
Haidar mengernyit, kepalanya terasa pusing hingga lantai terasa seperti berputar, matanya mencari cahaya namun hanya kegelapan yang ia temukan. Haidar teringat jam yang dirinya pakai, menyala otomatis disaat gelap Haidar menarik lengan jasnya, dirinya mencari jam tangan sebagai petunjuk waktu.
Si*al jam tangan ku serahkan ke ley ... sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri ?!
Haidar merogoh saku celana, mencari keberadaan smartphone miliknya. Sudah semua saku ia rogoh tapi hasilnya nihil. Haidar ingat dengat jelas kalau dirinya menaruh smartphone di saku celana berama dompetnya.
Sekarang dompet beserta smartphone lenyap. Kakinya masih lemas, Haidar belum sanggup berdiri. Haidar duduk bersandar di tembok sembari mengumpulkan tenaga. Haidar tidak tahu, entah ada di mana dirinya sekarang, matanya tidak bisa melihat apapun ruangannya terlalu gelap. Haidar menutup mata mencoba mengingat bagaimana dirinya bisa berada di ruangan gelap sendirian.
#Flashback
Haidar berdiri, memberi salam pada Abhimata kemudian berlalu meninggalkan nenek Liza dan Abhimata. Haidar memberi ruang agar mereka bisa berbincang kembali setelah lama tidak bertemu.
Haidar melangkah ke halaman hotel tempat resepsi akan diadakan, dirinya mencari Ley alias Liam. Mata haidar menelusuri taman, mata tertuju pada pria yang sedang duduk memakai jas hitam sambil meneguk minuman. Haidar menghampiri pria tersebut.
"Dorr !!" ucap Haidar mengagetkan Liam.
Liam hanya terdiam tidak menunjukan ekspresi kaget. Liam kembali meneguk minumannya.
"Wah sudah berapa gelas wine yang kamu minum ?!" Haidar melambaikan tangan kemudian seorang pelayan datang membawakan sebotol wine. "Minumlah sebanyak kamu mau, ini gratis." Haidar senyeringai.
"Aku tahu ini gratis. Berapa banyak uang yang Ansel keluarkan untuk acara ini ?" Liam menerawang melihat sekeliling. "Ini sangat mewah, winenya juga enak."
"Tentu saja itu wine mahal." Haidar menyeringai menggoda Liam. "Jangan dipikirkan berapa banyak uang yang Ansel habiskan hanya untuk hari ini. Percuma pikiranmu tidak akan sampai, uang yang Ansel habiskan jauh lebih banyak dari yang kamu pikirkan."
"Sombong !" ucap Liam ketus.
"Hahahaha ... sombong tanda mampu," ujar Haidar menuang wine ke gelas Liam.
"Apa kamu disuruh Ansel untuk mengawasiku ?! Apa dia takut aku berlari masuk ke dalam ballroom dan mengacaukan akadnya ?!" Liam meneguk minumannya.
"Apa kamu jago minum ?" Haidar bertanya balik.
"Jawab pertanyaanku ... kenapa kamu malah bertanya balik. Memang apa urusannya denganmu aku kuat minum atau tidak," ujar Liam mendengus kesal.
"He ... aku hanya tidak mau bila nanti aku harus membopongmu karena mabuk kemudian kehilangan kesadaran. Aku kesini hanya memeriksa penampilanmu. Aku tahu kamu tidak akan mungkin mengacaukan acara ini," jelas Haidar.
"Kamu sebegitu yakin aku tidak akan mengacaukan pesta pernikahan Ansel. Kamu pikir aku seorang pengecut ?" Liam menyeringai. "Memang kenapa dengan penampilanku ?"
"Kamu memang pengecut. Terkadang menjadi seorang pengecut lebih baik daripada menjadi seorang brengs*k. Aku tahu kamu masih punya hati Ley," Haidar menghela napas, "dan untuk penampilanmu hari ini, kamu terlihat luar biasa tampan memakai jas hitam itu. Jangan tersenyum kepadaku, bisa-bisa aku juga terpesona olehmu. Ayo buka jasmu berikan padaku."
Air mata Liam menetes, goresan kepedihan kembali melukai hatinya. Liam menyeka kasar air matanya. "Untuk apa kamu butuh jasku ? kamu juga sudah memakai jas, bahkan jasmu terlihat lebih mahal daripada jasku."
