Abianda lebih pendiam namun sangat penyayang." jelas Anne.
"Kalau Angela bagaimana ?" tanya Freya.
"Kalau sepenglihatan orang awam seperti saya nyonya Angela perempuan yang sangat cantik, anggun dan ambisius. Tapi itu hanya pendapat saya nyonya mungkin bisa saja salah. Karena saya tidak terlalu memperhatikan nyonya Angela karena waktu kecil nyonya Angela sudah menikah dengan tuan Leon dan tinggal terpisah dengan nyonya besar." jelas Anne sambil memijat wajah Freya. "Apa pijatan saya terlalu keras nyonya ?"
"Semua yang kamu lakukan sangat pas bagiku. Lalu bagaimana Ansel di matamu ?" tanya Freya lagi.
"Tuan Ansel itu cucu kesayangan nyonya besar. Namun meskipun banyak mendapatkan kasih sayang dari nyonya besar tuan Ansel tetap menjadi pria tampan yang mandiri, dirinya selalu bisa melakukan berbagai macam hal dengan sempurna. Pria dingin dengan aura gelap yang misterius namun itu juga menjadi daya tarik tersendiri bagi tuan Ansel," ujar Anne.
"Wah sepertinya Anne sangat mengidolakan Ansel," Goda Freya.
Anne menghentika pijatannya tersipu malu, "Saya tidak berani selancang itu nyonya," ujar Anne salah tingkah.
Freya tersenyum melihat kegugupan Anne saat meracik masker. Sangat terlihat jelas kalau Anne mengagumi Ansel lebih dari siapapun.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.