
Meskipun sempat ada badai kesedihan yang menggulung hati Freya dan Liam di pagi hari. Semua rutinitas berjalan seperti biasa, sampai waktu setelah makan siang. Waktu yang sudah dijadwalkan untuk meeting. Semua karyawan Dream Star sudah berkumpul semua. Freya duduk di samping Asri. Sebagai pembicara untuk meeting hari ini Flora dan juga Liam. Liam menjelaskan rincian rangkaian persiapan untuk festival. Semua sudah siap hanya beberapa bagian yang perlu diuji ulang dan melakukan finishing. Oleh sebab itu, Liam dan Flora sudah bersepakat untuk dua hari kedepan mereka akan lembur empat puluh jam nonstop dimulai hari ini. Sehari sebelum festival para karyawan akan libur hanya beberapa karyawan saja yang ditunjuk masuk untuk mempersiapkan perlengkapan di lokasi. Semuanya sudah tidak kaget memang ini sudah biasa dilakukan. Bukan hanya untuk bisa menyelesaikan target dengan cepat, cara ini juga sangat ampuh memupuk rasa tanggung jawab dan rasa solidaritas antara rekan kerja sehingga semua saling membantu tidak ada kesempatan untuk saling mengandalkan satu sama lain.
"Bagaimana dengan pengantin baru, apa ada pengecualian ?" tanya Asri bermaksud mewakili Freya. Asri tersenyum melirik ke arah Freya sambil mengerlingkna sebelah matanya. Freya hanya menutup wajahnya dengan selembaran iklan festival untuk mengalihkan rasa malu karena ditatap oleh semua yang ada diruangan. Liam tidak menjawab, Liam masih menimbang-nimbang jawaban yang akan dilontarkan dari bibirnya.
"Tentu saja tidak ada pengecualian," jawab Flora. "Freyaku tersayang harus ikut lembur. Bila pak suami protes, biarkan dia juga ikut menginap disini. Sekalian mengakrabkan diri dengan kebiasaan di Dream Star." Flora harus tega hanya untuk hari ini. Meski dalam batin Flora terus melontarkan kata maaf karena mengganggu masa bulan madu sahabatnya. Flora sangat membutuhkan Freya, hanya Freya yang bisa melakukan finishing.
"Ya aku akan ikut lembur bersama rekan semua. Suamiku pasti mengerti dengan keadaanku saat ini," ujar Freya tegas, walaupun dirinya belum yakin akan diberi izin Ansel. Freya berpikir setidaknya selama dua hari ini dirinya tidak akan mendapat amarah dari Ansel karena mereka tidak akan bertemu Rekan kerja bertepuk tangan mendengar jawaban Freya. Setelah mengucapkan selogan Dream Star untuk semakin membangkitkan semangat meeting dibubarkan.
Freya masuk ke ruang kerjanya, keringat dingin tiba-tiba muncul. Freya termenung menggit kuku jari jempol, Freya sedang berpikir bagaimana caranya meminta izin pada Ansel. Freya harus mendapatkan alasan yang bisa diterima oleh Ansel. Bila alasanya tidak masuk akal, Freya yakin Ansel akan langsung datang untuk menyeret Freya pulang. Belum juga Freya punya ide, smartphone Freya sudah bergetar. Freya beranjak berdiri dari kursinya sampai membuat tiga R ikut kaget karena ulah Freya. Smartphone terlempar dilantai masih bergetar-getar dilantai.
Freya menelan slavina membasuk kerongkongannya yang mengering secara tiba-tiba. Freya berjongkok, menyentuh layar smartphone mendekatkan ke telinga. Terdengar suara suaminya dari sebrang terlpon. Ansel hanya mengungkapkan sederetan pertanyaan mengenai keadaan Freya, sudah makan siang atau belum, makan siang dengan siapa, dimana, sekarang sedang sibuk apa. Freya menjawab satu persatu pertanyaan dari Ansel.
Hingga saat giliran Freya yang bertanya. Pertama-tama Freya juga melontarkan pertanyaan serupa kepada Ansel. Jelas terdengar mood Ansel semakin membaik saat menjawab pertanyaan. Freya mulai melontarkan tujuannya. Baru juga Freya berkata hari ini dia lembur, Ansel sudah membentak Freya. Nyali Freya langsung menciut hingga Freya memutuskan sepihak telepon dari Ansel tanpa berpamita terlebih dahulu. Freya meneguk sebotol air mineral hingga kosong. Smartphone Freya bergetar kembali, jelas tertera suami dengan dua hati dibelakangnya calling. Freya menarik napas, menghembuskan dari mulut perlahan.