"Serahkan saja ... Ayo tukar dengan jam tanganku. Ini jam tangan Rx keluaran terbaru, jika kamu jual mungkin bisa melunasi seperempat hutangmu pada Kyra," rengek Haidar membuka jam tangan lalu memberikannya pada Liam.
Liam menerima jam tangan, dirinya meneliti jam tangan yang diberikan Haidar. Liam tersenyum miris dengan nasib yang menimpanaya. Liam harus kembali kalah dihadapan uang, merelakan jasnya pada Haidar dan mendapat jam tangan dari Haidar. Meski itu keuntungan bagi Liam tetap saja Liam merasa harga dirinya semakin jatuh.
Liam merasa semakin sedih Liam tersadar begitu jauh perbedaan dirinya dengan Ansel, bahkan Liam tidak bisa mempertahankan jas yang di pakainya karena uang. Apalagi mempertahankan Freya disisinya itu hal yang sangat mustahil. Liam membulatkan tekad akan benar-benar melepas Freya untuk Ansel. Liam berharap Ansel bisa melindungi dan membahagiakan kekasih hatinya. Liam mempercayakan Freya pada Ansel.
"Kamu mau masuk ?" tanya Haidar.
"Tidak aku di sini saja. Aku tidak akan sanggup melihat Freya bersanding dengan Ansel," ucap Liam.
"Baiklah aku pergi ... kuatkan hatimu calon adik iparku. Aku tahu kamu pasti bisa, Ley laki-laki yang kuat. Terima kasih jasnya," ujar Haidar mengambil minuman yang dipegang Liam kemudian meneguknya dan melangkah meninggalkan Liam.
#Flashback Off
Haidar berdiri, berjalan sempoyongan ke arah pintu. Matanya menyipit saat cahaya menyinari wajah Haidar.
Ini masih hotel King ... aku harus ke ballroom untuk menemui Ansel.
Haidar sampai ke ballroom, ruangannya sudah berganti menjadi barisan kursi dan meja. Sudah ada beberapa orang berpakaian rapi duduk di sana.
"Maaf dengan bapak siapa dan dari perusahaan mana ?" tanya salah satu panitia.
"Haidar Jarvis dari The King Entertainment," jawab Haidar.
Panitia membolak balikan daftar peserta mencari nama Haidar dan The King Entertainment, "Mohon maaf sebelumnya tapi nama bapak tidak tercantum di daftar peserta meeting, begitu juga dengan nama perusahaan yang bapak sebutkan. Maaf sekali bapak tidak bisa berada diruangan ini, mari saya akan mengantar bapak sampai ke lobi."
Haidar mengikuti panitia. "Ini hari apa ?"
"Sekarang hari kamis pak," jawab panitia dengan sopan.
Haidar tertegun.
Berarti sudah tiga hari aku tidak sadarkan diri. Bagaimana dengan Ansel dan pernikahannya ?
"Saya hanya bisa mengantar bapak sampai lobi, bila ada pertanyaan silahkan bapak bisa bertanya ke recepcionis," ujar panitia kemudian meninggalkan Haidar.
"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu ?" tanya seorang wanita.
"Hari minggu pernikahan King Ansel Cullen dengan Freya Aileen apa ada sesuatu yang terjadi ?" tanya Haidar.
"Iya benar pak, memang acara resepsi tuan King dan Nyonya Freya dibatalkan namun acara pernikaha tetap berjalan, meskipun tuan King mengikrarkan ijab dengan keadaan terluka," jelas recepcionis.
"Sekarang ada di mana tuan King ?" tanya Haidar lagi.
"Maaf Pak, saya tidak tahu mengenai keberadaan tuan King saat ini," jelas recepcionis.
Haidar termenung sejenak, dirinya harus menelepon seseorang untuk menjemputnya saat ini. Haidar menyesali kenapa dirinya tidak menghapal nomor penting mungkin tidak akan serumit sekarang, dirinya tidak mengingat nomer siapapun.
"Ada yang saya bisa bantu pak ?" tanya recepcionis menawarkan diri.
"Bisakah kamu menelepon pemilik hotel King agar bisa menjemputku ?" tanya Haidar ragu.
"Maksud bapak tuan King Wardhana ?" tanya recepcionis memastikan orang yang dimaksud Haidar.
"Benar, aku ingin berbicara dengannya. Tolong sambungkan," pinta Haidar.
Next \=>
πTerima Kasih sudah mampir baca.
ππ Jangan lupa like + Komentar + Vote
πππ Dukungan reader sangat berpengaruh bagi Author untuk bisa terus semangat Up.