
Freya merebahkan tubuhnya di atas sopa. Hawa dingin membuat matanya semakin berat. Mata Freya terpejam.
Angin sejuk membangunkan Freya. Mata Freya berbinar hamparan bunga berwarna ungu terbentang sejauh mata memandang. Aroma khas dari bunga lavender mengusik batin Freya . anti-neurodepresive yang terkandung dalam aroma bunga lavender membuat Freya merasa tenang dan relaks ketika indra penciumanya menghirup aroma tersebut. Freya berjalan perlahan menikmati semilir angin membelai ujung rambut, Freya merentangkan tangan, menadahkan kepala ke langit sambil memejamkan mata.
Sentuhan hangat di betis mengusik Freya. Ia membuka mata memastikan rasa hangat itu berasal. Freya menunduk, kemari putih nan kecil menempel disana. Freya mengernyitkan dahinya, semakin penasaran jemari siapakah itu. Freya menoleh ke belakang, ke hamparan tanah yang lebih rendah. Di sana hanya ada hamparan tanah kering kecoklatan, tidak ada tanaman apapun disana. Freya berjongkok, mau ngamati seorang anak kecil berdiri dengan satu tangan menyentuh kaki Freya.
"Kamu siapa? kamu sendirian?" tanya Freya.
Anak laki-laki berkaus putih, bermata coklat itu menggeleng. Freya mengulurkan tangan bermaksud mengajak anak itu untuk naik ke tempat Freya berdiri.
"Sini, jangan takut. Aku hanya ingin membantumu naik. Lihat tempatku lebih indah daripada tempatmu. Mau ikut denganku?" tawar Freya.
Mata anak laki-laki itu melihat sekeliling, membandingkan tanah yang sedang ia injak dengan tanah yang diinjak Freya. Sepenglihatan anak itu memang benar tempat Freya lebih indah daripada tempatnya. ia kemudian dengan ragu-ragu meraih jemari Freya.
Freya menarik tangan anak itu dengan sekuat tenaga, tanpa terduka anak itu lebih ringan daripada kelihatannya. Sekarang mereka sudah menginjak tanah yang sama. Anak itu berlari menyusuri sederet barisan bunga lavender. Freya hanya mengamati dengan senyuman, Freya merasa tingkah anak itu begitu lucu. Kaki pendeknya bisa menopang tubuh kecil itu bahkan bisa berlari dengan kencang. Anak itu berlari kembali ke arah Freya. Senyum Freya sirna saat anak itu berjongkok dengan sendu. Freya berjalan mendekati anak itu, ia duduk di tanah supaya lebih dekat dengan anak itu.
"Ini namanya bunga lavender, coba cium ... (Freya memetik setangkai bunga lavender, kemudian mendekatkannya ke hidung anak laki-laki itu) ... harum bukan?"
Anak itu mengangguk setuju dengan perkataan Freya. Ia menerima bunga lavender yang diberikan Freya.
Freya memandangi wajah anak laki-laki itu, garis wajahnya serasa tidak asing. Namun, Freya lupa dimana dirinya pernah melihat orang yang mirip dengan anak laki-laki itu.
"Namaku Freya ... siapa namamu?"
Keheningan melanda, hanya tersisa suara gemerisik dedaunan yang saling bertubrukan tersentuh sang angin. "Kalau kamu diam saja bagaimana aku memanggilmu, padahal aku tidak tahu siapa namamu."
"King, nama yang bagus," seringai Freya sambil mengelus kepala King.
King tersenyum menunjukan gigi putih kecil dan rapi miliknya. Jemari kecilnya menyentuh pipi Freya. "caat awan gelap belkelumun, pejamkan mata ... (king menutup mata Freya) King akan menuntun papa untuk menemukan mama," bisik King.
Freya tersentak, ia bangun dari tidurnya. matanya perih, asap hitam menusuk mata. Freya menutup hidung dengan telapak tangan, mencari dari mana sumber asap itu berasal. Freya menemukan asalnya, asap keluar dari rongga di udara tempat keluarnya jalinan kabel. Freya tidak bisa menutupnya, lubang itu terlalu tinggi untuk ukuran wanita yang hanya bertinggi seratus lima puluh tujuh sentimeter. Freya memutar arah menuju pintu.
"Pintunya terkunci otomatis ... ini kebakaran. Bagaimana caranya aku keluar. ohok ... ohok."
karbondioksida perlahan masuk ke tenggorokan Freya. Ia menggedor-gedor pintu sambil berteriak meminta pertolongan. Tidak ada tanda-tanda ada orang di luar. Freya melihat ke jendela kaca, terlihat orang-orang berhamburan keluar. Freya berteriak meminta pertolongan, tapi tidak ada satu orangpun yang mendengar teriakannya. Freya sudah banyak menghirup karbondioksida, kepalanya mulai berdenyut hingga matanya ikut berkabut.
Freya berjongkok menahan tubuhnya yang mulai terasa lemas. Ia menutup mata. "King, mama sudah tidak sanggup bertahan ... segeralah tuntun papa menemukan mama," ucap Freya dalam hati sambil mengelus perutnya. Bruk ... tubuh Freya terjatuh kelantai.
Next \=>
π₯° baca juga Cinta itu Kamu ya ...
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.