Love Shot

Love Shot
Kondisi Ansel



Sudah tiga hari berlalu semenjak acara pernikahan. Ansel masih tidak sadarkan diri, tertidur dengan lelapnya. Cuti honeymoon mereka tinggal tersisa empat hari lagi.


Freya dengan sabar menunggu suaminya membuka mata. Puluhan pertanyaan terkumpul di pikiran Freya. Dirinya sangat penasaran apa sebenarnya yang terjadi tiga hari yang lalu hingga pergelangan kaki kanan Ansel bisa retak dan juga tangan kanannya terkilir. Apa daya Ansel sepertinya masih enggan membuka mata dan bercerita pada Freya.


Dokter hanya mengatakan sepertinya Ansel telah jatuh dari tempat tinggi dan menghantam benda keras dengan tumpuan badan sebelah kanan hingga menyebabkan luka serius hanya ada di bagian tubuh Ansel di sebelah kanan.


Dokter juga sangat takjub dengan keadaan Ansel saat ini. Pasien biasanya akan langsung tidak sadarkan diri sampai kematian atau mungkin bila tidak mati mereka akan mengalami kecacatan. Melihat luka di tubuh Ansel sepertinya Ansel tidak langsung terjatuh tapi ada sesuatu yang menahan dan melindungi tubuhnya hingga efeknya tidak parah.


Freya sedang mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama. Ansel perlahan membuka matanya. Terdengar suara deheman dari Ansel.


"Kalian sangat berisik, mengganggu tidurku saja. Keluar dari kamarku kecuali istriku," protes Ansel.


"Ansel saya harus memeriksa terlebih dahulu. Apa yang kamu rasakan saat ini. Apa kepalamu masih pusing ? atau perutmu terasa mual ?" ujar Afandi, dokter pribadi keluarga King.


"Aku tidak merasakan semua yang kamu ucapkan hanya kaki dan tanganku terasa nyeri," ujar Ansel.


"Harusnya gejala itu langsung muncul. Namun ini aneh efek tubrukan tidak melukai organ dalammu. Kita harus melakukan scan ulang," jelas Afandi.


"Memang apa yang kamu harapkan dariku Afa ? Bukankah seharusnya kamu bersyukur karena pekerjaanmu jadi ringan. Jangan mempersulit ku. Aku ingin segera pulang ke rumah," ujar Ansel memarahi Afandi.


"Tidak bisa semudah itu, kamu harus tetap menaati prosedur perawatan. Kamu tidak kasihan pada istrimu bisa saja baru seminggu menikah denganmu dirinya sudah harus menjadi janda karena sikap keras kepalamu," ujar Afandi meninggikan nada suaranya.


"Dokter macam apa dirimu Afa, mana ada seorang dokter mendoakan pasien nya agar cepat pergi ke akhirat," protes Ansel tidak terima dengan ucapan Afandi.


"Ada aku buktinya. Aku bukan mendoakan mu agar cepat mati. Hanya mengumpat semoga kamu merasakan akibat karena membangkang perkataan dokter," goda Afandi.


"Si*lan kamu Afa. Kali ini aku membiarkan kamu selamat karena tubuhku masih belum fit," ujar Ansel.


"Ya ... terima kasih atas kemurahan hati Anda tuan Ansel. Perawat tolong bawa Ansel ke ruang scan." Afandi tidak menghiraukan ucapan Ansel.


Freya mengikuti, berjalan perlahan dari belakang. Freya menunggu lagi ... melihat Ansel diperiksa di ruang scan.


Ansel sudah selesai diperiksa, Freya bisa melihat Ansel berdebat lagi dengan Afandi. Entah apa yang mereka perdepatkan yang jelas sepertinya Ansel memenangkan perdebatan ini.


Ansel dipindahkan ke kursi roda, jarum yang menancap di pergelangan tangannya juga sudah di cabut. Ansel di dorong Afandi keluar dari ruangan.


"Freya aku serahkan Ansel padamu. Mulutnya sangat cerewet, telingaku sudah tidak sanggup menahan ocehannya. Bawa dia ke rumah, laporkan bila ada keanehan padaku," ujar Afandi merasa jengkel pada Ansel.


Freya hanya menggangguk mengiyakan perkataan Afandi.


"Ansel, aku akan ke kasir dulu mengeurus administrasi," ujar Freya.


