Love Shot

Love Shot
Tempat Tidur Siang



"Freya ... tasmu bergetar!"


"Biarkan saja Flo, aku sedang malas berdebat dengan Ansel," ujar Freya menekan beberapa detik tombol power. Layar yang menampilkan wajah tampan Ansel berganti hitam.


"Husss ... pamali tahu, kalau benci sama suami apalagi saat hamil. Nanti anaknya mirip baget sama Ansel," terang Asri.


"Biarin aja, Ansel itu Papanya. Wajar bila wajahnya mirip. Pasti dede nanti ganteng banget. Percampuran wajah Ansel yang tampan dan Freya yang manis, nanti. Dede bayi imut. Wahh ... aku juga jadi ingin punya bayi," teriak Flora.


"Bayi dari siapa Flo? Jonathan atau Liam?" ledek Freya, berjalan menjauh tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya.


"Hey mau ke mana?" teriak Asri.


"Ke kantor," ucap Freya tanpa menoleh ke belakang berjalan dengan pasti meninggalkan dua sahabat yang sedang dilanda kegetiran asmara.


Freya bermaksud menghindari Ansel, jadi dirinya memutuskan untuk pergi ke Dream Star karena disana pasti sepi, Freya ingin sejenak memejamkan mata. Perut kenyang membuat matanya berkabut, rasa kantuk melanda. Sekalian memeras keringat Freya berjalan satu blok menyusuri deretan penjual kaki lima yang memajangkan daganganya. Jalanan yang biasanya sepi kini ramai.


Sesampainya di Dream Star, Freya mengira di sana tempat yang dalamai. Perkiraan Freya meleset ternyata disana ramai banyak rekan kerja yang lain berlalu lalang, meski maksud mereka sama. Menumpang tidur siang di kantor. Freya menghela napas dilanjutkan meneguk satu botol air mineral tiga ratus tiga puluh mililiter. Setelah air tandas Freya meremas botol kosong memasukannya ke tempat sampah di samping tangga. kemudian Freya menarik napas lagi sebelum menapaki kaki demi kaki tangga menuju ruangannya di lantai dua.


Detak jantung yang terpacu disertai napas yang menderu menemani Freya saat menaiki tangga. "De, belum juga kelihatan kamu sudah membuat mama berkeringat, padahal hanya naik tangga saja," Gumam Freya.


"Kurang olah raga ... naik tangga sampai ngos-ngosan, mau aku gendong?" tawar Riki.


"Pria lemah sepertimu mana sanggup menggendongku. Sampai di lantai tiga dengan selamat saja aku sudah bersyukur," ejek Freya.


"Meski aku bukan pria berotot, tapi tekadku kuat. Dengan tekad, aku sanggup memindahkan gunung terbesar di jagat raya sekalipun," bela Riki melangkahkan kaki dengan pasti mendahului Freya.


"Kepo!"


"Pasti mau tidur siang di ruang serverkan? ayo ngaku! (seringai Freya) ... aku sudah bisa menebaknya. Panas-panas begini paling enak bersembunyi di ruangan yang sejuk," tutur Freya.


"Siapa yang mau tidur disana ... aku, hanya akan mengecek suhu ruangan server, takut server kepanasan akibat bekerja terlalu keras sejak dua minggu terakhir," elak Riki.


Freya tertawa. "Kamu memang jenius ... sangat pandai bersilat lidah. Pergi cari tempat lain, biarkan aku yang mengecek suhu ruangan. Bila aku tidak turun berarti suhu ruangan sangat ... sangat ... cocok untuk tidur siang." seringai Freya lagi.


Riki menghela napas, kejeniusannya tidak mempan mengalahkan kepandaian wanita berbicara. Riki yang tidak ingin berdebat terlalu lama dengan Freya akhirnya menyerah. Riki bergerak turun kembali, ia akan pergi mencari tempat lain yang nyaman di pakai tempatnya tidur siang meski dirinya tidak akan menemukan ruangan senyaman ruang server.


Terukir senyum kemenangan di wajah cantik Freya. Krek ... pintu ruang server terbuka perlahan, mata Freya tertuju pada sopa panjang nan empuk seakan melambaikan tangan merayu Freya untuk berbaring di atas nya.


Next \=>


πŸ₯° baca juga Cinta itu Kamu ya ...


πŸ™Terima Kasih sudah mampir baca.


πŸ™πŸ™ Jangan lupa like + Komentar + Vote


πŸ™πŸ™πŸ™ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.