Love Shot

Love Shot
Menyusul Freya



Tertidur di kursi semalamam membuat leher Ansel terasa kaku. Ansel menggerakkan tubuhnya. Sekarang pahanya sudah terasa lebih nyaman, tidak ada beban berat lagi yang harus ia topang. Ansel mengerjapkan mata, menusuri seluruh ruangan mencari kemana perginya beban berat yang semalaman ia topang. Ansel tidak menemukan siapapun disana hanya ada deretan buku yang tertata rapi di rak.


Ansel bangkit dari duduknya, keluar ruangan mencari Freya. Diperjalanan menuju kamar Ansel berpapasan dengan salah satu pelayan. pelayan yang kaget melihat Ansel menghentikan aktifitasnya, memberi salam dengan sopan pada majikannya. Ansel hanya menjawab dengan anggukan. Setelah melewati dua langkah dari si pelayan, Ansel merubah haluan, berbalik kembali ke arah pelayan yang sedang membersihkan lampu kristal.


"Sam, dimana nyonya?"


Sam kaget mendengar suara Ansel, hampir saja ia menjatuhkan satu lampu kristal. Sam bergegas turun dari kursi tangga. "Pagi-pagi nyonya sudah berangkat, tuan," jawab Sam setelah menginjakkan kaki ke lantai.


Freya, tidak membangunkanku. "Kenapa kamu tidak melaporkan kalau nyonya pergi sendiri!" bentak Ansel.


"Maaf tuan, nyonya bilang tuan sangat kelelahan kemarin. Nyonya berpesan agar tidak membangunkan tuan ... Jadi kami membiarkan nyonya pergi sendiri," jelas Sam, menundukan kepala menyesali kecerobohan yang telah ia lakukan.


Ansel mengernyit melihat Sam yang merasa bersalah. "Ahhhh ... mulai saat ini laporkan semua padaku apapun mengenai nyonya. Sam kamu digaji untuk memperhatikan nyonya dan melaporkan semua aktifitasnya di rumah kepadaku, bukan untuk bersih-bersih. Biarkan orang lain yang melakukan tugas bersih-bersih. Katakan pada Ima siapkan sarapan yang bisa di makan sambil berjalan. Aku beri waktu lima belas menit," ujar Ansel berlalu meninggalkan Samuel yang masih tertunduk.


Freya, begitu petingkah pekerjaan dibandingkan aku, suamimu.


Bukk ...


Ansel memukul keramik yang menempel di dinding di bawah shower, meninggalkan warna kemerahan di buku jarinya. Ansel menyelesaikan mandinya dengan tidak karuan, pikirannya dipenuhi emosi. Ansel beranjak ke ruang ganti. Tiba-tiba senyuman tercetak dari bibir Ansel saat gambaran jas warna biru lagit dan celana navi sudah tergantung terpisah dari pakaian lain terekam oleh iris matanya. Ansel yakin kalau yang menyiapkan pakaian itu adalah istrinya, Freya. Emosi Ansel memudar hal kecil yang Freya lakukan bisa dengan mudahnya mengusir amukan Ansel. Ia memakai pakaian yang sudah disiapkan istrinya menuruni tangga dengan hati damai dan percaya diri.


"Tuan, ini sarapannya," ucap Ima memberikan kotak berisi beberapa potong sandwich.


Ansel meraihnya, berlalu menuju kuda besi. Ansel membuka kotak bekal, memasukan setengah potong sandwich ke mulut sambil melakukan kuda besi kesayangan.


...****************...


"Aku?" Asri menunjuk ke wajahnya.


"Ya, kamu lihat istriku?"


Asri tertegun sejenak, mengingat kembali kemana perginya Freya. "emmm ... setengah jam yang lalu nenk Freya masih disini," Asri menatap mata Ansel secara langsung. Ansel masih menunggu jawaban Asri selanjutnya. "Kalau dugaan Asri bener ya, kayaknya panas-panas gini nenk Freya lagi ngadem di kantor," jelas Asri.


"Thanks," ucap Ansel singkat kemudian berlalu menuju kantor.


"Ahh." Ansel menghentikan kuda besinya. Dadanya terasa berdenyut. Ansel mengambil sebotol air mineral dari dashboard mobil kemudian meminumnya.


ohok ... ohok ....


Ansel tersendak air saat melihat mobil dua mobil pemadam kebakaran dan sebuah ambulan melintas menuju arah yang sama dengannya. Dada Ansel semakin berdenyut, Ansel merasakan firasat buruk. Ansel menginjak gas, melaju dengan kecepatan tinggi menuju Dreams Star.


Next \=>


πŸ₯° baca juga Cinta itu Kamu ya ...


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.