Ansel menahan tangan Freya. "Tidak perlu kita langsung pulang saja. Biar Afa yang mengurus semua administrasinya, itu sudah tugasnya sebagai dokter pribadi krluarga King," jelas Ansel.


Orang kaya memang beda. Mereka bisa dengan mudah keluar masuk rumah sakit tanpa memperhitungkan biayanya. Sangat luar biasa memang keluarga King.


"Sayang, dimna Jarvis ?" tanya Ansel.


Freya menghentikan langkahnya, rasanya aneh mendengar Ansel memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Sayang, dimna Jarvis ?" tanya Ansel lagi.


"Jarvis sejak tiga hari yang lalu menghilang. Nenek dan anggota keluarga yang lain sedang mencarinya. Kyra juga ada di rumah nenek. Tiap hari dia menangisi atas hilangnya Jarvis," jelas Freya.


"Mana smartphone ku ?" tanya Ansel.


Freya merogoh tas selempang berwarna coklat dengan logo H lalu memberikan smartphone pada Ansel. Ansel langsung berbicara dengan seseorang ditelpon tidak lama mobil datang menghampiri mereka. Ada beberapa pria berpakaian rapi keluar dan langsung memangku Ansel memasukannya ke mobil. Freya hanya duduk manis di samping Ansel.


***


Mobil berhenti di rumah bercat putih dengan desain modern dua tingkat yang sangat terlihat megah. Ansel di turunkan dari mobil. Beberapa pelayang langsung menghampiri Ansel dan Freya.


Freya hanya mengenali satu orang di antra barisan pelayan yang rapi. Ada Anne yang sedang menunduk hormat saat Freya dan Ansel berjalan melewati mereka.


"Selamat datang tuan, nyonya. Saya sudah menyiapkan kamar di lantai bawah untuk beristirahat tuan dan nyonya selama kaki tuan masih dipasang gips," ujar salah satu pelayan wanita.


"Baiklah Manda," Ansel mengibaskan tangannya menyuruh pelayan tersebut untuk meninggalkannya hanya berdua dengan Freya.


Freya mendorong Ansel masuk ke dalam kamar. "Aku akan memenggil seseorang untuk membantu memapah Ansel ke kasur agar bisa segera istirahat."


"Tidak perlu !" Ansel berdiri dan melangkah perlahan menuju kasur. "Aku masih bisa berjalan. Sini !" Ansel menepuk bantal di samping tangannya.


Freya mengikuti intruksi Ansel, melangkah naik ke kasur lalu duduk menyandarkan tubuhnya ke ranjang.


"Kamu mau pergi honeymoon kemana ?" tanya Ansel.


Freya tersentak mendengar pertanyaan Ansel.


Didalam kondisi kaki di gips dan tangan diperban masih bisa memikirkan honeymoon. Ampun ... Ansel. Ingin rasanya ku palu kepalamu untuk menyadarkan kalau saat ini bukan saatnya untuk honeymoon. Sabar Freya ... sekarang Ansel suamimu. Yang harus selalu kamu taati dan hormati.


"Kakimu masih belum sembuh. Bagaimana kalau kita tunggu kakimu sembuh dulu baru kita honeymoon," saran Freya.


uek ... Ansel memuntahkan cairan hitam dari mulutnya.


Freya panik mengelap baju yang terkena muntahan. Ansel memuntahkan lagi cairan hitam dari mulutnya sampai membasahi baju Freya. Freya membuka bajunya, hanya menyisakan pakaian sport.


Freya menadahkan pakaian yang terkena cipratan muntahan Ansel. Ansel memuntahkan cairan hitam lagi.


"Anne ... Anne ...!" Freya berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama Anne, karena hanya Anne pelayan yang Freya kenal.


Anne masuk sambil terengah-engah. "Nyonya, tuan kenapa ?"


"Aku tidak tahu ... cepat hubungi dokter Afandi suruh dia segera ke sini." perintah Freya, tangannya bergetar melihat Ansel yang beberapa kali memuntahkan cairan hitam pekat berbau amis.


Freya membersihkan mulut Ansel. Pelayan lain membawakan air hangat dan handuk bersih. Air mata Freya mulai bercucuran, Freya sangat takut bila hal buruk terjadi pada suaminya. Wajah Ansel sudah pucat, Freya membersihkan tubuh Ansel sambil menangis.


Ansel menyeka air mata Freya. "Jangan menangis ... aku tidak akan mati hanya karena ini," ujar Ansel.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.