
Ansel keluar berdiri mondar-mandir di depan pintu kamar sambil menghubungi Afandi, memintanya untuk datang ke rumah. Secepat mungkin bahkan jika bisa dengan kecepatan cahaya. Saat Ansel sedang beradu argumen dengan Afandi, Freya sudah membuka mata. Tidurnya terusik saat Anne melucuti pakaian Freya. Sebisa mungkin Anne melakukan tugasnya dengan perlahan tapi tetap saja bagi Freya yang sensitif dengan sentuhan hal itu mengusiknya.
Freya menarik tubuhnya dengan paksa, mencoba duduk meski ruangan terasa berputar berlawanan arah dengan jarum jam. Freya membiarkan Anne mengganti pakaiannya. Selesai berganti, Freya kembali membaringkan tubuh yang tak bertenaga. Memejamkan matanya kembali. Kepala Freya masih terasa pusing. Berharap dengan memejamkan mata bisa sedikit mengurangi pusaran di kepala Freya.
Ansel masuk kembali, Ansel sudah mengetik catatan di smartphone untuk dibaca Anne. Supaya disampaikan pada Freya. Anne menerima, kemudian membaca barisan hurup yang tertera disana. "Nyonya bagian mana yang sakit?" tanya Anne menoleh pada Ansel yang sedang duduk di kursi. Ansel menggagguk menyuruh Anne melanjutkan ucapannya. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Freya. "Apa kepala nyonya pusing?" tanya Anne lagi melanjutkan membaca.
Freya mengangguk. "Mau saya pijat untuk sedikit meringankan pusing, sebelum dokter Afandi datang?" kali ini Anne berbicara tidak sesuai naskah yang diketik Ansel. Freya menggangguk kembali. Anne mengulurkan tangan hendak menyentuh kening Freya, belum juga sampai Ansel menjegal tangan Anne. Memintanya mundur karena Ansel yang akan memijat kening istrinya. Ansel memijat perlahan, memijat dengan penuh kasih. Ansel menyuruh Anne berbicara lagi.
Anne menurut, membaca kembali naskahnya, "Nyonya apa perlu saya panggilkan tuan Ansel?" tanya Anne. Freya menggeleng. Ansel sangat kecewa dengan gelengan Freya.
"Nyonya kata tuan Ansel, beliau sangat menyesal. Beliau meminta saya menyampaikan maaf pada nyonya," ujar Anne melanjutkan bacaannya.
"Katakan pada tuan Ansel. Tidak perlu meminta maaf lagi. Ini bukan salahnya. Ketidak mampuankulah yang menjadi penyebab ia melakukan hal itu," ujar Freya.
Anne mengernyit tidak mengerti maksud nyonyanya juga tidak tahu kesalahan apa yang sudah dilakukan tuannya. "Baik nyonya, akan saya sampaikan. Ada hal lain lagi yang nyonya inginkan?"
"Tidak ada ... tetap disini Anne. Pijatanmu membuat rasa berputar di kepala ku agak sedikit berkurang."
"Baik nyonya," ucap Anne terbata. Dirinya hanya berdiri melihat tuannya sedang memijat nyonya dengan penuh kasih sayang.
"Anne ... aku akan bercerita. Apa kamu bersedia mendengarkan ceritaku?"
Ansel menatap Anne, menganggukkan kepala agar Anne menjawab pertanyaan Freya. "Tentu saja nyonya ... saya sangat beruntung bisa mendengar cerita dari nyonya."
"Ayahku meninggal saat aku beranjak dewasa dan Amor masih kecil. Karena Amor belum mengerti apa arti kehilangan, jadi ia lebih ceria dariku, sedangkan aku masih terkungkung dalam kesedihan. Semua orang menyukai Amor. Aku tidak cemburu akan hal itu. Mana mungkin ada seorang kakak yang iri pada adiknya. Aku membiarkannya merebut semua perhatian, mengabulkan semua keinginannya. Bagiku yang terpenting membuat Amor tetap ceria. Amor bagaikan rembulan saat malam. Namun, itu berubah saat aku mengenal Liamβ"
Ansel menghentikan pijatannya saat nama Liam keluar dari bibir istrinya. "Anne lanjutkan pijatannya," pinta Freya. Ansel kembali memijat kepala Freya meski dadanya terasa sesak.
