
Hembusan napas seirama dengan ritme naik turun otot perut dengan enam kotak yang dipantulkan cermin, berhasil membuat seorang wanita terpana. Wardhana selalu menjaga kebugaran tubuhnya. Hemmp, Wardhana berdesir tangannya kebas. Sudah dua jam tangannya berpegangan di plat besi horizontal. Tubuhnya sudah kelahan, keringat sudah bercucuran membasi seluruh tubuh tapi pikirannya masih kalut. Sekalut apapun pikiran Wardhana semua bisa hilang setelah membuat tubuhnya lelah. Kali ini berbeda, tubuhnya sudah lelah tapi awan gelap masih bergumpul di dalam kepala.
"Sayang, sudah dua jam kita di sini. Aku bosan," rengek wanita yang duduk memperhatikan Wardhana.
"Aku masih perlu olahraga," tukas Wardhana mengurai pegangannya bersiap untuk melakukan push-up.
"Olahraga ditempat lain saja," rayu wanita itu, menghampiri kemudian duduk dipunggung Wardhana. Wardhana tidak menanggapi masih sibuk membuat tubuhnya lelah. Wardhana masih melakukan push-up meski Isabella duduk di atas punggungnya. Isabella bukan halangan baginya. Itu satu keuntumgan dengan bertambahnya beban bisa lebih cepat pula menambah rasa lelah tubuh Wardhana.
"Sayang, ayo ke apartemenmu," bujuk Isabella, menyentuh punggung Wardhana dengan lembut tanpa mengubah posisinya. Wardhana masih membisu. "Sayang, apa kamu tidak kangen padaku?"
"Kangen," jawab Wardaha singkat.
"Bohong ... jika kangen kenapa terus mengabaikan ku. Aku juga butuh kasih sayang darimu seperti para selirmu yang lain," rajuk Isabella.
Wardhana tidak ingin berdebat dengan Isabella. Wardhana akan menjadikan Isabella sebagai alasan kenapa selama dua hari ini ia tidak pulang ke rumah maupun ke apartemen. Berdebat dengan Isabella hanya akan membuatnya merugi. Wardhana sudah biasa merayu dan bermesraan dengan banyak wanita untuk mendapatkan keuntungan. Kebiasaan yang sudah dirinya pupuk bertahun-tahun akhirnya lenyap hanya dengan dua hari. Dua hari yang sangat berkesan dalam hidupnya. Dua hari yang mampu membuat hatinya berbunga meski pada akhirnya hanya hujan air mata yang tersisa.
Wardhana tidak bisa melupakan wajah gadis manja yang mengusik kesehariannya. Dirinya bahkan tidak bisa menutup mata. Bayangan Kyra selalu muncul saat matanya tertutup membuatnya semakin merindukan gadis absurd itu. Wardhana menghentikan push-up.
"Kita lakukan di tempatmu. Pergilah terlebih dahulu, sayangku pasti butuh persiapan. Tidak perlu terburu-buru. Aku akan segera menyusul," Ucap Wardhana.
Isabella tersenyum, beranjak turun dari punggung Wardhana. Wardhana duduk. "Kenakan pakaian yang paling seksi. Aku akan memuaskanmu malam ini," bisik Wardaha mengecup singkat leher kekasihnya. Meninggalkan kerlingan kemerahan disana.
Isabella kegirangan bergegas pergi. Wardhana masih duduk. Meraih sebotol air mineral kemudian melemparkannya ke salah satu sudut ruangan. "Keluar F ... aku sudah melihatmu," teriak Wardhana.
Seorang gadis berambut panjang terikat rapi dengan pakaian sport nan seksi membalut tubuh rampingnya keluar dari balik kaca. Wanita itu membungkuk hormat pada Wardhana. "Selamat sore tuan King."
"Kita sudah berteman sejak kecil. Kamu tahu pasti, aku paling tidak suka ada orang yang memanggilku dengan sebutan itu. Kenapa kamu kembali ... aku sudah membebaskan mu," bentak Wardhana.
Feby duduk mensejajarkan posisi dengan Wardhana, ia masih diam seribu bahasa. Wardhana tidak mengerti apalagi yang diinginkan Feby, ia sudah membebaskannya dari tugas sebagai teman. Bukan teman, lebih tepatnya mata dan telinga abhimata. "Kenapa kamu tidak pergi dengan Sam? Apa yang kamu inginkan lagi dariku?"
"Maaf," lirih Feby.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Dalam hidupku tidak ada yang namanya teman. Jangankan teman bahkan keluarga juga hanya kata saja. Isinya hanya sekumpulan orang yang tidak bisa dipercaya, setiap saat siap melenyapkanmu jika bertentangan dengan jalan yang mereka tempuh," ujar Wardhana menyeringai putus asa.
"Maaf," ucap Feby mengulangi perkataannya. Ia menyesali semua penghianatan yang telah diperbuat pada Wardhana. Feby tidak menyangka Wardhana meloloskannya, padahal Wardhana sudah mengetahui semua kejahatan yang dilakukan Feby. Wardhana tetap melindungi Feby dan membuka jalan agar bisa kawin lari dengan kekasihnya Sam.
"Pers*tan dengan kata itu! Apa Sam membuang mu?" bentak Wardhana, saat ini pikirannya masih kalut. Kedatangan Feby membuat emosinya makin naik. hatinya semakin sensitif.
