
Sepasang mata bulat dengan bulu mata yang lebat mengintai dari kejauhan, memindai satu persatu wajah dari sekumpulan pria. Mereka masih asyik menyantap makanan ditengah malam sambil berbincang-bincang santai. Asri menemukan Haidar sedang duduk di sudut ruangan dengan dikelilingi dayang-dayang. Asri melangkah perlahan di depan Haidar. Berharap Haidar akan menyapanya terlebih dahulu.
"Asri," sapa Haidar melihat Asri yang melintas tanpa menoleh padanya.
Asri bersorak, menari-nari kegirangan dalam hati. Harapannya terkabul, Haidar menyapanya terlebih dahulu. Asri jual mahal. Mengabaikan sapaan Haidar. Asri bahkan tak menoleh, masih fokus berjalan menghampiri meja makanan. Asri harus menjaga martabat di depan para rekan-rekan bergosipnya. Rasanya tidak pantas bila harus berebut pria dengan rekan-rekan wanita yang lain. Asri harus menunjukan tidak perlu dirinya harus turun tangan untuk menggoda. Pria juga sudah menghampiri Asri.
"Asri, kamu lupa sama aku?" Haidar mengulangi sapaannya. Berajak dari buayan para dayang menghampiri gadis yang membuatnya takjub dikali pertama mereka berbincang. "Asri, aku Haidar. Wakil direktur The King Entertainment," ujar Haidar mengingatkan kembali siapa dirinya kepada Asri.
"Aku sudah tahu. Tidak perlu kamu jelaskan kembali," pungkas Asri berjalan pergi membawa sebungkus kentang goreng dan secangkir kopi menuju ruangannya. Asri bermaksud menghabiskan cemilan malamnya sambil bekerja. Sekalian memancing Haidar agar membuntuti. Dengan begitu Asri bisa menjauhkan Haidar dari pesaing lain.
Benar saja cara Asri sangat jitu. Haidar yang merasa diabaikan oleh Asri masuk perangkap. Dengan senang hati mengekori Asri sampai ke ruang kerjanya. Disana tidak ada siapa-siapa. Memang tidak mungkin ada orang lain karena ruangan kecil dengan pembatas jendela-jendela kaca itu milik Asri seorang. Sebenarnya tidak bisa dikatakan milik Asri seorang. Ruangan itu dibagi menjadi dua ruangan. Ruangan yang lebih luas dengan sopa panjang serta karpet bulu sebagai alas dilantai itu milik Flora. Bukan karena Flora serakah, Asri sendiri yang ingin mendapatkan ruangan seperti itu. Ruangan kecil seperti studio mini. Tempat Asri menciptakan karakter-karakter game kesayangannya.
"Kenapa mengikutiku?" tanya Asri saat mendengar pintu kacanya ditutup oleh Haidar.
"Kamu marah padaku?" Haidar malah balik bertanya bukan menjawab pertanyaan dari Asri.
Asri duduk di kursi, memasukan sebatang kentang goreng ke mulut kecilnya. Matanya fokus ke drawing tab. Membiarkan Haidar yang berdiri bersandar di pintu kaca memandangi Asri yang sedang bekerja. Beberapa rekan pria memuji Asri lebih mempesona ketika ia mulai serius bekerja. Asri bukan tidak cantik hanya saja Asri biasanya banyak bicara membuat rekan kerja prianya pusing karena ocehan Asri. Dan saat Asri diam anteng mereka memuji Asri mempesona, agar Asri tetap diam. Asri juga ingin menunjukan pesonanya pada Haidar.
Jangan anggap julukan pemain yang dianugerahkan pada Haidar hanya omong kosong. Haidar mendapatkan julukan itu karena memang ia pantas mendapatkannya. Haidar sudah mengerti maksud Asri yang terus mengacuhkannya. Haidar paham dengan baik kalau sifat pria yang mudah tertantang bila diabaikan membuat mereka mudah terperosok pada jurang perbudakan wanita alis akhirnya menjadi bucin. Haidar membalasan tebaran pesona yang memancar dari Asri. Haidar membuka dua kancing atas kemeja hitam yang ia kenakan. Menggulung lengan kemeja panjang sampai ke sikut. Haidar masih berdiri karena tidak ada kursi lagi disana. Haidar makin menegaskan kehadirannya.