"Liam bagaikan matahari bagiku. Menjadi pusat dari kehidupanku yang monoton hanya berkutat rumah dan tempat mencari nafkah. Meski ada Flora, yang acapkali membuatku tertawa karena sikap gilanya. Namun, mempunyai seorang pacar membuat hidupmu terasa lebih bermakna. Hubungan kami tidak direstui ibunya Liam, beliau memandangku sebelah mata. Aku sudah berusaha menjadi calon menantu yang baik. Bahkan aku sudah menabung untuk kehidupanku kelak bersama Liam tapi tetap saja tidak ada nilainya karena aku tetap tidak kaya. Pada akhirnya aku harus melepaskan Liam. Aku sekarang sudah menjadi nyonya Cullen, tidak ada lagi yang berani memandangku sebelah mata. Namun, rasanya sekarang aku kehilangan keluargaku. Mereka lebih perduli pada kekayaan Ansel daripada aku. Aku terbuang. Anne ... tidak seharusnya aku memarahi Ansel. Meluapkan rasa kesalku padanya. Padahal Ansel sudah mau memungutku, aku menjadi wanita jahat ...." Freya tidak menyelesaikan cerita, rasa kantuk sudah merenggut kesadarannya.
Ansel mengibaskan tangan meminta Anne meninggalkan mereka berdua. Anne menuruti permintaan tuannya. Ansel menghentikan pijatannya. Memandangi wajah Freya yang terlelap. Memikirkan kembali apa yang harus ia perbaiki. Afandi tiba, masuk ke kamar tanpa permisi. Afandi memeriksa Freya.
"Hey, untuk apa berpendidikan tinggi kalau kamu tetap lamban seperti ini," Afandi menggeleng tidak percaya dengan kelakuan Ansel. "Demam istrimu sudah hampir empat puluh derajat, seharusnya kamu mengopresnya dengan air dingin atau kamu tempelkan koyo pereda panas."
Ansel masih kalut tidak bisa berpikir jernih. Sampai lupa memberikan pertolongan pertama saat demam pada Freya. Ansel menerima kalau ia dimarahi oleh Afandi. "Aku kalut, aku tidak berpikir sampai sana."
Afandi menempelkan koyo pereda panas ke kening Freya. "Freya sedang panas jadi tidak bisa disuntik. Berikan Freya obat penurun panas. Aku tidak bisa memberinya sembarang obat. Besok bawa dia pada Amira!"
"Ya Amira, juniorku waktu di akademi. Dia lebih mengerti masalah kandungan. Sebaiknya perikasakan istrimu padanya."
Ansel terkesima oleh ucapan Afandi. Baru kali ini Ansel menyadari kalau Afandi bisa memunculkan cahaya untuknya. "Kenapa bengong?"
"Apa Freya hamil?"
"Dugaanku begitu. Tapi lebih baik langsung berkonsultasi pada ahlinya."
"Bagaimana kamu bisa menduga kalau istriku sedang mengandung?"
"Dada Freya membengkak, Lalu kram di bagian perut bawahnya."
"Kamu memperhatikan dada istriku?" geram Ansel.
"Hanya sekilas. Aku lelaki. Tanpa ku sadari pandanganku tertuju ke situ. Eh ... Apa itu penting untuk diributkan saat ini. Apa Freya sering pusing." tukas Afandi.
"Kali ini ku maafkan. Lain kali jika aku lihat kamu memperhatikan dada istriku lagi. Akan ku congkel kedua bola matamu," gertak Ansel. "Tidak sering, hanya tadi Freya mengeluh pusing."
"Hemmp ...." Afandi menghela napas. "Apa tingkah Freya aneh?"
"Kemarin Freya agak sensitif. Aku sedang diacuhkan saat ini."
"Ya sudah. Selamat brother, jangan lupa kalau sudah pasti positif kirim kado untukku." Afandi melenggang meninggalkan ruangan.
Dada Ansel bergemuruh, berharap kalau ucapan Afandi bukan hanya asal tebakan belaka. Ansel berharap Freya benar-benar sedang mengandung buah hati mereka. Ansel menciumi punggung tangan Freya. Jika Ansel memiliki anak bersama Freya, dirinya tidak perlu bertingkah bodoh lagi. Merasa takut kalau setiap saat Freya akan meninggalkan Ansel saat ia sudah tidak berguna bagi Freya. Dengan lahirnya seorang bayi, Freya pasti akan berpikir ribuan kali saat ia hendak meninggalkan Ansel.
"Buah hati Papa, kamu ada didalamkan?" Ansel mendekatkan kepalanya ke perut Freya yang rata. "Cepatlah hadir dan menjadi pengikat antara Mamah dan Papa."
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.