Suami❤❤ : Aku tidak marah, tadi hanya kaget saja. Lemburnya sampai jam berapa ?
Freya : Tadi aku juga kaget sampai menutup telpon tanpa sengaja, bukan bermaksud untuk memotong omongan Ansel. Lemburnya sampai lusa jam delapan pagi.
Suami❤❤ : ......
Tidak terdengar suara apapun dari Ansel, sambungan telpon terputus. Freya merasa lega, ternyata meminta izin dari Ansel tidak semenakutkan yang ada dikhyalan Freya. Semua sudah beres, Freya bisa tenang melanjutkan pekerjaannya karena sudah mengantongi izin lembur dari suaminya.
***
Haidar masuk ke ruang kerja Ansel, memeriksa suaran benda terjatuh. Haidar melihat bosnya sedang berdiri, menerawang jauh keluar jendela. Haidar menepuk pundak bosnya, menyadarkan Ansel dari lamunan.
"Mau ganti smartphone merek apa kali ini?" ledek Haidar melirik smartphone Ansel yang sudah hancur berserakan dilantai.
"Aku tidak perlu smatphone, benda itu hanya membuatku emosi," ujar Ansel melampiaskan rasa kesal pada Freya.
"Bos tadi main game online apa yang mana, sampai bisa memancing emosi bos dengan cepat mencapai ubun-ubun ?" tanya Haidar, kali ini dirinya serius bertanya. Haidar penasaran dengan penyebab Ansel emosi. Pada dasarnya Ansel memang mudah terpancing emosi, Haidar sudah terbiasa mengganti benda-benda yang dijadikan tempat pelampiasan bosnya. Ansel masih menutup rapat mulutnya tidak berniat menceritakan masalah yang membuat kesal. "Kalau tidak mau cerita ya sudah, aku pergi bos mau war lagi ... beneran ni aku pergi."
"Freya lembur," grundel Ansel.
"Lusa," jawab Ansel ketus.
Hampir saja Haidar terjungkal dari duduknya. Haidar baru mendengar ada yang lembur sampai memakan waktu yang panjang secara langsung. Haidar tidak bisa mencari kata yang tepat untuk menenangkan emosi Ansel.
Wajar bila bosnya merasa kesal, bagaimana tidak kesal mereka masih pengantin baru dan sudah langsung harus dipisahkan selama dua hari karena pekerjaan.
"Ley ... pasti Ley sengaja melakukan ini untuk memisahkanku. Freya yang work holic pasti tidak akan curiga dengan maksud terselubung di adakannya lembur," gerutu Ansel, memukul sopa.
Haidar masih diam, pikirannya tidak bisa menyangkal ucapan Ansel. Memang bisa saja Ley alias Liam melakukan itu. Haidar yakin pasti ada rasa dendam di hati Liam karena Ansel berhasil merebut Freya dari sisinya. "Lalu bos akan bagaimana menghadapi Ley yang mulai bermain api?"
"Buat tim khusus untuk mencari celah agar The King Entertaiment bisa masuk ke Dream Star. Bila perlu ciptakan peluang agar The King Entertainment bisa bekerja sama dengan Dream Star. Aku ingin mengawasi hubungan Freya dan Ley secara langsung," papar Ansel.
"Itu perlu waktu bos. Untuk sekarang apa kita biarkan saja dulu," dalih Haidar.
"Jangan membiarkan kesalahan sekecil apapun, kehancuran berawal dari kesalahan-kesalahan kecil yang diabaikan. Malam ini aku akan tidur di Dream Star," ujar Ansel. Haidar hanya mengangguk setuju dengan semua ucapan bosnya. "Kamu juga ikut!"
"Serius ?!" Haidar menatap Ansel, menunggu kata bercanda keluar dari mulut bosnya.
"Kamu meragukan ucapanku?" Ansel balik bertanya.
"Malam ini aku ada janji kencan. Bos sendiri saja," elak Haidar.
"Setiap malam juga aku membiarkan mu berkencan. Kalau tidak mau, ya sudah aku bisaenggantikan posisimu dengan orang baru," Ancam Ansel. Haidar tidak bisa mengelak lagi, dirinya hanya bisa menuruti kemauan Ansel.
Next \=>
🙏Terima Kasih sudah mampir baca.
🙏🙏 Jangan lupa like + Komentar + Vote
🙏🙏🙏 Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.