Love Shot

Love Shot
Debaran itu Muncul Kembali



"Sayang, mau ku buatkan sarapan?" tanya Isabella masih bergelayut manja di lengan Wardhana.


"Tidur lagi saja. Kamu pasti masih lelah setelah memadu kasih denganku semalaman. Aku enggan meninggalkanmu tapi aku ada meeting penting pagi ini. Dengan berat hati aku harus pergi. Sayang ... jika Papaku bertanya kemana aku pergi selama dua hari ini. Katakan kalau aku tinggal di rumahmu," rayu Wardhana mencium mesra pelipis Isabella.


Wardhana baru selesai mandi, sedang bercermin memakai kemejanya. Isabella membantu Wardhana membenarkan kerah kemeja. "Papa mertua? tentu saja. Kebetulan siang nanti aku sudah ada janji dengan Papa mertua. Sayang tenang saja, Papa mertua sangat menyayangiku seperti putrinya sendiri. Papa mertua pasti mempercayai ku. Tapi sayang dua hari ini kemana kamu pergi?"


"Aku menginap di tempat sahabat lama. Haidar Jarvis, wakil direktur The King Entertaiment. Papa tidak suka aku bergaul dengannya. Sesekali aku juga ini berkumpul dengan para sahabatku, meski hanya sebatas bertegur sapa. Jadi aku butuh bantuanmu," rayu Wardhana menarik sejumput rambut hitam Isabella lalu mencium aromanya.


Isabella merona dengan sikap romantis Wardhana. Dirinya tidak berdaya menolak permintaan kekasihnya. Tidak ada alasan bagi Isabella untuk menolak, pasalnya Wardhana hanya menemui sahabat lama, bukan para selir lainnya. "Sayang, kapan kamu meresmikan hubungan kita?"


"Aku tidak bisa menjanjikan hal itu padamu maupun wanita lainnya. Kamu sudah tahu tabiat Papa seperti apa. Papa pasti akan mencarikan aku pasangan yang sangat menguntungkan baginya. Jadi, itu tergantung bagaimana sayangku meyakinkan Papa kalau sayangku sangat berguna baginya."


"Ahhh aku tahu. Tapi tetap saja, aku juga menginginkan dukungan dari sayangku," celoteh Isabella mengerucutkan bibirnya.


"Jangan cemberut seperti itu. Aku makin gemas melihatnya." Wardhana mengecup singkat bibir Isabella, berlalu keluar meninggalkannya yang sedang terpana. Wardhana mengusap bibirnya dengan sapu tangan lalu membuangnya ke tempat sampah saat menuju parkiran. Ada rasa jijik menggelitik di ujung bibirnya, setiap ia melakukan perannya dengan sempurna. Wardhana menggenggam ponsel mendekatkan ke telunga, segera menghubungi Haidar. Sekedar mengingatkan bahwa ia sedang menuju ke tempat yang sudah mereka sepakati untuk bertemu sekalian sarapan bersama Kyra.


***


Kyra belum berani bertemu Liam semenjak insiden di tempat kerja. Kyra sedang tidak bersemangat. Menempelkan pipinya di meja sembari menunggu Haidar datang. Kyra baru bangun tidur saat kakaknya menelpon dan memaksa dirinya untuk datang ke cafe. Kebetulan dirinya juga sedang tidak ada acara, menjadi pengangguran kadang membuat frustasi. Makan yang manis-manis bisa membantunya sejenak melupakan dua pria yang masih menjadi incarannya. Meskipun salah satu dari mereka sudah punya istri tapi Kyra tidak peduli. Baginya selama nyawa masih melekat dalam raga, selalu ada kesempatan untuk menikung mereka. Dirinya tidak boleh gentar untuk mendapatkan salah satu dari mereka. Kyra bertegad tidak akan mudah menyerahkan ke dua pria yang di incarnya pada wanita seperti Freya.


"Hai Cantik," sapa Wardhana.


Kyra mendongak, memastikan siapa yang menyapa. Setelah tahu kalau itu Wardhana, Kyra kembali menempelkan pipi di meja. Ia malas meladeni gombalan Wardhana. Kyra ke sini untuk makan kue yang manis bukan untuk makan rayuan yang manis.


"Kyra lagi bete ya? hal apa gerangan yang membuat kucing manis ku tidak bersemangat?" goda Wardhana.


"Aku tidak mood berbicara. Jangan samakan aku dengan kucing yang penuh bulu. Tubuhku mulus tahu," ucap Kyra masih betah diposisinya.