Feby mulai berurai air mata. Membuat Wardhana yang hatinya rapuh semakin iba. Wardhana juga punya masalah, bukan punya tapi dirinya selalu dirundung masalah. Wardhana menghela napas menenangkan emosinya. "Kenapa menangis gadis cantik?" tanya Wardhana menyeka air mata Feby.
Feby merangkul Wardhana. Feby akhirnya mendengar kembali perkataan sahabatnya yang selalu di bumbui gombalan. Feby kira tidak akan pernah mendengan kata itu lagi dalam hidupnya. "Aku kesulitan menikahi Sam." Feby mengurai pelukan.
"Kenapa lagi dengan laki-laki itu ... Kamu ingin aku menghabisinya dan mengirimkan mayatnya kepadamu?" tawar Wardhana.
Feby menggeleng, "Sam tidak bisa keluar dari tempat tuan Ansel. Bisakah kamu membujuk tuan Abhimata agar membebas tugaskan Sam?"
"Tidak bisa utuh keluar dari sana. Jika Sam bekerja dengan Papa, hanya kematian yang bisa memutus kontrak kerja mereka," jelas Wardhana dengan santainya.
Feby meraung-raung kembali tidak bisa menerima ucapan santai Wardhana. "Lalu apa yang harus aku lakukan agar bisa membantu Sam?"
"Tidak ada. Biarkan dia di tempat Ansel. Sam lebih aman berada didekat sepupuku. Sam hanya dijadikan mata dan telinga Papa. Ansel tidak akan menyakiti Sam, selama Sam tidak mengusik istri sepupuku. Aku tidak bisa memohon lagi pada Papa. Batas permohonanku sudah aku pakai untuk membebaskanmu," urai Wardhana. Feby masih cemberut tidak puas dengan jawaban Wardhana.
"Aku bisa membuatmu berada didekat Sam. Asalkan kamu menyetujui syarat dariku," tawar Wardhana. Feby tidak memikirkan resiko yang akan dia tanggung. Feby sudah cinta mati dengan Sam. Feby rela mengorbankan nyawanya sendiri demi kekasihnya itu. Feby menggangguk menyetujui meski dirinya belum tahu syarat yang diingkan Wardhana.
"Aku sudah menggapmu seperti adik perempuanku. Adik perempuan yang ahli mengkhianati. Gunakan bakatmu. Aku ingin kamu mengawasi Sam. Laporkan jika ada gerak-geriknya yang janggal. Cari tahu apa tugas yang Papaku berikan pada Sam," ujar Wardhana.
Mata Feby membulat. Dirinya memang pernah mengkhianati sahabat tapi jika harus mengkhianati kekasihnya sendiri itu cukup berat baginya. Karena pondasi penting suatu hubungan itu adalah kesetiaan. Feby merasa heran kenapa Wardhana memihak Ansel bukan tuan Abhimata. Feby berpikir ulang. Jika tidak menyetujui keinginan Wardhana, ia akan kehilangan Sam. Namun, jika Feby menuruti keinginan Wardhana. Bila suatu saat Sam tahu, ia juga akan kehilangan kekasihnya juga. Feby masih termenung melayangkan tatapan curiga pada Wardhana.
"Ada seseorang yang ingin aku dapatkan dengan bantuan Ansel. Aku berdiri dibelakang Ansel karena itu. Aku hanya perlu menjaga istrinya dari kejauhan mencegah hal buruk yang akan istrinya alami. Hal buruk yang direncanakan oleh keluargaku. Jika aku berhasil Ansel akan menyerahkan apa yang menjadi keinginanku," jelas Wardhana menanggapi tatapan curiga dari Feby.
"Ingat jangan sampai kamu ketahuan oleh Ansel. Aku akan memasukanmu kesana lewat kenalan ku. Jangan sampai Ansel tahu kalau kamu mengenalku," tambah Wardhana.
"Kenapa? bukankah kalian ada dalam satu kapal yang sama," sindir Feby bingung.
"Jika Ansel mengetahui itu, aku akan sulit mencari kesempatan. Aku akan menjadi penyelamat istrinya dengan tanganku sendiri. Bukan sebagai penyalur informasi," jelas Wardhana.
"Bagaimana kalau kamu ketahuan tuan Abhimata saat menyelamatkan istri tuan Ansel?"
"Itu hal gampang. Aku hanya tinggal beralasan melakukan itu hanya sebagai tipu muslihat, supaya bisa lebih dekat dengan Ansel dan kemudian menusuknya dari belakang. Itu jika ketahuan, jika tidak kenapa harus banyak berbicara. Kamu mengerti adikku yang cantik?"
"Ya, aku akan melakukan tugasku dengan benar sekarang," ujar Feby tersenyum manis.
"Bagus ini baru adikku yang cantik. Tunggu kabar dariku. Persiapkan dirimu."
Feby mengecup pipi Wardhana kemudian berlalu. Pikirannya sekarang sudah tidak kalut. Ada sedikit titik terang bagi Wardhana untuk bisa bertemu kembali dengan Kyra. Wardhana mengetik pesan meminta bertemu dengan Haidar esok hari karena malam ini Wardhana sudah ada jadwal memuaskan salah satu selirnya. Energinya sudah terkumpul kembali.
It's time to making love ...
gumam Wardhana melangkah dengan pasti meninggalkan ruangan fitnes.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.