Haidar kembali bersandar ke pintu kaca, mengambil smartphone dari saku celana. Memainkan smartphone, memperlihatkan senyum sensualnya saat memandangi layar smartphone. Haidar juga mengabaikan Asri. Membiarkan Asri sesekali mencuri pandang pada otot tangan serta leher putih Haidar.
Asri tergoda mulai tidak fokus menggambar karakter game. Asri tanpa sadar membuat seketsa wajah Haidar di drawing tabnya.
"Emmmp," desis Asri menyadari pekerjaannya yang kacau akibat pesona Haidar. Asri mengakui ketampanan Haidar memang tidak seberapa bila dibandingkan dengan Ansel apalagi dengan Liam. Bila diberi peringkat Haidar mendapat posisi ke tiga setelah Ansel dan Liam. Namun, bila melihat pesona yang dimiliki Haidar. Dialah juaranya. Pesona Haidar seperti magnet utara yang kuat membuat para wanita menggila tertarik kepadanya. "Haidar, kamu tidak ada kesibukan lain?"
"Kamu mengusirku?" terucap balasan pertanyaan dari bibir sensual Haidar.
Asri menunjukan barisan gigi putihnya. Tersenyum mengiyakan pertanyaan dari Haidar. Haidar memasukan smartphone ke saku berjalan mendekat ke meja Asri. Asri tersentak saat Haidar mulai mendekat. Membalikan drawing tab agar Haidar tidak bisa melihat sketsa yang di buatnya.
Asri hanya membisu tidak bisa berkutik, apalagi kabur. Kali ini giliran dirinya yang terjebak diantara meja dan kaki Haidar. Haidar menyentuk mouse membuat layar monitor dalam mode sleep menyala. Terlihat dengan jelas seketsa wajah Haidar terukir disana. Asri hanya bisa menepuk kening, dirinya melupakan kalau drawing tab terhubung dengan monitor.
"Owh ... jadi ini pekerjaan bagian jpg," goda Haidar.
Wajah Asri memerah, ulah nya telah membuat dirinya benar-benar malu pada Haidar. Rasanya Asri sudah tidak sanggup menatap wajah Haidar. Asri bermaksud menghindar, dirinya berdiri tanpa aba-aba. Membuat pundaknya bersentuhan dengan pundak Haidar yang masih membungkuk sebab tangannya masih di atas mouse. Asri hampir terjungkal, untung ada kursi yang menahan pinggang hingga dirinya tidak jatuh. Memang Asri tidak jatuh hanya saja tangan Haidar sekarang berpindah dari mouse ke dada Asri. Haidar hanya terdiam menunduk menatap Asri yang sedang melotot memandangi wajah Haidar. Haidar belum sadar kesalahan apa yang dia perbuat.
Klek ... Flora yang sudah puas makan kembali ke ruanganya. Mata Flora langsung disuguhi pemandangan yang membuat mulutnya menganga. Haidar menarik tangannya dari sela ketiak Asri. Haidar langsung keluar dari ruang kerja Asri, mengucapkan nama Flora sebagai sapaan basa-basi lalu berlari tunggang langgang keluar dari ruang kerja Flora. Haidar tidak enak sudah menampakan pemandangan yang akan terus teringat oleh Asri.
"Dua kali ... dua kali aku melihat hal yang membuatku iri," gumam Flora beranjak duduk ke kursi kerjanya. Flora kembali melanjutkan pekerjaannya seperti pemandangan yang ia tadi lihat bukan hal besar, hanya seperti iklan disela kesuntukan bekerja.
"Ahhhh ... ngerakeun pisan ... malu banget," teriak Asri mengetuk-ngetuk meja dengan kepalan tangannya.
"Berisik Asri," Flora sejenak menghentikan aktifitasnya. Bulu kuduknya berdiri akibat kaget Asri tiba-tiba berteriak. "Jangan teriak-teriak tengah malam. Kamu bikin aku parno aja. Kamu gak kesurupankan Sri?"
"Enggak!" jawab Asri masih belum tenang, memukul-mukul pelan drawing tab ke keningnya.
Flora hanya menggelengkan kepala melihat tingkah rekan kerja multitalent yang kadang berperilaku diluar nalar. "Kalau drawing tabnya retak ... ganti cash gak pake nyicil-nyicil ya," gertak Flora.
Mendengar ancaman dari atasannya, Asri diam menghentikan aksinya dan kembali bekerja. Meski jantungnya belum stabil masih memompa darah dengan cepat akibat ulah Haidar.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.