Wardhana tersenyum, mendengar ucapan Kyra yang tidak mood berbicara tapi ia masih sempat menjawab godaan darinya. "Owh ... aku jadi penasaran semulus apa tubuh Kyra."


"Kakak jangan memancingku," Kyra menggebrak meja, sampai gelas teh bergetar karenanya. "Aku bisa tunjukan tapi seorang mesum seperti King Wardhana pasti mudah tergoda."


"Tergoda?"


"Ya tergoda tubuhku yang masih mulus belum terjamah oleh pria."


"Hahahaha ... Kyra jangan pernah mengucapkan itu lagi di depan pria manapun. Kecuali aku."


"Kenapa? apa yang salah? apa hubungan tubuh mulusku dengan pria?" serentetan pertanyaan keluar dari bibir Kyra.


"Karena itu mengundang rasa penasaran. Ucapanmu seperti menabuh genderang perang. Pria mana yang tidak tertantang mendengar ucapan dari seorang gadis manis seperti mu."


"Tumbal?" Kening Wardhana berkerut.


"Ya tumbal untuk menemani kak Wardhana makan. Sebagai imbalan kesepakatan dengan kak Haidar," ucap Kyra blak-blakan.


Seringainya pudar berganti gertakan gigi. Ucapan Kyra memang benar. Namun, tetap terasa pedih saat diucapkan oleh wanita yang Wardhana cintai. Wardhana sudah terbiasa terluka. Ini keseribu kali hatinya tergores oleh ucapan Kyra yang tidak difilter. Semua yang ada dipikiran gadis itu dengan mudahnya terucap. Tanpa memikirkan perasaan lawan bicara akan terluka atau tidak.


"Aku terluka," lirih Wardhana mengalihkan padangan ke meja.


Kyra berdiri, mengelus pucuk kepala Wardhana yang tertunduk. "Cuppp ... cuppp playboy jangan cengeng."


Deg ... Deg ...


Debaran itu terasa kembali. Saat bagian tubuh Wardhana bersentuhan dengan Kyra, percikan listrik statis mengalir menuju jantung. Membangkitkan gejolak untuk memompa darah lebih cepat dari sebelumnya. Wardhana masih tertunduk, ia sengaja supaya Kyra terus mengelus rambutnya.


"Ehem ... Ehem ... sepertinya kehadiran ku mengganggu," ucap Haidar yang baru datang, tanpa sengaja memergoki adik semata wayang sedang mengelus rambut pria di depan mata. Kyra menarik tangannya, kembali duduk manis di kursi.


"Sudah tahu mengganggu, masih saja kesini," pungkas Wardhana.


"Somplak ... King Wardhana yang terhormat, sebenarnya anda punya janji temu dengan siapa? sebagai sahabat sekaligus kakak dari Kyra, aku sungguh-sungguh bertanya."


Rasanya Wardhana tidak perlu menjawab pertanyaan retoris dari Haidar. Wardhana mengulas seringai sebagai pertanda bahwa sang empunya pertanyaan sudah tahu jawabannya. Haidar duduk disamping Kyra, berhadapan dengan bangku kosong. Ia bagaikan obat nyamuk diantara mereka. Haidar menghela napas, bersiap bercerita mengenai bosnya yang sedang bertengkar dengan Freya. Kyra antusias mendengar cerita Haidar berbanding seratus delapan puluh derajat dengan Wardhana. Wardhana lebih tertarik melihat respon gadis yang sedang duduk di depannya.


Haidar menghentikan ceritanya," Heh ... kamu pikir aku sales obat yang sedang promosi." Haidar melemparkan kunci mobil ke arah Wardhana, dengan sigap Wardhana menangkap benda itu sebelum menyentuh bibirnya yang seksi.


"Bercandamu tidak lucu, bahaya tahu!" gertak Wardhana.


Haidar menyeringai melihat gerakan reflek dari Wardhana. Meski mata Wardhana tidak fokus tetap saja kewaspadaan Wardhana untuk melindungi diri selalu siap siaga. Haidar tidak meragukan kamu mampuan Wardhana sebagai calon pewaris King di dunia bawah. "Kyra, pulang sana! kamu mengganggu. Kakak akan berbicara serius dengan Wardhana."


"Oke." Jawab Kyra singkat, memasukan potongan tiramisu ke mulut membuatnya masuk dengan paksa ke tenggorokan dengan segelas teh. "Sudah habis. Aku pulang dulu ya," Kyra mengecup pipi Haidar. "Dah Playboy." memberikan salam perpisahan pada Wardhana.


Next \=>


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.